Bagian Utama yang Tak Terlihat (“Terinspirasi” dari Pemukulan Wasit di Pra-PON 2012 Wilayah C)

oleh: Abdul Jabbar

Tulisan dari Abdul Jabbar ini “terinspirasi” setelah menyaksikan kejadian mengerikan kerusuhan dalam Pra-PON 2012 cabang olahraga basket wilayah C, 21 Juli 2011 di GOR CLS Surabaya. Belasan pemain dan suporter tim Papua menghajar wasit setelah timnya kalah. Baca berita penganiayaan tersebut di sini.

Bagian yang Tak Terlihat Itulah yang Lebih Utama

“Percuma, orang seperti itu nggak akan Ayah terima. Hard skillnya memang bagus, tapi soft skillnya berada di derajat yg rendah.” Saya diam saja mendengar kalimat yg meluncur dari bibir Ayah, saya tahu itu yg akan beliau ucapkan ketika kami berdiskusi soal kriteria penerimaan pegawai dan bagaimana wujud seorang manusia yg ideal. “Seperti gunung es, hard skill itu bagian kecil yg terlihat di atas permukaan air, tetapi soft skill adalah bagian terbesar yg tersembunyi di bawah. Tak terlihat, tapi itulah yg terbesar.”

Penggalan ingatan di atas langsung terngiang kembali di kepala saat sebuah kejadian yg tidak mengenakkan terjadi di lapangan basket baru-baru ini. “Tim ini pantas ditunggu penampilannya, pulangnya nanti saja setelah mereka main. Mereka inilah yang diberkahi Tuhan dengan kemampuan fisik luar biasa, dari segi itu saja harusnya mereka yg mengisi Timnas.”

Itu kata saya kepada teman yang sudah ingin pulang. Awalnya memang kami hanya hendak menyaksikan penampilan satu tim yang kami kenal pemainnya saja, tapi begitu tahu setelah itu mereka yang akan bermain, saya tidak keberatan kalau harus tidur di GOR :) Dari awal pertandingan tampak betapa kecepatan, kelenturan, kekuatan mereka ada 1-2 tingkat di atas lawannya. Kalo boleh pake bahasa Inggris, their athleticism are breathtaking. Tapi angka di papan skor menunjukkan superioritas lawannya, mereka tertinggal rata-rata belasan poin selama pertandingan.

Tak masalah dengan itu, karena perkiraan saya juga seperti itu, raw talent versus trained warriors. Lagipula tetap saja yg tersaji di lapangan adalah pertandingan yang sangat menarik dengan deskripsi seperti film laga: tempo tinggi, keras, penuh ledakan/kejutan! Kedua tim bermain sepenuh hati dengan sedikit bumbu temperamen di sana sini, tidak kenal lelah mengejar bola, dan tekanan kepada masing-masing lawan yg tak pernah kendur. Mereka sempat mengejar hingga selisih 7 angka di menit-menit akhir, namun ketenangan jajaran tim lawan membuahkan selisih 20 angka di akhir pertandingan. Kekecewaan bagi saya karena tim yg saya dukung kalah tertutupi oleh kepuasan yg amat karena baru saja menjadi saksi pertandingan yg sangat kompetitif……tapi itu tak bertahan lama.

Begitu peluit tanda akhir pertandingan berbunyi, kesedihan dan kegembiraan tergambar di dua sisi lapangan, bercampur jadi satu ketika kedua pihak bersalaman tanda saling menghormati dan saling berterima kasih…lalu tiba-tiba keadaan berbalik 180 derajat.

Beberapa oknum berlari mengejar seorang wasit hingga keluar GOR sambil mengacungkan bogemnya, dengan jumlah yang tak berimbang, sang wasit dianiaya. Beberapa panitia langsung mengejar, berusaha melerai. Wasit lainnya segera berlari menyelamatkan diri, masuk ke dalam kantor Perbasi. Suasana menjadi tegang, tim yang menang segera dikumpulkan dan didudukkan di bangku pemain. Panitia dan beberapa ofisial tim yang kalah (yang masih punya akal sehat) berkumpul melindungi mereka dari serbuan beberapa oknum, 1-2 pukulan dan tendangan lolos tepat mengenai sasaran. Ketua panitia memanggil 1 wakil dari masing-masing tim untuk berunding, segenap tim yg menang beserta suporternya segera diungsikan.

