Kepada Tim Nasional Putri Indonesia, Sebuah Catatan dari Penikmat Basket (putri)

oleh: Penulis Misterius :D

Hari Rabu lalu, 13 Juli 2011, saya berkesempatan menyaksikan Tim Nasional (timnas) putri bertanding melawan tim putri pra-pon Jatim yang dihelat di DBL Arena Surabaya. Kebetulan, mereka sedang berkunjung ke Surabaya. Sebenarnya berita tentang kedatangan mereka sudah jauh hari saya dengar, dan sebagai penikmat basket tentu saya tak ingin melewatkan pertandingan ini.

Sekarang ini bisa dikatakan sangat mudah bagi kita mendapatkan informasi tentang timnas. Gencarnya pemberitaan, media sosial, menandai bangkitnya lagi basket di Indonesia. Liga-liga berjenjang mulai muncul beraturan, menasional, mulai dari liga pelajar dimana ada DBL dan Popmie Basketball, berlanjut ke jenjang mahasiswa ada Campus League yang mulai menyaingi Libama (dan pada akhirnya Libama pun –semoga- mulai berbenah), dan di tingkat profesional saat ini ada NBL yang mulai menggeliat.

Oke, kembali ke timnas putri tadi. Saya benar-benar sudah menunggu pertandingan yang berlangsung di sela-sela DBL seri Surabaya tengah digelar. Sempat terlintas di benak saya, pertandingan ini akan berjalan timpang, mengingat materi timnas yang jelas jauh di atas tim prapon jatim. Timnas pasti akan memberikan suguhan pertandingan menarik, dengan kualitas skill para punggawa timnas yang pasti adalah terbaik di Indonesia.

Tapi, sekali lagi, sebagai penikmat basket putri, saya cukup kecewa melihat pertandingan tersebut. Kuarter pertama berjalan 5 menit, skor masih 9-5 untuk keunggulan timnas. Dan di 5 menit kuarter pertama tersebut, saya sangat kaget melihat permainan timnas. Dimotori oleh sang kapten, Wulan, timnas bermain tanpa gereget sama sekali. Jauh di bawah bayangan saya, jauh sekali dengan gembar-gembor pemberitaan yang menyanjung timnas ini.

Sebenarnya sedikit kekecewaan sudah terlihat saat pemanasan. Sebagai sebuah tim yang bernama “tim nasional”, presentasi tembakan mereka saat pemanasan sungguh-sungguh buruk. Kalau kata orang awam, tembakan mereka tidak “blung-blung”. Tadinya saya sempat berpikir, masih pemanasan. Nanti pasti mereka akan menunjukkan keahlian yang sesungguhnya di pertandingan.

Dan ternyata, memang benar-benar mengecewakan. Dari sudut pandang statistik, turnover yang mereka bukukan di kuarter 1 saja ada 10 kali turnover (jujur, saya menghitung sendiri ini, tanpa software statistik, hanya menghitung menurut pandangan saya sebagai orang basket :D). Dan saya yakin, di akhir pertandingan, jika saya mau melanjutkan menghitung, pasti lebih dari 20 kali turnover!

Itu jika dilihat dari statistik. Jika dilihat secara kasat matapun, permainan individu, egois, tanpa pola, dan tanpa komunikasi sama sekali justru yang mereka perlihatkan kepada penonton sore itu. Bahkan kalau boleh sedikit ekstrim, komunikasi dalam arti sebenarnya, timnas bermain tanpa bicara sama sekali!

Aah, saya tiba-tiba kembali teringat ketika saya masih menjadi pemain basket. Rata-rata para pemain timnas putri saat ini, adalah mantan kawan dan lawan saya ketika dulu saya masih aktif. Saya sempat mencicipi bagaimana kerasnya persaingan tingkat Libama dulu (sebelum ada Campus League), dan sempat pula merasakan liga basket putri tertinggi Kobanita (sekarang sudah almarhum).

