Membangun Basket Indonesia adalah Berjualan

Luar biasa. Belum pernah dalam sejarah blog ini -yang masih muda juga sih..- ada diskusi melalui komentar di sebuah posting sebanyak, sepanjang, selebar, seantusias, dan sebermutu tulisan Udjo di tulisan Terbanglah Tinggi Bola Basket Indonesia. Menariknya lagi, tulisan tersebut tampaknya ikut dibaca oleh orang-orang Filipina dengan menggunakan bantuan Google Translate (semoga Google Translate-nya tidak menyesatkan mereka..hehee).

Sungguh luar biasa. Dari komentar-komentar seru di tulisan Udjo tersebut, ada lagi hal lain yang sangat mantap, yaitu pengetahuan. Pengetahuan para komentator luar biasa! Terima kasih banyak untuk telah menambah pengetahuan para pembaca blog ini :D

Mungkin ada yang terlupa..

Tadinya sih mau ikutan nimbrung di komentar tulisan tersebut. Tetapi kemudian nyadar kalau-kalau mungkin tulisan ini justru agak menyimpang dari apa yang tengah didiskusikan. Ketika umumnya komentator memperbincangkan segala jenis pembinaan untuk basket Indonesia yang terbaik, lalu kemudian bersedih karena banyak pembinaan tersebut tidak berjalan, tudingan mengarah ke Perbasi sebagai induk olah raga basket tertinggi di negeri ini yang katanya tidak berbuat banyak. Hmm..ini mungkin bisa diperdebatkan.. :)

Tadinya sih beneran ingin ikut nimbrung, karena gw pikir “kok gak ada yang ngomongin hambatan yang namanya duit yaa?” Yup duit! Semuanya ujung-ujungnya duit.

Lalu tiba-tiba suatu malam..

Buat gue datengin pemain NBA atau “Legends” itu motifnya hampir semuanya dagang. Kecuali diajak sparring serius.”

Demikian sebuah twit dari seorang teman yang baru gw baca di tengah malam waktu itu (lupa gw tanggalnya). Hmm.. agak bingung juga gw menanggapi twit tersebut. Benak gw muter, apakah twit ini sebuah sindiran, atau memang serius. Serius yang ada di pikiran gw adalah bahwa “motif dagang” yang dituliskan di twit tersebut seolah salah, seolah sebuah motif mencari untung sendiri dengan memanfaatkan bola basket nasional. Benarkah demikian?

Berikut jawaban gw “motif memang dagang, n harus dagang! Keuntungan dagang yg digunakan utk penghidupan n pengembangan basket nasional yg kontinyu..

Malam itu gw gak bisa tidur lagi (selama 10 menit :P). Gw melamun, “waah, berapa banyak yaa penggemar basket di Indonesia yang gak nyadar bahwa NBL Indonesia serta DBL Indonesia sejatinya adalah sebuah bisnis dan harus bisnis?” Sebuah bisnis yang bergerak di bidang basket. Yang selain bertujuan untuk membangun basket Indonesia, juga untuk mencari keuntungan. Yup duit. “Waah rakus!” yaa gak laah.. Dari duit itulah kita bisa membangun basket nasional kita sesuai dengan angan-angan ideal kita selama ini. Emang ada yang mau ngasih duit segitu banyak dengan cuma-cuma? Ada, tapi yaa kalau terus-terusan pasti capek dan akan kabur juga :)

Membangun basket nasional membutuhkan ongkos yang tidak murah

Berapakah ongkos yang dibutuhkan untuk sekali penyelenggaraan kejuaraan DBL di satu kota? Teman-teman gw di DBL gak pernah memberi tahu angka pastinya. Namun kisarannya ratusan juta bahkan miliaran! Taruhlah untuk mengadakan satu event DBL berharga 1 miliar rupiah. Artinya, untuk melaksanakan DBL di 23 kota membutuhkan uang 23 miliar! Ada yang mau kasih duit segitu setiap tahun ke basket Indonesia secara gratis? Hmmm.. Kita belum berbicara tentang PopMie Basketball yaa.. yang gw asumsikan biayanya pasti ratusan juta juga per-event.

