Membangun Bangsa Melalui Libamanas (2/2), Namun Cukupkah dengan IP 2,00?

Judulnya mungkin masih selebay dan se-orde baru tulisan yang pertama, Membangun Bangsa Melalui Libamanas (1/2), Kiat-kiat Mendapat 5 Juta untuk Pendaftaran, tapi ya sudahlah.. :D

Sebelum mengumumkan bahwa biaya pendaftaran mengikuti Liga Bola Basket Mahasiswa Nasional (Libamanas) adalah lima juta rupiah, @perbasi_ina, twitter resmi Perbasi lebih dulu mengungkapkan bahwa standar indeks prestasi (IP) mahasiswa yang boleh mengikuti Libamanas adalah 2,00. Waks?! :(

Dunia luar punya alternatif yang lebih baik dari IP 2,00

Berapa persen kah para pemain Libamanas yang usai kuliah akan bermain basket profesional? NBL Indonesia? Banyak. Banyak banget. Itu harapan kita di masa nanti. Saat ini, rasanya belum akan sebanyak itu. Akan banyak para pemain Libamanas yang usai kuliah nanti memilih berkarir di bidang lain selain basket. Di bidang-bidang di mana dunia luar menilai seseorang salah satunya karena prestasi akademiknya di kampus. IP 2,00 jelas tak masuk hitungan bagi kebanyakan dunia kerja. Pegawai negeri sipil saja mensyaratkan IP minimal 2,75. Itu dulu. Entah kalau kini.

Bahkan ketika tujuannya adalah bermain untuk NBA, para pemain kampus di Amerika Serikat yang mendapatkan beasiswa karena kemahirannya bermain basket masih sangat merasa betapa pentingnya prestasi akademik. Sebagian kecil saja yang akan berhasil nyemplung dan main-main di kolam NBA. Sisanya ke mana-mana.

Pada kenyataannya, untuk mendapatkan beasiswa sebagai atlet kampus, standar IP-nya pun cukup tinggi. Seorang teman yang pernah berkuliah di Amerika Serikat mengatakan bahwa untuk menjadi anggota tim basket kampus, IP-nya minimal 3,00. Ia dan teman-temannya yang terbilang jago basket harus berusaha, belajar tekun memenuhi target tersebut.

Apa “kata” 2,00?

IP 2,00 mengatakan cukup banyak mengenai prestasi akademik seorang mahasiswa. Entah malas, bodoh, sebenarnya pintar tapi tidak serius, tidak mementingkan akademik, kebanyakan main basket atau apa lagi, silahkan tambahkan sendiri. Apakah pemain basket Libamanas kita akan seperti itu? Amit-amit dah.. :)

Membangun Bangsa Melalui Libamanas (1/2), Kiat-kiat Mendapat 5 Juta untuk Pendaftaran

Judulnya agak lebay dan orde baru. Tetapi yaa sudahlah.. :D

Kemarin, twitter resmi Perbasi, @perbasi_ina mengkonfirmasi kebenaran sebuah pertanyaan dari salah seorang followernya yang bertanya apakah benar biaya pendaftaran Liga Bola Basket Mahasiswa Nasional adalah lima juta rupiah. Usai itu, salah seorang follower Mainbasket dan juga follower Perbasi memberi tahu seakan “protes” bahwa biaya pendaftaran tersebut mahal banget dan dalam twit yang lain oleh follower yang lain juga menyinggung seolah biayanya bak “ujung-ujungnya duit” banget (nanti kapan-kapan gw bahas juga deh, kenapa juga harus “ujung-ujungnya duit” banget).

Twitter Perbasi kemudian mengatakan bahwa mereka akan membantu dalam hal meyakinkan pihak kampus agar membantu mahasiswanya memenuhi biaya tersebut. Karena tampaknya, bagi beberapa mahasiswa/kampus, lima juta rupiah adalah banyak.

Lalu ada yang meminta agar biaya pendaftaran diturunkan. Gw gak setuju. Lalu ada yang bertanya kembali, “berarti kalau ada tim yang jago tapi gak punya duit berarti gak ikut?” Bagi gw, ya jelas gak usah ikutan. Sederhana :)

Belum apa-apa sudah patah arang!

Entah ada apa dengan mahasiswa sekarang. Belum-belum sudah patah arang. Bagi gw, jika keinginan untuk berkompetisi basket antar mahasiswa sedemikian besarnya, maka gak punya uang lima juta rupiah hanyalah kendala seujung kelingking. Hanya memiliki tiga orang yang bisa bermain basket, itu baru masalah besar.

“Tapi kami memang gak punya uang lima juta, dan kampus hanya bisa bantu nol rupiah.”