Saat itu, Wulan yang bermain di klub Mahaputri (dan juga bermain di Perbanas di level Libama), berduet dengan Novabella, menjadi kekuatan menakutkan. Bagaimana egoisnya Wulan, bagaimana ngototnya Wulan bermain, bagaimana dia begitu berani drive menusuk ke jantung pertahanan lawan. Saya ingat sekali, saat itu tim saya yang baru promosi ke Kobanita bertanding melawan Mahaputri. Di atas kertas, sudah terlihat bahwa kami akan kalah. Dan pelatih saya saat itu berkata, bahwa bisa saja Mahaputri akan menurunkan pemain-pemain cadangannya. Tapi saat pertandingan, ternyata Mahaputri tetap menurunkan tim intinya, dan tentu saja ada Wulan dan Novabella disana. Tanpa melihat siapa lawan yang dihadapinya, Wulan tetap saja bermain dashyat. Menerobos pertahanan lawan, meraup banyak poin, meletupkan hasrat sangat ingin menang.
Tapi apa yang saya lihat kemarin, sungguh bukan Wulan yang pernah saya tahu. Ya, dia sudah jauh menurunkan ego nya, sudah tidak lagi rakus poin, tapi saya sama sekali tidak melihat luapan semangat untuk menang dalam dirinya, seperti dulu.

Begitu juga anggota timnas lain. Jojo (Marjorice) saat saya kenal dia bermain di Ubaya, adalah motor serangan Ubaya. Bagaimana hasratnya untuk terus berlari ke tiap sudut lapangan, bagaimana beringas nya Jojo dalam merebut bola, bagaimana cerewetnya Jojo saat mengatur teman-temannya di tim Ubaya dan di tim PON Jatim 2004 lalu, sama sekali tidak terlihat. Begitu juga dengan Jacklyn, kemanakah power yang begitu kuat saat beraksi dalam key hole? Sama sekali tidak tampak.

Ranie, sang pemimpin Sritex Solo dan UNS, pun demikian halnya. Sebenarnya, dia baru bermain di kuarter 2. Dan saya tahu dia sedang cedera. Tadinya saya sempat berharap padanya untuk bisa turun bermain dan membawa perubahan pada permainan timnas dalam pertandingan ini. Minimal, saya ingin melihat adanya semangat untuk menang dari timnas dengan masuknya Ranie. Tapi sama saja, Ranie yang saya kenal di saat bermain di UNS dan di Sritex, ternyata berbeda dengan Ranie di timnas. Tanpa ada leadership, tanpa ada semangat, semuanya terlihat benar-benar datar. Mungkin, di mata saya, hanya Yunita yang masih terlihat seperti Yunita yang saya tahu. Masih mampu menggalang komunikasi dengan rekan setimnya, masih terlihat mau ngomong, dan masih terlihat ada semangat bermain.

Lainnya? Kemana Yuni, kemana Sinta, kemana Fanny, kemana Hanum? Kemana semangat mereka dalam bermain basket? Kemana gairah mereka menikmati basket? Entahlah.

Justru hal sebaliknya tampak pada permainan tim Jatim. Saat banyak orang meragukan bagaimana Jatim akan bisa lolos ke PON kelak, ketika pemain-pemain terbaiknya pindah ke daerah lain, ketika tim ini “hanya” diperkuat pemain-pemain SMA ataupun alumni liga-liga pelajar. Siapa yang menyangka Jatim benar-benar memberikan perlawanan. Justru dari tim ini lah saya melihat bagaimana memang seharusnya sebuah tim bermain. Bagaimana Mega Nanda bermain penuh semangat, bagaimana Sumiati terlihat sangat ingin menang, bagaimana Laili berlari mengejar kemanapun bola itu berada, dan bagaimana mereka benar-benar bermain sebagai sebuah tim, penuh kekompakan, penuh keceriaan. Padahal hampir semua tahu, mereka mungkin baru berkumpul beberapa minggu saja, dan itupun event Pra-PON wilayah C hanya berkisar seminggu lagi akan digelar.

Saya tahu, sebagai mantan pemain, memang paling enak adalah ketika diposisikan sebagai underdog. Saat semua orang meremehkan kita, saat itulah kita tertantang untuk membuktikan kemampuan kita. Saya pernah merasakannya ketika Libama, saat semifinal, tim kampus saya berhadapan dengan UPH. Dan saat itu, hampir semua meremehkan kami. Bahkan lolosnya kami ke semifinal pun dianggap sebagai suatu kebetulan. Pada akhirnya, kami dapat mengalahkan UPH, dengan kemenangan 1 point! Tapi saya pun pernah merasakan, bermain sebagai tim dengan posisi unggulan pun tidak seharusnya membuat kita bermain ala kadarnya. Kemenangan, yang tampak mustahil diraihpun, akan datang jika, sekali lagi, kita bermain dengan semangat dan hati.