Bagaimana dengan NBL Indonesia? Sama sajalah :P Itu mahal sekali :D

Jika penyelenggaraan sebuah event basket SMA maupun nasional sedemikian mahalnya, demikian juga mendatangkan para pemain internasional ke Indonesia. Perlu dicatat, mereka datang tidak dengan cuma-cuma. Kalau saja mereka datang ke Indonesia dengan cuma-cuma dan mau berbagi ilmu dengan gratis, pastilah mereka sudah sering datang ke Zamrud Katulistiwa ini :D

Ingat ketika Kobatama menjadi IBL?

Salah satu alasannya waktu itu adalah agar liga menjadi “mandiri”. Yoi, kata mandiri gw beri tanda kutip karena kata tersebut sebenarnya lebih berarti kepada mampu mendanai diri sendiri :D Ketika IBL akhirnya mati di tahun 2009, alasannya jelas, tak ada lagi yang mau mensponsori alias gak ada duit untuk menjalankan liga.

Ketika PT DBL Indonesia mengambil alih liga basket nasional dan mengganti namanya menjadi NBL Indonesia, apakah alasannya semata untuk menyelamatkan basket Indonesia? Naif kalau kita berpikir begitu. Alasan lain yang juga sangat-sangat dipertimbangkan adalah, “mampukah liga ini menjadi liga yang menguntungkan?” yang mampu memberi untung tidak hanya bagi penyelenggara tetapi semua penggemar basket dan pengembangannya di Indonesia. Di mata PT DBL Indonesia saat itu, secara logika pastilah liga basket profesional ini mampu memberikan keuntungan yang signifikan. Kalau tidak, gak mungkin mereka mau menjadi pelaksananya :D

..dan sumber utama uang untuk membangun basket Indonesia berasal dari..

Penonton. Penggemar basket Indonesia yang menyaksikan langsung setiap laga NBL Indonesia di arena adalah sumber utamanya. Ada dua alasan mengapa penonton adalah sumber dana bagi pembiayaan basket Indonesia; Pertama, uang penonton yang membeli karcis adalah dana segar. Kedua, jika penonton ramai memadati arena, maka ramai pula sponsor-sponsor yang mau mensponsori basket Indonesia. Sederhana :D

Tengoklah semua liga-liga olahraga raksasa di dunia, entah itu bola basket atau sepak bola. Sumber dana mereka adalah atensi penonton di arena. Nah, ketika penonton di arena membludak, kita tahu bahwa akan banyak uang dari hasil penjualan karcis yang masuk. Lalu kita juga akan tahu, banyak sponsor akan tertarik memberi uang kepada penyelenggara dan setiap tim NBL bahkan perorangan pemain. Dan ketika arena penuh, kita tahu bahwa bola basket memiliki banyak peminat di Indonesia dan banyak dimainkan di segala tempat dan usia. Lalu semakin banyak lagi event-event lain untuk meningkatkan bakat dan kemampuan para pebasket muda Indonesia. Dan seterusnya.. dan seterusnya..

Di NBA, dengan uangnya yang banyak, NBA tidak hanya menyelenggarakan pertandingan liga saja. Ia mampu mengadakan banyak sekali program-program pengembangan dan kepedulian. Kegiatan tersebut tak hanya dilakukan oleh NBA, tetapi juga oleh klub-klub NBA bahkan individu pemain.

Tanpa penonton..

IBL akhirnya mati. Bahkan NBA pun mikir-mikir untuk berlanjut. Penyebab terjadinya NBA Lockout 2011 yang dimulai 1 Juli lalu dipicu oleh minimnya penonton di arena selama liga bergulir beberapa tahun belakangan. 22 tim dari 30 tim NBA mengalami kerugian yang penyebabnya adalah minimnya penonton. Andai kata NBA Lockout terus terjadi, gw rasa prestasi basket Amerika pun akan pudar di kancah internasional. Apalagi, jika Indonesia tanpa NBL Indonesia.