Jika kalian benar ingin ikut Libamanas, punya pemain bagus, disiplin, berkualitas, dan pekerja keras, tetapi gak punya uang lima juta untuk mendaftar, berikut kiat-kiat halal untuk mendapatkan uang tersebut:

1. Minta sumbangan ke teman-teman (kencleng/kotak amal)

Ini adalah cara pertama, utama, dan wajib dilakukan! Bikin cara meminta yang sopan. Jelaskan keperluan membutuhkan dana tersebut untuk apa. Untuk kompetisi Libamanas. Mintalah dana dan putar kotak sumbangan ke semua mahasiswa dan dosen dan karyawan kampus tanpa terlewat seorang pun! Jangan hanya membawa kotak saja. Bikin papan pengumuman berjalan, poster-poster di papan pengumuman, blekberi messenger untuk menyampaikan pesan, facebook, twitter dan lain-lain. Jelaskan kepada para donatur apa itu Libamanas, keuntungan bagi kampus, kapan jadwal tandingnya, lawan kampus mana (bikin skenario beberapa kampus lawan yang akan menjadi lawan sengit), di arena mana, dan info-info terkait lainnya, dan lain-lain. Kalau cara ini berhasil mengumpulkan dana lima juta rupiah pas! Alhamdulillaah. Kalau kurang, jalani langkah kedua.

2. Cari sponsor

Perusahaan besar seperti Pertamina atau Telkom tentu saja oke banget. Kalau gak bisa atau sulit, yang lebih kecil lagi, lebi kecil lagi, dan seterusnya. Ke warung-warung juga gak apa-apa. Bahkan ke perorangan yang dianggap mampu juga sah-sah saja semisal dosen yang kaya raya atau memiliki perusahaan. Koperasi kampus, atau perusahaan yang dimiliki kampus juga sangat baik. Sebagai imbal balik, tawarkan bahwa nama, logo, pesan atau apapun yang mewakili mereka mendapat hak untuk menempel di jersey kampus. Dan tentu saja, laporan semua hal yang terkait dengan pertandingan baik sebelum atau sesudah, sebaiknya dilaporkan. Siapa tahu mereka malah tertarik untuk menonton langsung. Cari sponsor sebanyak-banyaknya! InsyaAllah, uang pendaftaran tertutupi. Amiin :P

3. Bisnis alias dagang

Gw gak tahu apakah mahasiswa zaman sekarang masih melakukan bisnis-bisnis kecil seperti mengumpulkan koran dari rumah teman-teman atau dosen atau perpustakaan kampus untuk dijual. Atau mengumpulkan botol bekas yang masih bisa dijual, atau melakukan garage sale, atau membuka gerai jualan limun, dan lain-lain. Ini sangat-sangat efisien. Gw melakukannya saat (bahkan) SMA dulu.

4. Hutang!

Yes, jikalau keinginan untuk mengikuti Libamanas sedemikian besarnya dan semua usaha di atas tidak berhasil. Berhutang saja, dan pikirkan cara membayarnya. Lima juta memang uang yang besar nilainya -pada tahun 80-an, saat ini, relatif keciil.

Andai, bila empat kiat ini dijalankan, rasanya bukan hanya berhasil mengumpulkan lima juta saja. Tetapi juga tim kampusnya rasanya akan melangkah lebih jauh dalam kompetisi Libamanas. Karena untuk menjalankan kiat-kiat ini dibutuhkan kemauan, keberanian, kerja keras, disiplin.

Penting!

Ketika masih mahasiswa, gw hanya berkompetisi antar fakultas. Setiap sebelum bertanding, sehari atau bahkan seminggu sebelumnya, kami membuat poster kecil dan besar. Kecil seukuran A5 yang kami fotokopi dan tempel di sekitar kampus, besar hingga berukuran lebih dari 3 x 3 meter dan kami gantung di dalam kampus. Semuanya memberi tahu jadwal pertandingan kami. Hasilnya, setiap kami bertanding, dukungan dari teman-teman selalu melimpah.

Ketika nanti kita melakukan kiat-kiat di atas, memberi tahu kapan akan bertanding dan hasil pertandingan yang lalu akan menjadi sangat penting. Poster-poster tersebut adalah bentuk penghargaan para pemain basket kampus kepada para pendukungnya.

Hubungannya dengan membangun bangsa? Yaa begitulah, kita jadi mandiri pada intinya. Padahal awalnya kan hanya ingin ikutan pertandingan basket doang :D

Tulisan ini dapat pula di baca di mainbasket.com

3 Perseteruan (Rivalry) Terseru di NBL Indonesia 2010-2011

Pasca perseteruan antara Reggie Miller dan fans New York Knicks, beberapa pengamat NBA mengatakan bahwa NBA tak lagi seseru dulu. Rivalry, yang dalam Bahasa Indonesia gw padankan sebagai “seteru” adalah salah satu bumbu “penyedap” sebuah laga basket. Dengan bumbu seteru, pertandingan basket semakin terasa lezaattt!

era NBL menurut gw blom ada yg levelnya kaya era Kobatama: @ThomasKurniady vs M.Rifky. Inal vs Kiki.” kata @wiwaha melalui twitter. Ada benarnya. Aksi Thomas Teddy melawan M. Rifky juga antara Inal melawan Kiki bagi banyak penggemar NBL (Kobatama) sangatlah legendaris. Apalagi saat itu perseteruan mereka bisa disaksikan lebih sering melalui televisi.