Bayangan saya kembali ke NBL musim lalu yang sudah selesai. Saat semua orang mengatakan bosan melihat Satria Muda juara, saat itulah seharusnya mereka tahu, bahwa semua punggawa Satria Muda memang bermain basket dengan hati. Saya masih ingat sampai sekarang, saat Grand Final Satria Muda melawan CLS Knights, kebetulan saya berada di area ruang ganti sesaat sebelum pertandingan. Saat kedua tim akan masuk lapangan, saya melihat bagaimana Amin Prihantono, Faisal, Welly, berteriak-teriak. Saat saya menanyakan siapkah di final ini, jawaban mereka sungguh membuat saya takjub, “siap saja, hajar saja!” dan mereka menjawab dengan berteriak. Saya kemudian menanyakan hal yang sama kepada beberapa punggawa CLS Knights, dan saya hanya mendapatkan jawaban, “yang penting berusaha di lapangan”, jawaban datar, dengan senyuman, dan tanpa ada “kenaikan” nada dalam jawaban itu. Oh ya, saya sama sekali bukan penggemar Satria Muda. Saya justru penggemar CLS Knights, karena notabene saya berdomisili di Surabaya. Tapi mau tidak mau, harus diakui, memang seperti itulah sebuah tim jika ingin menjadi juara. Mau tidak mau, memang benar adanya Heart of Champion. Dan mau tidak mau, harus diakui, sampai saat ini, Satria Muda lah tim terbaik Indonesia yang bermain dengan hati (semoga kelak ada yang bisa mematahkan dominasi ini :D).

Pada akhirnya, memang timnas putri menang dengan skor cukup telak 70-44. Tapi saya sudah terlanjur kecewa, dan saya justru lebih mengapresiasi permainan Jatim. Saya yakin, Jatim akan mampu mengimbangi kekuatan unggulan utama DKI, juga Papua dan Jogjakarta, dalam Pra-PON nanti (tanpa bermaksud meremehkan daerah lain). Jika pun kelak jatim mampu lolos dalam Pra-PON ini, saya yakin, mereka akan mampu memberikan perlawanan kepada Jateng (unggulan utama PON) dan Jabar (kebetulan saya sempat melihat mereka bermain di Pra-PON wilayah B yang lalu).

Saya tegaskan, saya sama sekali tidak membela Jatim, bukan karena saya warga Jatim. Saya pun mencoba berpikiran positif, semoga permainan mereka yang seperti ini, karena kesulitan beradaptasi dengan cuaca surabaya yang memang panas, dan memang karena mereka tidak bermain dalam bentuk terbaiknya.

Saya tidak pula bermaksud menjatuhkan timnas, menjelekkan timnas, ataupun antipati terhadap timnas. Apalagi saya pun bukan seorang pelatih, bukan seorang profesional dalam basket, dan saya tahu, saya hanya memiliki secuil pengalaman dalam menilai basket, dan itupun saya yakin, saya pasti lebih banyak salahnya. Saat ini saya hanyalah seorang penikmat basket, dan sungguh benar-benar berharap basket Indonesia semakin semarak. Tidak hanya basket putra, tapi juga basket putri. Siapapun pemain yang terpilih dalam timnas putri ini, saya sangat mendukungnya.

Saya merasa percuma saja jajaran manajemen dan pelatih melakukan bongkar pasang pemain, memanggil pemain ini, mengganti pemain itu, jika mereka yang terpanggil hanya bermain seperti itu. Saya hanya tidak ingin melihat mereka bermain egois, bermain sendiri-sendiri, bermain untuk meraih poin sebanyak-banyaknya, bermain agar dilihat oleh pelatih, bermain agar terpilih masuk 12 besar. Saya dan mungkin penikmat basket lainnya, hanya ingin melihat mereka bermain dengan hati, bermain dengan semangat tinggi, bermain dengan keyakinan untuk menang. Saya tidak ingin melihat timnas putri yang begitu digembar-gemborkan –dengan pelatih asingnya- bermain seperti ini, kemudian di SEA Games nanti justru hanya menjadi bulan-bulanan lawan. Tidak, saya sama sekali tidak ingin seperti itu. Saya sungguh ingin melihat Wulan, Jojo, Ranie, Sinta, dan semua personel timnas lainnya bermain seperti ketika mereka bermain di klub atau kampus masing-masing. Dengan hati.