Oh, yaa, itu pula alasan mengapa televisi belum berani menyiarkan pertandingan basket. Karena mereka gak yakin ada yang akan menonton. Artinya, menyiarkan basket belum ada duitnya! :)

Jadi, kembali lagi. Jika banyak program Perbasi belum berjalan, asumsi gw sih karena duitnya gak ada. Kalau kata mas Agus Mauro, ada duit sekitar beberapa milyar (baca di komentar saja yaa), gw rasa sih itu jauuuh dari mencukupi. Kalaupun mencukupi, duitnya harus ada terus secara kontinyu :D

Iklan

14 pemikiran pada “Membangun Basket Indonesia adalah Berjualan

  1. Alasan yang cukup masuk akal. Dengan dagang ini berharap bahwa NBL akan jauh dari praktek-praktek kotor. Makanya gue ‘agak’ senang ketika Komisaris NBL tidak terpilih jadi ketua Perbasi :D

  2. fakta bahwa capital membuat segala sesuatunya berjalan memang masih banyak yang kurang setuju. tapi kalau indonesia mau menjadikan olah raga sebagai industri ya harus dan sangat butuh capital yang besar.

    nonsense lah liga baik bisa jalan tanpa capital yang memadai. tenggoklah ISL atau IPL hanya bagaimana tim dapat bertahan ? ya dengan dana yang cukup. beberapa tim rontok dan pindah karena tak cukup dana (maaf )

    kalau liga di semua lini berjalan baik{dengan dukunan jualan tadi} dan (tidak ada sistem kolusi) niscaya apa yang rekan2 urun dan rembuk di post sebelumnya bisa terwujud.

    tapi sebelumnya betul seperti kata idan kita harus bisa menjual liga yang ada. faktanya ada beberapa liga yang jalan dan beberapa mati suri. okay lah kalau jalan ya yang ikut hanya tim dan muka-muka itu saja. ada missing link di liga-liga kita.

  3. Makin pinter aja saya kalo ke Mainbasket nih, berisi :)

    @Sesa: Ini bang Sesa Opas itu ya? huehehehe.
    Saya malah waktu dulu pinginnya pak Komisioner NBL jadi ketua Perbasi, dengan begitu Grand Design yg sudah ada di benak beliau bisa beliau wujudkan. Memang namanya pemerintahan kita pun sampai jabatan olahraga tak lepas dari kepentingan politis, cuma saya kok seperti percaya dengan pak Komisioner itu tidak akan terpengaruh, call it blind faith hahaha.

    Mengenai ini adalah bisnis, setuju banget mas Idan. Dan setuju lagi dengan pernyataan sebelum banyak yg mikir macam2, istilah bisnis di sini jangan sampai dikait-kaitkan dengan persepsi bisnis itu mencari keuntungan individu, bisnis di sini adalah mencari dana untuk pengembangan ke depannya. Ibaratnya kayak pajak lah, kita bayar tiket NBL/USA Legends supaya bisa bikin Development camp.

    Memang kesadaran kita harus dibentuk, mereka kira2 pengeluaran berapa, dan berapa yg harus didapat dari tiket dan sponsor. Persepsi bahwa dana utama itu dari sponsor harus kita ubah, namanya jualan ya pemasukan utama harus dari barang yg dijual, bukan iklannya…kecuali di internet :p
    Saya jadi ingat kemaren pas nonton NBL vs USA Legends, pas liat saya duduk di kursi VIP, pak Komisioner nyamperin terus ngajak ngobrol sambil guyon “Lho, ternyata bondo ya (Bondo=modal).” Saya jawab “Ya bondo lah, nabung lho Mas.”
    Beliau terus senyum sambil ngomong, “Maaf ya, membangun dunia ini juga ga murah. Saya saja ga digaji kok.” Saya ngangguk2 sambil dalam hati mikir juga, membuat event ini lho habis berapa, mendatangkan mereka ke sini saja butuh berapa dollar, smabil berhitung begitu saya juga berdoa semoga tiket yg terjual bisa mendatangkan untung.

