Ary Chandra, Pemain Hebat yang Tak Terpantau Radar!

Ketika NBL Indonesia akan bergulir dan mulai bergulir melalui Preseason Tournament bulan Juli 2010 di Malang, banyak nama pemain bermunculan yang diramalkan akan sangat bersinar di NBL Indonesia 2010-2011. Sebut saja Mario Wuysang (setelah turnamen pindah ke Satria Muda ABL), Rony Gunawan, I Made “Lolik” Sudiadnyana, Faisal Achmad, Dimas Aryo Dewanto, Valentino Wuwungan, Fadlan Minallah, Bima Rizky, Denny Sumargo (saat itu belum jelas akan masih bermain atau pensiun), Kelly Purwanto, Andi Batam dan lain-lain.

Tak ada yang menyebut Ary Chandra, bahkan mungkin tak ada yang sempat memasukan Ary Chandra. Ary Chandra siapa? Ary sempat bermain di pertandingan pertama Pelita Jaya saat dikalahkan CLS Knights di turnamen preseason Malang. Saat itu Ary mencetak 11 angka, empat angka di bawah forward Pelita Jaya, Komink. Setelah itu Ary tak lagi bermain karena sakit. Pelita Jaya pun tak lolos babak empat besar turnamen preseason.

Pada pertandingan pertama Seri Surabaya sekaligus pertandingan pertama Pelita Jaya di musim reguler, Pelita Jaya menghadapi CLS Knights Surabaya. Kala itu, semua orang menunggu penampilan Dimas Aryo Dewanto, pemain lincah yang baru saja dibeli Pelita Jaya dari Bimasakti Malang. Dimas, bermain dahsyat. Ia memukau banyak orang. Dimas memang jagoan. Tapi tunggu dulu, pemain yang paling banyak mencetak angka bukanlah Dimas. Dimas mencetak delapan angka. Pencetak angka terbanyak adalah Ary Chandra, 18 poin.

Kehebatan Ary Chandra berlanjut. Meskipun kadang tak menjadi pilihan utama Coach Rastafari untuk tampil sebagai lima pemain pertama, Ary Chandra justru kerap menonjol sebagai pendulang angka terbanyak. Hingga akhir klasemen, Ary Chandra adalah pemain dengan raihan rerata angka tertinggi di NBL Indonesia dengan 14,04 poin per laga, di atas I Made “Lolik” Sudiadnyana yang hanya 13,85 poin per laga.

Dalam salah dua pertandingan terakhir Pelita Jaya di Seri Jakarta, Ary Chandra menggila! Ketika melawan Citra Satria, Ary Chandra hanya kurang satu poin dalam memecahkan rekor Okiwira yang membukukan 34 poin dalam satu game. Ary Chandra hanya mencetak 33 poin.

Penampilan Ary Chandra mencapai klimaks di pertandingan terakhir Seri Jakarta sekaligus seri reguler NBL Indonesia 2010-2011. Ketika Pelita Jaya mengalahkan Bimasakti dengan skor 114-48, Ary Chandra mencetak 42 poin! Delapan angka di atas rekor lama yang dipegang Okiwira. Luar biasa!

Akhirnya di akhir musim reguler, ketika seluruh pemain mengakumulasi semua angka yang pernah mereka cetak, Amin Prihantono mencetak 316 poin, Xaverius Prawiro 316 poin, Merio Ferdiyansyah 340, dan I Made Sudiadnyana 360 poin. Berapakah poin Ary Chandra selama berlaga di musim reguler NBL? 379 poin! Terbanyak!

Dulu, Ary Chandra tak masuk pantauan radar penonton bahkan mungkin kurang diperhitungkan lawan (dibandingkan pemain Pelita Jaya lainnya) ketika musim mulai bergulir. Kini ketika musim sudah berakhir, Ary Chandra masih saja tak tampak dalam layar radar. Dari 10 kandidat pemain terbaik NBL (MVP) yang salah satu faktor penilaiannya adalah raihan statistik, Ary Chandra tetap tenggelam. Tak terlihat bak ninja. Membunuh, tapi tak meninggalkan jejak!!!

