Pulang Kampung Nih! Mari Berbenah Kembali :D

Kalimat pembuka Obama saat memberi pidato di Universitas Indonesia beberapa waktu lalu rupanya sebuah sindiran dan ramalan kepada Garuda Bandung di pertandingan pertama Championship Series 2010-2011 ini. Setelah menyerah atas CLS Knights Surabaya, Garuda harus menerima kenyataan pahit harus pulang kampung lebih awal. Selamat tinggal musim 2010-2011 :(

Mari menerima kenyataan tidak enak ini dengan lapang dada dan berkaca dan introspeksi dan memulai motivasi baru. Yang lalu kubur dalam-dalam saja laah. Pelatih baru (mungkin), pemain baru (mungkin), semangat baru (semoga lebih tinggi), amiin :D

Sudah Pada Tahu kan Aturan Baru Basket (FIBA) Ini?

Gw gak tahu apakah Agustinus D. Sigar (Garuda Bandung) sudah lebih dulu tahu tentang aturan ini atau memang dia senang sekali menembak 3 points dari jarak yang cukup jauh dari batas garis 3 points yang ada. Namun yang jelas, para pemain IBL sudah harus meniru kebiasaan Aguy ini, karena mulai tanggal 1 Oktober 2010 nanti FIBA akan menarik garis batas baru untuk tembakan 3 points. Lebih dekat ke ring? Nope. Makin jaauuuhhhhh..

Besar kemungkinan aturan-aturan baru (sebenarnya FIBA mengeluarkan aturan ini sejak tahun 2008 lalu) ini juga akan diberlakukan di liga IBL 2010-2011 nanti. Berikut beberapa aturan baru FIBA yang cukup penting yang mungkin akan dipakai juga di IBL nanti:

1. Garis ujung batas 3 points yang semula berjarak 6,25 meter dari baseline akan semakin jauh 50 cm atau menjadi 6,75 meter.

2. Setelah time out pada 2 menit terakhir atau saat overtime, bola akan mulai dimainkan lagi dari luar lapangan, sejajar dengan ujung garis 3 points di sisi frontcourt (pertahanan lawan).

3. Jika bola keluar lapangan (out of bound) karena sentuhan terakhir dari tim bertahan (defensive team) pada daerah pertahanannya (backcourt) maka tim penyerang (offensive team) akan mendapat 24 detik shot clock baru. Jika terjadi masih di area frontcourt-nya tim bertahan dan shot clock masih di atas 14 detik, maka shot clock tidak berubah sesuai angka terakhir yang ditunjukan. Namun jika sudah di bawah 14 detik, maka shot clock dikembalikan pada waktu 14 detik.

4. Akan ada tambahan garis setengah lingkaran di bawah ring (mirip seperti yang ada di NBA sekarang). Garis tersebut adalah batas di mana seorang penyerang (offensive player) tak akan pernah didakwa melakukan offensive foul jika berada di dalam garis batas tersebut.

Ada pula beberapa aturan yang sebenarnya sudah berlaku sejak Oktober 2008 namun masih kerap dilanggar (mungkin karena kurang sosialisasi) oleh pemain maupun wasit. Ini dia:

1. Memakai kaos (t-shirt) di balik jersey sudah tidak lagi diizinkan.

2. Seorang pemain yang terjatuh kemudian menggelosor (apa nih ya bahasa yang tepatnya..hehee) di lantai sambil memegang bola tidak dianggap melakukan traveling.

3. Seorang pemain belum dianggap berada di frontcourt sebelum dua kakinya menginjak frontcourt, dan bola menyentuh frontcourt. Ini ada kaitannya dengan backcourt violation (backball kalau kata orang kitee).