    1. @Hay halo, salam kenal. Terus terang saya juga percaya sama Bpk Azrul Ananda, cuma masih agak skeptis dengan Perbasinya. Maaf sedikit melebar, hanya saja saya kurang setuju dengan event kemaren yang ada kata-kata “USA Legends”nya (dan juga salah saya yang kurang teliti membaca posternya). Mungkin inilah yang memicu saya berbicara dengan Kak Idan, yang berujung pada blog post ini. Terima Kasih :)

  4. Itu jelas mas kalo nyari keuntungan. Emanknya ada orang sukarela bagi2 duit. NBL pd dasarnya adalah simbiosis mutualisme antara Pt. DBL indonesia, Perbasi, tim NBL, dan Fans. Saling menguntungkan. DBl mendapat keuntungan, perbasi mendapat kompetisi yg bagus, tim NBL bisa lanjut setelah matinya IBL, dan fans mendapat suatu liga yg layak ditonton dibandingkan IBL.

    Banyak rakyat indonesia yang suka bola basket tp tetap aja kalah dr sepak bola. Anda lihat setiap stadium DBL full dengar para siswa sekolah. Mereka adalah bibit fans basket tp selesai dr sekolah mereka hilang. Tanya kenapa? Lihatlah NBL 27 pertandingan per tim, sdngkan yg bisa ditonton cuma 5. Ga semua orang bs menonton dengan pergi ke pulau jawa. Andai semua pertandingan disiarkan seperti ISL lihatlah atensi fans. Bahkan kasar ngmg NBL lebih Berkelas dan layak ditonton dr ISL tp karena minimnya sarana bagi fans untuk menonton dengan 5 seri = 5 pertandingan membuat fans mengatakan”lebih baikn nonton sepak bola drpd basket yg ga jelas kapan tayang”

    Kalo pembinaan lebih baiknya menerapkan pepatah “Anda bisa karena anda biasa”. Pemain kita yang ga bisa slam dunk kalo ditaruh di Amerika lambat laun juga bisa dunk. Karena mereka akan terbiasa dan mempelajari dunk. Oleh karena itu saya rasa lebih baik buat seperti pssi yg membentuk tim untuk dimainkan uruguay. Kita bisa ke philiphine atau China. Biaya hidup 2 negara itu ga mahal kok. Percuma banyak sponsor perbasi. Buat tim untuk diterbangkan ke negara dengan kultur basketnya yang kuat. Maka akan muncul Indonesia yang Bisa karena Indonesia yang Biasa” salam

  5. Satu hal yg gw nggak ngerti sampe sekarang, kenapa minim sekali penjualan kaos/jersey/pernak pernik.

    Betul kalau tiket itu sumber pemasukan, walaupun menurut gw dengan harga tiket sekarang, dikalikan sama jumlah penonton langsung gw kira nggak seberapa. Bandingkan sama penjualan kaos. Gw pernah beli kaos dari League (sponsor resmi DBL dan NBL), harganya 90ribu. Tiket USA legends aja kmarin 75ribu. Dengan pake kaos kan secara nggak langsung juga publikasi. Orang2 yang liat bisa tahu tentang basket Indonesia dan NBL/DBL. Masih banyak pemain/fans basket yang nggak bisa bedain IBL/DBL/NBL.

    Kembali ke masalah tiket. Gw rasa mayoritas pasaran tiket di NBA itu udah ada di tangan calo. Buat tim2 top kayak Lakers, Knicks, semua harga tiket tergantung pasar. Hari apa mereka main, lawan siapa, semua tergantung pasar. Tim sendiri cuma mematok harga resmi. Sisanya ada di kendali pasar.

    sekarang bandingkan dengan bioskop. Kita tau bioskop bukan untung dari tiketnya, tapi dari jajanan-jajanannya. Makanya kita suka ngumpetin minuman ke dalem :D. Sama juga dgn arena-arena NBA. Soda/popcorn yang di supermarket mungkin 3 dollar, pas ntn NBA bisa jadi 10 dollar. Itu pun jadi pertimbangan saat buat arena, berapa banyak counter2 yg menjual makanan. *kemaren sempet bingung di Hall A, beli minuman di mana ya? :p*

