Brosur Terkeren yang Pernah Gw Dapat :D

Andai kata gw menawarkan rancangan yang persis seperti bentuk brosur yang telah jadi ini kepada pihak-pihak yang menjadi klien desain gw, insyaAllah 80% akan mengatakan, “waah, rasanya mending desain yang lain deh, ada alternatif lain?” sebuah jawaban ketakutan akan menembus batas-batas desain yang jarang terlihat orang banyak. Sisanya, 30% lagi akan bilang, “lu gila apa? nawarin gw desain kayak begitu?!” jawaban yang keluar entah karena benar-benar takut atau gak mampu bayar desainer dan ongkos produksi brosurnya! :)

Ini sampul mukanya. Itu bukan efek tiga-dimensi, tetapi memang menonjol setebal sekitar 0,5 cm. Digabungkan dengan sampul tebalnya, total tebal sampul brosur ini adalah 1 cm!

Hanya ada foto dua orang pemain di brosur ini. Si hijau ini yang pertama, lengkap dengan rayuan propagandanya yang mampu memprovokasi adrenalin naik sekian persen.

Ini foto pemain yang kedua. Slam dunker yang melompati bagian depan mobil sedan. Kata-kata mutiaranya sulit dipahami, sesulit mencerna keistimewaan slam dunk-nya yang juara itu.

Brosur tebal ini berisi kalimat-kalimat provokatif dalam ukuran besar, dan keren!

..dan di bagian dalam sampul belakang terdapat sebuah flash disk yang berisi petikan-petikan, proses produksi, desainer sepatu, dan hal-hal menarik terkait brosur ini beserta produk yang diceritakannya. What an advantageous brochure!

Ulasan Lengkap NBL Indonesia 2010-2011 di DBL Magazine!

Jika teman-teman bertanya di mana bisa mendapatkan DBL The Magazine terbaru ini, gw akan menjawab tidak tahu. Gw sendiri beruntung mendapatkannya ketika acara peluncuran NBL Indonesia 2011-2012 kemarin, 20 Juni 2011 :) (kayaknya nanti segera akan menyusul di mana kita bisa mendapatkan majalah ini).

Bersampul depan dengan gambar Om Lolik, Dimaz Muharri, Faisal J Achmad, Xaverius Prawiro, dan Kelly Purwanto, majalah ini adalah majalah basket cetak yang sangat-sangat representatif baik dari segi isi maupun desain. Majalah ini mengulas (review) perjalanan NBL Indonesia 2010-2011 dengan lengkap! Mulai dari turnamen preseason di Malang hingga final di Surabaya yang keduanya membawa Satria Muda Jakarta keluar sebagai juara.

“Tip-off bintang masa depan..” demikian keterangan gambar yang tertera di halaman front back cover yang memperlihatkan Komink (Pelita Jaya) dan Dwi (CLS Knights) yang sedang berebut bola tanda dimulainya laga NBL Indonesia 2010-2011. Selanjutnya, majalah ini membahas perjalanan laga di setiap seri beserta beberapa pertandingan terbaik pada setiap seri tersebut. Misalnya; Pelita Jaya yang tak terkalahkan di seri pertama, double overtime antara Garuda melawan Pelita Jaya di seri Bandung, kekalahan pertama Pelita Jaya di seri solo serta kemenangan pertama Satyawacana di Solo yang disambut bak juara, kemenangan Garuda atas Aspac di seri Bali, dan membludaknya penonton di seri Jakarta.

Beberapa cerita lain yang menarik dan seru juga berhasil tertangkap dan muncul di halaman-halaman majalah ini semisal perjalanan Merio Ferdiyansyah yang luar biasa selama musim 2010-2011 atau drama-drama menang-kalah selama liga berlangsung. Yang paling menarik, majalah ini penuh warna-warni (full color) dengan foto-foto yang menampilkan aksi-aksi spektakuler. Andai gw masih SMA, pasti sudah gw gunting-gunting dan tempel di kamar sebagai penambah motivasi bermain basket! Majalah ini juga menceritakan sekilas mengenai persiapan tim nasional yang akan berlaga di SEA Games bulan November mendatang.

Harga majalah? Entahlah. Gw bolak-balik sampul depan sampai nungging, gw gak menemukan ada label harganya. Kapan-kapan kalau kita ketemu, gw kasih pinjam baca sebentar deh :D

“Basketball Breakthrough” oleh Andreas Bordes, Motivasi Dahsyat dari Seorang Pemain DBL!

Luar biasa membaca buku (pdf) kiriman Andreas Bordes Febrianudi ini. Seorang yang secara fisik awalnya sangat layak untuk diremehkan dalam dunia basket tetapi mampu membalikan fakta untuk kemudian menjadi salah satu yang terbaik di Indonesia!