Sedikit menyambung ke timnas putra –seperti yang sudah dibahas di artikelnya mas Udjo, saya juga ingin melihat mereka semua bermain dengan semangat. Entahlah, seperti Xaverius mungkin, yang selalu terlihat sangat-sangat ingin menang? Guys, play with heart, please!!

* tulisan ini saya buat tidak untuk menjatuhkan siapapun, tidak pula untuk menyalahkan siapapun. Saya yakin, saat ini semakin banyak kalangan yang peduli dengan basket Indonesia. Sekali lagi, saya hanya seorang penikmat basket, yang berharap basket di Indonesia semakin jaya. Amien!

17 pemikiran pada “Kepada Tim Nasional Putri Indonesia, Sebuah Catatan dari Penikmat Basket (putri)

  1. Klo saya liat mgkn karna faktor kecapekan jga bisa. secara jadwal dr dbl full dr awal dtg mpe’ mau tanding, mreka sblm nya coaching clinic. Sedangkan dr praPon Jatim tdk ada kegiatan yg menguras tenaga.

    Saya jga agak kecewa liat game kmrn, lbh senang waktu melihat invitiation games kmrn di jkt wkt vs thailand, mreka maen “sepenuh hati” meskipun kecolongan di 5mnt qtr. Saya aja jga kaget melihat semangat teman2 yg gak ada rasa takut sama sekali dgn postur bdn lawan.

    Tapi yg nama nya pemain kan kadang peak performance nya kadang di atas kadang turun, jdi saya percaya mreka bisa lbh bagus lagi dr game kmrn..

    Semangat terus bt timnas putra ‘n putri!!!

  2. Saya tidak menonton game ini, saya sedang berada di gor cls saat itu, ingin melihat tim prapon kalsel dan cls yg baru pulang dari tc apa ada peningkatan.

    tapi jujur baca naskah sang penulis misterius(atlit ya kakak) saya juga sedih kalau membaca bagaimana banyak yg tidak lagi bermain dengan ‘hati’. tidak perlu berdebat dah kalau saya juga berpendapat begitu, saya pernah berteriak mengusir semua squad saya untuk pulang saja dari pada main ‘untuk’ kalah game belum selesai buzzer belum berbunyi. fight is a must play with all you can.

    other word just go home..

    apa kah ini karena tidak adanya kompetisi rutin lagi di liga di level wanita. yup i miss the girl league semmoga nbl juga punya mata hati melihat we need wnbl indonesia.

  3. salah seorang personel timnas putri yang juga salah satu sahabat saya pernah sedikit mengeluh kepada saya, bahwa semua seolah berlomba menunjukkan ego masing-masing, semua ingin terlihat di depan pelatih. ingin terpilih menjadi 12 besar. dan bahkan sedikit saran dari senior pun kadang tidak dihiraukan. sungguh saya miris mendengar itu.
    buat saya, seandainya mereka selalu bermain dengan hati, menikmati basket, maka apapun akan datang dengan sendirinya. menjadi skuad terpilih, kemenangan, kebanggaan pasti akan datang sendirinya.
    saya setuju pula dengan chandra, bahwa siapapun lawannya, entah di atas kertas dia memang jauh berkualitas, ataupun malah sebaliknya, jauh di bawah, tetaplah bermain dengan hati, penuh semangat, tak ada kata kalah sebelum buzzer berbunyi.
    tapi seperti kata mlindaw, saya pun percaya semua anggota timnas akan lebih bagus dari perform mereka kemarin. saya percaya mereka semua masih menikmati bermain dengan hati, selama mereka masih mencintai basket. semoga performa mereka kemarin hanyalah karena mereka tidak dalam peak performance. semangat selalu!! saya percaya timnas putra dan putri Indonesia bisa lebih baik. :D

    ohya, sekali lagi setuju dengan chandra, i really mizz the girls league too :(

  4. yang pernah manjadi bagian tim, pasti bisa merasakan hal ini. semoga yang sedang berada di dalam tim, tim basket apapun itu, yang mencintai olahraga ini. bisa membaca postingan ini. a heart of champion!!
    maju terus basket indonesia !!!!!!!!!!!

  5. Tulisan ini menarik, tapi karena saya ga nonton jadi saya kayaknya ga bisa mengomentari lebih lanjut. Cuma mau mengangkat satu topik yg masih berkaitan.

