Membangun Bangsa Melalui Libamanas (2/2), Namun Cukupkah dengan IP 2,00?

Judulnya mungkin masih selebay dan se-orde baru tulisan yang pertama, Membangun Bangsa Melalui Libamanas (1/2), Kiat-kiat Mendapat 5 Juta untuk Pendaftaran, tapi ya sudahlah.. :D

Sebelum mengumumkan bahwa biaya pendaftaran mengikuti Liga Bola Basket Mahasiswa Nasional (Libamanas) adalah lima juta rupiah, @perbasi_ina, twitter resmi Perbasi lebih dulu mengungkapkan bahwa standar indeks prestasi (IP) mahasiswa yang boleh mengikuti Libamanas adalah 2,00. Waks?! :(

Dunia luar punya alternatif yang lebih baik dari IP 2,00

Berapa persen kah para pemain Libamanas yang usai kuliah akan bermain basket profesional? NBL Indonesia? Banyak. Banyak banget. Itu harapan kita di masa nanti. Saat ini, rasanya belum akan sebanyak itu. Akan banyak para pemain Libamanas yang usai kuliah nanti memilih berkarir di bidang lain selain basket. Di bidang-bidang di mana dunia luar menilai seseorang salah satunya karena prestasi akademiknya di kampus. IP 2,00 jelas tak masuk hitungan bagi kebanyakan dunia kerja. Pegawai negeri sipil saja mensyaratkan IP minimal 2,75. Itu dulu. Entah kalau kini.

Bahkan ketika tujuannya adalah bermain untuk NBA, para pemain kampus di Amerika Serikat yang mendapatkan beasiswa karena kemahirannya bermain basket masih sangat merasa betapa pentingnya prestasi akademik. Sebagian kecil saja yang akan berhasil nyemplung dan main-main di kolam NBA. Sisanya ke mana-mana.

Pada kenyataannya, untuk mendapatkan beasiswa sebagai atlet kampus, standar IP-nya pun cukup tinggi. Seorang teman yang pernah berkuliah di Amerika Serikat mengatakan bahwa untuk menjadi anggota tim basket kampus, IP-nya minimal 3,00. Ia dan teman-temannya yang terbilang jago basket harus berusaha, belajar tekun memenuhi target tersebut.

Apa “kata” 2,00?

IP 2,00 mengatakan cukup banyak mengenai prestasi akademik seorang mahasiswa. Entah malas, bodoh, sebenarnya pintar tapi tidak serius, tidak mementingkan akademik, kebanyakan main basket atau apa lagi, silahkan tambahkan sendiri. Apakah pemain basket Libamanas kita akan seperti itu? Amit-amit dah.. :)

7 pemikiran pada “Membangun Bangsa Melalui Libamanas (2/2), Namun Cukupkah dengan IP 2,00?

  1. kok rasanya bertentangan sama jenjang di bawahnya ya? Di DBL batasan buat nilai akademis minimalnya lumayan tinggi kan? Kayaknya jadi sia2 DBL ada peraturan kayak gitu..

  2. Waaaaaaah…kl pemain libamanas cm dtargetkan dgn jmlah IP yg cm min 2.00 itu mw jadi apa nantinya…
    Mereka lulus kuliah blom tentu semua akan nerusin dunia basketnya kan..pasti ada yg bekerja d bidang yg lain
    Dan IP yg min 2.00 itu mana dpt d dunia kerja sana…
    Sebagai mahasiswa…yg cinta dengan basket..sebaiknya untuk para pemain libamanas itu target IP min 3.00 lah…meskipun permainan basket mereka bagus..tapi sebagai pemain basket dan sebagai anak muda bangsa indonesia *agaklebay itu harus maju dibidang non akademik serta akademiknya…jadi dikeduanya harus imbang

    Kesimpulannya…batas IP min 2.00 itu g menjamin buat masa depan…sebaiknya IP min 3.00…mohon untuk perbasi dpt dperhitungkan lg jika ingin melihat anak2 muda indonesia itu maju…
    SEMANGAD!!!!