Keistimewaan Andreas adalah kemampuan memetik pelajaran dari peristiwa yang relatif singkat yang ia lalui dalam dunia basket (DBL) yang ia lewati. Dan tentu saja kemampuan untuk menyebarkan pengalamannya untuk memotivasi teman-temannya yang lain. Andreas dengan lugas mengungkapkan nilai-nilai dari pengalaman singkatnya dengan baik bahkan sangat inspiratif dengan memberikan tips-tips aplikatif serta cerita-cerita inspiratif.

Buku tipis setipis 24 halaman yang luar biasa. Gw hampir nggak percaya kepada seorang muda Andreas yang sudah sangat berani menentukan visi hidupnya ke depan! Anjir, gw iri :D

Anak basket, wajib baca!

BORDES BASKETBALL BREAKTHROUGH

Unduh lalu baca! :D

“Safe Area Goražde”, Apa yang Terjadi di Bosnia ketika Michael Jordan Sedang Jago-jagonya!

Berapakah harga atau nilai dari sikap menghargai perbedaan dan keragaman? Banyak orang barangkali akan mengatakan “tak ternilai”. Nilainya tak bisa diukur dalam satuan tertentu. Harganya lebih berasa abstrak berupa sebuah kedamaian dalam hidup berdampingan dalam keragaman, keindahan menyaksikan rupa-rupa hasil karya perbedaan, saling hormat-menghormati dan toleransi bahkan saling menghargai. Barangkali, barangkali karena bentuk nilainya yang abstrak, terkadang kita justru lupa betapa pentingnya sikap menghargai sebuah perbedaan.

Jika keuntungan karena memiliki sikap menghargai perbedaan memiliki nilai yang abstrak, lain halnya jika kita tidak memiliki sikap tersebut. Membenci kelompok lain yang berbeda membangun prasangka-prasangka negatif. Prasangka negatif yang sangat mungkin membawa kita kepada dampak terusannya; kebencian, yang kemudian menyulut pertikaian. Dalam catatan sejarah, kebencian sebuah kelompok mayoritas atau berkuasa dan memiliki daya atas kelompok minoritas yang tak berdaya kerap berujung penindasan. Dan beberapa kali, ujungnya adalah pembantaian!

“Safe Area, Goražde” adalah sebuah novel grafis karya Joe Sacco yang terbit di tahun 2000 lalu. Novel ini ternyata agak telat gw baca karena novel grafis Joe Sacco yang lain, “Palestine” diterbitkan tahun 2001 telah lebih dulu gw baca. Safe Area bercerita tentang perang Bosnia (baca: pembantaian etnis Bosnia) di tahun 1992 hingga 1995. Sebuah perang yang dipicu oleh sikap tidak menghargai perbedaan.

Bagi beberap pihak, kejadian di Bosnia pada tahun 1992-1995 dikatakan sebagai perang, dan memang terjadi perang. Namun bagi banyak orang, apa yang terjadi sebenarnya adalah pembantaian etnis lemah oleh etnis yang jauh lebih kuat yang tak memiliki apresiasi atas keragaman dan dengan sengaja menumbuhkan rasa paranoid pada diri sendiri lalu dikembangkan menjadi sebuah propaganda.

Melalui novel grafis ini, Joe sacco menggambarkan dengan sangat baik situasi yang terjadi di Goražde, salah satu kota di Bosnia yang penduduknya dibantai. Joe Sacco menceritakan kembali cerita-cerita dari warga Goražde yang selamat. Kengerian dan ketegangan berhasil digambarkan dengan baik oleh Joe sacco melalui guratan-guratan gambar komiknya. Dan juga kalimat-kalimat satirnya. Selain ketegangan dan kengerian, Joe Sacco juga menceritakan kehidupan sehari-hari warga Goražde yang masih tegang dalam masa gencatan senjata yang tak menentu.

Kembali ke nilai atau harga dari sebuah “penghargaan atas keragaman”, harga dari hilangnya sikap ini pada konflik Bosnia adalah sekitar 100.000 hingga 110.000 manusia kehilngan nyawa, dua juta lebih pengungsi, dan ah, banyak, sangat banyak sekali korban perkosaan. Itu semua belum termasuk kerugian materi.

Novel ini bagus untuk dibaca karena ketika kita, anak basket sedang asyik masyuk menikmati kehebatan Michael Jordan yang berlaga lalu pensiun lalu masuk lagi ke Chicago Bulls hingga 1998, di belahan dunia lain, di Bosnia, ada pembantaian masal! Baca buku, buka mata :(

*ada dua scene dalam novel grafis ini di mana sang tokoh tengah membicarakan Michael Jordan dan Clyde Drexler :P

Bieber Fever-nya Udahan, Kagumnya Masih (Buku)

Nope, gw bukan Belieber atau apapun yang terkait dengan fans Justin Bieber. Lagu Justin Bieber yang gw tahu pun hanya dua. Kemasyhuran Justin Bieber yang tampaknya sedemikian cepat diraih membuat gw membeli buku “Justin Bieber, First Step 2 Forever, 100% Official”. Dan setelah selesai gw baca, rasanya ada beberapa yang sangat patut gw dan barangkali kita contoh. Ini di antaranya;

