Nike Hyperdunk dan Hyperfuse 2011 di Indonesia

Yes, sudah di toko-toko. Kalau mengenai kualitas, pengennya sih kak Isman Thoyib yang ngebahas, soalnya kan dia center dan cocok pakai ini sepatu :D

Hyperdunk 2011 Sport Red-Black Left toe (harga, Rp. 1.499.000,-)

Hyperdunk 2011 White Black Sport Red Left toe (harga, Rp. 1.499.000,-)

Hyperfuse 2011 Black Blue Left front toe (harga, Rp. 1.199.000,-)

Hyperfuse 2011 Black Blue Left side toe (harga, Rp. 1.199.000,-)

Ini sepatu asli yaa.. Dikeluarkan oleh Nike Indonesia. Apakah bisa dibeli lewat Mainbasket Store? Ntar gw lihat ketersediaannya :)

Bela Sekolah atau Indonesia? Mari Pahami Konteksnya (Dilema U-16, DBL Camp 2011, 24-28 Juli 2011)

Salah satu komentar di dalam bolg ini mengelitik gw untuk menyinggung mengenai kasus pemain pelajar yang lebih memilih bermain di DBL daripada ikut bergabung di skuad Indonesia dalam kejuaraan SEABA U-16 di Malaysia. Saat itu, gw lalu bertanya kiri-kanan, “memangnya ada kasus apa?”

Semua terjawab setelah gw membaca artikel mas Eko Widodo di Bola Edisi 2.224, 18-20 Juli 2011, “Persiapan SEABA U-16, Mayoritas Cinta Timnas”

Tulisan ini adalah pendapat pribadi gw yang berusaha atau sekadar menunjukan perspektif alternatif dalam kasus tersebut. Bukan mendebat. Sekali lagi, sebuah perspektif yang berbeda saja :D

Bela Sekolah atau Bela Indonesia? Mari Pahami Konteksnya :D

Jika saya adalah seorang pebasket yang diminta memilih untuk berlaga mewakili sekolah atau mewakili negara, Indonesia, tentu saja saya akan memilih mewakili negara. Sebagai seorang warga negara yang ingin dan wajib berbakti, berjuang mewakili Indonesia adalah pengabdian yang tak ternilai. Apalagi usia saya masih sangat muda. Lagian, itu pilihan yang terlalu sederhana. Semua orang pasti pilih bela negara lah daripada bela sekolah. Kita semua berpikir jernih kan? :)

Kenyataannya, ada pemain pelajar yang diminta untuk membela Indonesia untuk Kejuaraan SEABA U-16, 9-13 Agustus, memilih untuk membela sekolahnya di ajang DBL daripada negara. Nah loh? :D

Kok bisa? Kok mau?

Liga pelajar DBL memiliki sebuah aturan yang telah mereka terapkan dari tahun 2004 yang kurang lebih menyatakan bahwa jika seorang pemain telah bermain untuk NBL, Kobatama, Kobanita, dan Tim Nasional Indonesia maka ia tak lagi boleh bermain di DBL. DBL menganggapnya telah bermain pada tingkatan yang lebih tinggi melebihi teman-temannya yang lain.

Nah, tampaknya, ada pemain yang dipanggil untuk membela Indonesia di ajang Kejuaraan SEABA U-16, 9-13 Agustus di Selangor, Malaysia juga terpilih sebagai pemain pilihan pertama yang mewakili sekolah dan daerahnya untuk mengikuti DBL Indonesia Development Camp 2011 yang diadakan di Surabaya, 24-28 Juli lalu.

DBL Indonesia Development Camp adalah sebuah kemah pelatihan yang juga akan menyeleksi para pemain dari daerah-daerah di seluruh Indonesia untuk mencari 12 pemain DBL All Star yang akan dikirim ke Amerika Serikat untuk berlatih dan bertanding di sana. Membawa nama Indonesia juga tentunya, walau barangkali nggak resmi :P Yang melatih kali ini kebetulan adalah Nate Robinson (Oklahoma City Thunder) dan beberapa pelatih besar dari Australia. (DBL Camp yang pertama dilatih oleh Kevin Martin -saat itu Sacramento Kings- serta beberapa pelatih NBA yang salah satunya adalah seorang asisten pelatih tim yang sudah punya dua cincin juara NBA).

