Azrul’s Insights: Sehari-hari, Garasi Formula 1 Berisikan Lapangan Futsal

Tulisan di bawah ini adalah tulisan (ke lima/terakhir) atau mungkin tepatnya catatan perjalanan Azrul Ananda, Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DetEksi Basketball League (DBL), ke Australia memenuhi undangan untuk mengikuti special program dari pemerintah Negeri Kanguru itu. Buat gw, catatan perjalanan ini lebih mirip sebuah insight karena walau seolah berisi narasi pengalaman jalan-jalan, ia juga dilengkapi pandangan-pandangan tersirat visi seputar kepedulian Azrul pada dunia basket terutama basket Indonesia bahkan kemajuan bangsa.

Azrul’s Insights akan terbagi menjadi menjadi beberapa tulisan yang akan gw terbitkan di hari-hari berbeda. Selamat membaca :D

AZA AUSTRALIA 09

(Azrul Ananda (tengah) bersama Ron Walker (kanan) dan Drew Ward, chairman dan CEO Australian Grand Prix Corporation di kantor mereka, di dekat Albert Park, Melbourne. Foto oleh Broughton Robertson)

Ke Melbourne, tidak lengkap kalau tidak mengunjungi Albert Park, taman yang setiap Maret digunakan untuk balapan Formula 1. Lalu bertemu langsung dengan para petinggi penyelenggara lomba.

Azrul Ananda, Melbourne

Dari Darwin ke Sydney, dari Sydney ke Canberra, dari Canberra ke Melbourne. Meski hanya sehari di Melbourne, tapi kunjungan di ibu kota Victoria itu yang paling padat dan variatif.

Melbourne merupakan kota terakhir yang saya kunjungi dalam program Special Visit ini. Seharian di Melbourne Rabu lalu (9/9), tengah malamnya langsung terbang kembali ke Indonesia via Singapura.

Rabu lalu di Melbourne, total enam program dilakukan dari pagi sampai malam. Ada wawancara dengan dua radio (Radio Australia dan SBS Radio), pertemuan people to people dengan Asialink di University of Melbourne, bicara dengan editor harian The Age, juga mengunjungi markas Essendon Football Club (Australian Football).

Sebelum kelima program itu, paginya lebih dulu bicara Formula 1 dengan para “empunya” Grand Prix Australia di Melbourne.

Sejak 1996, Melbourne sudah menjadi tuan rumah seri balap mobil paling bergengsi di dunia itu. Sangat sering, Melbourne menjadi seri pembuka.

Di antara semua balapan di dunia, GP Australia termasuk yang paling populer. Melbourne kota yang indah, dan balapan diselenggarakan di Albert Park, salah satu taman kota. Kalau di negara lain dan di lomba “tradisional,” penggemar butuh banyak waktu untuk menuju sirkuit, yang letaknya biasa jauuuuh dari kota.

Bagi saya, GP Australia merupakan lomba favorit. Puluhan kali sudah saya meliput balapan F1 untuk harian Jawa Pos, Melbourne merupakan tempat paling asyik. Beberapa kali sudah saya meliput di sana, sejak 2001 dan terakhir 2007 lalu.

Namun, saya belum pernah ke Melbourne (dan ke Albert Park) di saat tidak ada balapan. Dan bedanya luar biasa. Rabu pagi itu, saya dijadwalkan bertemu dengan Ronald J. Walker, chairman Australian Grand Prix Corporation. Sebenarnya, pertemuan itu dirancang bukan untuk F1. Sebab, Ron Walker juga chairman dari Fairfax Media Limited, salah satu grup media terbesar di Australia. Di dalamnya antara lain harian The Age dan Financial Review.

Dasar maniak F1, mengapa tidak bertanya-tanya saja tentang F1 kepada orang nomor satu di GP Australia itu. Selama ini, saat meliput F1, saya memang sering berpapasan dengan Walker. Hanya saja, saat lomba, fokus saya biasanya kepada tim dan para pembalap.

Sebelum bertemu di Grand Prix House di Albert Road (di seberang salah satu sudut Albert Park, saya lebih dulu keliling “sirkuit.”)

Karena itu taman publik, jalanannya pun bebas dipakai publik. Kami –bersama driver dan Broughton Robertson dari departemen luar negeri Australia– menyusuri taman itu searah jarum jam, sesuai rute balapan. Hanya ada beberapa perbedaan rute, karena beberapa tikungan dibuat khusus untuk F1, tidak bisa dilalui saat taman berfungsi “normal.”

Dari perbedaan itu, bisa dibayangkan betapa rumitnya pekerjaan “menyulap” taman kota jadi sirkuit standar F1. Tidak cukup dua sampai tiga minggu sebelum lomba. Kabarnya, untuk lomba di bulan Maret, pekerjaan sudah dimulai sejak awal tahun baru. Setelah lomba, butuh waktu lagi untuk membongkar semuanya. Dan itu dilakukan setiap tahun, selama 13 tahun terakhir!

Kami lantas berhenti di kompleks garasi dan paddock “sirkuit.” Sebuah bangunan permanen dua lantai. Ketika lomba setiap maret, di sinilah tim-tim F1 bermarkas.

Lantai dasarnya adalah garasi mobil. Lantai di atasnya multifungsi. Sebagian jadi media center, tempat ratusan wakil media dari berbagai penjuru dunia bekerja. Sebagian besar menjadi kompleks hospitality, tempat tim-tim dan para sponsornya menjamu para tamu VIP dan pemegang tiket Paddock Club (tiket termahal yang harganya di kisaran Rp 30 juta per orang).

Media center, tempat yang paling berguna bagi saya kalau liputan, berada di bagian paling ujung. Alangkah kagetnya saya, ketika di depan pintu masuknya ada lapangan basket mini. Saya tahu di sana ada kotak lantai beton, tapi selama ini saya pikir berfungsi sebagai jalan masuk ke kompleks paddock.
Lebih kaget lagi ketika melihat lantai dua bangunan itu (yang berdinding kaca, jadi terlihat dari luar). Terlihat ada beberapa gawang kecil. “Lapangan futsal?” begitu tanya saya dalam hati.

AZRUL AUSTRALIA 09

(Azrul Ananda di depan garasi dan paddock Albert Park, Melbourne. Ketika balapan Formula 1, bangunan ini menjadi markas tim. Ketika hari biasa, di dalamnya menjadi lapangan futsal, netball, dan basketball. Foto oleh Broughton Robertson)

Saat berada di Grand Prix House, Walker menjelaskan bahwa bangunan itu memang harus multifungsi. “Menurut aturan, tidak boleh ada bangunan permanen di taman. Tapi kami membuat kesepakatan dengan parlemen. Bahwa bangunan itu bakal multifungsi. Bisa digunakan publik ketika tidak ada balapan,” terangnya.

Drew Ward, CEO Australian Grand Prix Corporation, menambahkan bahwa bangunan itu bukan hanya berisikan lapangan futsal. “Juga bisa dipakai untuk netball dan basketball,” ungkapnya.

Dalam pertemuan itu, Walker menanyai popularitas F1 di Indonesia. Tentu saya jawab luar biasa. Hanya saja, termasuk berat bagi banyak penggemar untuk nonton ke Australia. Selain butuh waktu untuk mengurus visa, juga biayanya lebih tinggi dari nonton ke Malaysia.

Walker tampak terkejut, ketika diberitahu penggemar F1 Indonesia bisa menikmati GP Malaysia dengan hanya mengeluarkan sedikit di atas USD 500 (Rp 5 juta). Itu cukup untuk pesawat, hotel murah, dan tiket nonton.