1. Justin Bieber adalah pekerja keras

Sukses dalam kurun tiga tahun dari nol besar rupanya bukan semata keberuntungan. Namun sangat banyak kerja kerasnya. Mulai dari ngamen, ketidakpastian akan mendapatkan kontrak kerja meskipun sudah bertemu produser, hingga 86 konser dalam waktu enam bulan dan dilakoni dengan naik bis keliling Amerika Serikat! Itu belum yang keliling dunia yaa.. :P

2. Memanfaatkan teknologi (youtube)

Ibunya sih memang yang melakukannya. Tapi bukan gak mungkin anak basket meniru ibunya Justin dengan membuat video aksi saat bermain basket. Siapa tahu ada tim NBL bahkan NBA yang melirik. *Jadi ingat Future MixTape :D

3. Disiplin dan rajin berlatih

Kalau ada yang menganggap suara Justin Bieber bagus dari sononya, ada benarnya. Tetapi terlepas dari itu, Justin latihan vokal dengan ekstra keras. Apalagi menghadapi masa puber di mana suaranya mulai pecah. Tak hanya berlatih vokal, ia juga patuh dan taat mengikuti gurunya untuk menjaga kondisi suaranya dengan tidak berteriak sembarangan, misalnya saat menonton hoki es atau basket. Hmm.. terdengar familiar; disiplin berlatih dan jaga kondisi :D

Meskipun bukunya terbilang ringan, pengalaman Justin Bieber sangat luar biasa dalam meraih sukses besar sekaligus justru masih berupa langkah awal untuk melewati perjalanan yang jauh lebih panjang lagi. Baca gih! :D

Untuk Indonesia yang Kuat oleh Ligwina (Bersiap untuk Harga Tiket NBL yang PASTI Akan Selalu Naik)

Dalam penutup tulisan gw yang kemarin, gw menulis “Jika harga tiket (NBL) naik, kita paling-paling akan mengeluh sedikit sebentar lalu berusaha sekuat tenaga (dengan halal) untuk menambah penghasilan lalu kita korbankan untuk menyaksikan tim idola kita. Itulah kita.”

Tadi malam (24 Februari), gw ke Gramedia dan membeli sebuah buku berjudul “Untuk Indonesia yang Kuat, 100 Langkah Untuk Tidak Miskin” tulisan Ligwina Hananto. Siang (25 Februari) ini, buku tersebut sudah gw khatamkan. Andaikata, buku tersebut gw baca tanggal 22 Februari, maka kemungkinan besar kalimat penutup posting gw kemarin adalah “Ketika harga tiket naik, kita tidak akan mengeluh sedikit sebentar karena kita sudah tahu dan sudah siap!” :)

Membuka sampul buku ini, gw langsung diingatkan oleh ajaran dari buku The Richest Man in Babylon karya George S. Clason yang gw baca sekitar delapan tahun lalu namun belum juga gw jalankan, “Simpan 1 dari 10 penghasilan yang engkau dapatkan!” Demikian kurang lebih ajaran yang selalu nempel di kepala gw dari buku Clason tersebut. Clason bahkan mengajarkan “kalau mampu, simpan 3 dari 10!”.

Pada lidah (perpanjangan sampul muka yang dilipat ke dalam) buku Ligwina, gw langsung diminta untuk berkomitmen menyisihkan sekian persen dari penghasilan bulanan gw. Ketika membuka sampul buku Ligwina, sampul itu seolah jelmaan The Richest Man in Babylon yang langsung ngagetin “remember me? yes, quite a long time. 8 years dude! Imagine what could have been..” Bukunya langsung gw tutup, malu gw :(! Gw langsung lompat ke halaman isi.

Menyisihkan sebagian dari penghasilan di muka adalah salah satu ajaran kecil yang coba kembali diingatkan oleh Ligwina melalui buku ini. Namun tujuan akhir dari kegiatan kecil tersebut adalah untuk membangun golongan menengah Indonesia yang kuat! Ligwina percaya bahwa golongan menengah yang kuat akan membuat bangsa ini menjadi lebih kuat!

Banyaklah rasanya buku yang menjelaskan mengapa dengan cara ini atau dengan cara itu perekonomian kita akan membaik. Buku-buku yang menjelaskan seharusnya “kita melakukan begini..” atau “pemerintah seharusnya mengeluarkan kebijakan ini.. itu…” namun akhirnya gak kejadian juga karena memang sebatas retorika saja. Di buku ini, Ligwina malah sedikiiit sekali membahas tujuan akhirnya. Ia malah banyak menjelaskan “langkah pertama” yang harus diambil untuk menuju tujuan akhir “golongan menengah yang kuat”. Dengan memperkuat diri sendiri, kita akan mampu membantu orang lain. “When we are stronger, we can be stronger for others” (hal. 195) dan demikian, tujuan akhir akan sangat masuk akal. *jangan khawatir, English-nya hanya 0,00..sekian persen kok dari total isi buku :D

Penjelasan paling menarik dan yang paling membuka mata gw adalah bagaimana Ligwina mengajak orang-orang untuk merencanakan keuangan masa depan terutama dana pendidikan dan dana pensiun dengan melihat faktor yang (bagi gw) gak pernah gw perhatikan sama sekali, INFLASI!