Iklan

Sue Wicks, Kenali Sebelum Bertemu Tanggal 25 Mei Nanti di Jakarta

Tanggal 25 Mei nanti kita akan kedatangan 2 orang tamu istimewa, Sue Wicks dan Sam Perkins. Sam Perkins adalah seorang veteran NBA yang pernah bermain di klub favorit gw Seattle Supersonics (sekarang klub ini sudah beristirahat dalam damai :P) dan merupakan rekan dari 2 orang pemain favorit gw, Gary Payton dan Shawn Kemp.

Bersama Sam Perkins, datang pula seorang veteran pebasket wanita dari liga WNBA. Jika Sam Perkins adalah seorang pemain yang relatif cukup dikenal oleh pecinta olahraga bola basket di Indonesia, barangkali Sue Wicks sedikit akan memicu pertanyaan dalam benak kita “Siapa nih cewek bule pemain basket?”

Biografi singkat Sue Wicks

Biografi ini gw terjemahkan secara bebas dari salah satu situs yang memuat biografi orang-orang hebat di dunia (lihat aslinya di sini). Tadinya gw ingin menyarikan dari beberapa sumber, namun tampaknya tulisan dari situs tersebut sepertinya sudah bercerita mengenai Sue Wicks dengan ringkas nan padat.

Sue Wicks (terlahir dengan nama asli Susan Joy Wicks pada tanggal 26 November 1966 di Center Moriches, New York) adalah mantan pemain Women’s National Basketball Association (WNBA) yang bermain untuk klub New York Liberty dari tahun 1997 hingga 2002. Wicks lulus dari Rutgers University pada tahun 1988. Sue Wicks berposisi sebagai center.

Pada tahun 1987, Wicks meraih medali emas di kejuaraan Pan-American Games (Sebuah pesta olahraga antar negara-negara di benua Amerika). Selama lebih dari 15 tahun Wicks bermain basket profesional di luar Amerika Serikat.

Sejak tahun 1999, Wicks telah menjadi bagian dari pemain inti di Liberty dengan posisi center. Bahkan dengan kemampuan bertahannya yang sangat baik, Wicks menjadi langganan WNBA All-Star dari tahun itu hingga masa pensiunnya.

Pada tahun 2000, Wicks mendapatkan anugerah Kim Perrot Sportsmanship Award (anugerah atau award untuk pemain paling sportif di WNBA). Di tahun 1999 dan 2000, New York Liberty mencapai final WNBA, namun harus selalu mengakui keunggulan Houston Comets di dua final tersebut. Liberty dan Wicks kembali masuk final WNBA pada tahun 2002 tetapi kembali harus mengakui keunggulan seteru mereka Los Angeles Sparks.

Wicks telah bermain sebanyak 182 kali di WNBA, mencetak 823 angka (4,5 poin per game), 182 assists (1 assist per game), 788 robounds (4,3 rebounds per game), dan total 158 blok (0,90 blocks per game). Wicks menutup karirnya di WNBA sebagai pemain terbanyak melakukan blok di urutan ke-8.

Sejak tak lagi bermain untuk basket profesional, Wicks mendirikan sebuah kemah pelatihan basket (basketball camp) khusus perempuan di New York. Tahun 2004, ia ditunjuk sebagai koordinator operasional klub bola basket di almamaternya, Rutgers University.

Liem Tjien Siong, Legenda Basket Kita :)

Tak banyak informasi tentang beliau. Entah di mana pula bisa mendapatkan foto aksi memukaunya. Hanya sepenggal kalimat dari situs Perbasi ini saja yang mewakili kehebatannya, “Dari klub (Pheng You Hui. Sekarang Sahabat Semarang) itu pula kemudian lahir salah seorang pemain legendaris Indonesia, Liem Tjien Siong yang kemudian dikenal dengan nama Sonny Hendrawan (Pada 1967 Sonny terpilih sebagai Pemain Terbaik pada Kejuaraan Bola Basket Asia IV di Seoul, Korsel. Waktu itu, tim Indonesia menduduki peringkat ke-4 di bawah Filipina, Korea, dan Jepang).”

Wawancara Richard “Insane” dengan Max Yanto (IM Muba Hangtuah)

Emang sudah diniatkan hari ini sehabis meeting dengan Andy Bachtiar (Sutradara Romeo dan Juliet) di Grand Indonesia, saya bakal menyaksikan tune-up game Pelita Jaya Esia Jakarta (Pelita Jaya) vs Indonesia Muda MUBA Hangtuah Sumatera Selatan (Muba)

Saat tiba di Hall basket Senayan, ternyata sudah quarter 2. Game memang berjalan sedikit kurang seimbang. Terlihat dari skor akhir Pelita Jaya (88) – Muba (54). HerdiOflow dan beberapa teman di twitter pun mengatakan hal yang senada “wooow, cukup jauh ya!” cetus Herdi, eks-pemain IBL yang sempat membela klub Muba & Pelita Jaya via twitter.