Grand Prix Australia sendiri telah menjalani masa-masa cukup “mendebarkan” belakangan ini. Terakhir, pada lomba Maret lalu, ada perubahan jam lomba. Dari start pukul 14.00, mundur ke pukul 17.00. Semula, F1 ingin lomba malam hari, supaya mendapat perhatian pemirsa televisi lebih baik di Eropa (basis utama penggemar F1). Kalau start pukul 14.00, maka penonton di Eropa harus bangun sekitar pukul 03.00 dini hari.

Semula, Walker dan perusahaannya mengajukan permintaan ke pemerintah untuk menginstalasi lampu, supaya bisa menyelenggarakan lomba di malam hari. Tapi ditolak. Start pukul 17.00 adalah kompromi. Dan Walker mengaku mendapatkan manfaatnya. “Pemirsa televisi di Eropa melonjak tiga kali lipat. Dengan total pemirsa di seluruh dunia mencapai 100 juta orang,” ungkapnya. “Jadi kami senang dengan format baru ini,” tandasnya.

Pemerintah memang punya peranan besar untuk GP Australia. Pemerintah-lah pemilik Australia Grand Prix Corporation. Walker dan Ward mengakui bahwa perusahaan ini merugi setiap tahun. “Kami rugi sekitar 40 juta dollar (Australia, Red) setiap tahun. Tapi Australia mendapat banyak manfaat dari situ. Melbourne dikenal di seluruh dunia. Karena itu, lomba ini akan terus dilanjutkan. Kami sudah memperpanjang kontrak dengan F1 hingga 2015,” papar Walker.

Kerugian itu, lanjut Walker, tidaklah seberapa bila dibandingkan beberapa penyelenggara lain. “Tahun lalu, Grand Prix Singapura rugi sampai 100 juta dollar,” ungkapnya. Walker tidak bilang itu dollar Australia atau Amerika Serikat. Tapi nilainya tidaklah terlalu jauh berbeda. Antara Rp 850 miliar (dollar Australia) atau Rp 1 triliun (dollar AS). Gengsi memang mahal sekali.

(habis)

Azrul’s Insight sebelumnya: AFL Ratusan Kali Lebih Besar dari Sepak Bola

Lebaran-selamat

Azrul’s Insights: AFL Ratusan Kali Lebih Besar dari Sepak Bola

Tulisan di bawah ini adalah tulisan (ke empat) atau mungkin tepatnya catatan perjalanan Azrul Ananda, Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DetEksi Basketball League (DBL), ke Australia memenuhi undangan untuk mengikuti special program dari pemerintah Negeri Kanguru itu. Buat gw, catatan perjalanan ini lebih mirip sebuah insight karena walau seolah berisi narasi pengalaman jalan-jalan, ia juga dilengkapi pandangan-pandangan tersirat visi seputar kepedulian Azrul pada dunia basket terutama basket Indonesia bahkan kemajuan bangsa.

Azrul’s Insights akan terbagi menjadi menjadi beberapa tulisan yang akan gw terbitkan di hari-hari berbeda. Selamat membaca :D

AZA AUSTRALIA 09

(Azrul Ananda bersama Patrick Mills, pemain muda Australia yang tahun ini masuk NBA bersama Portland Trail Blazers. Dia sedang cedera kaki, menjalani proses pemulihan di Australia Institute of Sports di Canberra. Foto oleh Broughton Robertson)

Pemulihan Cedera Lebih Baik daripada di Amerika

Tujuan utama kunjungan seminggu di Australia ini adalah mempromosikan hubungan people to people. Khususnya lewat jalur olahraga. Sebagai bonus: Bertemu bintang basket Aborigin yang sukses menembus NBA.

Azrul Ananda, Canberra

Australia negara gila olahraga. Selama di Australia, kebanyakan pertemuan saya adalah dengan orang-orang olahraga. Ketika di Darwin, pada dasarnya saya melihat semua tim profesional Negeri Kanguru yang tergabung di National Basketball League (NBL), bertemu pemain-pemain bintang, dan melakukan pertemuan dengan Larry Sengstock, CEO Basketball Australia (semacam Ketua Perbasi).

Saya juga bertemu menteri olahraga di beberapa kawasan. Selain di Northern Territory, juga Kevin Greene, menteri olahraga dan rekreasi New South Wales (negara bagian dengan penduduk terbanyak) di Sydney.

Kemudian, di Canberra Selasa lalu (8/9), saya diajak ke tempat yang sangat mengagumkan: Australian Institute of Sports (AIS).

Pada dasarnya, AIS merupakan tempat pemusatan latihan untuk atlet-atlet Australia. Mulai dari tingkat junior sampai elit. Di sana, berbagai fasilitas kelas dunia tersedia untuk puluhan macam olahraga. Di sana, sejak berdiri pada 1981, tak terhitung jumlah atlet-atlet elite kelas dunia yang “lulus”.

Dari basket saja ada berapa nama kondang. Yang utama adalah Luc Longley, pemain basket yang pada pertengahan 1990-an meraih popularitas luar biasa di NBA. Waktu itu, dia bermain di Chicago Bulls, menjadi salah satu rekan setim Michael Jordan.

Selain Longley, ada pula Andrew Bogut, yang sekarang menjadi pilar klub Milwaukee Bucks di NBA. Ada juga Lauren Jackson, salah satu pemain wanita terbaik di dunia.

Menurut Marty Clarke, pelatih kepala basket pria di AIS, mungkin 40-50 persen pemain di NBL Australia merupakan lulusan AIS.

Clarke –yang juga pelatih tim nasional junior Australia– menjelaskan, dia konstan berkomunikasi dengan asosiasi-asosiasi di berbagai penjuru Australia. Pihaknya terus mencari pemain-pemain muda berbakat, maksimal kelas XI SMA (kalau kelas XII sudah harus siap ujian).

Kadang tidak harus pemain paling berbakat, tapi pemain yang dianggap punya potensi besar bila dikembangkan dengan tepat. “Untuk putra lebih sulit daripada putri. Karena pertumbuhan postur putri lebih cepat dari putra. Kadang, kemampuan pemain putra berkembang pesat di akhir masa remaja,” ungkapnya.

Setiap dua tahun, AIS “merekrut” sekitar 12 pemain putra dan putri untuk pindah ke Canberra. Sekolah di ibu kota Australia itu, dan menjalani latihan khusus pada pagi dan sore di luar jam sekolah.

Ada pula camp-camp basket khusus selama empat hari untuk calon-calon pemain lain. Serta program bagi pihak-pihak asing yang ingin mendapatkan bantuan pengembangan dari AIS. Baru-baru ini, katanya, ada tim junior Filipina datang untuk menjalani camp di Canberra.

Fasilitas di AIS memang super-komplet. Selain gedung khusus basket berisikan empat lapangan, ada pula pusat rehabilitasi dan fitnes yang besar dan komplet. Juga ada tempat khusus di mana atlet bisa berlatih dalam cuaca di negara tempat mereka kelak bertanding (misalnya simulasi tropis dan panas).

Dasar nasib baik, di AIS kami bertemu dengan Patrick “Patty” Mills. Bagi kebanyakan orang, nama itu mungkin belum terlalu dikenal. Tapi lihatlah dalam lima tahun ke depan, ada peluang nama itu bakal dikenal di berbagai penjuru dunia.