Tetapi, bukan berarti perseteruan masa kini tidak seheboh dulu. Kayaknya sih sama saja. Hanya saja harus diakui memang belum banyak dinikmati oleh penggemar basket seluruh Indonesia. Yes, televisi lebih suka menayangkan seteru protagonis vs antagonis di sinetron :D

Dalam obrolan twitter beberapa waktu lalu tentang perseteruan terseru di NBL Indonesia, banyak nama-nama seteru yang muncul. Faisal vs Kelly, Dimaz vs Faisal, Roni Gunawan vs Isman Thoyib, dan lain-lain. Bagi gw, dari semua laga NBL Indonesia 2010-2011 yang gw saksikan, setidaknya ada tiga perseteruan yang paling teringat jelas sampai sekarang:

Robert Santo Yunarto vs Budi Sucipto, Muba Hangtuah Indonesia Muda vs Angsapura Satyawacana, 24 Oktober 2010.

Inilah laga di mana point guard Muba Hangtuah, Robert Santo Yunarto mulai terlihat sangat menonjol. Robert bergerak begitu lincah dan berani melakukan penetrasi ke pertahanan Angsapura. Meskipun hanya membukukan 4 poin dan 5 assist, Robert berhasil menyelamatkan Muba Hangtuah dengan kemenangan tipis, 68-62.

Aksi Robert di Muba Hangtuah menemukan lawan yang seimbang melalui kecepatan dan kelincahan point guard Angsapura, Budi Sucipto. Budi Sucipto yang merupakan pemain terpendek di NBL Indonesia tak mampu dibendung oleh Muba Hangtuah. Robert vs Budi terlihat menonjol saat itu. Jika diadu secara statistik individu, meskipun timnya kalah, Budi Sucipto berhasil mencetak 21 poin!

Merio Ferdiyansyah vs Xaverius Prawiro, Stadium vs Aspac, 9 Maret 2011

Laga ini cukup mudah ditebak. Demikian barangkali asumsi kebanyakan penggemar basket Indonesia saat itu. Namun siapa sangka, Merio Ferdiyansyah menggila menghajar Aspac habis-habisan dengan total 27 poin. Aspac pasti ketar-ketir saat itu.

Beruntung, Xaverius Prawiro juga sedang wangi. Setiap kali Merio menghasilkan angka, Xaverius langsung membalas. Jika saja Xaverius sedang bau, sulit membayangkan Aspac akan menang 71-65.

Faisal J. Achmad vs Fans Garuda di C-Tra Arena, selalu!

Sudah terlalu sering rasanya cerita tentang perseteruan Faisal melawan fans Garuda di Bandung. Mirip, mirip seperti Reggie Miller vs New York Knicks di Madison Square Garden.

Mari berharap, rivalitas alias perseteruan keras antara dua pemain atau lebih atau bahkan antara dua tim di NBL Indonesia 2011-2012 semakin sering terjadi. Tentunya dalam batas yang selalu menjunjung tinggi sportifitas yaak :D

Wakili Bangsa Sebagai Indonesia Selection dan Tetap Boleh Mengikuti DBL Musim Depan

Pemain U-16 asal Jawa Barat yang semula memilih untuk ikut DBL Camp dan tidak bergabung dengan skuad nasional yang akan membela Indonesia di SEABA U-16 akhirnya bergabung di Pelatnas Semarang. Hal ini terjadi setelah akhirnya Perbasi dan DBL menemukan jalan tengah terbaik dalam dilema membela sekolah atau membela negara.

Satu hal yang sangat melegakan, selain akhirnya memiliki kesempatan membela Indonesia di ajang SEABA U-16, para pemain pelajar ini tetap memiliki kesempatan terbuka untuk kembali memperkuat tim sekolahnya di DBL musim depan.

“Kami telah menyampaikan surat resmi kepada DBL bahwa tim yang membawa nama Indonesia di ajang SEABA U-16 ini bukanlah tim nasional, melainkan Indonesia Selection. Saat ini kami menganggap bahwa tim dengan persiapan panjang seperti SEA Games lebih pas dikatakan sebagai Tim Nasional. Sedangkan untuk U-16 ini, lebih cocok dikatakan sebagai Indonesia Selection yang dikarenakan seleksi dan juga persiapannya yang sangat singkat. Dengan demikian, para pemain yang masih bisa bermain di DBL juga masih bisa bermain musim depan karena mereka adalah anggota skuad Indonesia Selection, bukan Tim Nasional,” jelas Pelatih Kepala Danny Kosasih.

