Layakkah Pemain NBL Indonesia Bergaji 50 Juta Perbulan?

Layak banget! Harusnya bahkan lebih. Mengingat kerja keras dan pengorbanan mereka yang luar biasa selama latihan maupun ketika pertandingan. 50 juta perbulan rasanya masuk akal :D

Pertanyaannya, siapa yang mau bayar gaji mereka sebegitu banyak? Mari kita hitung-hitungan kasar sedikit yaa. Jika seorang pemain bergaji 50 juta rupiah per bulan, artinya, jika satu tim NBL Indonesia memenuhi kuota 17 pemain, maka dalam satu bulan sebuah tim harus mengeluarkan uang gaji pemain sebesar 850 juta sebulan. Setahun sama dengan 10,2 milyar. Apakah ada tim NBL Indonesia yang pengeluaran atau pemasukannya sedemikian besar, 10,2 milyar? Meragukan :)

10,2 milyar pertim pertahun yes, itu belum termasuk transportasi, akomodasi, serta kebutuhan-kebutuhan lain selama setahun liga berlangsung yaak :D Hohoo :D

Tetapi bukankah para pemilik klub adalah orang-orang kaya?

Betul mereka adalah orang-orang kaya. Tetapi kayanya bukan dari basket. Dan basket belumlah mampu membuat para pemilik klub ini kaya dan menyuntik para pemainnya untuk ikut kaya juga. Uang yang mereka berikan untuk basket masih bermotif “sumbangan”. Rasanya belum ada sebuah tim NBL Indonesia sebagai entitas bisnis yang telah membukukan keuntungan. *silahkan koreksi gw jika salah.

Seharusnya, selain kaya dari sumber lain, para pemilik klub juga harus bertambah kaya dari basket. Dengan begitu mereka tentu akan dengan senang hati menggaji para pemainnya dengan lebih besar, 50 juta sebulan barangkali :D

Kita bersyukur masih ada yang mau “berkorban” untuk membina sebuah klub basket di Indonesia. Tapi tentunya kita jangan terlena bahwa mereka akan terus mau dengan sukarela akan “membuang” duit di basket. (perusahaan tembakau saja yang katanya duitnya gak habis-habis dan katanya mau dukung basket malah meninggalkan IBL di tahun 2008)

Di NBA, ketika 22 pemilik klub dari 30 yang ada, merugi, mereka capek nombokin gaji pemain yang terlampau tinggi. Ujungnya, mereka mengunci (lockout) fasilitas NBA agar tak lagi dipakai oleh para pemain yang enggan menurunkan standar gajinya. Jika lockout yang dimulai sejak awal Juli tersebut terus berlanjut, maka NBA 2011-2012 tak akan ada. Tak ada pebisnis normal yang mau menjalankan usahanya jika membayar gaji pegawainya membuatnya merugi. Kecuali ia memang berkorban! :D **Ingat IBL 2009, tak ada sponsor, penyelenggara tak mampu menjalankan liga, dan akhirnya mati.

Membangun basket Indonesia adalah pengorbanan

Di Amerika, semuanya bisnis. Demikian pula kelak nanti di Indonesia. Membangun kompetisi basket yang sehat membutuhkan sedikitnya 3 komponen yang saling mendukung; Penyelenggara + pemilik klub, pemain, dan fans. Hilangnya antusiasme dari salah satu elemen tersebut akan membunuh kelangsungan kompetisi. Dan ketiganya harus sadar bahwa mereka saling membutuhkan.

Kalau kita (fans) mau membangun basket Indonesia, kita harus ikut berkorban. Penyelenggara + pemilik klub dan para pemain sudah sangat berkorban. Penyelenggara, PT DBL Indonesia berani mengambil risiko untuk menggelontorkan duit sekian banyak untuk kompetisi basket yang sudah ditinggalkan oleh penggemarnya. Azrul Ananda sang komisioner liga sering mengungkapkan bahwa NBL Indonesia dibiayai oleh DBL Indonesia, liga pelajar, dan ia belum digaji sama sekali.

Pemilik klub pun berkorban tak kalah besar. Mengorganisasi dan menjalankan sebuah klub dengan biaya yang tidak sedikit (milyaran) dan masih berusaha agar klubnya mampu menghasilkan keuntungan. Pula demikian para pemain. Bermain sekuat tenaga bercucur keringat bahkan darah tetapi baru “dihargai” segitu. Para pemilik klub + penyelenggara berkorban sedemikian besar untuk siapa? Yes, Fans!

Pengorbanan fans adalah menyaksikan mereka langsung di arena, dengan membeli tiket tentunya. Jika semakin banyak fans menyadari hal ini, simbiosis mutualisme akan segera berjalan. Fans membeli tiket akan mendapatkan suguhan permainan menarik dan memuaskan dari para pemain, penyelenggara + pemilik klub mendapatkan untung besar, dan akhirnya pemain mendapatkan gaji dan bonus melebihi yang diharapkan. Amiin.

Kita yang membangun liga ini, insyaAllah generasi mendatang yang akan menikmatinya

Begitu kata Azrul Ananda suatu kali. Gw setuju. Jika semuanya hanya untuk diri kita sendiri, barangkali itulah yang namanya egois. Seperti pembabat hutan yang gak menanam kembali bibit yang baru. Analoginya mungkin kurang begitu pas. Tetapi gw ingin kita sadar, membangun basket Indonesia butuh usaha dan pengorbanan kita semua (penyelenggara + pemilik klub, pemain, dan fans). Jika kita semua sudah bersinergi dengan harmonis, apa yang kita impikan sekarang akan tercapai kelak; medali emas di semua kejuaraan, dikunjungi para legenda NBA, baik aktif maupun yang sudah pensiun, pemain bergaji tinggi, pemain asing di NBL Indonesia, dan lain-lain.

Namun sebelum berkorban, mari pahami bersama, bahwa ini semua adalah bisnis! :D

Iklan

7 pemikiran pada “Layakkah Pemain NBL Indonesia Bergaji 50 Juta Perbulan?

  1. yup setuju banget, membangun basket indonesia perlu tenaga, upaya, pengaturan organisasi yang baik serta jangan lupa infrastuktur yang memadai agar pemain, pelatih dan semua yang terlibat di dunia basket Indonesia dapat memcapai meraih medali emas disemua kejuaraan. SEMANGKA!! #eh SEmangat!!

    1. yg bisa dicuri? jgn maruk… udah keliatan skr kan tuh? Basket Indonesia udah merintis jalan yg bener… semoga tetap bener kedepanya…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s