Mills, 20, merupakan salah satu produk sukses AIS. Dia salah satu pemain basket Aborigin pertama yang sukses menembus level tertinggi. Bukan hanya di Australia, tapi di dunia. Point guard ini termasuk pemain termuda yang pernah bergabung di Boomers, julukan tim nasional Australia.

Dia sudah berkiprah dan meraih banyak pujian di Olimpiade Beijing tahun lalu. Pada Juni lalu, Mills berhasil menembus ranking NBA. Dia dicomot oleh salah satu tim kuat di liga paling bergengsi itu: Portland Trail Blazers. Salah satu pelatihnya di Blazers adalah Joe Prunty, yang pada Agustus lalu hadir di Surabaya, melatih pemain-pemain SMA terbaik dari 15 provinsi di Indonesia, dalam even Indonesia Development Camp 2009 (hasil kerja sama NBA dan DetEksi Basketball League).

Sayang, tidak lama setelah bergabung di Blazers, Mills patah kaki. Sudah sepuluh pekan terakhir ini dia harus berjalan memakai kruk (setelah operasi). Mungkin baru pulih satu sampai dua bulan lagi.

“Nasib buruk,” katanya singkat. Saya pun bertanya, ngapain rehabilitasi di Canberra? Bukankah di Amerika lebih lengkap? Ternyata, Mills bilang tidak ada yang lebih lengkap dari AIS di Canberra. “Kalau ada yang lengkap di Amerika, saya lebih baik rehabilitasi di sana. Karena pada prinsipnya saya sudah pindah, dan segala milik saya sudah ada di sana. Karena tidak ada, maka saya balik ke sini. Bahkan, begitu cedera, Marty Clarke merupakan salah satu orang pertama yang saya hubungi,” tuturnya.

Tidak ada pujian lebih tinggi dari pengakuan seorang atlet elit.

***

Mills merupakan atlet Aborigin yang sukses. Selama di Australia, beberapa kali pula saya bertemu dengan perwakilan organisasi yang bekerja membantu anak-anak aborigin lewat jalur olahraga.

Ada pertemuan dengan Clontarf Foundation di Darwin, yang banyak bekerja di kawasan utara atau barat Australia. Mereka mencoba membantu anak-anak Aborigin yang punya latar belakang sulit atau kekerasan lewat permainan Australian Football. Syarat untuk ikut: Harus masuk sekolah.

Di Marrickville High School di Sydney, saya bertemu dengan National Aboriginal Sporting Chance Academy (NASCA), yang juga melakukan kegiatan lewat Australian Football.

Sebagai informasi balasan, saya pun banyak mempresentasikan DetEksi Basketball League (DBL), selain bicara soal media di Indonesia. Apalagi misinya agak mirip. Lewat DBL, kami pun ingin mempromosikan konsep student athlete. Kalau mau main basket di liga pelajar terbesar di Indonesia itu, harus selalu naik kelas.

AZA AUSTRALIA 09

( Azrul Ananda (berdasi) di tengah-tengah pelajar Indonesian Studies University of Sydney, setelah memberi materi tentang perkembangan DetEksi Basketball League (DBL) di Indonesia. Ada mahasiswa yang ternyata pernah menonton langsung pertandingan DBL di Mataram. Foto oleh Broughton Robertson)

Ketika menyampaikan DBL di University of Sydney, ternyata ada sambutan menarik. Anthony Fine, 21, salah satu mahasiswa Indonesian Studies di situ, ternyata sudah pernah nonton langsung pertandingan DBL. Dia menyaksikan final Honda DBL 2009 seri Nusa Tenggara Barat, di Mataram.

Dengan antusias, Fine mengaku geleng-geleng kepala melihat hebohnya DBL. “Penonton sampai harus gantian memenuhi gedung. Saya tidak menyangka ada even olahraga sehebat itu di Indonesia. Di Australia saja tidak seperti itu,” katanya kepada rekan-rekan lain di kelas.

Di Australia, basket memang maju pesat, tapi sekarang lebih bersifat olahraga partisipasi di tingkat grass root. Di tingkat profesional, harus diakui kalau National Basketball League (NBL) memang sedang menjalani masa sulit. Tim-timnya kesulitan keuangan, duit sponsor makin mengering.

Pertandingan-pertandingan basket di Australia berkualitas sangat tinggi, namun penontonnya sepi. Ada banyak teori mengapa itu terjadi, tapi pada dasarnya kalah bersaing dengan berbagai olahraga di negara yang gila olahraga ini.

Olahraga nomor satu, sudah bukan rahasia lagi adalah Australian Football. Dan itu nomor satu jauh di atas nomor dua yang lain. Australian Football League (AFL), liga tertinggi olahraga itu, kini memiliki 16 tim, dan memiliki perputaran uang fantastis.

Saat hari terakhir kunjungan di Melbourne, Rabu kemarin (9/9), saya diberi tur fasilitas Essendon Football Club (Bombers), salah satu dari sepuluh (!) tim AFL yang bermarkas di kawasan Melbourne. Tim ini merupakan salah satu yang memiliki member terbesar dan perputaran uang tertinggi.

Simon Matthews, General Manager Media and Community Essendon Bombers, menjelaskan bahwa timnya memiliki sekitar 60 karyawan. Perputaran uang mencapai 40 juta dollar Australia semusim. Dari jumlah itu, sekitar 7 juta dollar untuk gaji pemain.

Pemasukannya? Sebagian dari member, yang menyumbang sampai 5 juta dollar semusim. Lalu 7 juta dollar dari pembagian hasil penjualan hak siar televisi. Setelah itu pemasukan lain-lain.

Pemasukan televisi AFL sangatlah fantastis. Kontrak lima tahun mencapai hampir 800 juta dollar Australia! “Kontrak itu habis dua tahun lagi. Kemungkinan, ketika perpanjangan, nilainya bisa mencapai 1 miliar dollar untuk lima tahun selanjutnya,” jelas Matthews.

Angka itu jauuuuuuh lebih tinggi dari yang lain. A-League, liga sepak bola Australia yang sedang melangkah maju, hanya punya kontrak televisi sekitar 1 sampai 2 juta dollar Australia semusim! Ya, AFL ratusan kali lebih raksasa! Bahkan rugby, yang juga populer, tidaklah sekaya AFL.

“Tim termiskin AFL punya perputaran uang sekitar 20 juta dollar semusim. Tim terkaya rugby mungkin hanya 15 atau 16 juta dollar semusim,” jelas Greg Baum, sports editor The Age, koran di Melbourne.

Saking jauhnya, AFL pun menyedot perhatian media terbesar. Menurut Baum, saat musim AFL (sekitar tujuh bulan, berakhir September ini), 80 persen porsi halaman olahraganya tercurahkan untuk AFL.

Azrul’s Insight sebelumnya: Azrul’s Insights: Paling Enjoy jika Tahan 3,5 Jam tanpa ke Toilet

(bersambung)

Azrul’s Insights: Paling Enjoy jika Tahan 3,5 Jam tanpa ke Toilet

Tulisan di bawah ini adalah tulisan (ke tiga) atau mungkin tepatnya catatan perjalanan Azrul Ananda, Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DetEksi Basketball League (DBL), ke Australia memenuhi undangan untuk mengikuti special program dari pemerintah Negeri Kanguru itu. Buat gw, catatan perjalanan ini lebih mirip sebuah insight karena walau seolah berisi narasi pengalaman jalan-jalan, ia juga dilengkapi pandangan-pandangan tersirat visi seputar kepedulian Azrul pada dunia basket terutama basket Indonesia bahkan kemajuan bangsa.