Balik lagi, oleh karena aturan tersebut, seorang pemain pelajar yang terpilih mengikuti DBL Development Camp dan juga terpanggil untuk membela Tim Nasional mau tidak mau harus memilih salah satu. Ia tidak bisa mengikuti development camp dulu lalu pergi membela Tim Nasional setelah itu. Dan lagi, Pelatihan Nasional U-16 dilaksanakan pada tanggal 25 Juli. Bentrok.

Tapi masalahnya bukan itu. Jika saja waktunya tidak bentrok, apakah yang terpilih masuk Tim Nasional tetap tidak boleh lagi bermain di DBL? Yup, tampaknya demikian. Aturan ini sudah ada dan sudah ditegakan sejak tahun 2004. Dan barangkali tidak akan berubah.

DBL Jahat?

Apakah teman kita yang lebih memilih untuk bermain membawa nama sekolahnya dan menolak panggilan Tim Nasional itu tidak patriotik? Tidak berpikir jernih?

Hmm.. Ada dua pertanyaan yang berkecamuk di kepala kita. -Setidaknya gw :P

Tenang, mari coba lihat dengan kaca mata baru pelan-pelan :D

Dalam kaca mata hitam-putih, jelas keputusan untuk lebih memilih sekolah daripada negara adalah keputusan yang memalukan. Tidak patriotik. Tetapi bagi gw, kita tak bisa memandang dunia sebagai hitam putih (maybe that’s why I don’t watch Corbuzier show but that episode with Nate as the guest). Kita butuh abu-abu sebagai pertimbangan. Dan semua orang juga harus melihat sisi putih maupun sisi hitam dan menjadi abu-abu terlebih dahulu sebelum memutuskan untuk memilih hitam atau putih. Sekali lagi, pastikan kita paham hitam-putihnya dulu.

Tetapi tetap saja laah, kepentingan negara itu nomor satu! Betul. Tetapi negara juga harus mengakomodasi sudut pandang warga yang akan membelanya. Negara harus adil meskipun susah. Negara harus memastikan bahwa tuntutan kepada warganya tidak sebaliknya malah merusak atau menghancurkan diri warga yang akan membelanya itu.

Maksudnya?

Mari ambil contoh ekstrim. Semisal negara akan membuat jalan raya yang ternyata harus menggusur beberapa rumah. Jalan raya adalah kepentingan negara. Rumah adalah kepentingan pribadi. Haruskah kepentingan pribadi dikorbankan untuk kepentingan negara? Jika memakai logika hitam-putih, jelas harus berkorban! Namun jika mau masuk ke zona abu-abu, negara harus adil dengan mengajak pemilik rumah untuk berunding dulu guna mendapatkan solusi terbaik. Misalnya sebuah kompensasi ganti rugi yang layak dan adil. Jika negara memaksakan kehendak, itu namanya lalim. Semena-mena! Emang ada negara yang seperti itu? Banyaakkk.. Negara kita salah satunya :D

Kembali lagi ke cerita beberapa anak yang lebih memilih untuk membela sekolah di DBL daripada Indonesia. *Gila, bahkan gw sendiri masih bingung kenapa ada anak yang mau melakukan ini. Tapi bagaimanapun gw (dan semoga kita semua) kudu bisa sedikit obyektif.

Jika ada anak-anak yang lebih memilih membela sekolahnya di DBL daripada membela Indonesia, sebagai masyarakat (yang juga bagian dari negara) harus bertanya terlebih dahulu, “mengapa anak tersebut lebih memilih membela sekolah daripada Indonesia?”

“Gw masih belum paham dengan analogi di atas, coba jelaskan lagi..”

Pada tahun 2004, Tracy McGrady, Shaquille O’Neal, Kobe Bryant, Karl Malone, Kevin Garnett, Ray Allen, Jason Kidd, Mike Bibby, Jermaine O’Neal, Vince Carter, Elton Brand, Kenyon Martin, dan Ben Wallace sempat menolak membela negaranya di ajang Olimpiade Athena karena alasan keamanan.

Alasan keamanan? Yup! Waktu itu para pemain NBA itu takut menjadi sasaran terorisme. Ok, Ray Allen gak termasuk, karena alasannya tidak mau bergabung dengan Tim Nasional USA saat itu adalah karena istrinya akan melahirkan. Tapi namanya menolak yaa menolak :P

Tunggu, jadi para pemain NBA juga pernah menolak untuk bergabung dengan tim nasionalnya?

