Kobe Bryant, “Nabi” Basket Rakyat Filipina (Kobe Manila Tour, 3/4)

Dalam sebuah majalah basket terkemuka yang baru saja saya baca beberapa lalu, seorang pendeta Katolik di Manila mengatakan, “my countrymen’s loyalty to basketball may be greater than the country’s considerable devotion to the Catholic Church.” Sebuah lelucon ringan yang menarik, dan tidak terlalu saya masukan ke hati.

Hingga akhirnya sebuah kunjungan singkat selama dua hari untuk menyaksikan Kobe Bryant di Kobe Manila Tour 2011 benar-benar meyakinkan saya, “basket barangkali memang seperti ‘agama’ bagi rakyat Filipina.”

Tiba di Manila

Supir taxi yang mengantarkan saya ke hotel mengatakan bahwa saat ini Kobe Bryant tengah berkunjung ke Manila dan menginap di hotel yang sama dengan yang akan saya tempati. Kunjungan pertama di Manila ini memberi kesan bahwa kota ini mirip dengan kota-kota pada umumnya di Indonesia. Keluar dari bandara, saya disambut senyum lebar Many Pacquaio yang menjadi model iklan sepeda motor lokal. “The Pacman” seolah berkata “selamat menikmati riuhnya lalu-lintas kota Manila.”

“Supir-supir di Manila gila semua!” kata supir taxi yang mengantarkan saya ke hotel. Ia perempuan, dan sangat lincah mengendalikan taxinya di antara lalu lintas Manila yang tidak konsisten di satu lajur.

“Kobe tiba tadi siang,” ungkap supir taxi. Saya langsung membayangkan bagaimana Kobe tentunya mendapat kawalan polisi yang tentunya dengan mudah mengatasi lalu lintas kota Manila yang dianggap gila oleh supir taxi ini. Tapi perkataan selanjutnya dari si supir taxi membuyarkan lamunan saya, “setelah tiba di bandara Ninoy Acquino, Kobe langsung naik helikopter menuju hotel!”

Rangkaian kegiatan, 13 Juli 2011

Kegiatan utama kunjungan Kobe Bryant di mulai pada tanggal 13 Juli pukul 12.00 waktu Manila (sama dengan Waktu Indonesia Tengah). Sebelum rangkaian acara dimulai, saya menyempatkan diri bertanya kepada salah seorang panitia penyelenggara, “benarkah kemarin Kobe menggunakan helikopter dalam perjalanannya dari bandara menuju hotel?” Panitia penyelenggara sedikit terheran-heran bagaimana saya mendapatkan informasi tersebut dan menertawakan saya, “hahaa, supir taximu berlebihan, Kobe naik mobil biasa dengan pengawalan tentunya.”

Meskipun merasa kecele karena cerita supir taxi yang hiperbola, setidaknya saya mulai menerka, Kobe Bryant pastilah bukan sekadar mega bintang bola basket di Filipina.

Jam 12.00 tepat, puluhan wartawan dari berbagai media massa di Filipina berkumpul di salah satu ruangan hotel. Banyak wartawan mengeluhkan betapa kecilnya ruangan tersebut. Bagi saya, ini sih wartawannya yang terlalu banyak.

Kobe menjawab pertanyaan-pertanyaan yang tampaknya sudah disortir terlebih dahulu. Wartawan dilarang menanyakan hal-hal yang terlalu pribadi serta yang berkaitan dengan NBA Lockout. Ketika salah seorang wartawan melanggar dengan menanyakan sesuatu terkait NBA Lockout, Kobe terlihat kurang senang menanggapinya.

Salah satu pertanyaan menarik yang dijawab oleh Kobe Bryant adalah tujuannya datang ke Manila untuk yang ketiga kalinya. Kobe mengatakan bahwa ia datang kembali ke Manila untuk melihat perkembangan “anak-anak” didiknya setelah sekian lama ia tinggalkan.