Azrul’s Insights akan terbagi menjadi menjadi beberapa tulisan yang akan gw terbitkan di hari-hari berbeda. Selamat membaca :D

AZRUL AUSTRALIA 09

(Azrul Ananda berpose di atas Sydney Harbour Bridge, saat berjalan menuju titik tertinggi jembatan. Sejak 1998, sudah lebih dari 2 juta orang menjalani tur BridgeClimb. (BridgeClimb))

Azrul Ananda, Sydney

SETELAH tiga hari di Darwin, Northern Territory, waktunya melanjutkan perjalanan ke kota lain. Tujuan: Sydney, New South Wales. Naik pesawat ke kota terbesar Australia itu menegaskan betapa terpisahnya Darwin dari ”keramaian”. Penerbangannya memakan waktu 4,5 jam!

Sebenarnya, saya bukan tipe yang suka kota-kota terbesar. Saya lebih menikmati mengunjungi tempat-tempat ”tenang”. Namun, ada banyak jadwal sudah menunggu di Sydney. Mulai mengunjungi grup media besar, bertemu dengan menteri olahraga (lagi), hingga diwawancarai saluran televisi Australia Network.

Sebelum menjalani rangkaian acara itu, saya diajak untuk menikmati salah satu tujuan wisata yang makin lama makin naik daun di Sydney: Mendaki Sydney Harbour Bridge.

BridgeClimb di Sydney bukanlah atraksi baru. Sudah tersedia sejak 1998. Total, lebih dari 2 juta orang diklaim pernah merasakan wisata itu.

Ide dasarnya sangat sederhana, tapi brilian: Paksa orang membayar ratusan dolar Australia, lalu ajak mereka mendaki jembatan ikon kota Sydney yang diresmikan pada 1932 tersebut. Proses mendakinya menyusuri lengkungan jembatan, hingga ke puncak tertinggi yang mencapai 134 meter.

Bagi yang tidak suka berjalan jauh (dan banyak orang Indonesia mungkin tidak suka berjalan terlalu jauh), program tersebut mungkin ”menyeramkan”. Dan, memang cukup melelahkan karena kita berjalan (termasuk mendaki dan memanjat tangga) lebih dari dua kilometer dalam waktu sekitar 3,5 jam.

Kalau suka berjalan jauh dan merasa kuat, itu benar-benar program menarik. Saya yakin, kalau dibandingkan dengan mendaki bukit atau gunung sungguhan, memanjat Sydney Harbour Bridge bukanlah apa-apa!

***

Entrepreneur Sydney, Paul Cave merupakan pencetus hadirnya BridgeClimb, perusahaan swasta pengelola wisata BridgeClimb. Pada 1989, dia diberi kesempatan mengorganisasi acara panjat internasional di sana. Kemudian, dia pun punya mimpi memberikan kesempatan kepada lebih banyak orang menikmatinya.

Sembilan tahun kemudian, lewat kengototan dan kerja keras, pada 1 Oktober 1998, impian itu menjadi kenyataan. Kabarnya, dia mendapatkan hak ”mengontrak” pengelolaan acara panjat selama 20 tahun dan harus membayar 3 juta dolar Australia per tahun.

Sekilas, 3 juta dolar merupakan angka fantastis. Namun, kalau dibandingkan dengan pemasukan yang dia dapat, itu merupakan angka kecil. Hebat!

Capek memanjat Sydney Harbour Bridge memang tidak murah. Pada dasarnya, setiap sepuluh menit ada jadwal memanjat. Setiap kelompok maksimal terdiri atas 14 peminat, dipandu seorang guide.

Harga beragam. Kalau siang, 198 dolar Australia per orang (satu dolar Australia sekitar Rp 8.500). Kalau malam, harganya 188 dolar. Yang mahal adalah paket Twilight (petang), mencapai 258 dolar per orang. Atau mau paket eksklusif Dawn (subuh), 295 dolar per orang.

Tiba di Sydney sekitar pukul 13.00, saya dan Broughton Robertson (wakil pemerintah Australia yang menemani saya selama kunjungan) bisa ikut rombongan Twilight pertama. ”Berangkat” pukul 15.25 dari pangkal jembatan di Cumberland Street, kawasan The Rocks.

Sebelum duduk di ruang tunggu, ada tulisan peringatan yang sangat-sangat penting. Bukan untuk keselamatan, melainkan peringatan bahwa begitu melewati pintu ruang tunggu tidak akan ada lagi kesempatan untuk mampir ke toilet (nanti dijelaskan mengapa ini sangat-sangat penting!).

Di ruang pertama, semua anggota rombongan dibrifing terlebih dahulu. Napas setiap anggota dites untuk memastikan tidak ada yang mengonsumsi alkohol berlebihan sebelum naik jembatan. Peserta juga diminta mengisi formulir, untuk keselamatan dan data diri.

Dari situ, peserta diminta untuk melepas semua aksesori. Jam tangan, cincin, kalung, dan anting yang terlalu besar. Kemudian, semua perlengkapan turis, seperti kamera dan telepon, harus dimasukkan ke loker. Untuk memastikan tidak ada barang terbawa, semua peserta harus melalui metal detector.

Lalu, peserta diberi baju overall ala balap, tapi dengan ritsleting di belakang (setelah memakai baju, ke toilet menjadi mission impossible!). Sabuk perlengkapan dipasangkan. Peralatan terpenting: Kabel yang bakal dikaitkan dengan railing jembatan selama pendakian. Kabel itu menjamin kita selalu ”bersama” jembatan, tak mungkin jatuh jauh ke bawah.

Berbagai aksesori itu harus dilepas karena bisa berbahaya ketika terlepas dan jatuh. Maklum, di bawah ada delapan jalur mobil berseliweran, plus dua jalur kereta. Plus, tanpa kamera, kita pun ”terpaksa” membeli ke BridgeClimb, menambah pemasukan perusahaan itu.

Perlengkapan lain adalah jaket ekstra (karena di atas sangat berangin dan dingin, khususnya menjelang malam), lampu yang diikatkan di kepala, earphone untuk mendengarkan penjelasan dan instruksi guide, plus opsi tambahan seperti topi dan sapu tangan (untuk bersin atau menangis haru).

Semua perlengkapan itu dikaitkan dengan pakaian overall sehingga tidak akan ada yang terlepas ketika di atas jembatan. Proses brifing sampai selesai memasang perlengkapan itu hampir satu jam.

***

Sehari, ratusan hingga ribuan orang menjalani tur tersebut. Saking banyaknya, ada 70 guide bertugas setiap hari, membawa rombongan yang jumlahnya maksimal 14 orang. Masing-masing guide mendaki dua hingga tiga kali sehari.

Ketika musim panas (akhir hingga awal tahun), jumlah guide melonjak hingga 100 orang atau lebih. Total peserta tur bisa lebih dari 1.500 orang sehingga tur itu beroperasi nyaris 24 jam. Ada yang larut malam, ada yang dini hari.

Guide yang membawa rombongan saya bernama Nick. Orangnya suka bercanda (kebanyakan mungkin begitu karena tugasnya memang untuk membahagiakan peserta yang membayar mahal).

Setelah semua peserta memasang perlengkapan, dia bilang untuk bersiap menjalani bagian paling berat. ”Bagian paling berat adalah keluar dari pintu ruangan ini, menyusuri jalanan kota Sydney sebelum mencapai kaki jembatan. Kita harus tahan malu karena kita akan berjalan berkelompok di pinggir jalan seperti pasukan Ghostbusters,” ucapnya disambut tawa.