    Oh ya..di antara komunitas basket aja masih banyak yang nggak tau kalau event besar semacam USAL kmarin diadakan. Masih harus ditarik-tarik dan diinfokan siapa yg main, dll. Padahal NBA Playoffs mereka ikuti setiap game. Seandainya gw nggak pantau blog ini atau twitter pun gw mungkin nggak tau karena jujur aja pengiklanan/marketingnya gw bilang minim selain dari beberapa spanduk yang saingan sama Djarum Open di Asia Afrika

  6. Sori nambah lagi. Gw pernah ngobrol sama salah satu praktisi media olahraga, yah itung2 pengamat, komentator, sekaligus kerja di media deh. Katanya masalah Indonesia itu satu, kita nggak ngerti caranya jualan olahraga.

    Fans-fans olahraga itu jumlahnya banyak. Yang ikut partisipasi olahraga itu juga banyak, dengan trend-trend tersendiri (futsal, sepeda, dll). Tapi tetap jumlah pasar yang besar ini masih cenderung diabaikan.

    Sedikit nyinggung soal tayangan ANTV NBL kemarin, gw yakin udah banyak saran dan masukan di twitter soal ini. Memang ini tahun pertama dan pasti banyak kekurangannya. Tapi besar harapan gw kalau tahun depan harus jauh lebih baik. Okelah kalau frekuensi nggak bertambah, tapi kualitas harus meningkat.

    Biasanya tayangan olahraga lokal yang di TV itu kan sepakbola, bulutangkis, dan voli. Hampir semuanya itu permainannya kontinyu. Sepakbola full 45 menit, bulutangkis/voli main terus sampai set habis. Tapi basket beda, ada banyak timeout-timeout yang nggak terduga kapan terjadinya, walaupun panjangnya ditentukan. Nah siapa tahu, dalam tayangan basket malah lebih banyak slot-slot iklannya :). Jadi kita nggak lagi nonton pemain-pemain dipijitin waktu timeout

    1. kalo nonton NBA biasanya juga iklan pas Timeout. Karena tayangan basket NBL di TV masih butuh bantuan iklan, saya sedikit bersyukur kalau banyak iklannya :)

  7. seru banget liat komentar di post ini dan post tulisan Udjo, mo ikut komentar cuman jadi malu liat pengetahuan temen-temen yang luar biasa :)

    Mo nimbrung aja sedikit, dari kemaren itu smua kasih masukan dan komentar soal pengembangan basket dan liga dari sisi kualitas dan pertandingan. Tapi salah satu faktor yang menurut gue juga harus diikutsertakan adalah kesejahteraan pemain itu juga. Bukan cerita baru kalau kita liat banyak mantan pemain klub dan juga nasional yang tidak memiliki penghasilan yang relatif baik setelah mereka pensiun, kecuali yang “terpakai” di jajaran kepelatihan klub kayak misalnya SM dan PJ.

    Bagaimana sistim kontrak para pemain di kompetisi basket di Indonesia? apakah klub (atau bahkan sekolah) yang menelurkan pemain-pemain berbakat mendapatkan kompensasi yang memadai ketika pemain itu direkrut oleh klub yang lebih besar atau profesional, sehingga dana kompensasi tersebut bisa dipakai lagi untuk pembinaan yang kontinyu dan menghasilkan pemain-pemain berbakat berikutnya? ataukah kita cukup puas dengan mengandalkan para pengusaha yang rela buang-buang duit buat bikin klub tapi gak tau sampai kapan mereka mau begitu terus?

    Bagaimana pula dengan sistem kontrak para pemain NBL kita? apakah mereka mendapatkan haknya ketika kompetisi sedang tidak berputar? ataukah bebas mengadakan negosiasi kontrak dengan klub lain ketika kontrak mereka yang sebelumnya sudah berakhir? ataukah ada bosman rules di basket ya? adakah pengaturan mengenai kontribusi terhadap pemain atas merchandise yang memakai mereka sebagai iconnya sehingga pemain basket ?