Muba memang kalah jauh pada partai tune-up game vs Pelita Jaya, tetapi ada hal menarik yang menggugah saya untuk melihat lebih dalam lagi ke sosok pemain Muba yang saat itu hanya diturunkan di sisa 2 menit terakhir quarter 4, siapa dia? Yup, Max Yanto.

Dia adalah salah satu center Muba yang memang jarang sekali diturunkan di setiap partai tune-up Game. “Maksimalkan Max!!” begitu tweet @mainbaskket via twitter. Saya sependapat. Mengapa Max Yanto tidak dimainkan? Bukankah setidaknya Max bisa membantu dalam hal rebound? Kan Max tingginya nggak jauh beda sama Shaquile O’neil dan kalo ada Max pasti pemain Pelita Jaya bakal sulit melakukan serangan under basket, pasti bola pemain PJ bakal diblok, pasti Muba akan terbantu secara rebound!

Hmmm, banyak juga beban Max kalau seandainya dia bermain. Dan seandainya Max Yanto sudah mengenal permainan bola basket semenjak SD, pasti itu semua bakal dilakukan Max dengan senang hati.

Sabar, kerja keras & giat berlatih kayanya harus melandasi hari-hari Max di Muba. “Max seharusnya diberikan satu orang pelatih khusus yang tugasnya menangani dan memperbaiki basic serta kemampuan bermain basketnya, saya percaya Max bisa menjadi pemain yg berbahaya,” kata Ronald Simanjuntak di sela-sela pertandingan kepada Bang Simon Pasaribu (Wah, brarti saya nguping yak?? Hehehe)

Sayang memang kalau Max Yanto belum dapat dimaksimalkan, padahal banyak pecinta basket yang ingin melihat aksi Max saat berlaga di IBL. “Kita kan lihat Muba, mau lihat Max Yanto nge-dunk! Koq nggak dimainin sih?” begitu kata anak-anak SMU yang saat itu datang ke Hall Basket Senayan. Sadar atau tidak sadar, Max memang belum dapat disejajarkan sebagai ‘magnet IBL’ yang dapat disetarakan dengan Denny Sumargo, Kelly atau Mario Wuysang. Tapi satu hal yang pasti, Max Yanto juga merupakan daya jual IBL, dengan tinggi badan seperti itu pasti bakal membuat kompetisi dan atmosfer liga bisa menjadi semakin berwarna (Intinya Max masih harus dipersiapkan dengan matang, kuncinya sabar, kerja keras dan giat berlatih).

Nah, sekarang tinggal gimana Max, Muba dan IBL mengemas ‘kelebihan’ ini. Sebagai penutup, saya mewawancarai Max Yanto. Enjoy it :)

@nsane11: Hallo Max, apa kabar? Tadi saya lihat anda lho, di bawah 2 menit bermain tapi sudah nyetak 4 angka dan 2 rebound .. Hebat!! :) Bagaimana kalau waktunya lebih lama? pasti di atas 30 angka! :)

Max Yanto (MY): Baik, wah terima kasih udah lihat gamenya :) Kalau di atas 30 menit, saya sudah mati mas, hehehe.

@nsane11: Lho? Koq ngomongnya gitu mas? Kenapa?

MY: Iya lah mas, bawa berat badan 125kg bolak-balik selama 30 menit, lari-lari plus lompat kan cape mas, saya nggak bakal kuat. Makanya pelatih cuma mainin saya 2 menit terakhir, saya nggak kuat mas.

@nsane11: Ooh gitu! (Iya juga ya, pasti cape. Tapi koq O’neal nggak ya? Itu dia bedanya, O’neal kan main basket dari SMP. Kalau si Max baru sekitar 4 tahun yang lalu) Max, punya olahraga yg disuka selain basket nggak?

MY:
Volley, Bulu Tangkis sama Tinju ..

@nsane11: Pemain Favorite NBA?

MY: Kevin Garnett #5 Boston Celtics.