4. Technical foul! Untuk pemain yang mengayunkan siku berlebihan dengan sengaja, walaupun tidak mengenai siapapun!

Nah, semakin menantang nih main basket. Terutama terkait garis 3 points yang semakin jauh. Semakin aman terkait dengan ayunan siku yang nggak perlu. Dan tentunya semakin menarik dengan adanya aturan baru shot clock, backcourt violation, dan jumpalitan mengejar berebut bola hingga gelosor menyapu lantai yang tak lagi dianggap traveling :)

Ada Apa Dengan Mahasiswa (Makassar dan Bandung) Masa Kini?

Mari rehat sekitar 5 menit dari main basket dan menoleh kepada ulah mahasiswa di 2 kota ini. Barangkali ini salah satu sebab mengapa Libama akhir-akhir ini juga menjadi sepi!

Makassar

Sekitar dua tahun lalu gw berkunjung ke Makassar dan bertemu salah seorang teman di sana. Dalam salah satu perbincangan, gw bertanya kepada dia, “Bro, kenapa sih mahasiswa Makassar saat ini sepertinya mudah sekali melakukan aksi kekerasan dan sering berkelahi antar kampus?” Saat itu berita di media memang kerap diisi oleh berita perkelahian antar mahasiswa di Makassar.

“Gw juga nggak ngerti Dan,” kata teman gw, “gw malah pernah menyaksikan sendiri ada dua tukang becak berkelahi dan dilerai oleh temannya yang berteriak ‘hoi, jangan berkelahi kalian! Memalukan, kalian seperti mahasiswa saja!’, gw benar-benar malu saat itu.”

Kemarin mahasiswa Makassar kembali mempertunjukkan kekuatan otot untuk sebuah masalah yang seharusnya dipecahkan dengan kekuatan nalar otak. Mahasiswa bentrok dengan aparat kepolisian dan bikin onar. Teman gw di twitter sampai berceletuk kurang lebih “Kurikulum mahasiswa di Makassar apaan sih? Mahasiswanya buas begini.”

Gw yakin tujuan mahasiswa Makassar tersebut adalah (mungkin) kebaikan. Namun caranya jelas sangat memalukan. Gw nggak yakin orang Makassar sendiri bangga punya generasi mahasiswa seperti itu.

Agar tidak terjadi salah paham, mari kita menganggap bahwa hal itu hanya dilakukan oleh segelintir mahasiswa saja. “Nila setitik merusak susu sebelanga.” sentil gw dalam hati.

Bandung

Sebuah niat yang baik jika diungkapkan dengan cara yang salah akan merusak semuanya. Mahasiswa di Makassar memberi contoh yang “cerdas” dalam hal ini.

Ibarat setali tiga uang, mahasiswa di Bandung bagi gw melakukan hal yang kurang-lebih sama. Hanya saja bentuknya berbalik 180 derajat. Gw sangat bingung. Sangat-sangat-sangat bingung dengan kelakuan beberapa (agar tidak terlihat menggeneralisasi) mahasiswa di Bandung beberapa tahun belakangan ini pula.

Ada satu kegiatan atau kelakuan yang (gw yakin) niatnya baik, namun caranya menyebalkan (bahkan saat menulis ini pun gw masih merasa sangat gemas!). Apakah itu? NGAMEN BARENG DI PEREMPATAN JALAN!

Entah apa yang ada di otak mahasiswa-mahasiswa itu. Kreatif? Solidaritas? Sok asik? Iseng? Mengumpulkan dana amal? Atau apa? Yang jelas, bagi gw sebagai pengguna jalan raya, mahasiswa-mahasiswa ini sangat tidak kreatif, memalukan, dan mengganggu ketertiban umum!

Mengganggu ketertiban umum karena mereka menghambat laju kendaraan di lampu merah. Mereka membahayakan diri mereka sendiri dan para pengguna jalan. Bila mereka merasa keren, well, bagi gw tidak sama sekali. Mahasiswa-mahasiswa ini terlihat menyebalkan dan sangat mengganggu. Lagunya jelek. Meminta duit dengan sedikit memaksa.

Enough said. I just don’t have no idea what the hell do those students have in their minds. I dare say this because I didn’t do that when I was a college student. I did better. Way better!