Yup! Dan mereka saat itu menjadi sasaran cemooh warga Amerika. Salah satu cemooh yang paling pedas dan perih adalah “Gila yaa, kalian enggan dan takut pergi bermain basket di Athena, Yunani, negara yang aman sentosa. Padahal kalian mendapat pengamanan ekstra ketat dari angkatan bersenjata Amerika dan lokal. Bandingkan dengan saudara-saudara kita yang lain yang benar-benar berperang di Iraq dan Afganistan! Dasar pengecut!”

Meskipun akhirnya berangkat ke Athena, setidaknya kita tahu bahwa pernah ada peristiwa penolakan menjadi pemain nasional karena alasan tertentu, dan itu terjadi di salah satu level kompetisi tertinggi bola basket, olimpiade!

**Tim USA ini adalah tim USA terburuk sepanjang masa. Kalah dari Puerto Rico dengan selisih 19 poin (terburuk sepanjang sejarah saat pemain NBA mewakili Amerika), dan pulang dengan membawa perunggu. Emas milik Argentina!

Hmm itu di Amerika yaa..

Kasus serupa pernah terjadi di Indonesia. Dalam analogi yang mirip dengan penggusuran rumah karena jalan raya di atas. Bedanya, ini terjadi di sepak bola :)

Boaz Solossa, salah satu striker terbaik Indonesia yang kini kembali mengenakan jersey Merah-Putih, pula pernah menuai kritik sebagai pemain yang tidak patriotik karena “enggan” bermain untuk Tim Nasional dengan cara mangkir latihan, sebelum kemudian dicoret dari Timnas.

Tahun lalu, Boaz akhirnya dicoret oleh Alfred Riedl dari skuad Tim Nasional AFF Cup karena tak juga kunjung datang berlatih bersama skuad Tim Nasional lainnya. Padahal, Boaz sudah diberikan kelonggaran waktu hingga lima hari. Alasan Boaz kala itu adalah ia harus menjaga dan merawat anak serta istrinya yang sedang sakit.

Itu alasan Boaz. Namun opini yang berkembang adalah Boaz enggan bermain dengan Tim Nasional Indonesia karena Tim Nasional dulu pernah menelantarkannya dan berujung pada terancamnya karir jangka panjangnya.

Apa yang terjadi pada Boaz dahulu?

Selama bermain membela Merah-Putih, Boaz mengalami dua kali cidera parah. Pertama kali ketika Indonesia menghadapi Singapura di leg pertama final AFF Cup tahun 2004. Ketika itu, pemain Singapura, Baihakki Khaizan melanggar Boaz dengan keras. Boaz yang cidera tak mampu tampil di leg kedua final AFF Cup 2004. Indonesia pun kalah.

Tahun 2007, ketika Indonesia menghadapi Hong Kong dalam persiapan menghadapi Piala Asia, Boaz cidera patah kaki. Cidera kedua inilah yang rumornya-tampaknya membuat Boaz kecewa kepada Tim Nasional. PSSI menolak membiayai pengobatan dan perawatannya. Beruntung, klubnya, Persipura bersedia menanggung semua biaya perawatan dan pengobatan Boaz. Boaz merasa ditelantarkan.

Nah..

Jika kita merasa Boaz tidak patriotis dengan “menolak” bergabung dengan Tim Nasional, mungkin kita akan berpikir dua kali untuk berkata demikian jika tahu apa yang terjadi pada Boaz. Ada sisi ketidak-adilannya :(

Kembali lagi ke pertanyaan di atas tadi..

Apakah teman kita yang lebih memilih untuk bermain membawa nama sekolahnya dan menolak panggilan Tim Nasional itu tidak patriotik? Tidak berpikir jernih?

Gw akhirnya bertemu dengan pemain U-16 yang dipanggil untuk mewakili Indonesia tersebut. Ia berlatih keras mengikuti DBL Indonesia Development Camp agar terpilih menjadi salah satu wakil DBL untuk ke Amerika Serikat. Gw menanyakan perihal penolakannya mengikuti Tim Nasional U-16.

“Kenapa lu gak mau ikut Timnas boy?” -semua anak gw panggil ‘boy’- tanya gw.

“Saya mau ikut DBL saja. Ini pilihan saya. Saya sekolah dengan biaya bea siswa. Jika saya mengikuti Timnas, maka otomatis saya gak boleh lagi ikut DBL, yang artinya bea siswa saya dicabut,” ia menjelaskan. Pemain tersebut juga kurang mengerti mengapa ia bisa terpilih masuk Timnas U-16 (dalam hati sih gw mikir, “yaa karena kamu basketnya jago boy” :P)

DBL Jahat?