Bela Sekolah atau Indonesia? Mari Pahami Konteksnya (Dilema U-16, DBL Camp 2011, 24-28 Juli 2011)

Salah satu komentar di dalam bolg ini mengelitik gw untuk menyinggung mengenai kasus pemain pelajar yang lebih memilih bermain di DBL daripada ikut bergabung di skuad Indonesia dalam kejuaraan SEABA U-16 di Malaysia. Saat itu, gw lalu bertanya kiri-kanan, “memangnya ada kasus apa?”

Semua terjawab setelah gw membaca artikel mas Eko Widodo di Bola Edisi 2.224, 18-20 Juli 2011, “Persiapan SEABA U-16, Mayoritas Cinta Timnas”

Tulisan ini adalah pendapat pribadi gw yang berusaha atau sekadar menunjukan perspektif alternatif dalam kasus tersebut. Bukan mendebat. Sekali lagi, sebuah perspektif yang berbeda saja :D

Bela Sekolah atau Bela Indonesia? Mari Pahami Konteksnya :D

Jika saya adalah seorang pebasket yang diminta memilih untuk berlaga mewakili sekolah atau mewakili negara, Indonesia, tentu saja saya akan memilih mewakili negara. Sebagai seorang warga negara yang ingin dan wajib berbakti, berjuang mewakili Indonesia adalah pengabdian yang tak ternilai. Apalagi usia saya masih sangat muda. Lagian, itu pilihan yang terlalu sederhana. Semua orang pasti pilih bela negara lah daripada bela sekolah. Kita semua berpikir jernih kan? :)

Kenyataannya, ada pemain pelajar yang diminta untuk membela Indonesia untuk Kejuaraan SEABA U-16, 9-13 Agustus, memilih untuk membela sekolahnya di ajang DBL daripada negara. Nah loh? :D

Kok bisa? Kok mau?

Liga pelajar DBL memiliki sebuah aturan yang telah mereka terapkan dari tahun 2004 yang kurang lebih menyatakan bahwa jika seorang pemain telah bermain untuk NBL, Kobatama, Kobanita, dan Tim Nasional Indonesia maka ia tak lagi boleh bermain di DBL. DBL menganggapnya telah bermain pada tingkatan yang lebih tinggi melebihi teman-temannya yang lain.

Nah, tampaknya, ada pemain yang dipanggil untuk membela Indonesia di ajang Kejuaraan SEABA U-16, 9-13 Agustus di Selangor, Malaysia juga terpilih sebagai pemain pilihan pertama yang mewakili sekolah dan daerahnya untuk mengikuti DBL Indonesia Development Camp 2011 yang diadakan di Surabaya, 24-28 Juli lalu.

DBL Indonesia Development Camp adalah sebuah kemah pelatihan yang juga akan menyeleksi para pemain dari daerah-daerah di seluruh Indonesia untuk mencari 12 pemain DBL All Star yang akan dikirim ke Amerika Serikat untuk berlatih dan bertanding di sana. Membawa nama Indonesia juga tentunya, walau barangkali nggak resmi :P Yang melatih kali ini kebetulan adalah Nate Robinson (Oklahoma City Thunder) dan beberapa pelatih besar dari Australia. (DBL Camp yang pertama dilatih oleh Kevin Martin -saat itu Sacramento Kings- serta beberapa pelatih NBA yang salah satunya adalah seorang asisten pelatih tim yang sudah punya dua cincin juara NBA).

Balik lagi, oleh karena aturan tersebut, seorang pemain pelajar yang terpilih mengikuti DBL Development Camp dan juga terpanggil untuk membela Tim Nasional mau tidak mau harus memilih salah satu. Ia tidak bisa mengikuti development camp dulu lalu pergi membela Tim Nasional setelah itu. Dan lagi, Pelatihan Nasional U-16 dilaksanakan pada tanggal 25 Juli. Bentrok.

Tapi masalahnya bukan itu. Jika saja waktunya tidak bentrok, apakah yang terpilih masuk Tim Nasional tetap tidak boleh lagi bermain di DBL? Yup, tampaknya demikian. Aturan ini sudah ada dan sudah ditegakan sejak tahun 2004. Dan barangkali tidak akan berubah.

DBL Jahat?

Apakah teman kita yang lebih memilih untuk bermain membawa nama sekolahnya dan menolak panggilan Tim Nasional itu tidak patriotik? Tidak berpikir jernih?