Kami semua memang terlihat seperti anggota tim penangkap hantu di film zaman lama itu. Pakai overall abu-abu, dengan berbagai perlengkapan mengelilingi pinggang.

Sebelum menaiki tangga kaki jembatan, tersedia tempat minum. ”Tapi ingat, semua yang kita minum harus tetap berada di dalam badan sampai tur ini berakhir,” ingat Nick.

Proses mendaki tergolong biasa saja. Pertama, kita menyusuri catwalk yang berada di bawah jembatan. Lalu, naik tangga sempit satu per satu ke atas, sebelum mendaki bagian atas lengkungan utama jembatan. Sebentar-sebentar kami berhenti, mendengarkan penjelasan Nick tentang pemandangan sekeliling di Sydney Harbour. Termasuk tentang sejarah jembatan itu.

”Ketika jembatan ini dibangun, banyak orang heran. Sebab, ada jalur mobil begitu lebar. Padahal, pada 1932 itu, jumlah mobil hanya puluhan. Ini menunjukkan betapa desainer jembatan ini punya visi yang begitu hebat,” terang Nick.

Sebelum mencapai puncak, ada grup foto dulu, lalu foto satu per satu. Di bagian puncak (yang dipasangi dua bendera Australia), rombongan berhenti dulu untuk menikmati pemandangan sekaligus menunggu matahari terbenam. Hanya rombongan Twilight yang bisa menikmati pemandangan indah itu. Naik jembatan masih terang, turun jembatan gelap.

Bagi yang ingin pengalaman beda, ada pula paket Discovery Climb. Bedanya, sambil menuju puncak, paket yang kedua itu mengajak peserta menyusuri komponen-komponen dalam jembatan. Belajar tentang kehebatan desainnya.

Di puncak, Nick menjelaskan bahwa ada warna baru dalam beberapa waktu belakangan. Sekarang mulai banyak orang ingin menjalani proses pernikahan di puncak Sydney Harbour Bridge. ”Tidak semua lancar. Tiga bulan lalu, pasangan yang akan menikah itu kehilangan cincin. Jatuh ke bawah jembatan. Ini tidak bohong!” katanya.

***

Kunci menikmati BridgeClimb sebenarnya satu: Tahan tidak ke toilet selama 3,5 jam. Saya sendiri tergolong orang yang ”rajin” ke toilet. Jadi, ini bukan tur yang terlalu menyenangkan. Di saat semua orang menikmati matahari terbenam di puncak jembatan, saya sudah tak sabar segera turun. Dan, saya yakin tidak sendirian karena beberapa peserta yang lain juga goyang-goyang kaki dan terus bergerak di tempat.

Apesnya, dari puncak masih ada proses sekitar 45 menit lagi untuk turun, plus 15 menit ekstra untuk melepas segala perlengkapan.

Gara-gara itu, pengalaman terindah tur ini bagi saya ada dua: Mencapai puncak dan mengakhiri di toilet!

(bersambung)

Azrul’s Insight sebelumnya: Azrul’s Insights: Azrul’s Insights: Jualan Barbeque untuk Bantu Biaya Tim ke Surabaya

Azrul’s Insights: Jualan Barbeque untuk Bantu Biaya Tim ke Surabaya

Tulisan di bawah ini adalah tulisan atau mungkin tepatnya catatan perjalanan Azrul Ananda, Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DetEksi Basketball League (DBL), ke Australia memenuhi undangan untuk mengikuti special program dari pemerintah Negeri Kanguru itu. Buat gw, catatan perjalanan ini lebih mirip sebuah insight karena walau seolah berisi narasi pengalaman jalan-jalan, ia juga dilengkapi pandangan-pandangan tersirat visi seputar kepedulian Azrul pada dunia basket terutama basket Indonesia bahkan kemajuan bangsa.

Azrul’s Insights akan terbagi menjadi menjadi beberapa tulisan yang akan gw terbitkan di hari-hari berbeda. Selamat membaca :D

AZA AUSTRALIA 09

Di Darwin, basket dikembangkan secara swasta. Koran lokalnya sedang berupaya menemukan format baru. Plus, di sana kita bisa mengagumi (dan gemetaran) melihat buaya-buaya berukuran hingga enam meter!

Azrul Ananda, Darwin

Darwin punya pantai cukup indah. Di dekat kota juga ada Sungai Adelaide yang lebar, seru untuk dijelajahi naik perahu. Tapi kita harus hati-hati. Bahkan, pantainya bukan untuk berenang atau berjemur. Sebab, buaya ada di mana-mana. Dan bukan sekadar buaya biasa, melainkan buaya-buaya yang ukurannya mencapai enam meter!

Sebelum kita bicara soal buaya, saya ingin mengucapkan terima kasih khusus dulu kepada Darwin Basketball Association (DBA). Pada Oktober nanti, mereka akan mengirimkan tim mudanya ke Surabaya, bertanding melawan tim All-Star dari DetEksi Basketball League (DBL), liga basket pelajar terbesar di Indonesia.

Kerja sama ini merupakan bukti konkret hubungan people to people antara Indonesia dan Australia, tanpa campur tangan pemerintah sama sekali. Dari DBA, kita juga bisa belajar bagaimana sebuah perusahaan swasta bisa membuat basket begitu maju di sebuah kota yang berpenduduk hanya 120 ribu orang.

Sama seperti DBL yang berbasis di Surabaya, DBA adalah perusahaan swasta murni. Sama sekali tidak mendapat sokongan dari pemerintah. Karyawan full time-nya pun hanya empat orang. Seorang executive officer (CEO), development manager, finance manager, dan seorang bagian umum.

Di luar itu, seluruh kru pendukungnya bersifat part time atau volunteer (relawan).
Namun, mereka mampu menyelenggarakan kompetisi secara rutin, mulai anak-anak sampai dewasa. Setiap tahun mereka juga mengirim ratusan pemain (dari berbagai usia) untuk bertanding di berbagai negara.

Eksistensi DBA merupakan bukti konkret betapa organisasi basket tak harus mengikuti jalur resmi dari pusat. Dengan berdiri sendiri, DBA bisa lebih cepat membuat keputusan, lebih lincah bergerak mengembangkan diri.

Bahwa DBA independen bukan berarti terpisah dari sistem pusat. Secara resmi, mereka masih bergerak di bawah Basketball Australia. Dan pemerintah setempat memberikan support besar, menyediakan infrastruktur yang memadai.

Pemerintah membangunkan DBA Stadium, sebuah kompleks yang terdiri atas lima lapangan indoor. Dua berfasilitas AC, tiga tidak. Lapangan utama dilengkapi tribun yang menampung lebih dari 500 penonton. Stadion ini terletak di sebelah Marrara Indoor Stadium, yang lebih besar dan mewah (kapasitas sekitar 1.500 penonton).

Untuk pemakaian gedung, pemerintah sama sekali tidak meminta pungutan dari DBA. Dengan catatan, DBA melakukan perawatan dan menggunakannya secara maksimal. “Kalau kami bangkrut, maka pemerintah akan mengambil alih lagi stadion ini,” jelas Allan Hilzinger, Executive Officer DBA.