Lah? Kalau begitu, solusinya seharusnya mudah saja bukan? Izinkan ia bermain untuk Timnas dan juga tetap bermain di DBL. Selesai! Beres! Susah amat!

Nah, di sinilah gw rasa banyak sekali yang belum paham tentang DBL dan beberapa hal penting yang terkait dengannya.

Pertama, liga pelajar DBL adalah sebuah event atau kegiatan olah raga yang mengutamakan partisipasi. DBL berusaha melebarkan sayap dari yang hanya dimulai dari Surabaya, kini berkembang ke puluhan kota dan berencana akan terus mengembangkan diri. Kasarnya, penyelenggara ingin agar olah raga bola basket dimainkan oleh sebanyak-banyaknya anak Indonesia. Dalam kata lain, partisipasi!

Benar, pasrtisipasi. Liga DBL kini sudah diikuti oleh lebih dari 25.000 pelajar dari seluruh Indonesia yang benar-benar mendapatkan kesempatan beradu basket. Mulai yang jago-jago, hingga yang baru belajar dribble bola! DBL tidak mengutamakan kegiatan ini sebagai ajang prestasi, walau tentu saja juaranya adalah pebasket-pelajar yang berprestasi.

Dalam kasus pemain DBL yang tidak memilih untuk bermain di Timnas U-16, dalam kaca mata kegiatan olah raga yang mengutamakan partisipasi, jika ia bermain di Timnas U-16 dan juga bermain di DBL Camp, maka ia akan menutup kesempatan anak lainnya untuk menutupi satu tempat di DBL Camp.

“Gak apa-apalah, kan demi prestasi Indonesia..”

Yes, demi prestasi Indonesia, tetapi dengan demikian, menurut aturan DBL maka ia otomatis menutup kesempatan rekannya yang lain yang kemungkinan juga sangat berbakat dalam bermain basket. Tentunya dengan tidak melupakan bahwa jika ia meninggalkan DBL, maka beasiswanya akan dicabut.

“Bagaimana jika aturan tersebut dirubah?”

Tentu saja tidak semudah itu. DBL telah konsisten menegakkan aturan ini sejak pertama kali berdiri di tahun 2004 dan dipatuhi oleh beberapa pemain yang pernah melewati kasus yang sama.

Jika DBL telah menegakkan aturan ini dari tahun 2004, berbeda halnya dengan kejuaraan SEABA U-16 yang baru pertama kali akan dilaksanakan tahun ini. Ujug-ujug mau merubah aturan akan menjadi preseden buruk bagi pembelajaran dalam mematuhi aturan-aturan (bukan hanya di basket).

Jika sedikit-sedikit ada kasus yang tidak sesuai aturan, lalu yang harus mengalah adalah aturannya yang harus dirubah agar “semua senang”, maka kita gak akan pernah belajar menegakan aturan, baca: hukum!

Dalam tulisan di Bola itu, mas Eko Widodo mengatakan, “Jika ternyata ada peraturan sebuah liga yang direkomendasi (Perbasi) berpeluang merugikan pembinaan pebasket, ada baiknya dikaji lagi.”

Hemat gw, jika memang DBL dari dulu direkomendasi Perbasi (dan memang direkomendasi Perbasi), maka artinya Perbasi pun sebenarnya dari dulu sudah setuju dengan semua aturan-aturan DBL.

Diancam skors oleh Perbasi

Dari sebuah sumber yang sangat bisa gw percaya (bukan dari pihak DBL), pemain yang menolak mengikuti Timnas U-16 ini terancam mendapatkan skors dari Perbasi berupa tidak boleh mengikuti kompetisi-kompetisi Perbasi dalam beberapa tahun :(

Jika pemain yang menolak bermain untuk Timnas U-16 itu baru diancam akan diskors oleh Perbasi, gw gak kaget. Karena salah satu peserta DBL Camp 2011 yang lain justru sudah ada yang diskors Perbasi karena ogah mewakili daerahnya di Pra-PON. Pemain tersebut lebih memilih ikut DBL Camp.

Beberapa tahun lalu, salah seorang pemain pelajar putri dari Jawa Tengah juga mengalami hal serupa. Ia memilih ikut kompetisi DBL, dan menerima skorsing dari Perbasi kotanya untuk tidak main dalam kompetisi Perbasi dalam jangka waktu sekian tahun. Dalam hati gw berpikir “cool! masih muda sudah pernah di-bann! That is rebellious! Sebuah keberanian mempertahankan kehendak apapun risikonya!”