@nsane11: Kalo pemain lokalnya siapa Max?

MY: Saya suka Rony Gunawan, bukan secara permainan tapi lebih kepada perhatian dia terhadap saya. Dia dulu banyak memberikan masukan, cara bermain basket kepada saya. Dia tidak sombong, padahal dia salah satu pemain hebat juga di IBL tapi mau sharing ke saya, yang bukan siapa-siapa. Itu sungguh berarti buat saya, jadi kalau ditanya siapa pemain lokal idola saya sudah pasti Rony Gunawan :)

@nsane11: Kalau main 1 lawan 1 vs Shaquille O’neil berani nggak?

MY: Nggak lah mas, saya pasti *maaf* berak di celana kalo ketemu dia. Hahahahaha :)

@nsane11: Oke, terakhir Max. Kalau ada kesempatan makan malam sama Sandra Dewi, bakal diajak makan malam di mana Max?

MY: Hahahaha, belom lah mas. Nggak mungkin. Mana mau dia makan ketoprak pinggir jalan sama saya. Hahahaha.

@nsane11: Oke Max, sukses terus ya :)

MY:
Terima kasih mas insane :)

Regards,
Richard ‘insane’ Latunusa
Follow me @nsane11
email: insane_minusplus@yahoo.com

Johannis Winar, Pelatih Baru Garuda Flexi Bandung

Singkat padat nan jelas tweet dari Garuda hari ini “Regrouping with the new head coach (Johannis Winar)”

Johannis Winar atau mungkin nanti akan akrab dipanggil dengan nama Coach Ahang bukanlah orang baru bagi Garuda. Seingat gw, pada saat Garuda masih dilatih oleh David Zamar, Johannis Winar masih bermain bagi Garuda.

Seusai masa kepelatihan David Zamar, Garuda dipimpin oleh Coach Rastafari, dan Johannis Winar memulai karir kepelatihannya dengan menjadi asisten dari Coach Rastafari.

Tahun lalu, ketika Garuda diarsiteki oleh Raoul Miguel Hadinoto, Johannis Winar memegang tampuk pelatih kepala dari tim Stadium Bhinneka Solo. Dan kini, Johannis Winar memegang Garuda! Tim bertabur bintang.

Belum ada prestasi mencolok selama karir kepelatihan dari Johannis Winar selain komentar beberapa pemain IBL yang pernah gw ajak ngobrol bahwa Johannis Winar adalah seorang pelatih yang tegas dan berbakat.

Fans Garuda Bandung, mari berharap kepada pelatih yang kerap meluap-luap di pinggir lapangan ketika timnya bertanding ini. Semoga dapat membawa perubahan pada Garuda dan tentunya membawa Garuda juara IBL 2010.

Selamat datang Johannis Winar!

Bayi Raksasa Nan Lincah Itu Adalah Andi Batam!

4686_88924058214_574388214_1846160_2132350_n

Tidak ada lagi keraguan bahwa Simon Wong, Pelatih Kepala Nuvo CLS Knights Surabaya harus memberikan pengawasan kepada “The Giant Baby” Andi Batam dalam babak play off nanti melawan Pelita Jaya Esia Jakarta.

Gw tidak ingat kapan pertama kali melihat Andi Batam bermain, namun dari beberapa laga terakhir Pelita Jaya, gw semakin ngeri melihat penampilan Andi Batam yang menurut gw adalah seorang pemain yang dapat memperparah mimpi buruk tim-tim lawan yang menghadapi Pelita Jaya.

Saat IBL All Star 2009 di Bandung, Andi Batam menjadi Most Valuable Player dengan raihan angka terbanyak. Hampir semua tembakan tiga angkanya dari sisi kiri masuk. Dalam lanjutan pertandingan-pertandingan kompetisi reguler, Andi Batam mampu melakukan penetrasi dan mengakhirinya dengan lay-up manis yang membuat para pemain tim bertahan tak jarang saling menyalahkan. Jangan pernah pula memberi ruang tembak bagi Andi Batam, eksekusinya akan mempermalukan pemain yang menjaganya.

Pelita Jaya yang selalu menjadi kuda hitam kini semakin berbahaya. Rusta dan Erik Sebayang dan semua skuad Pelita Jaya semakin percaya diri dengan hadirnya Andi Batam. Watch out for the Giant Baby!

(Foto oleh Ino Afiar)