Hmm.. Ada dua pertanyaan yang berkecamuk di kepala kita. -Setidaknya gw :P

Tenang, mari coba lihat dengan kaca mata baru pelan-pelan :D

Dalam kaca mata hitam-putih, jelas keputusan untuk lebih memilih sekolah daripada negara adalah keputusan yang memalukan. Tidak patriotik. Tetapi bagi gw, kita tak bisa memandang dunia sebagai hitam putih (maybe that’s why I don’t watch Corbuzier show but that episode with Nate as the guest). Kita butuh abu-abu sebagai pertimbangan. Dan semua orang juga harus melihat sisi putih maupun sisi hitam dan menjadi abu-abu terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memilih hitam atau putih. Sekali lagi, pastikan kita paham hitam-putihnya dulu.

Tetapi tetap saja laah, kepentingan negara itu nomor satu! Betul. Tetapi negara juga harus mengakomodasi sudut pandang warga yang akan membelanya. Negara harus adil meskipun susah. Negara harus memastikan bahwa tuntutan kepada warganya tidak sebaliknya malah merusak atau menghancurkan diri warga yang akan membelanya itu.

Maksudnya?

Mari ambil contoh ekstrim. Semisal negara akan membuat jalan raya yang ternyata harus menggusur beberapa rumah. Jalan raya adalah kepentingan negara. Rumah adalah kepentingan pribadi. Haruskah kepentingan pribadi dikorbankan untuk kepentingan negara? Jika memakai logika hitam-putih, jelas harus berkorban! Namun jika mau masuk ke zona abu-abu, negara harus adil dengan mengajak pemilik rumah untuk berunding dulu guna mendapatkan solusi terbaik. Misalnya sebuah kompensasi ganti rugi yang layak dan adil. Jika negara memaksakan kehendak, itu namanya lalim. Semena-mena! Emang ada negara yang seperti itu? Banyaakkk.. Negara kita salah satunya :D

Kembali lagi ke cerita beberapa anak yang lebih memilih untuk membela sekolah di DBL daripada Indonesia. *Gila, bahkan gw sendiri masih bingung kenapa ada anak yang mau melakukan ini. Tapi bagaimanapun gw (dan semoga kita semua) kudu bisa sedikit obyektif.

Jika ada anak-anak yang lebih memilih membela sekolahnya di DBL daripada membela Indonesia, sebagai masyarakat (yang juga bagian dari negara) harus bertanya terlebih dahulu, “mengapa anak tersebut lebih memilih membela sekolah daripada Indonesia?”

“Gw masih belum paham dengan analogi di atas, coba jelaskan lagi..”

Pada tahun 2004, Tracy McGrady, Shaquille O’Neal, Kobe Bryant, Karl Malone, Kevin Garnett, Ray Allen, Jason Kidd, Mike Bibby, Jermaine O’Neal, Vince Carter, Elton Brand, Kenyon Martin, dan Ben Wallace sempat menolak membela negaranya di ajang Olimpiade Athena karena alasan keamanan.

Alasan keamanan? Yup! Waktu itu para pemain NBA itu takut menjadi sasaran terorisme. Ok, Ray Allen gak termasuk, karena alasannya tidak mau bergabung dengan Tim Nasional USA saat itu adalah karena istrinya akan melahirkan. Tapi namanya menolak yaa menolak :P

Tunggu, jadi para pemain NBA juga pernah menolak untuk bergabung dengan tim nasionalnya?

Yup! Dan mereka saat itu menjadi sasaran cemooh warga Amerika. Salah satu cemooh yang paling pedas dan perih adalah “Gila yaa, kalian enggan dan takut pergi bermain basket di Athena, Yunani, negara yang aman sentosa. Padahal kalian mendapat pengamanan ekstra ketat dari angkatan bersenjata Amerika dan lokal. Bandingkan dengan saudara-saudara kita yang lain yang benar-benar berperang di Iraq dan Afganistan! Dasar pengecut!”

Meskipun akhirnya berangkat ke Athena, setidaknya kita tahu bahwa pernah ada peristiwa penolakan menjadi pemain nasional karena alasan tertentu, dan itu terjadi di salah satu level kompetisi tertinggi bola basket, olimpiade!

**Tim USA ini adalah tim USA terburuk sepanjang masa. Kalah dari Puerto Rico dengan selisih 19 poin (terburuk sepanjang sejarah saat pemain NBA mewakili Amerika), dan pulang dengan membawa perunggu. Emas milik Argentina!

Hmm itu di Amerika yaa..

Kasus serupa pernah terjadi di Indonesia. Dalam analogi yang mirip dengan penggusuran rumah karena jalan raya di atas. Bedanya, ini terjadi di sepak bola :)

Boaz Solossa, salah satu striker terbaik Indonesia yang kini kembali mengenakan jersey Merah-Putih, pula pernah menuai kritik sebagai pemain yang tidak patriotik karena “enggan” bermain untuk Tim Nasional dengan cara mangkir latihan, sebelum kemudian dicoret dari Timnas.