Konsep ini menarik juga. Dan mungkin bisa ditiru di Indonesia. Banyak yang tahu, kota-kota di Indonesia sebenarnya punya banyak gedung-gedung berstandar lumayan tinggi. Banyak juga yang tahu, gedung-gedung itu sama sekali tidak terawat (dengan berbagai alasan khas pemerintah yang tidak perlu ditulis di sini).

Kalau pemerintah mampu membangun, tapi tak mampu merawat, mengapa tidak dipercayakan saja kepada swasta? Karena gedungnya “dipinjami,” maka pihak swastanya tak perlu menyewakan terlalu mahal. Itu kemudian berdampak mempermudah penyelenggaraan-penyelenggaraan even di sana, menstimulasi perkembangan olahraga yang bersangkutan.

Dari mana DBA mendapat pemasukan? Macam-macam. Yang utama adalah dari keanggotaan. Saat ini, tercatat sekitar 2.000 anggota DBA dari berbagai usia. Mereka membayar iuran yang terjangkau untuk ukuran Darwin (sekitar 60 dollar Australia). Plus iuran tambahan kalau ikut kompetisi-kompetisi khusus.

Untuk mengirim tim ke Surabaya Oktober mendatang misalnya. Setiap anggota yang berminat (yang usianya sesuai) tinggal membayar jumlah tertentu, membantu biaya penerbangan dan lain-lain.

Kemudian, biaya tambahan dicari dengan cara lain. Misalnya selama penyelenggaraan Top End Challenge, turnamen pramusim National Basketball League (NBL), liga paling bergengsi di Australia.

Pihak DBA buka stan barbeque. Menawarkan sandwich berisikan sosis, bacon, atau steak berharga masing-masing 5 dollar Australia. Pihak DBA juga buka meja undian. Penonton membeli tiket undian seharga 2 dollar Australia. Kalau beruntung, mendapatkan salah satu dari sekian banyak bola basket bertanda tangan bintang-bintang NBL.

Di meja pelayanan barbeque dan undian dipasangi banyak tulisan: “Semua penghasilan akan digunakan untuk keperluan tim DBA ke Surabaya.”

Selain itu, DBA juga mendapatkan dana dari sponsor. Salah satu yang besar adalah Darwin Airport Resort, hotel populer yang terletak di sebelah bandara internasional (dan tak jauh dari kompleks olahraga).

Bayangkan seandainya kota-kota “kecil” di Indonesia bisa menerapkan sistem ini. Kalau merasa tidak mendapat perhatian cukup dari pusat, bikin saja organisasi swasta. Lalu kerja keras, mencari cara untuk hidup sendiri dan tak mengomel seandainya merasa kurang diperhatikan dari pusat. Juga tidak malu “minta-minta” sumbangan.

***

Selama di Darwin, saya sempat diajak mengunjungi Northern Territory News, satu-satunya harian (berukuran tabloid) di Darwin. Tentu saja, dalam pertemuan ini saya “melepas topi basket,” menjadi wakil dari Jawa Pos (media di Indonesia).

Harian ini cukup unik. Meski satu-satunya di Darwin, harian ini cenderung bergaya sensasionalistis ala tabloid gosip atau koran kuning. Setiap hari, yang jadi headline selalu berita-berita aneh-aneh. Misalnya, “Ada Ular di Toilet.” Sampai ada guyonan, kalau tidak berkaitan dengan buaya atau ular, maka tak layak masuk halaman depan.

Untung itu kurang lebih hanya di halaman depan. Halaman-halaman dalamnya sendiri tergolong harian “standar,” dengan berita nasional, ekonomi, kota, dan olahraga.

Ternyata, ada alasan harian itu memilih jalur sensanionalistis. Menurut Evan Hannah, sang General Manager, hanya empat persen pembacanya adalah pelanggan. Sisanya eceran. Makanya, harian beroplah di kisaran 25 ribu eksemplar itu harus punya halaman depan yang mengundang penasaran orang untuk beli.

Saat pertemuan itu, kami pun diskusi tentang masa depan koran, mengejar pembaca muda, dan solusi online. Apa isinya? Maaf, saya tidak akan membahasnya lebih lanjut. Soalnya ada koran-koran lain di luar Jawa Pos Group yang ikut membaca tulisan ini. He he he he…

Yang menarik (dan membanggakan) dari pertemuan ini, dalam beberapa hal media di Indonesia bisa lebih maju dari yang di negara maju!

Agak lucu juga, sebelum pertemuan ini, seorang wakil pemerintah Northern Territory yang menemani minta saya untuk memberi “pencerahan” kepada Northern Territory News. Dia tampak begitu sebal dengan gaya harian itu yang dia anggap terlalu menggosip.

***

Selama kunjungan di Australia ini, jadwal padat memang telah disiapkan. Dalam sehari, bisa ada lima pertemuan dan acara dari pukul 07.30 pagi sampai sore atau malam.

Meski jarak dari Indonesia ke Darwin begitu dekat, perbedaan jamnya cukup membuat saya kesulitan untuk beradaptasi. Sebab, beda antara Darwin dengan Waktu Indonesia Barat (WIB) tidaklah “genap.” Melainkan “ganjil” 2,5 jam. Jadi kalau di Jakarta pukul 12.00, maka di Darwin pukul 14.30. Ini kali pertama saya harus pergi ke tempat yang selisih waktunya ada setengah jam-nya.

Banyak meeting bukan berarti tidak ada kegiatan fun. Paling seru di Darwin? Lihat buaya! Bisa lihat yang liar naik helikopter, lihat di “miniatur kebun binatang” di tengah kota, atau di taman khusus yang lebih luas di pinggiran kota.

Buaya benar-benar hal besar di Australia. Dan buaya di Australia benar-benar besar. Beruntung, saya dapat tiga cara lihat buaya.

Pertama, lewat Crocosaurus Cove, di tengah kota (di dekat pusat perbelanjaan dan perkantoran). Tempat ini merupakan miniatur kebun binatang bagi orang yang tak sempat berkunjung ke tempat lebih besar di pinggir kota atau di alam bebas.

Dengan bayar 28 dollar Aussie, kita bisa menikmatinya setiap hari pukul 08.00 pagi sampai 20.00. Di dalamnya cukup mengesankan. Banyak buaya besar (sampai panjang 5,5 meter) di dalam tangki akuarium raksasa.

Kalau mau bayar 120 dollar ekstra, kita bisa “berenang” bersama buaya-buaya itu. Tidak berenang bebas tentunya. Kita berenang di kolam tangki di sebelah tangki buaya, dipisahkan dinding kaca. Atau, kita dimasukkan ke dalam sebuah sangkar, lalu sangkar itu dimasukkan ke dalam tangki untuk bisa berinteraksi langsung secara aman.

Kurang seru? Kita juga bisa ke Crocodylus Park, tak jauh dari bandara. Ini seperti kebun binatang “normal,” dan punya lebih banyak buaya. Tiket masuk kurang lebih sama, tapi di sini lebih banyak yang bisa didapat.

Di sana, kita bisa melihat show memberi makan buaya (daging ayam digantung di kabel, lalu buaya di danau buatan melompat vertikal untuk memakannya).

Setelah itu, semua pengunjung diberi kesempatan untuk ikut merasakan serunya memberi makan buaya-buaya besar itu (banyak yang panjangnya sampai 5 meter). Cukup mendebarkan juga. Sebab, buaya-buaya itu tampak diam, tapi lantas bergerak vertikal begitu cepat untuk menangkap makanan yang kita gantung di ujung tali.