    Dari tulisan di atas, saya menarik kesimpulan bahwa karakternya belum terbentuk, mohon dibenarkan bila salah, walau bisa saja ada beberapa penyebab yg membuat Timnas Putri kemarin kurang fight seperti kata @Mlindaw.
    Dari dulu selalu didengung-dengungkan bahwa aspek terpenting dari pendidikan adalah character building. Mengajarkan cara mengerjakan pembukuan, berbahasa Inggris yg baik itu pasti, tapi yg paling penting adalah membentuk supaya sang murid punya etos kerja tinggi, haus akan kesempurnaan, jujur, selalu menantang diri untuk naik ke tingkat yg lebih tinggi dan lain-lain. Makanya saya terus terang senang ketika program Character Building di Batujajar pun dimasukkan ke program pembentukkan Timnas, kita semua ingin melihat pahlawan2 kita berjuang dengan ngotot.

    Tapi sebuah program yg dilakukan secara sporadis sangatlah kurang. My point: pembentukan karakter itu harusnya sudah dimulai sejak dini, dari pelatih2 basket pertama yg menangani mereka dan diteruskan hingga sampai tingkat tertinggi. Maka lahirlah pemain2 yg dari awal terbiasa memberikan 120% kemampuannya setiap bertanding…

  6. kok irene ngak dibahas sih…ato pemaen2 laen.. g fair ini yang nulis blog. ato bahas pelatihnya kek…
    gabriel jg g dibahas…pada maen g sih mereka???
    fanny kalumata jg g dbahas. kyk nya penulis cm bahas temen2 aja deh… saya kan juga pengen tau perkembangan smua yang ada di timnas…

  7. Sepertinya penulis misterius blm kenal dgn nama nya irene ama gabriel ce annie :p

    Semua nya ada kemajuan permainan drpd pertama kali try out di jogja bln maret kmrn..
    Faktor kelelahan game kmrn sangat keliatan, nyata nya jecklin kena engkel lalu disusul fanny lutut engkel *semogalekassembuh

    Klo di bilang ga ada komunikasi sama sekali di lapangan saya jga ga setuju, jgn lupa di dlm lap suara musik sangat keras.. Cuma kurang lbh ramai lagi dr suara musik nya :p Ga mungkin kan deffense sambil panggil teman sendiri dlm hati :p

    #noOffense :p

  8. sedikit sumbang saran. mnurut saya ini bkn mslh kenal atau tdk kenal dgn anggota timnas. bhkan mnurut saya brani taruhan penulis mgkn tidak bnr2 mengenal anggota timnas. mnurut saya ini hnya urun rembuk dr seseorg yg melihat dari kcamat pnonton. tntu beda dgn yg melihat dr dlm.
    yg saya tangkap dr artikel ini & penulisnya, mgkn sama dgn inti dari artikel bang udjo ‘Terbanglah Tinggi Bola Basket Indonesia’, ya itu, bermainlah dgn smangat, dgn hati. jika di timnas putra kita berharap bolehlah mereka kalah dgn filipina, tp stidaknya berjuanglah dlu habis2an di lapangan, maka d timnas putri kita berharap tetaplah bermain dgn semangat juang tinggi, tetap harus habis2an di lapangan, bagaimanapun level permainan lawanmu, dan berikan kepuasan pd siapapun yg mencintai olahraga bsket. bukan bgitu penulis misterius? :)
    soal komunikasi, memang bsket Indonesia klo menurut saya, trmasuk ‘pendiam’. di filipina sana, & trutama d amrik sana, bhkan ketika mreka brmain di jalanan pun, ktika siapapun boleh main, yg tentunya tdk saling knal, suaranya itu loh, brisik banget. triak ‘defense-defense’, ‘ball-ball-ball’, bhkan lebih keras drpd suara mobil d jalanan :)
    dari komen @hay, saya mrasa bhwa @annie mulyono setuju dgn ‘pembentukan karakter itu harusnya sudah dimulai sejak dini, dari pelatih2 basket pertama yg menangani mereka dan diteruskan hingga sampai tingkat tertinggi. Maka lahirlah pemain2 yg dari awal terbiasa memberikan 120% kemampuannya setiap bertanding’, ce annie pelatih basket bukan ? :)
    satu lg, sbnrny saya krg suka jika ktika kita bermain buruk, sll brusaha mncari alasan untuk burukny permainan kita. sbnrny lebih bgs jika burukny prmainan kita mnjadikan kita lebih trbuka dgn kritik, & kelak sllu brusaha meminimalkan kslahan yg menimbulkn permainan buruk itu.

    sama, no offense. smua ini untk kemajuan basket indonesia, putra & putri :)

  9. Numpang komentar ya…

    Masukan Penulis Misterius dan teman2 fans basket lainnya sangat penting untuk dijadikan dasar Timnas Putri untuk memperbaiki diri. Tentunya Timnas tidak mau mengecewakan fans-nya. Saya yakin mereka selalu berusaha untuk mempersembahkan yang terbaik bagi bangsa, negara dan fans mereka.