  3. menarik juga niy bahasan dari kang Idan,
    Kalo kita melihat ke bawah ke kompettisi tingkatan umur yg lebih muda (DBL ), hal ini bisa dikatakan suatu penurunan. Seperti yang kita tahu bahwa DBL sendiri mengusung moto “student Athlete ” dimana mereka tidak hanya di tuntut skill di bidang basket saja, tapi juga meliputi bidang akedemis.
    Seperti yang pendapat @joey… IPK 2.0 itu tidak menjamin masa depan.
    belum tentu mereka semua bakal meneruskan kiprahnya di tingkat professional.
    mereka juga mempunyai pilihan untuk mengembangkan bakat mereka di liga Executive (pegawai).
    Sejauh yang saya ketahui saat ini di indonesia juga telah bergulir beberapa kompetisi tahunan untuk para pegawai swasta yang meliputi bidang perbankan, telekomunikasi, serta oil dan gas.
    rata – rata perusahaan tersebut mematok IPK 3.0 sebagai syarat mutlak bagi para karyawannya,

  4. sekedar info aja, walo kobe bryant ga masuk college, tp dulu waktu dia high school, dia harus menuhi syarat nilai tertentu (yang pastinya tinggi) supaya bisa jadi tim basket, bisa googling deh sejarahnya kobe sebelum masuk NBA.(berasa temen sekelasnya kobe aja, hehee).
    jadi pemain basket, atlet basket, itu ga cuma sekedar main, asal passing, asal dribble, asal shooting. main basket itu pun harus mikir. nah gimana bisa mikir kalo IP nya aja cuma dibatasi minimal 2??
    di kompetisi NBL Indo, ada beberapa pemain yang terlihat berbobot, baik ketika bermain, ataupun ketika d luar lapangan (misalnya, berbicara di publik). tapi ada juga yang terlihat memang sepertinya IP nya pas-pasan, ya cara mainnya, ataupun cara berbicaranya (no offense yaa :p).
    buat sebuah olahraga, tentu sangat menguntungkan jika semua yang terlibat di dalamnya adalah orang-orang yang berbobot, berisi. itu akan memajukan olahraga tersebut, membuat olahraga itu lebih meriah, dan otomatis, akan memajukan bangsa (jiaah, omongannya udah mulai berat :p).
    jadi, libamanas dgn IP 2,00? semoga hanya tahun ini. semoga tahun ke depannya bisa lebih meningkat lagi syarat IP ini, syukur2 bisa mencapai angka 3,00 :)
    Hidup Basket Indonesia! :D

  5. Aha… Bahasan yang menarik… semalam saat @perbasi_ina nge tweet IP minimal, gw jadi teringat klo dari dulu IP 2,0 itu menjadi patokan… gw kuliah tuh udh sktr 8 tahunan yg lalu… dulu juga dibilang bakal jadi 2,3 trs meningkat sampai akhirnya ke level rata2 pasar yaitu 2,75. yang terjadi adalah ya tetep di 2,0 itu aja… gubraks… ngga penting sih IP itu, apalagi klo dia punya koneksi :) tp at least klo IP pemain itu tinggi tentunya kesempatan dan peluang akan semakin besar terbuka buat si pemain itu. gw sempet protes dengan mengirimkan tweet balasan bahwa ngga perlu menunggu dan memberlakukan secara bertahap, tp yg bagaimana kompetisi itu dapat mempersiapkan atlet utk menghadapi kemungkinan2 yang bisa terjadi. kemungkinan cedera adalah yang paling ditakuti oleh atlet, karena itu tentu akan dapat mematikan karir mereka. jadi, lebih baik baik batasan itu dibuat sesuai dengan tuntutan pasar, shg makin banyak atlet basket yg “go to school” :)))

  6. Menurut gw IP jelek bukan karena bego..
    Lu smua pasti tau rasanya klo lu ngerasain sendiri gimana main basket di kampus negeri yg punya tradisi basket bagus n main di Libamanas!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s