Selama ini, kata inflasi sering sekali seliwar-seliwer dalam tulisan-tulisan yang gw baca. Sejujurnya, gw gak begitu paham apa maknanya. Sebelum tadi malam, gw memahami kata inflasi sebagai “menurunnya nilai uang yang kita punya”, yang mana agak njelimet juga untuk gw pahami sendiri. Namun dalam bahasa Ligwina “inflasi atau kenaikan biaya hidup” (hal. 74) semuanya menjadi lebih mudah gw pahami. Apalagi ketika Ligwina memberi ilustrasi dengan hitungan-hitungan sederhana mempersiapkan dana pendidikan dan dana pensiun dengan memperhitungkan laju inflasi pertahun, semuanya benar-benar jadi jelas. Dan, “inflasi itu nyata adanya.” (hal. 91).

Apa hubungannya dengan harga tiket NBL?

Kemarin, ketika ngomongin voucher diskon 50 persen tiket NBL Indonesia di blog gw yang sudah tidak berlaku lagi, seorang teman di twitter (@dheyyan) membalas dengan mengatakan “kalau begitu, semoga harganya (tiket) gak naik.” Saat itu gw kembali membalas, “harapannya keliru, semoga uang saya semakin banyaaaakkkkk, amin?”

Untungnya, jawaban gw kayaknya ada benarnya (kayaknya yaa..) :P Karena setelah membaca buku Ligwina, dengan melihat angka inflasi kita yang rata-rata 12 persen pertahun, maka kemungkinan besar harga tiket NBL Indonesia pun akan ikut menyesuaikan diri. Itu belum termasuk jika liga basket nasional itu semakin digemari yaa. Karena kalau semakin populer, insyaAllah harga tiketpun akan naik mengikuti hukum permintaan dan pasokan.

Membaca buku Ligwina akan banyak membuka pemahaman kita tentang “aturan” dalam permainan uang yang kita jalani setiap hari. Kita sering terlena dengan keadaan sekarang, keadaan yang serba cukup saat ini tanpa menyadari bahwa “hantu inflasi” suatu saat akan membuat kita berkata “hmm..harga-harga pada naik yaa..” Atau buat pecinta NBL akan mengatakan “yaah, kok tiketnya tambah mahal seeh?” Lalu kita mulai menyalahkan panitia (entitas di luar kita) tanpa menyadari bahwa ini adalah sesuatu yang lumrah, alami, dan kemungkinan besar pasti terjadi.

Membaca yaa! :D

Oh Friends, You’re So Predictably Irrational :D

Semua juga tahu bahwa kita harus lebih rasional dalam menyikapi setiap masalah yang kita hadapi. Emosi tentu saja boleh, tapi dengan mengimbangi dengan rasionalitas tentu akan sedikit membantu. Sori, banyak membantu :D

Semua mahfum, bahwa membalas kritik yang baik adalah dengan memberikan tanggapan yang rasional demi menangkis kritik dengan elegan. Cara tersebut sangat rasional. Kita tahu itu cara yang rasional, namun kerap kali, ketika menerima kritik atau perbedaan pendapat sedikit saja, kita sering terjebak berlaku emosional, alias irasional! Umumnya, begitulah umumnya, ah sori, sedikit saja ding yang begitu. Termasuk gw, irasional banget :D

Tadi siang, gw membahas isu lokalisasi pemain basket asing untuk menjadi skuad tim nasional basket Indonesia di SEA Games 2011. Sorry (again) did I say lokalisasi? Hehee, sejenak tadi gw lupa istilah populernya, naturalisasi. Beragam tanggapan. Banyak yang gak setuju dengan ide itu yang gw tangkap dari twit-twit yang gw terima. Obrolan lalu berkembang ke hal-hal sensitif bagi sebagian orang yang tanggapannya menurut gw sangat emosional, gak rasional. Eh oh, irasional! Namun sejujurnya sudah sangat gw tebak. Yes, they’re so predictably irrational! Irasional, yang ketebak banget.

Jadi, daripada gw nulis sesuatu yang mengundang hal-hal irasional lagi, gw keingetan sebuah buku yang pernah gw baca dulu dan sedang gw baca ulang lagi, “Predictably Irrational” karya Dan Ariely. Konon katanya, buku ini laris manis dan menggelitik otak untuk berpikir. Bahkan dalam bahasa editor New York Times Book Review, revolusional!

Buku ini membahas perilaku-perilaku kita yang acap kali gak masuk akal dalam memutuskan sesuatu. Dan Ariely mengungkapkan serangkaian fakta berdasarkan hasil-hasil tesnya di laboratorium mengenai begaimana kekuatan-kekuatan tersembunyi mampu membentuk keputusan akhir kita. Pesan subliminal? Hmm..ada kemiripan.