Saya dan teman saya terkejut di bangku penonton, belum pernah seumur hidup kami melihat secara langsung perilaku barbar semacam ini dan saya juga tak pernah menyangka hal ini akan terjadi di lapangan basket. “Wah, habislah sudah, diskualifikasi nih minimal. Kalo dilaporin polisi, hancur masa depan, Surat Keterangan Berkelakuan Baik juga gak bakal keluar,” komentar teman saya ini langsung membawa ingatan soal petuah Ayah. Hanya dalam 5-10 menit, masa depan sudah berubah….Esoknya (hari ini), koran mengabarkan wasit yg dikeroyok masuk Rumah Sakit dan penganiayaan ini akan dibawa ke ranah hukum.

Pernah dengar nama-nama berikut ini? Duke Crews, Arthur Agee, Isaiah Jr Rider, Latrell Sprewell? Kalau belum tahu, coba tanya om google dulu :)

Duke Crews alumni Bethel High School (Almamaternya Allen Iverson), harusnya karir basketnya lancar setelah masuk Univ Tennessee, tapi dia gagal secara akademik dan gagal tes bebas narkoba 4x.

Arthur Agee sempat masuk St. Joseph High School (Almamaternya Isaiah Thomas), tapi gagal secara akademik lalu pindah ke Marshall H.S., menjadi juara kompetisi basket SMA Negara bagian, tapi gak bisa masuk Universitas yang bagus karena nilai SATnya rendah. Mau tahu cerita lengkapnya? Coba nonton film dokumenter “Hoop Dreams.”

Isaiah Jr Rider adalah mantan pemain NBA, semua pelatih mengakui kemampuannya. Draft pick nomer 5 tahun 1993, juara kontes slam dunk tahun 1994. Tapi selama dia berkarir di NBA (1993-2001), pindah-pindah klub karena dibuang. Apa sebabnya? Masalah perilaku. Bolak balik tertangkap polisi, telat datang latihan dsb.

Latrell Sprewell sempat menjadi bintang di NBA juga. Tapi sekarang ia dikenang bukan karena kehebatannya, tulisan singkat dari Wikipedia ini menggambarkan hidupnya. “During his time as a professional, Sprewell was named to the NBA All-Star game during four seasons, and played for the Golden State Warriors, the New York Knicks, and the Minnesota Timberwolves. He helped lead the Knicks to the NBA Finals and the Timberwolves to the Western Conference finals. Despite his accomplishments, his career was largely overshadowed by a 1997 incident in which he choked his coach, P.J. Carlesimo, during a practice, which ultimately resulted in a 68-game suspension. Sprewell’s career came to a premature end in 2005 when he refused a $21-million three-year contract offer from the Timberwolves, which he said would not be enough to feed his children. Since that time, he has made headlines for grounding his million dollar yacht, having two of his homes foreclosed upon, and being prohibited from seeing his children.”

Ada apa kok tiba-tiba ngomongin mereka? Ada benang merah yg bisa ditarik. Hard skill bagus (dalam hal ini kemampuan berbasket), tapi ada masalah dengan soft skill. Pada kasus ini tidak semuanya seperti itu, hanya beberapa oknum, tapi yg kena getahnya semua.

Saya percaya, soft skill bisa dilatih, sama seperti hard skill. Membangun soft skill=character building. Menghargai diri sendiri, disiplin, jujur, kerja keras, berpikir sebelum bertindak, tata krama, haus kesempurnaan, pengendalian diri adalah sebagian dari nilai-nilai yang dapat dilatih. Bagaimana cara melatihnya? Tidak susah, bisa diterapkan lewat kegiatan sehari-hari. Tak perlu menunggu jadi orang besar untuk menyapa satpam yg menjaga GOR, mengucapkan terimakasih kepada petugas SPBU yg membantu mengisikan bensin, berinisiatif mencari sendiri cara melatih shoot, datang tepat waktu, menghormati kawan/lawan/pelatih, selalu melakukan introspeksi diri, mencium tangan orangtua sebelum mau pergi dan lain-lain.