Tahun lalu, Boaz akhirnya dicoret oleh Alfred Riedl dari skuad Tim Nasional AFF Cup karena tak juga kunjung datang berlatih bersama skuad Tim Nasional lainnya. Padahal, Boaz sudah diberikan kelonggaran waktu hingga lima hari. Alasan Boaz kala itu adalah ia harus menjaga dan merawat anak serta istrinya yang sedang sakit.

Itu alasan Boaz. Namun opini yang berkembang adalah Boaz enggan bermain dengan Tim Nasional Indonesia karena Tim Nasional dulu pernah menelantarkannya dan berujung pada terancamnya karir jangka panjangnya.

Apa yang terjadi pada Boaz dahulu?

Selama bermain membela Merah-Putih, Boaz mengalami dua kali cidera parah. Pertama kali ketika Indonesia menghadapi Singapura di leg pertama final AFF Cup tahun 2004. Ketika itu, pemain Singapura, Baihakki Khaizan melanggar Boaz dengan keras. Boaz yang cidera tak mampu tampil di leg kedua final AFF Cup 2004. Indonesia pun kalah.

Tahun 2007, ketika Indonesia menghadapi Hong Kong dalam persiapan menghadapi Piala Asia, Boaz cidera patah kaki. Cidera kedua inilah yang rumornya-tampaknya membuat Boaz kecewa kepada Tim Nasional. PSSI menolak membiayai pengobatan dan perawatannya. Beruntung, klubnya, Persipura bersedia menanggung semua biaya perawatan dan pengobatan Boaz. Boaz merasa ditelantarkan.

Nah..

Jika kita merasa Boaz tidak patriotis dengan “menolak” bergabung dengan Tim Nasional, mungkin kita akan berpikir dua kali untuk berkata demikian jika tahu apa yang terjadi pada Boaz. Ada sisi ketidak-adilannya :(

Kembali lagi ke pertanyaan di atas tadi..

Apakah teman kita yang lebih memilih untuk bermain membawa nama sekolahnya dan menolak panggilan Tim Nasional itu tidak patriotik? Tidak berpikir jernih?

Gw akhirnya bertemu dengan pemain U-16 yang dipanggil untuk mewakili Indonesia tersebut. Ia berlatih keras mengikuti DBL Indonesia Development Camp agar terpilih menjadi salah satu wakil DBL untuk ke Amerika Serikat. Gw menanyakan perihal penolakannya mengikuti Tim Nasional U-16.

“Kenapa lu gak mau ikut Timnas boy?” -semua anak gw panggil ‘boy’- tanya gw.

“Saya mau ikut DBL saja. Ini pilihan saya. Saya sekolah dengan biaya bea siswa. Jika saya mengikuti Timnas, maka otomatis saya gak boleh lagi ikut DBL, yang artinya bea siswa saya dicabut,” ia menjelaskan. Pemain tersebut juga kurang mengerti mengapa ia bisa terpilih masuk Timnas U-16 (dalam hati sih gw mikir, “yaa karena kamu basketnya jago boy” :P)

DBL Jahat?

Lah? Kalau begitu, solusinya seharusnya mudah saja bukan? Izinkan ia bermain untuk Timnas dan juga tetap bermain di DBL. Selesai! Beres! Susah amat!

Nah, di sinilah gw rasa banyak sekali yang belum paham tentang DBL dan beberapa hal penting yang terkait dengannya.

Pertama, liga pelajar DBL adalah sebuah event atau kegiatan olah raga yang mengutamakan partisipasi. DBL berusaha melebarkan sayap dari yang hanya dimulai dari Surabaya, kini berkembang ke puluhan kota dan berencana akan terus mengembangkan diri. Kasarnya, penyelenggara ingin agar olah raga bola basket dimainkan oleh sebanyak-banyaknya anak Indonesia. Dalam kata lain, partisipasi!

Benar, pasrtisipasi. Liga DBL kini sudah diikuti oleh lebih dari 25.000 pelajar dari seluruh Indonesia yang benar-benar mendapatkan kesempatan beradu basket. Mulai yang jago-jago, hingga yang baru belajar dribble bola! DBL tidak mengutamakan kegiatan ini sebagai ajang prestasi, walau tentu saja juaranya adalah pebasket-pelajar yang berprestasi.

Dalam kasus pemain DBL yang tidak memilih untuk bermain di Timnas U-16, dalam kaca mata kegiatan olah raga yang mengutamakan partisipasi, jika ia bermain di Timnas U-16 dan juga bermain di DBL Camp, maka ia akan menutup kesempatan anak lainnya untuk menutupi satu tempat di DBL Camp.

“Gak apa-apalah, kan demi prestasi Indonesia..”

Yes, demi prestasi Indonesia, tetapi dengan demikian, menurut aturan DBL maka ia otomatis menutup kesempatan rekannya yang lain yang kemungkinan juga sangat berbakat dalam bermain basket. Tentunya dengan tidak melupakan bahwa jika ia meninggalkan DBL, maka beasiswanya akan dicabut.