    Sekedar catatan kecil saja, dalam melakukan pertandingan try-out, uji coba dan eksibisi saya yakin Timnas memiliki prioritas untuk melatih beberapa aspek dalam game mereka. Misalnya eksekusi offensive pattern baru atau mereview defensive scheme tertentu. Hal2 ini sangat penting untuk dimiliki apabila kita mau berkompetisi di level internasional, karena kita akan mampu mengeksploitasi kelebihan kita dan menutupi kekurangan kita. Tidak seperti di turnamen basket lokal dan nasional (terutama putri) yang cukup mengandalkan superioritas individual skill pemainnya (seperti Wulan, Rani & Jojo) untuk menjamin kemenangan.

    Nah, resiko dari fokus prioritas dalam try-out game seperti Timnas vs Jatim kemarin adalah penampilan mereka yang kurang greget sehingga dinilai “tidak punya the heart of the champion”. Soalnya para pemain masih harus melakukan penyesuaian apa tugas mereka dalam pattern yang diperintahkan oleh para pelatih, berusaha menemukan timing dan meningkatkan in-game communication skill mereka. Disamping itu jadwal mereka yg padat serta beberapa faktor non-teknis lainnya juga mungkin turut menyebabkan performa mereka tidak pada puncaknya.

    Saya berkesempatan untuk beberapa kali mengikuti aktivitas Timnas Basket Putri ini dari dekat. Jadwal mereka yang padat serta kompetisi yang tinggi di antara para pemainnya untuk merebut posisi dalam Timnas di SEA Games nanti mungkin terkadang membuat mereka frustrasi atau kesal. There is good day and there is bad day. Saya rasa hal2 tersebut adalah manusiawi, termasuk juga saat mereka menceritakan apa yang sedang terjadi pada diri mereka dan team mereka.

    Tapi satu hal yang saya bisa jamin adalah Timnas tahun ini memiliki komitmen untuk menang dan punya The Heart of The Champion. Saya yakin apabila para fans lain memiliki kesempatan untuk mengikuti kegiatan mereka dari subuh hingga larut malam, mengetahui hal-hal pribadi apa yang mereka kesampingkan untuk berjuang demi dikumandangkannya Indonesia Raya mendampingi Merah Putih di puncak podium, kita tidak akan terburu-buru menilai hati dan keegoisan mereka.

    Ayo dukung terus Basket Indonesia!

    Patriot!

  10. Saya jg lihat game ini kmrn.dan memang benar saya aja kecewa lihat timnas.kalah ngotot dgn jatim.sampe penonton d belakang saya sempat bilang lebih seru pertandingan sebelumnya.
    Sbg penonton sih saya ga peduli seberapa besar aktivitas dia dr subuh sampe mlm.yg saya tahu namanya pemain basket,di tim manapun,kalo tanding ya harus memberikan semua kemampuan terbaiknya.bahkan kemampuan terbaiknya untuk apapun pattern yg lg dicoba.kalo saya yg maen,saya cinta basket,saya akan suguhkan permainan terbaik saya untuk penonton,walo cuma diliat 1 penonton aja,walo lg ga dlm top perform.do it for basket!!
    Intinya sih,yg ngotot gitu kalo maen.jatuhbangun dulu di lapangan.(Saya jg lihat philipina v indo d jakarta lalu.sama aja,maen ga pake ngotot!)

  11. Komen bt dean:
    Klo lwt omongan doank sih semua pasti mau nunjukin yg terbaik di lap.. Tapi klo kenyataan nya tdk dlm perform yg bagus knp selalu kesalahan yg di ungkit2 terus..
    Dukung terus timnas putra putri meskipun mreka maen dlm perform yg ga bagus, kecewa boleh saja asal ga makin bikin down mental mreka!!!