Kekuatan/kelemahan gratisan!

Salah satu bahasan menarik dalam buku ini adalah kekuatan dari FREE! (gratisan, dan yes dicetak kapital semua di bukunya). Selain itu juga Dan memberikan istilah lain dengan menggunakan kata zero (nol). Melalui sebuah logika norma sosial dan norma dagang, Dan Ariely menjelaskan dengan ringan bagaimana kedua norma yang kerap bertentangan ini seringkali coba disatukan dengan harapan menghasilkan efek maksimal, namun sebaliknya malah tidak sesuai harapan.

Dalam sebuah percobaan kecil, Dan Ariely menjual sebuah coklat mahal dengan harga murah. Orang-orang yang mengetahui bahwa coklat itu sebenarnya mahal namun dijual murah pada berdatangan untuk membeli. Dan Ariely kemudian menurunkan kembali harga coklat tersebut. Peminatnya pun bertambah, ibarat barang bermerek diobral aja, orang-orang pada rebutan!

Namun sebuah keanehan terjadi. Ketika Dan Ariely menurunkan harga coklat murah tersebut menjadi nol alias gratis, orang yang datang mengambil malah justru sedikit! Menurut Dan Ariely, norma yang mengenanya sudah tak lagi norma dagang tetapi norma sosial. Menarik bagaimana Dan Ariely menjelaskan hal ini dalam bahasa yang mudah dipahami.

Silahkan baca sendiri untuk lebih paham yaa.. :D

Nah, tentu saja langsung gw hubungkan dengan pergelaran basket kita. Walau tentu entah ada hubungannya atau tidak. Ada sebuah event basket SMA yang berbayar, bahkan calo berebut untuk menjual tiketnya. Event basket ini selalu penuh ditonton!

Lalu ada juga event basket lain yang pesertanya kurang lebih sama. Digelar gratis. Penonton boleh datang bebas keluar masuk tanpa dipungut biaya apapun alias cuma-cuma! Tapi penontonnya malah sangat sedikit!

Apakah ini artinya tesis Dan Ariely benar? Menurut gw sih bisa saja. Kalau, ah sudahlah… Silahkan baca sendiri bukunya. Semoga gak ada yang tersinggung dengan event basket yang dibanding-bandingkan. Kalaupun mau komentar, rasional dan irasional sah-sah saja kok. Dua-duanya sudah tertebak soalnya :D

Artikel Paling Serius Tentang Basket “The price of anarchy in basketball”

Kalau ada anak matematika yang gemar basket dan juga jago English, mau dong diterjemahkan artikel ilmiah dalam format PDF di bawah ini. Berat pisan!!! :(

The price of anarchy in basketball

Jurnal ilmiah di atas adalah tulisan dari Brian Skinner dari School of Physics and Astronomy, University of Minnesota, Minneapolis, Minnesota. (Tertanggal: 18 Januari 2010)

What I Talk About When I Talk About Running (Pendinginan Pasca NBL Indonesia)

Kalimat di atas adalah judul buku karangan seorang novelis Jepang Haruki Murakami. Mari kita mendinginkan hati dan otak pasca panasnya NBL Indonesia Seri 2 Bandung. Terutama bagi fans Garuda yang sepertinya lebih banyak kecewanya daripada bahagianya :)

Banyak yang minta agar gw membahas lagi tentang Garuda Bandung yang penampilannya sangat buruk pada NBL Seri Bandung lalu. Tetapi bagi gw kayaknya sudah cukup. Manajemen Garuda, pelatih, dan pemain tahu masalahnya dan tahu solusinya. Sisanya, hanya masalah keberanian untuk mengatakan “mau!” untuk berubah. Lah kok malah ngomongin Garuda lagi :P

Ok, pendinginan. Mari membaca buku :) “What I Talk About When I Talk About Running” adalah karya novelis Jepang Haruki Murakami yang bukan novel. Gw sendiri belum pernah baca novelnya Murakami tapi langsung tertarik membaca cerita dia tentang hobinya, berlari! (kegemaran gw yang lain yang ngejalaninnya lebih butuh usaha daripada main basket.)

Murakami bukan hanya hobi berlari. Tetapi sudah menjadi ritualnya sehari-hari. “Ibadah” hariannya adalah berlari minimal enam mil sehari. Demi mengejar target setidaknya mengikuti “ibadah tahunan”, lomba lari marathon sekali setahun. Marathon itu jaraknya 26 mil atau setara dengan 42,195 km!

Dalam buku tersebut, Murakami bercerita awal mula ia menggemari lari jarak jauh. Ia juga menceritakan pengalaman-pengalamannya saat berlari, apa yang ia pikirkan saat berlari, juga pengalamannya mengikuti beberapa lomba marathon terkenal di dunia seperti Boston dan New York Marathon. Murakami telah mengikuti belasan marathon bahkan beberapa kali ikut serta dalam triathlon (renang+sepeda+lari)!