Coaching clinic singkat

Setelah melakukan konferensi pers, Kobe Bryant dan rombongan menuju Barangay Pinagsama, Taguig, untuk memberikan sebuah klinik pelatihan singkat. Barangay Pinagsama adalah lokasi di mana melalui Yayasan Gawad Kalinga Community, Kobe menyumbangkan sebuah lapangan basket terbuka namun dilengkapi atap. Di tempat ini, ribuan warga telah berjam-jam menunggu kedatangan Kobe. Termasuk sang Walikota.

Dalam sebuah kawasan yang sangat padat, penduduk setempat memadati jalanan menuju lokasi, berkumpul di teras lantai dua rumah, berdesekan di kaca jendela yang mengarah ke lapangan basket, hingga di pucuk-pucuk pohon sekitar lapangan basket. Ketika rombongan Kobe Bryant tiba, semua orang menyambut dengan teriakan, “Kobe! Kobe! Kobe!” Beberapa terlihat histeris melihat idolanya.

Di lapangan, sekitar 20 orang anak-anak asuh Yayasan Gawad Kalinga Community telah siap berlatih bersama Kobe. Meskipun hanya berlatih kurang dari 30 menit, semua anak terlihat antusias dan sangat bahagia bertemu Kobe. Setelah itu, Kobe sudah harus berangkat lagi menuju salah satu mal yang bernama The Fort untuk memromosikan sepatunya.

Nongkrong di mal

Jumlah penggemar yang menanti Kobe di The Fort tak kalah banyaknya dengan yang berada di Barangay Pinagsama. Ribuan orang berdesakan menanti kemunculan Kobe di atas panggung yang sudah disediakan. Mayoritas pengunjung mengenakan sepatu basket yang khusus bertandatangan Kobe, yang lainnya mengenakan jersey Lakers nomor 8, 24, serta jersey tim nasional USA nomor 10. Saya kembali berpikir, “tak heran mengapa Kobe rela hingga tiga kali datang ke Manila.”

Kemunculan Kobe di atas panggung kembali mengundang histeria. Seorang bapak di sebelah saya yang jauh-jauh datang dari Hong Kong tak henti-henti berteriak, “Kobe, I love you!” Anak-anak muda Manila berdesak-desakan agar bisa melihat langsung Kobe dalam jarak dekat sambil berteriak “Kobe Bryant!” Bahkan salah seorang wanita di dekat saya mengatakan “I want him to marry me.”

Smart Gilas vs UAAC All Star +

Puncak acara kunjungan Kobe Bryant di Manila adalah mengunjungi Araneta Coliseum, sebuah arena basket dengan kapasitas 15.000 penonton, terbesar di Filipina. Hari itu, Araneta Coliseum terisi penuh! Semua orang berteriak mengelu-elukan nama Kobe Bryant. Ketika akhirnya Kobe Bryant muncul di lapangan, Araneta Coliseum “meledak”! Saya takjub melihat apa yang terjadi. Setiap kata-kata Kobe disambut bak “sabda”. Semua orang terlihat seperti “tercerahkan”.

Setelah memberikan kalimat sambutan dan menjawab beberapa pertanyaan dari pembawa acara, Kobe dipersilahkan untuk melempar bola tip-off pertandingan eksebisi antara Smart Gilas Philippines (tim nasional Filipina) melawan tim UAAP All Star, gabungan pemain-pemain terbaik liga mahasiswa Filipina. Laga rencananya hanya berlangsung selama dua babak, dua kali 10 menit bersih.

Selama babak pertama berjalan, saya pehatikan tak banyak penonton yang mengikuti laga dengan serius. Apalagi Smart Gilas terlihat jauh lebih dominan daripada UAAC All Star. Ribuan penonton lebih tertarik menyaksikan Kobe yang duduk di tepi lapangan yang kerap tersorot kamera dan muncul di layar lebar di atas lapangan. Setiap kali Kobe bergerak atau hanya menoleh dan tersenyum, setiap kali itu pula Araneta Coliseum meledak dalam suara-suara histeris. Ajaib bin luar biasa!