Kedengarannya remeh dan kecil, tapi hal-hal kecil inilah batu bata yg ditumpuk dan akhirnya membentuk diri kita. Kualitas batu-batu bata inilah yg akhirnya akan menampakkan pribadi kita di luar. Jadi bila terjadi sesuatu yg kurang baik dan seharusnya bisa kita cegah, mulailah memperbaikinya dengan berpikir, batu bata mana yg salah dari diri saya. Dan yg paling utama, tidaklah pernah terlambat untuk memperbaiki sesuatu.

Ron Artest sudah membuktikannya. Di awal karirnya, karakter anak liar, anak ghetto sangat menonjol dari dirinya. Ia mengaku minum alkohol di saat halftime pertandingan saat masih di Chicago Bulls, menjadi inisiator pertengkaran massal saat di Indiana Pacers, datang latihan menggunakan jubah mandi, menghancurkan televisi di kandang lawan. Sekarang, malah mendapat J. Walter Kennedy Citizenship Award (2011) karena kontribusinya kepada masyarakat.
Jadi, mari kita mulai sendiri perubahan ini :)

9 pemikiran pada “Bagian Utama yang Tak Terlihat (“Terinspirasi” dari Pemukulan Wasit di Pra-PON 2012 Wilayah C)

  1. Kami dari PP Perbasi akan memberikan keputusan sebaik baiknya sesuai dengan Ad/Art yang menjadikan pedoman keputusan kami, selain itu jalur hukum akan kami tempuh karena pengeroyokan dan penganiayaan termasuk dalam kriminalitas. Bantuan hukum sudah kami berikan kepada Teguh

    Doakan supaya segalanya dapat berjalan dengan baik, dan kami dari Perbasi akan memberikan yang terbaik buat kemajuan basket Indonesia

  2. Terharu baca tulisan di atas..
    Dan saya merasakan sendiri bagaimana mengerikannya malam itu..
    Saat itu pertandingan menyisakan 40 detik,,saya memutuskan pulang krn saya pikir pertandingan sudah tidak seru lg..Sulut sudah menang jauh..
    Keluar dari parkiran,saya mengendarai motor agak lambat,,sesaat setelah melewati pintu masuk,saya mendengar teriakan2. Seketika saya menoleh,,dan menyaksikan sendiri kejadian yg biasany hanya saya liat di tv,,wasit dikejar dengan tdk berprikemanuasiaan,dengan membabi buta! (saya tidak membayangkan bagaimana kalau saya berada dlm posisi si wasit),,dipukul dan ditendang..untung segera ada yg melerai,,nyawa si wasit masih selamat malam itu. Sebuah mobil langsung membawanya pergi.
    Masalah selesai sampai di situ???
    Tidak!
    Suporter yg masih diliputi emosi tinggi kembali ke dalam gor..dan saya mendengar kegaduhan lg..
    Saya bertanya pada teman saya yg masih di dalam apa yg terjadi.
    Ternyata mereka memukul para pemain.
    Astagfirullah..

    Jujur, tim Papua yg bermain aktraktif sangat disayangkan kalau sampai di diskualifikasi.
    Tp keadilan harus tetap ditegakkan.
    Para pelaku harus mendapat hukuman setimpal.
    Agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
    Kejadian semalam pasti meninggalkan ketakutan bagi pemain,wasit,penonton dan semua yang terlibat.
    Semoga saja keputusan yg diambil memuaskan semua pihak.

    Kedepannya,saya mewakili teman2 lain sebagai penonton berharap mendapatkan pertandingan yg menarik dan pastinya AMAN.

  3. Setuju dgn komentar kak Idan. Semoga bs cepat diselesaikan masalah ini. Krn selama ini cabang olahraga basket negri kita punya citra yg baik,terutama untuk kenyamanan & keamanan selama pertandingan bahkan sesudah pertandingan berlangsung. Jgn sampai krn 1 kejadian ini citra basket Indonesia jd buruk di mata fans.

    1. Saya setuju juga dengan ini, salah 2 yg bikin menarik dari Basket adalah kenyamanan & keamanan. Semoga penyelesaian dari 2 jalur : peraturan FIBA & jalur hukum bisa memuaskan…

  4. seperti di film apa itu saya lupa judulnya,
    selain juara basket, pemainnya juga juara di akademik..
    dan kita butuh lebih banyak Kompetisi yang bagus dan sehat

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s