“Bagaimana jika aturan tersebut dirubah?”

Tentu saja tidak semudah itu. DBL telah konsisten menegakkan aturan ini sejak pertama kali berdiri di tahun 2004 dan dipatuhi oleh beberapa pemain yang pernah melewati kasus yang sama.

Jika DBL telah menegakkan aturan ini dari tahun 2004, berbeda halnya dengan kejuaraan SEABA U-16 yang baru pertama kali akan dilaksanakan tahun ini. Ujug-ujug mau merubah aturan akan menjadi preseden buruk bagi pembelajaran dalam mematuhi aturan-aturan (bukan hanya di basket).

Jika sedikit-sedikit ada kasus yang tidak sesuai aturan, lalu yang harus mengalah adalah aturannya yang harus dirubah agar “semua senang”, maka kita gak akan pernah belajar menegakan aturan, baca: hukum!

Dalam tulisan di Bola itu, mas Eko Widodo mengatakan, “Jika ternyata ada peraturan sebuah liga yang direkomendasi (Perbasi) berpeluang merugikan pembinaan pebasket, ada baiknya dikaji lagi.”

Hemat gw, jika memang DBL dari dulu direkomendasi Perbasi (dan memang direkomendasi Perbasi), maka artinya Perbasi pun sebenarnya dari dulu sudah setuju dengan semua aturan-aturan DBL.

Diancam skors oleh Perbasi

Dari sebuah sumber yang sangat bisa gw percaya (bukan dari pihak DBL), pemain yang menolak mengikuti Timnas U-16 ini terancam mendapatkan skors dari Perbasi berupa tidak boleh mengikuti kompetisi-kompetisi Perbasi dalam beberapa tahun :(

Jika pemain yang menolak bermain untuk Timnas U-16 itu baru diancam akan diskors oleh Perbasi, gw gak kaget. Karena salah satu peserta DBL Camp 2011 yang lain justru sudah ada yang diskors Perbasi karena ogah mewakili daerahnya di Pra-PON. Pemain tersebut lebih memilih ikut DBL Camp.

Beberapa tahun lalu, salah seorang pemain pelajar putri dari Jawa Tengah juga mengalami hal serupa. Ia memilih ikut kompetisi DBL, dan menerima skorsing dari Perbasi kotanya untuk tidak main dalam kompetisi Perbasi dalam jangka waktu sekian tahun. Dalam hati gw berpikir “cool! masih muda sudah pernah di-bann! That is rebellious! Sebuah keberanian mempertahankan kehendak apapun risikonya!”

Penutup

Panjang juga yak tulisan yang ini :P

Benak gw berkecamuk, “lah, pasti ada yang ‘salah’ jika anak-anak ini justru lebih memilih main di DBL daripada kompetisi-kompetisi Perbasi atau mewakili Timnas.”

Liga DBL pasti punya magnet tersendiri yang membuat mereka berani memilih DBL dan menerima resiko diskors bahkan dicemooh di media massa.

Secara pribadi, gw miris membaca keterangan foto pada tulisan Persiapan SEABA U-16, Mayoritas Cinta Timnas di tabloid Bola tersebut tertulis “Para pebasket timnas muda usia ini masih berpikir jernih dengan membela Tim Merah-Putih.”

Bagi gw, anak yang tidak memilih untuk bermain untuk U-16 berhak menentukan pilihan dengan pikiran jernihnya sendiri. Bagi gw, baik yang ikut Timnas U-16 ataupun yang memilih ikut DBL, dua-duanya berpikiran jernih. Hanya saja perspektifnya berbeda. Dan kita perlu mengembangkan orang-orang Indonesia yang memiliki multi perspektif dalam melihat suatu permasalahan.

Bagi gw, DBL telah membuat bola basket sebagai sebuah olah raga dan kompetisi yang dinanti-nanti dengan antusias di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah partisipasi anak Indonesia seeeebanyak-banyaknya. Dari yang hanya tujuannya partisipasi, melalui DBL muncul anak-anak Indonesia yang berprestasi dalam hal basket. Ini buah yang tidak disengaja.

“Jangan tujuan mulia pembinaan itu malah berubah menjadi pembinasaan.” Kalimat tersebut menutup artikel di tabloid Bola tersebut. Gw langsung melamun. DBL melakukan pembinaan yang sangat-sangat luar biasa yang merata hampir di seluruh Indonesia. 25.000 lebih anak bermain basket di DBL. Beberapa di antaranya muncul sebagai pemain yang jago. Jika hanya gara-gara gak ikut Timnas U-16 atau Pra-PON atau apapun ia malah diskors, gw kembali bertanya-tanya, ini siapa yang sebenarnya membina? Dan yang siapa membinasakan?