Memasuki babak kedua, Kobe Bryant bangkit dari duduknya lalu menghampiri tim UAAC All Star. Semua pemain mengerubuti Kobe seolah tengah mendengarkan instruksi pelatih. Ketika pemain kembali berpencar untuk bersiap memasuki babak kedua, Kobe terlihat telah mengenakan jersey Far Eastern University. Kobe bergabung dengan tim UAAC All Star. Reaksi penonton kembali tertebak. Saya menutup telinga.

Bergabungnya Kobe bersama UAAC All Star menambah semangat tim tersebut. Smart Gilas kini menghadapi lawan yang seimbang. Chris Lutz (Smart Gilas) yang bertugas menjaga Kobe tak mampu berbuat banyak. Kobe bahkan berhasil melayangkan dua buah slam dunk yang sangat cantik. Satu dunk pada kondisi traffic-jam di bawah ring Smart Gilas, dan satu lagi sebuah dunk indah ketika Kobe melaju sendiri setelah berhasil melakukan steal dari point guard Smart Gilas. UAAC All Star yang awalnya tertinggal jauh, menutup laga dengan kekalahan tipis 44-40.

“Apakah kedatangan Kobe di Araneta sesuai dengan harapanmu?” tanya saya kepada salah seorang pengunjung seusai laga di luar arena.

“Ini sangat-sangat melebihi harapan saya. Luar biasa! Saya datang hanya untuk melihat Kobe berbicara. Itu saja. Menyaksikan Kobe bermain dan melakukan dua slam dunk seperti tadi, sungguh tak bisa diungkapkan dengan kata-kata!” jawab seorang pengunjung yang terlihat sangat-sangat bahagia.

Ribuan penonton lain terlihat terus-menerus membicarakan apa yang terjadi di lapangan beberapa menit yang silam. Semua orang berbagi cerita dalam ekspresi yang sangat-sangat girang. Jika, para penggemar basket Filipina ini saling berebut untuk dapat foto bersama dengan para pemain basket dari liga mahasiswa, saya tidak bisa membayangkan jika Kobe Bryant juga berada di tengah-tengah mereka saat itu tanpa pengawalan. Kobe benar-benar menjadi pujaan bak “nabi” dalam sebuah agama bernama bola basket di Filipina!

C-Tra Arena Basketball School (CABS) Bandung

Mari berkenalan dengan C-Tra Arena Basketball School (CABS). CABS adalah salah satu sekolah basket yang sedang tumbuh di Bandung. Pertumbuhannya cukup pesat. Selain menjadi tempat berlatih teknik basket mendasar yang sangat penting, CABS juga mengajarkan banyak hal yang barangkali belum dilakukan oleh sekolah-sekolah atau kelompok pembinaan basket lainnya. Beberapa siswa CABS bahkan telah mulai dilirik oleh tim-tim profesional IBL.

Berikut wawancara gw dengan Dicky Arianto, administrator CABS:

Kapan CABS lahir?

1 Maret 2009

Apa sih visi dari CABS?

Didorong oleh rasa tanggung jawab dan juga keprihatinan terhadap kondisi pembinaan bola basket saat ini, di mana pemain bola basket tingkat daerah maupun nasional jarang memiliki sistem pengkaderan yang baik. Kita lihat saja di kompetisi IBL sebagian besar pemain-pemainnya lama, persediaan pemain hanya itu-itu saja, dan hanya sekadar berpindah-pindah klub, itu salah satu yang membuat minat penggemar bola basket mulai menurun. Kegiatan pengkaderan di olahraga bola basket gak mungkin mencapai hasil dalam waktu singkat, oleh karena itu CABS mempunyai tujuan jangka panjang, minimal sepuluh tahun ke depan akan dapat terbentuk atlet-atlet yang handal baik dari segi mental, moral maupun keterampilan menguasai teknik-teknik bola basket serta mampu bekerjasama dalam bermain di lapangan.

Siapa saja yang boleh ikut CABS?