    Bagaimana pula dengan para pemain libama kita? apakah mereka mendapatkan beasiswa yang memadai agar bisa tetap sekolah dan sebaliknya mereka bisa memberikan timbal balik kepada universitasnya dengan permainan basketnya yang membaik?

    Menurut pengamatan saya, banyak sekali pemain berbakat yang akhirnya meninggalkan basket karena alasan basket belum bisa dijadikan pegangan hidup secara kontinyu. Secinta-cintanya mereka sama basket, urusan perut emang nomer 1 sih, hehehehe…jadi harus juga dipikirkan sistem pembinaan pemain yang fair baik bagi LIga, Perbasi dan si pemain itu sendiri. Kayak kalau di NBA sampe ada assosiasi pemain yang bisa memiliki posisi tawar sebegitu besarnya sampai mau bikin NBA lockout segala ya?

    Dengan sistem kontrak yang jelas bagi pemain, diharapkan banyak talenta-talenta yang serius menekuni basket karena basket bisa dijadikan pegangan hidup atau setidaknya modal besar untuk melanjutkan penghidupan mereka setelah mereka pensiun. Kayaknya hal ini menarik untuk didiskusikan juga Kang Idan, kagok lieurr liat diskusi yang udah kompleks gini, hahahahaha…

    1. Setuju kang.. Kagok nyemplung.. Masalah kontrak rasanya kudu kita bahas nanti. Namun rasanya, kudu ada riset kecil dulu tentang hal itu. Mulai dari melihat aturan tertulisnya, tercatat di mana, sejarahnya, tanggapan pemain serta pemilik klub dan juga NBL. Waktu dulu sih si Denny Sumargo cukup antusias untuk diwawancarai terkait yg satu itu. Rasanya pula, butuh saran juga nantinya dari kang Hendry tentang bagaimana cara pandang yang benar sesuai kaca mata hukum. Yup! Topik itu menarik banget! ;)

    2. Setuju banget ama tulisan ini..
      di daerah saya (salah satu kota di propinsi riau) byk jga permainan hebat dan berbakat dan saya yakin setiap daerah pasti punya byk pemain hebat.
      tpi karena ketiadaan kompetisi (selama saya sma 3 thn cuman 1x ada pertandingan antar sma) sebagian bsr pemain kehilangan motivasi utk bermain.apalagi mereka y sudah lulus sma dan disibukkan pekerjaan masing2..pasti uda jarang2 bgt bisa main bskt ditambah dgn hampir tdk adanya kejuaraan udah pasti makin malas jadinya..

      menurut saya y harus perbasi lakukan itu adalah menghidupkan basket sampai ke kota2 kecil .. kn ada cabang perbasi di hampir setiap wilayah di indonesia..tdk perlu kompetisi bsr dgn hadiah wah, kompetisi sederhana tpi direncanakan baik2 aja pasti byk peminatnya ..
      saya yakin kok sebagian bsr dari tmn2 mengikuti kompetisi tanpa terlalu memikirkan hadiah/uang y didapatkan :)

      ingat,,pemain berbakat bisa lahir dimana aja.jgn sampai tersia2kan

  8. Karena judulnya: membangun basket adalah berjualan, kira kira menurut teman teman, k produk/sponsor apa yg bisa membeli jualan “basket” kita dengan angka yang signifikan: hanya sebagai catatan melaksanakan acara basket itu tidak murah apalagi pembinaan. Jadi angkanya harus start paling tidak di angka 500 juta. Rokok jangan termasuk yaa :)

    1. Yang agresif pemasarannya sekarang2 ini penyedia layanan seluler biasanya ya pak? yang lainnya kurang tahu :p
      Kalo yang duit banyak, dari sektor migas mungkin bisa pak, Pertamina atau grupnya Bumi Resources. Di Filipina kalo ga salah ada tim yang sponsornya Shell soalnya..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s