Masalah membela Tim Nasional, pemain-pemain muda yang masih SMA ini masih sangat muda. Gw masih berharap mereka nanti akan bermain bersama, kembali membela Merah-Putih, kelak dalam ajang yang bergengsi seperti FIBA Asia, SEA Games, atau SEABA. Mereka bermain kompak sebagai pemain matang dalam tim yang solid! Amiin :)

Tambahan 30 Juli: Beberapa menit setelah tulisan ini gw posting, mas Agus Mauro, Sekjen Perbasi melalui sms memberi jaminan bahwa pemain yang menolak bergabung dengan Tim Nasional U-16 tidak akan diskors, seperti ancaman yang gw tulis di atas. Ini melegakan :D

“Kami dari Perbasi selalu berkomunikasi dengan pihak DBL mengenai permasalahan ini, Insya Allah semuanya yang terbaik untuk kemajuan Bolabasket Indonesia. Mohon dukungannya, terima kasih.” Agus Mauro, Sekjen Perbasi.

Ibu-ibu Penonton DBL Camp (DBL Camp 2011, 24-28 Juli 2011)

Gak kerasa, DBL Camp sudah melewati hari ke-empat. Sebagai penikmat basket yang masih belajar, gw rasa camp ini sangat bagus dan berguna bagi siapapun yang ingin belajar mengenai basket, atau sekadar mengetahui betapa seriusnya yang memiliki keinginan agar olah raga bola basket berkembang di Indonesia.

Selama DBL Camp berlangsung, gw yang lebih banyak muter-muter di sekitar lapangan mengikuti camp, sesekali menoleh ke tribun penonton DBL Arena, “hmm.. gak ada yang menyaksikan.” :)

Tetapi ketika gw berbalik badan dan melihat sisi tribun penonton yang berlawanan, gw melihat ada beberapa orang ibu-ibu yang sedang menonton. Gw senyum, “ngapain ini ibu-ibu nonton camp basket? Oh, barangkali tontonin anaknya yang ikutan camp.. Eh atau mungkin lagi bolos kantor..” :D

Pada hari berikutnya, camp berjalan semakin ketat, keras, dan intensif. Bagi gw yang hanya menyaksikan dari sekitar lapangan, camp ini semakin seru. Walau tentu saja para peserta camp barangkali (pasti) kecapean :)

Hari berikutnya, masih ada ibu-ibu lagi yang nonton DBL Camp. Bukan ibu-ibu yang kemarin lagi kelihatannya. Ia datang dengan seorang anak perempuan. Tampaknya seperti anaknya. Terlihat menonjol di antara deretan bangku penonton DBL Arena yang memang kosong.

DBL Camp memang tidak di desain untuk ditonton. Dan para peserta camp juga tak terlalu ambil pusing dengan ada atau tidaknya penonton yang menyaksikan, karena sibuk dan keasyikan sendiri :D Tetapi jika ada penggemar basket yang ingin menyaksikan DBL Camp, pintu masuk DBL Arena terbuka lebar bagi siapa saja yang menyaksikan camp atau mungkin mengambil manfat dari camp ini. Gratis!

Yes, gratis! Sayangnya, gak ada yang mau mengambil manfaat ilmu gratis yang sedang disebarkan oleh para pemberi materi camp. Gak ada pelatih lokal (selain pelatih DBL yang terpilih untuk kumpul di Surabaya), gak ada pemain basket lokal, gak ada wakil Perbasi, gak ada wasit.

Kenapa pelatih lokal seharusnya nonton DBL Camp? Setidaknya mereka bisa belajar langsung mengenai fundamental bermain basket dari para pelatih dan pemain yang pernah bermain di level kompetisi tertinggi dalam kejuaraan basket.

Kenapa pemain basket lokal seharusnya nonton NBL Camp? Hmm.. siapa tahu setelah nonton menjadi tambah jago!

Kenapa Perbasi seharusnya nonton DBL Camp? Siapa tahu jadi tertarik membuat camp-camp basket lain dan lebih sering untuk dilaksanakan di seluruh Indonesia :D

Kenapa wasit seharusnya nonton DBL Camp? Hmm.. bingung juga jawabnya :D

Katanya Bandung Kota Kreatif :(

Alternatif yang sebelumnya ternyata jiplakan. Dan kini logo baru (gambar pertama) yang mungkin sudah disetujui oleh NBL Indonesia untuk digunakan sebagai logo tim mulai musim 2011-2012 nanti akhirnya selesai. Tetapi ternyata..

Gambar kedua ini adalah logo alternatif dari New York Hawks (gw gak tahu itu tim divisi dari liga apa). Yang jelas logonya.. Hadoohhh.. Ceu nah urang Bandung loba nu kreatip!

*Gw gak nyari-nyari kesalahan logo Garuda Bandung. Temuan ini dikirimkan oleh pembaca Mainbasket yang gw rasa sangat sadar akan pentingnya orisinalitas dalam sebuah karya desain. Gw pribadi sebagai fans Garuda merasa malu :(