Siapa saja boleh, dari usia mulai 7 tahun. Justru dari umur yang muda akan lebih mudah membentuk pemain basket yang handal.

Kenapa namanya “school” bukan “team” atau “kursus” atau “pelatihan”?

Di kasih nama scholl karena di sini kita memang berbeda dengan tim-tim atau klub-klub yang ada. Di sini siswa tidak hanya dituntut hanya bisa main basket tapi juga harus mengerti apa itu main basket. Ada kurikulumnya yang harus ditempuh, dan kita juga punya ruang kelas untuk teori.

Siapa saja pelatih atau guru-guru di CABS?

Pelatih-pelatih dikoordinasi oleh Pak Srigijanto, biasa dipanggil Pak Sri. Beliau pernah membawa tim putra bola basket Jawa Barat meraih mendali emas pada PON tahun 1996. Dan ini adalah yang pertama dalam sejarah bola basket Jawa Barat. Beliau koordinator para pelatih muda yang kesemuanya adalah sarjana pendidikan olahraga UPI:
Yusuf S.pd, Dedi S.pd, Arie S.pd, Imam S.pd (pelatih fisik), dan juga oleh pak Anhar Iskandar (beliau salah satu sesepuh bola basket Jawa Barat).

*Pak Sri dan Pak Anhar pada akhir tahun 90-an adalah pelatih kepala tim Siliwangi di ajang Kobatama (sebelum menjadi IBL)

Sejauh ini, adakah siswa CABS yang mulai dilirik tim-tim profesional (IBL)?

Ada beberapa senior CABS yang mulai dilirk oleh beberapa tim IBL. Mudah-mudahan pada kompetisi tahun ini sudah mulai bisa berkiprah.

Ada kelas putri?

Meskipun peminat basket putri tidak sebanyak putra, tetapi di CABS, siswa putri lumayan banyak.

Sejauh ini jumlah siswa CABS berapa banyak?

Jumlah siswa sekitar 80-an. Terbagi menjadi tiga kelas. Ada elementary (pemula), intermediate (menengah), dan advance (lanjutan). Dari tiap kelas terbagi lagi sesuai tingkat kemampuan siswa.

Latihannya setiap hari apa?

Latihan setiap hari minggu (jam 8-10 pagi), selasa dan kamis (jam 4-6 sore).

Apa saja program-program atau kurikulum yang paling ditekankan di CABS?

Materi permainan bola basket secara teori dan praktek, materi peraturan permainan bola basket, materi pendukung disiplin ilmu lainnya seperti fisiologi, anatomi, biomekanika, ilmu gizi, psikologi, pedagogi, dan metodologi kepelatihan. CABS juga sudah menerbitkan buku tentang teknik-teknik dasar bermain bola basket. Buku ini bukan hanya diperuntukkan bagi siswa CABS tapi juga untuk umum.

Informasi dan pendaftaran CABS ada di sini (fanpage/facebook CABS).

Masa Depan Freestyle, A Charity Game for Padang

Ini salah satu alasan mengapa gw suka dengan komunitas Masa Depan Basketball. Cerita ini dikirimkan oleh sahabat gw, Richard “Insane”.

GS7

Yo! Masa Depan Freestyle is in da building! Dengan konsep yang sedikit berbeda karena mencoba menyesuaikan dengan tema, yaitu Charity For Padang, maka kali ini Masa Depan Freestyle Jakarta mencoba mengemas atraksi freestyle basketball yang akan dibungkus dengan lagu-lagu Indonesia; “Lilin-Lilin Kecil” oleh Chrisye, lagu nuansa daerah Padang, “Ding Ding Pa Ding Ding” dan rap dari Pandji “Angkat Tanganmu Untuk Indonesia”

Enjoy :)

Regards,
insane

Substitusi Ceramah Taraweh dengan Main Basket :D (Buka Puasa Bareng Masa Depan Basketball)