Ada pula museum buaya, termasuk di dalamnya menceritakan kasus-kasus buaya makan manusia di berbagai penjuru dunia (banyak di Malaysia).

Bagi yang ingin melakukan “pembalasan,” Crocodiylus Park juga menyediakan kafe yang berjualan daging buaya dan produk-produk kulit buaya berlisensi. Ada fillet, ada burger. Katanya daging buaya itu baik, karena rendah lemak dan kolesterol.

Di Crocodylus Park memang ada peternakan buaya, untuk mendapatkan daging dan kulitnya.

Saya tidak mencoba seperti apa daging buaya. Tapi, Broughton Robertson, Wakil Department of Foreign Affairs dan Trade dari Canberra yang mendampingi saya, sempat menjajal burger buaya. Katanya, rasanya seperti daging ayam. Saya balas: “Saya pernah baca kanibal mengaku daging manusia juga terasa seperti ayam.”

Sebenarnya, cara paling seru adalah dengan naik perahu di Adelaide River, tak jauh dari Darwin. Di sana masih banyak buaya berkeliaran liar. Saya, Robertson, dan Donny Rahardian (Basketball Operations Manager DBL Indonesia) diajak menikmati dengan cara lebih seru.

Kami diajak Jeff Blake, seorang pengusaha setempat, naik helikopternya mengelilingi Darwin. Mulanya kami putar-putar di atas kota, lalu menikmati pantai yang indah. Sayang, karena ancaman buaya, pantai tidak direnangi. Untung juga, kalau tidak, pengunjung Bali bakal banyak berkurang!

Sebelum balik ke rumahnya, Blake mengajak terbang ke “alam bebas” di luar kota. Blake menerbangkan helikopter Bell-nya rendah mengikuti alur Adelaide River, dan tak akan berputar balik sampai melihat buaya liar. Untung tidak perlu waktu lama. Saya melihat dua buaya mengapung di tengah sungai.

Darwin memang kota “kecil,” tapi ada banyak yang bisa dinikmati di sana. Dan kelak, pengin juga rasanya mengajak keluarga ke sana. Tenang, santai, dan harga relatif lebih terjangkau. Cocok untuk menjauhkan diri dan menenangkan diri dari kehidupan sehari-hari.

(bersambung)

Azrul’s Insight sebelumnya: Azrul’s Insights: Seminggu di Australia; Sports, Anak Muda, Media, dan Wisata Asyik

Azrul’s Insights: Seminggu di Australia; Sports, Anak Muda, Media, dan Wisata Asyik

Tulisan di bawah ini adalah tulisan atau mungkin tepatnya catatan perjalanan Azrul Ananda, Wakil Direktur Jawa Pos dan Commissioner DetEksi Basketball League (DBL), ke Australia memenuhi undangan untuk mengikuti special program dari pemerintah Negeri Kanguru itu. Buat gw, catatan perjalanan ini lebih mirip sebuah insight karena walau seolah berisi narasi pengalaman jalan-jalan, ia juga dilengkapi pandangan-pandangan tersirat visi seputar kepedulian Azrul pada dunia basket terutama basket Indonesia bahkan kemajuan bangsa.

Azrul’s Insights akan terbagi menjadi menjadi beberapa tulisan yang akan gw terbitkan di hari-hari berbeda. Selamat membaca :D

AZA AUSTRALIA 09

(Azrul Ananda (kiri) bersama Larry Sengstock, CEO Basketball Australia, usai meeting di Darwin, Jumat, 4 September 2009. -foto: Donny Rahardian/DBL INDONESIA)

Di Darwin, Pemerintah Bikin Even Besar untuk Senangkan Anak Muda

Tidak banyak orang mendapat kesempatan istimewa seperti yang saya dapatkan ini. Special Program dari pemerintah Australia ini hanya diberikan kepada dua atau tiga orang setiap tahunnya. Dari negara-negara lain, mungkin hanya satu setiap dua atau tiga tahun.

Saya diberitahu, mantan presiden Tiongkok Jiang Zemin pernah ikut program ini, sekitar 20 tahun lalu. Katanya, hanya orang-orang tertentu yang masuk nominasi ikut program ini. Benar-benar kehormatan besar.

Program ini pun unik, dibuat customized. Mengikuti minat kita, memenuhi kebutuhan-kebutuhan yang kita inginkan. Waktunya pun bebas, terserah kapan kita bisa. Kebetulan, awal September ini saya baru bisa mengikutinya, meski sudah mendapat peluang sejak awal tahun.

Soal minat, sebenarnya banyak juga yang saya suka: Olahraga (khususnya basket dan balap), program anak muda, media, dan –tentu saja—wisata-wisata unik.

Saya bilang, saya kurang berminat dengan tema-tema politik. Karena biasanya program seperti ini erat kaitannya dengan politik. Tidak apa-apa, katanya. Alasan: Karena program ini lebih ditekankan untuk meningkatkan hubungan people to people.

Soal kota, saya sebenarnya agak fleksibel. Tapi kalau bisa tidak ke kota-kota “sering,” seperti Melbourne atau Sydney. Kecuali memang dapat kesempatan yang unik di kedua kota tersebut.

Kota pertama yang ingin saya kunjungi: Darwin di Northern Territory. Ketika menyampaikan ini ke beberapa rekan di Indonesia, semua punya reaksi sama. Semua bertanya: “Ngapain kamu ke Darwin?”

Saya bilang: Kenapa tidak? Kota besar atau kecil bagi saya sama saja. Sama-sama bisa memberikan pengalaman unik. Apalagi, ada alasan khusus mengapa saya ingin ke Darwin di awal September ini.

***

Sebenarnya, andai tidak ikut program khusus, saya tetap ingin ke Darwin awal September ini. Dengan kapasitas sebagai pengelola DetEksi Basketball League (DBL), liga basket pelajar terbesar di Indonesia yang sekarang diselenggarakan di 15 provinsi, melibatkan hampir 20 ribu peserta.

Dalam setahun terakhir, DBL bukan hanya menjalin kerja sama erat dengan liga paling bergengsi di dunia, NBA. DBL juga telah menjalin kerja sama dengan Australia.

Pada Oktober 2008 lalu, DBL mengirim tim All-Star (terdiri atas pemain-pemain SMA terbaik dari berbagai penjuru Indonesia) ke Perth, bertanding melawan tim muda Australia Barat.

Tahun ini, kerja sama DBL Australia Games 2009 telah meningkat. Tim DBL Indonesia All-Star bakal kembali ke Perth, bertanding lagi di sana. Tapi sebelumnya, pada 17 Oktober nanti, DBL akan menjamu dulu tim muda dari Darwin Basketball Association (DBA) di Surabaya.

Jadi, alasan utama datang ke Darwin adalah bertemu lagi dengan teman-teman “baru” di DBA. Di antaranya Allan Hilzinger dan Don Sheppard, Executive Officer dan Development Manager DBA.
Alasan itu semakin kuat, karena pada 3-5 September lalu Darwin menjadi tuan rumah even basket superbesar Australia. Yaitu Top End Challenge, alias kompetisi pramusim untuk National Basketball League (NBL), liga paling bergengsi di Negeri Kanguru.

Semua (delapan) tim NBL sedang kumpul di Darwin, bertanding di dua stadion basket yang bersebelahan: DBA Stadium dan Marrara Indoor. Ditambah dengan SEMUA petinggi basket Australia. Kesempatan untuk belajar lebih banyak lagi dalam hal pengembangan kompetisi basket. Selama di Darwin, saya juga sempat meeting dengan Larry Sengstock, CEO Basketball Australia (Perbasi-nya Aussie), bicara soal DBL dan kerja sama bersama asosiasi-asosiasi di Australia.