Marathon mengajarkan banyak hal kepada Murakami. Salah satunya adalah fokus dan pantang menyerah. Hebatnya, Murakami memulai kebiasaannya ini pada usia 30 tahunan! Murakami mengatakan bahwa berlari dan menulis novel memiliki kesamaan. Salah satunya ya fokus itu.

Cerita Murakami cukup ringan. Lebih ringan daripada Eat Pray Love-nya Elizabeth Gilbert yang mencoba “mencari” sesuatu sekaligus “berlari” dari problema hidup yang sedang menerpanya. Murakami menulis What I Talk About When I Talk About Running lebih karena senang saja menuls tentang hobinya itu. Walau ringan atau malah justru karena ringan, pesan-pesan universal Murakami justru lebih mudah diresapi :)

The White Tiger di Bandara Juanda

Perjalanan menuju Bandung kali ini akan lama pikir gw. Bukan karena waktu tempuhnya, tetapi karena jeda masa singgah antara tiba pesawat Mataram-Surabaya ke keberangkatan Surabaya-Bandung ada sekitar..hmm -ngitung- 7 jam!

Sudah gw persiapkan semuanya. Menu utama adalah melahap habis novel The White Tiger karya perdana Aravind Adiga yang langsung diganjar The Man Booker Prize di tahun yang sama 2008. Celakanya, gw lupa beli cemilan dan minuman ringan atau air mineral biasa. Ada warung memang di bandara Juanda Surabaya, tetapi seperti umumnya warung di bandara, yang menentukan harga adalah rentenir. Harganya mencekik! Walau tentunya dengan berat hati gw tetap membeli sekaleng kopi instan ajaib yang bisa bikin melek dan jadi doping gw tahan membaca dari awal sampai akhir.

Balram nama tokoh utama dalam novel tersebut. Seorang pemuda dari desa kecil di India yang punya cita-cita sangat tinggi yang sebenarnya nggak tinggi-tinggi amat. Cita-citanya hanyalah sebatas apa yang hebat yang pernah ia lihat di masa kecil, seorang polisi rendahan India!

Berbagai rentetan nasib kurang beruntung membawa Balram melewati petualangan pahit. Keluar dari sekolah hingga hidup di jalan. Kejujuran dan kerja keras membuat ia mampu bertahan. Balram akhirnya mendapatkan pekerjaan “terhormat” sebagai seorang supir pada keluarga kaya. Dan di sinilah petualangannya bermula. Melalui sudut pandangnya, Balram bercerita tentang sudut-sudut kota dan desa di India yang kumuh, potret keluarga miskin kebanyakan di India, potret keluarga kaya, hingga sistem politik dan pemerintahan yang korup.

Tekanan keluarga, tekanan hidup, merubah Balram dari seorang supir yang polos, baik, dan jujur menjadi seorang yang pandai menyembunyikan kebusukan bahkan mampu membunuh majikannya sendiri yang relatif baik. Ujung cerita novel ini menarik nan membuat miris. Akhir cerita, si Balram menjadi.. eittsss, baca sendiri :D Anak basket baca buku pas lagi gak basket itu keren lhoo.. *sedikit maksa :D

Berbincang dengan Coach Mike Krzyzewski

Malam itu gw sedang berjalan-jalan di BIP (Bandung Indah Plaza) mall klasik di pusat kota Bandung. Mall ini tak pernah sepi pengunjung dan tak pernah terpengaruh oleh munculnya mall-mall baru yang terus disetujui pembangunannya oleh bapak Dada Rosada (Walikota Bandung).

Seperti biasa, salah satu tempat yang pasti gw masuki di setiap mall selain toko sepatu, adalah toko buku. Bukan Gramedia (di BIP gak ada Gramedia) atau Gunung Agung yang gw singgahi, melainkan sebuah pop-up book store di lantai dasar BIP, (busyeettt, lupa gw nama tokonya) Times kalau gak salah nama tokonya.

Setelah berputar-putar beberapa menit di antara beberapa buah rak di area toko yang tak lebih luas dari 10 x 10 meter ini, sebuah senyum menghampiri gw dari salah satu rak profil orang-orang sukses. Seseorang tersenyum ramah sambil memegang bola basket. Orang tersebut seolah menyapa “Hi Dan! It’s been a while since you wrote about my village, K-Ville.”

Gw membalas senyuman kepala desa K-Ville sembari menoleh ke arah penjaga toko “yang ini didiskon gak mas?” Dengan senyum ramah, sang penjaga toko menjawab pertanyaan gw “yang diskon hanya sebelah sini saja mas, sebelah situ gak diskon.”

Gelar juara yang baru saja diboyong oleh kepala desa K-Ville bagi negaranya di ajang olimpiade dan bagi kampus yang sudah diasuhnya berpuluh-puluh tahun, Duke bulan Maret/April lalu, lebih kuat menarik gw untuk mengajak sang tokoh ikut pulang daripada halangan bahwa ia tak termasuk kategori diskon.