Image024

Ada ketentuan berbusana untuk acara berbuka ini, “baju koko-hip hop”. Demikian tertulis pada poster acara buka akbar bersama Masa Depan Basketball hari Sabtu, 12 September kemarin. Kecuali gw yang sering tidak mematuhi ketentuan berbusana, anak-anak Masa Depan Basketball Bandung (yang punya hajat), Masa Depan Basketball Jakarta, Ballstar Indonesia, 8 PM, Double G, dan Future Basketball, semuanya berbusana atasan baju koko. Tetapi jangan harapkan bawahan atau celana padanan yang rapih, bawahan tetap berbau basket, dan tentunya sneakers atau sepatu basket. Sejenak gw berpikir, “it’s a cool style.

Gw skeptis, ngapain sih buka puasa dibarengi dengan main basket? Bukankah sebaiknya mendengarkan ceramah agama? Lebih bermanfaat?

Ketika gw sampai di Lapangan Basket Saparua sekitar pukul 5 sore, gw disambut ramah oleh anak-anak Masa Depan. “Halo bang, makasih bisa datang.” Gw lalu diberikan sebuah kartu pengenal dan pin lalu dipersilahkan menempati tempat yang telah mereka sediakan.

Anak-anak Masa Depan Basketball Bandung mengatur semua acara buka puasa ini. Mulai dari sebelum hari-H hingga kegiatan siap-siap di lokasi yang membuat mereka terlihat sangat sibuk. Para tetamu dan undangan yang sebagian besar adalah anak-anak basket juga mulai berdatangan dan disambut dengan sangat ramah oleh anak-anak Masa Depan. Mereka bahkan menyediakan satu kain putih sepanjang sekitar tiga meter untuk ditulisi apapun; tanda tangan, ucapan selamat, pesan moral, dll.

Saat adzan Maghrib berkumandang, semua yang datang disuguhi sup buah dan kolak pisang. Shalat Maghrib didirikan di Masjid Kologdam di Jalan Aceh yang berjarak sekitar 100 meter dari Lapangan Saparua. Usai Shalat Maghrib, nasi kotak menunggu :D

3

Acara dilanjutkan dengan three point contest dan pertandingan persahabatan antara Masa Depan Basketball Bandung melawan Masa Depan Basketball Jakarta. Postur Jakarta lebih besar, namun semangat gw rasa tak ada yang berbeda. Disaksikan lebih dari 100 penonton, pertandingan yang bersamaan dengan waktu Shalat Taraweh ini berjalan seru. Jakarta menang (skornya gw lupa..hehe).

Gw kembali membayangkan skeptisisme gw di awal tadi, bukankah ceramah taraweh lebih baik daripada main basket? Hmm, mungkin ada benarnya. Tetapi kemudian gw membayangkan lagi, jika dalam sebuah ceramah taraweh dalam waktu bersamaan gw mendapatkan sebuah petuah mengenai pentingnya rasa kekeluargaan, gotong-royong, mempererat silaturahmi, toleransi, pentingnya menjaga kesehatan jasmani dan rohani, memperkuat rasa persahabatan, atau mungkin patuh kepada orang tua, atau bahkan memberi makan orang yang berpuasa, maka apa yang dilakukan oleh yang hadir saat itu sudah bukan lagi berada dalam tataran mendengarkan ceramah atau petuah. Mereka sedang mengaplikasikannya :D Alhamdulillah, wallahu’alam (hanya Allah yang mampu memberi penialaian terbaik).

Usai pertandingan persahabatan antara Masa Depan Basketball Bandung melawan Jakarta, masih ada pertandingan antara Future Basketball melawan Masa Depan All-Star. Saat itu gw agak dongkol a.k.a. sebal, fasilitas publik tempat menyatukan anak muda kreatif seperti lapangan dan GOR Saparua tidak punya toilet yang layak. Ada sih sebenarnya, dulu mungkin layak, tapi saat itu tidak terlintas untuk pipis di situ. Gw kebelet, pamit, dan pulang.

“Dalam satu kata, bagaimana acara ini menurut lu bro?” tanya Richard Insane.

Great.” :D