Ternyata, kunjungan ke Darwin ini bisa dimasukkan ke program kunjungan. Dan berbagai program dan pertemuan istimewa disiapkan oleh pemerintah Australia dan DBA selama saya di Darwin. Tentu saja berkaitan dengan olahraga, anak muda, media, dan wisata asyik.

Di samping itu, selama tiga hari, saya pun merasakan nikmatnya “kota sepi” Darwin. Bagi Anda yang ingin menjauhkan diri dari kesibukan dan hingar-bingar, saya sangat merekomendasikan Darwin sebagai kota untuk menenangkan diri. Sekaligus belajar banyak tentang buaya-buaya seram superbesar.

***

Pergi ke Darwin relatif mudah dan murah. Terbaik lewat Bali. Naik Jetstar, penerbangan hanya memakan waktu sekitar 2 jam dan 40 menit. Harga? Bisa supermurah. Kebetulan ini bukan musim ramai.

Kalau lihat ke situs penerbangan itu, tiket pulang-pergi bisa didapat dengan hanya duit Rp 1,25 juta. Itu lebih murah dari perjalanan Surabaya-Jakarta pulang pergi naik Garuda atau ketika sedang musim ramai. Ketika musim ramai pun katanya juga relatif tidak mahal. Di kisaran Rp 4 juta pulang-pergi.

Khusus untuk kunjungan ke Darwin ini saya tidak sendirian. Saya mengajak Donny Rahardian, Manager Basketball Operations DBL Indonesia. Ketika saya ikut program khusus, Donny terus bersama DBA untuk menyiapkan kunjungan tim muda DBA ke Surabaya, Oktober nanti.

Perjalanan itu benar-benar dekat. Broughton Robertson, executive officer di Department of Foreign Affairs and Trade yang bertugas mendampingi saya selama di Australia, harus terbang sekitar 4,5 jam dari Sydney (sebelumnya terbang dulu hampir sejam dari Canberra). Sementara saya total hanya sekitar tiga jam (ditambah sekitar 30 menit penerbangan dari Surabaya ke Bali).

Dengan jarak begitu dekat ini, Darwin merupakan tempat paling terjangkau untuk merasakan Australia dari dekat (Perth juga sangat dekat, hanya sekitar tiga jam terbang dari Jakarta. Tapi terbang ke Darwin rata-rata mungkin lebih murah).

Ya, Darwin memang “kota kecil.” Penduduknya hanya sekitar 120 ribu orang, atau sekitar 4 persen warga Kota Surabaya. Bahkan, Northern Territory secara keseluruhan hanya punya penduduk sekitar 230 ribu orang. Padahal, luas wilayahnya lebih besar dari Sumatera!

Tapi, kecil bukan berarti gak asyik. Darwin memiliki segalanya. Beberapa pusat perbelanjaan besar ada di sana, termasuk Casuarina Square yang sangat besar. Beda dengan kota-kota seperti Perth, Melbourne, atau Sydney, jalan-jalan di Darwin terasa lebih di “Australia.” Meski punya penduduk asal Indonesia cukup banyak, jumlahnya tidak “terasa” seperti di kota-kota besar di atas.

Industri wisata sangatlah penting bagi Darwin, disebut menghidupi sampai delapan persen penduduknya. Alam Northern Territory dikenal indah, dengan penduduk suku Aborigin yang cukup signifikan.
Dan selama di sana saya mendapati, bahwa dalam lima tahun ke depan kota ini bakal booming karena pertambangan minyak dan gas bumi di Celah Timor.

Menurut John “Foxy” Robinson, pengusaha properti kondang di sana, penduduk bisa bertambah 10 ribu orang dalam lima tahun ke depan. “Itu hanya pekerja saja. Banyak yang akan membawa serta keluarga ke sini. Jumlah penduduk baru akan jauh di atas angka itu,” ucap pemilik Darwin Airport Resort, hotel populer di sebelah bandara internasional tersebut.

Kalau benar, maka dalam lima tahun ke depan penduduk Darwin bisa bertambah 10-20 persen!

***

Meski “kecil,” Darwin relatif muda. Menurut data, usia rata-rata penduduknya “hanya” 31 tahun. Banyaknya personel militer sangat berpengaruh, karena kota ini memang ujung tombak pertahanan Australia di wilayah utara. Ketika di Darwin, saya sempat melihat beberapa jet tempur berseliweran di udara. Katanya, militer setempat sedang latihan dengan militer Singapura.

Pemerintah setempat pun terkesan berupaya keras untuk mempertahankan anak mudanya di Darwin. Supaya tidak pindah ke kota-kota lain dan bisa menjadi basis perkembangan masa depan. Salah satu caranya: Lewat penyelenggaraan even-even besar.

Selama di Darwin, saya dipertemukan dengan dua menteri Northern Territory. Yaitu Karl Hampton, Menteri Olahraga dan Rekreasi, serta Gerald McCarthy, Menteri Pemuda.

Kemudian, saya juga bertemu dengan Paul Cattermole dan Tiffany Manzie, General Manager dan Chief of Operations Northern Territory Major Events Company, perusahaan milik pemerintah yang menyelenggarakan even-even besar di kawasan tersebut.

Dari kedua pertemuan itu, pemerintah Northern Territory begitu mendukung penyelenggaraan even-even besar di Darwin dan wilayah lain. Dalam hal olahraga, even basket Top End Challenge yang mendatangkan semua tim NBL adalah salah satunya. Tapi yang paling rutin adalah balapan V8 Supercar (seri paling bergengsi di Australia) di Hidden Valley Raceway. Serta Arafura Games, semacam olimpiade dua tahunan yang diikuti negara-negara tetangga (termasuk kontingen Indonesia), yang lebih menekankan partisipasi atlet muda.

Tahun lalu, Major Events –pada dasarnya departemen event organizer pemerintah– juga mendatangkan penyanyi kelas dunia, Elton John, ke Darwin.

“Dengan penyelenggaraan even-even ini, anak muda Northern Territory merasa tercukupi kebutuhan hiburannya. Mereka bisa merasa bangga menjadi warga di sini, tak tergiur untuk pindah ke kota lain,” jelas Paul Cattermole.

Peran pemerintah sangatlah penting, lanjut Cattermole. “Tidak banyak penyelenggara even mau ke sini karena jumlah populasi yang kecil. Kalau ada yang datang, pasti minta jaminan dari pemerintah supaya dapat kepastian tidak rugi. Tidak harus untung, tapi jangan sampai rugi,” terangnya.

Bayangkan seandainya pemerintah-pemerintah kota (non-Jakarta) di Indonesia lebih aktif seperti Northern Territory ini. Misalnya Surabaya atau Jogjakarta aktif mendatangkan bintang-bintang besar dunia, menggairahkan kehidupan di masing-masing kota.

Berdasarkan pengalaman DBL Indonesia dan Jawa Pos mendatangkan bintang NBA tiga kali ke Surabaya dalam setahun terakhir, percayalah, biayanya tidak sefantastis yang dibayangkan. Dan sekarang sedang ada opportunity baik: Banyak pihak asing itu tak mau mengunjungi Jakarta atau Bali karena khawatir soal keamanan.

Sekarang ini waktunya mendatangkan even-even berkelas ke kota-kota non-Jakarta!

(bersambung)