Tanpa kantung keresek dan tak masuk menyelip ke dalam tas, gw habiskan sisa jalan-jalan gw di BIP malam itu berjalan bersama seseorang yang mungkin tak terlalu terkenal di Indonesia namun adalah seorang legenda di Amerika Serikat. Tadinya gw berharap ada nada-nada kecil dari para pengunjung lainnya yang merasa iri karena melihat gw dengan berkata “Wah gila, beruntung banget tuh cowok jalan bareng orang terkenal.” Hahaa, gw rasa gak ada yang peduli juga.

Malam itu gw pulang dengan Mike Krzyzewski!

“Leading With The Heart” diimbuhi kalimat pemanis yang semakin meyakinkan gw bahwa ini “The National Bestseller” lho di Amerika Serikat.

Malam itu, Coach K dan gw langsung memulai obrolan seru seputar kepemimpinan dan kepelatihan. Tentu saja Coach K mendominasi pembicaraan. Ia memulai cerita tentang bagaimana awalnya ia bisa bersentuhan dengan dunia basket, masuk menjadi tentara di West Point, menjadi pelatih basket di akademi militer angkatan darat hingga mengambil alih kepelatihan di Duke University pada musim 1980-1981.

Coach K banyak bercerita tentang prinsip-prinsip dasar dalam polanya melatih mahasiswa-mahasiswa Duke. Sangat-sangat menarik karena dari penuturan Coach K sendiri, ia tidak pernah sama sekali menargetkan timnya untuk menang dalam setiap pertandingan. Ia tidak pernah menargetkan untuk menjadi jawara di ajang kejuaraan nasional. Coach K berujar bahwa jika target melatih basket kampus adalah meraih gelar nasional, maka akan banyak sekali kampus yang kecewa karena hanya satu kampus yang akan berhasil meraihnya. Bahkan bagi kampus yang telah berhasil meraih juara, sebuah gelar yang telah diraih tak akan bermakna banyak selain sebuah deretan catatan angka.

Prinsip-prinsip yang ditekankan Coach K dalam melatih Duke tak bisa dibatasi oleh side line dan base line lapangan basket. Kadang kala malah terasa janggal tetapi inspiratif. Suatu kali Coach K cerita ke gw bahwa ia membuat perjanjian dengan para pemainnya bahwa ia akan memberikan 100% kemampuannya kepada setiap pemainnya dan sebagai balasan, Coach K bukan menuntut kemenangan di arena atau sebuah gelar juara melainkan lulus kuliah!

“Setiap pemain seumpama setiap jari pada satu tangan, semuanya memiliki peranan yang unik. Namun ketika setiap jari bersatu membentuk kepalan, ia menjadi sangat kuat dalam menghantam!” Coach K menganalogikan setiap pemainnya ketika menyatu kompak saat bermain.

Tentu saja bukan hanya gw yang bisa ngobrol santai dengan Coach K. Gw rasa ia masih ada tuh nongkrong di salah satu rak toko buku di dekat-dekat kamu :) Siapa tahu kalian lebih beruntung dapet yang diskonan :D

Berkunjung ke Peternakannya George Orwell, Animal Farm

Saat gak banyak hal tentang basket yang sedang pengen dibicarakan, paling enak ngomongin buku. Dulu sih gw suka curhat wanita di kategori “dear darling“, tapi sekarang gw suka malu-malu kucing :D

Animal Farm adalah salah satu karya hebat dari George Orwell di samping 1984. Animal Farm adalah kisah lucu para binatang di sebuah peternakan di Inggris. Namun, semakin jauh kita membuka halaman-halaman novel ini, kita akan semakin mengetahui bahwa kisah “peternakan hewan” ini tidaklah selucu yang kita duga sebelumnya.

Kisah Animal Farm adalah kisah satir politik di mana sekumpulan hewan mengambil alih kekuasaan dari tuannya (manusia) dan mencoba mengatur hidupnya sendiri. Perjalanan mengambil alih kekuasaan, menjalankan “kehidupan pemerintahan” sesama hewan, bekerjasama dengan manusia, pengkhianatan, bahkan peperangan antara hewan dan manusia menjadi bumbu yang membuat novel ini lezat bagi kepala (walau bagi gw agak-agak berat :P).

Di akhir cerita, para hewan.. ups, silahkan baca sendiri. Seru! :)

Sudut Pandang “Freakonomics” (versi gw) atas Merosotnya Prestasi Olahraga Indonesia

Pernah bertanya-tanya nggak, mengapa prestasi olahraga Indonesia cenderung menurun? Hampir di semua cabang olahraga, prestasi Indonesia seolah mengalami stagnansi bahkan degradasi.

Di bulu tangkis, pasca Taufik Hidayat, kita belum menemukan lagi seorang pebulutangkis yang benar-benar hebat. Pada cabang olahraga paling populer, sepak bola, selain prestasi yang masih belum juga bisa membuat bangga, ulah suporter pun tak kalah usangnya.