    1. Semua tulisan di sini ga ada yg bukan dukungan.
      Saya hanya pecinta basket yg tidak bisa menjadi wakil dari negara ini, tapi saya pun ingin sekali berkontribusi. Jadi kritikan/buah pikiran di sini bukanlah bermaksud menjatuhkan, tapi karena cinta dan berharap semoga pemain2 kita bisa memenuhi harapan kita. Memang kedengarannya pathetic, cuma bisa kritik ato berbicara ide saja, tapi peran kita ya bisanya memang sampai di sini.

      Jadi kalo ada teman yg kritikannya mungkin menyentil, trust me, at the end of the day he/she did it because he/she cares. Dan beberapa orang memang punya cara mengkritik yg kurang enak (bukan bung @Dean lho ya hehe), well, itu memang pribadinya so let’s just get on with it :)

      Kesimpulan: Kita di sini cinta pemain2 kita, dan kita semua manggantungkan harapan pada mereka.

      1. setuju bro.saya simak terus nich :)
        @mlindaw, jgn lantas marah karena kritikan bro.semua orang punya cara masing-masing.semua punya harapan besar untuk timnas.boleh dong sebagai fans memberikan kritik.dijalankan monggo, tidak juga tidak masalah.malah buat fans seperti kita, bisa menulis sebuah masukan disini saja sudah merupakan anugerah.terima kasih mainbasket sudah memberikan wadah menyampaikan pikiran kita :)

  12. @mlindaw:
    justru krn adanya tulisan ini dan komen dr lainnya bentuk dukungan kita.peran kita adlh sbg pnonton, yg jelas ga seperti anda yg terlibat d dlm tim itu.yg bisa tau kondisi tim.justru untuk menjadi besar, maka trimalah kritik dari luar.dtrima pun blm tntu dijlnkan bkn.kalo mau bijaksana, kritikan adlh bagian membangun tim.yg baik bisa djalankan, yg tdk sesuai pun tdk perlu dpksakan.itu namanya bentuk dukungan.coba anda baca komen di tulisan kang udjo sebelum ini.gmn komitmen @erwin untk memajukan basket.keras memang,tp kalo yg dkritik malah makin down,lebih baik jgn berharap basket Indonesia maju!tugas seorg prajurit timnas adlh mmbawa hrapan jutaan rakyat Indonesia.penggemar.basket.percuma character building memang kalo sdikit saja kritik langsung down.percuma saja semua penggemar basket menulis di blog ini kalo feedback yg ada dr basket indonesia itu sendiri adlh down, marah, gak trima.jgn pernah berharap basket indonesia maju dech!

  13. Buat luki ‘n dean:
    Sapa yg blg saya marah bro.. Santai aja, kan ini cma bt sharing ttg timnas yg bikin beberapa org kecewa.. Btw, saya gak terlibat di dlm tim, saya jga cma sebagai penonton setia timnas. :p
    Baca lwt twitter kan udh tau jga kegiatan mreka selama tryout di sby..
    Kritik lah secara sehat, bayangkan anda sebagai pemain timnas di kritik spt itu, apakah kmu bsa maju?? :p

    1. @mlindaw, santai juga bro.itu artinya kita sama-sama cinta basket.buat kita,kritik seperti apapun,pasti intinya membangun kan? :)
      kita semua pasti percaya kan para pemain timnas bisa menerima segala saran dan kritik ini dengan akal sehat?
      kita harus yakin dengan teman-teman timnas pasti bisa maju.jgn under estimate :)
      yuk sama-sama dukung timnas.semoga segala sumbangsih dari penulis maupun rekan-rekan lain disini bisa lebih memajukan basket, timnas, putra dan putri :)

  14. wah tim putri banyak juga yang concern ya. intinya saya setuju beberapa point ini.

    1. Semua berawal dari pendidikan dasar/fundamental basket >> witch is sd/smp or sekolah basker or club mereka.
    2. Mental >> adanya kompetisi, game latih tanding yang cukup banyak (ini perlu).
    3. Kita hilang 1 level kompetisi (kobanita-ini sangat berpengaruh). coba deh tanya teman2 yg di club atau aktif berapa kali dalam setahun mereka bermain serius(kompetis)? sedikit
    4. yup kita penonton kadang tidak peduli idola kita(atlit) apa yg mereka hadapi sebelumnya, yang kita inginkan adalah perform terbaik mereka.
    5. dan saya yakin semua yg koment kok cinta timnas kalau gak gak bakal komen di sini deh.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s