Setelah menjuarai piala Wimbledon junior, prestasi Angelique Wijaya seperti tenggelam, dan Angie hingga kini adalah satu-satunya petenis Indonesia yang pernah diperhitungkan dunia setelah Yayuk Basuki. Secara keseluruhan, di SEA Games pun, Indonesia tak lagi menjadi negara pendulang emas terbanyak.

Bagaimana dengan bola basket? Kita masih selalu merasa berada di bawah bayang-bayang Filipina.

Penyebab dan keluhan standar

Fasilitas olahraga yang kurang memadai, pembinaan yang tidak rapih, kompetisi dan kejuaraan lokal yang semrawut, penghargaan yang tidak seberapa, kekurangan dana, dan masih banyak lagi segudang alasan yang membuat prestasi cabang maupun keseluruhan olahraga kita mandeg bahkan mundur.

Sudut pandang freakonomics (versi gw..hehe..)

Ada sebuah buku berjudul Freakonomics, ditulis oleh Steven D. Levitt dan Stephen J. Dubner. Buku laris ini dianggap “nyeleneh” karena mencoba melihat penyebab dari suatu peristiwa atau fenomena dari sebuah sisi yang tersembunyi. Sebuah sisi yang terkadang tidak terpikirkan oleh banyak orang, atau mungkin terlalu tidak mungkin untuk dianggap sebagai penyebab namun masih masuk akal dari sudut pandang freakonomics.

Terkait dengan degradasi prestasi olahraga di Indonesia, gw juga sepaham dengan penyebab dan keluhan standar di atas, tetapi gw juga ingin mengemukakan sebuah penyebab dari sudut pandang freakonomics versi gw.

Bagi gw, olahraga saat ini bukanlah sebuah kegiatan yang keren pada umumnya. Dan sesuatu yang tidak keren akan ditinggalkan oleh kebanyakan khalayak. Setiap orang memiliki naluri tanpa sadar untuk diperhatikan oleh orang lain. Naluri untuk tampil keren.

Sayangnya, kita sulit mendefinisikan sendiri apa itu “keren”. Beruntung dunia dan Indonesia akhirnya mengenal televisi. Televisi memberikan “pencerahan” tentang mana yang keren dan mana yang basi.

Apa yang disodorkan televisi sebagai keren, seringkali diaminkan oleh pemirsa untuk ditiru di contoh. Orang-orang di balik dunia pertelevisian sangat sadar akan hal ini. Maka mereka pun menjajakan apa yang menurut mereka keren.

Bagi televisi; sinetron, infotainment, pergelaran musik studio, panggung hiburan, kuis-kuis berhadiah, adalah hal keren oleh karenanya layak disajikan kepada masyarakat.

Akibatnya, program-program televisi menjadi panutan harapan dan cita-cita bagi banyak anak muda Indonesia. Banyak yang ingin menjadi seorang penyanyi terkenal, banyak yang bermimpi menjadi bintang sinetron, tak sedikit yang berangan-angan menjadi seorang superkaya tanpa jelas asal datangnya harta seperti di dalam cerita-cerita sinetron, banyak yang ingin populer diliput infotainment walau dengan prestasi nihil, banyak yang ingin ikut serta ikut masuk kuis berhadiah agar sekadar masuk televisi, bahkan banyak yang ingin jadi “alay-alay” biar nonton musisi idola di studio gratis (bahkan dapat duit!).

Sadari atau tidak, sepertinya acara televisi memicu arah motivasi pemirsanya. Jadi wajar saja prestasi olahraga kita anjlok, karena menjadi atlet bukanlah sebuah hal keren yang patut diimpikan.

Sudut pandang yang aneh? Namanya juga freakonomics (versi gw..hehe)

“Soalnya, televisi nggak memberi alternatif lain mas, selain sinetron dan acara-acara yang mas Idan nggak sukai itu.” Seringkali gw mendengar alasan keluhan ini.

alternatifnya bukan pada acara suguhan di televisi. Tetapi pilihan lain dari televisi itu sendiri; membaca buku, menonton film berkualitas, ikut aktivitas-aktivitas hobi, olahraga bersama, dan lain-lain.

:)

Sebelum Tidur, Gw Makan Ini Dulu: Master of The Game-nya Sidney Sheldon

Ini adalah penutup hari gw sehari-hari selama seminggu terakhir. Belum selesai sih bacanya, baru setengah, tapi nggak sabar untuk membagi pengalaman cerita betapa serunya cerita di dalam novel ini.

Kisah persahabatan dua ras yang dulu bermusuhan di dalamnya mengingatkan gw pada “To Kill A Mockingbird”-nya Harper Lee. Alur ceritanya yang bikin penasaran seperti membaca karya-karya Dan Brown.

Ada kisah tentang ambisi, kesabaran, pantang menyerah, kecerdasan, bahkan kelicikan di dalamnya. Hey, bukankah main basket kurang lebih seperti itu pula?