Penutup

Panjang juga yak tulisan yang ini :P

Benak gw berkecamuk, “lah, pasti ada yang ‘salah’ jika anak-anak ini justru lebih memilih main di DBL daripada kompetisi-kompetisi Perbasi atau mewakili Timnas.”

Liga DBL pasti punya magnet tersendiri yang membuat mereka berani memilih DBL dan menerima resiko diskors bahkan dicemooh di media massa.

Secara pribadi, gw miris membaca keterangan foto pada tulisan Persiapan SEABA U-16, Mayoritas Cinta Timnas di tabloid Bola tersebut tertulis “Para pebasket timnas muda usia ini masih berpikir jernih dengan membela Tim Merah-Putih.”

Bagi gw, anak yang tidak memilih untuk bermain untuk U-16 berhak menentukan pilihan dengan pikiran jernihnya sendiri. Bagi gw, baik yang ikut Timnas U-16 ataupun yang memilih ikut DBL, dua-duanya berpikiran jernih. Hanya saja perspektifnya berbeda. Dan kita perlu mengembangkan orang-orang Indonesia yang memiliki multi perspektif dalam melihat suatu permasalahan.

Bagi gw, DBL telah membuat bola basket sebagai sebuah olah raga dan kompetisi yang dinanti-nanti dengan antusias di seluruh Indonesia. Tujuannya adalah partisipasi anak Indonesia seeeebanyak-banyaknya. Dari yang hanya tujuannya partisipasi, melalui DBL muncul anak-anak Indonesia yang berprestasi dalam hal basket. Ini buah yang tidak disengaja.

“Jangan tujuan mulia pembinaan itu malah berubah menjadi pembinasaan.” Kalimat tersebut menutup artikel di tabloid Bola tersebut. Gw langsung melamun. DBL melakukan pembinaan yang sangat-sangat luar biasa yang merata hampir di seluruh Indonesia. 25.000 lebih anak bermain basket di DBL. Beberapa di antaranya muncul sebagai pemain yang jago. Jika hanya gara-gara gak ikut Timnas U-16 atau Pra-PON atau apapun ia malah diskors, gw kembali bertanya-tanya, ini siapa yang sebenarnya membina? Dan yang siapa membinasakan?

Masalah membela Tim Nasional, pemain-pemain muda yang masih SMA ini masih sangat muda. Gw masih berharap mereka nanti akan bermain bersama, kembali membela Merah-Putih, kelak dalam ajang yang bergengsi seperti FIBA Asia, SEA Games, atau SEABA. Mereka bermain kompak sebagai pemain matang dalam tim yang solid! Amiin :)

Tambahan 30 Juli: Beberapa menit setelah tulisan ini gw posting, mas Agus Mauro, Sekjen Perbasi melalui sms memberi jaminan bahwa pemain yang menolak bergabung dengan Tim Nasional U-16 tidak akan diskors, seperti ancaman yang gw tulis di atas. Ini melegakan :D

“Kami dari Perbasi selalu berkomunikasi dengan pihak DBL mengenai permasalahan ini, Insya Allah semuanya yang terbaik untuk kemajuan Bolabasket Indonesia. Mohon dukungannya, terima kasih.” Agus Mauro, Sekjen Perbasi.

Ibu-ibu Penonton DBL Camp (DBL Camp 2011, 24-28 Juli 2011)

Gak kerasa, DBL Camp sudah melewati hari ke-empat. Sebagai penikmat basket yang masih belajar, gw rasa camp ini sangat bagus dan berguna bagi siapapun yang ingin belajar mengenai basket, atau sekadar mengetahui betapa seriusnya yang memiliki keinginan agar olah raga bola basket berkembang di Indonesia.

Selama DBL Camp berlangsung, gw yang lebih banyak muter-muter di sekitar lapangan mengikuti camp, sesekali menoleh ke tribun penonton DBL Arena, “hmm.. gak ada yang menyaksikan.” :)

Tetapi ketika gw berbalik badan dan melihat sisi tribun penonton yang berlawanan, gw melihat ada beberapa orang ibu-ibu yang sedang menonton. Gw senyum, “ngapain ini ibu-ibu nonton camp basket? Oh, barangkali tontonin anaknya yang ikutan camp.. Eh atau mungkin lagi bolos kantor..” :D

Pada hari berikutnya, camp berjalan semakin ketat, keras, dan intensif. Bagi gw yang hanya menyaksikan dari sekitar lapangan, camp ini semakin seru. Walau tentu saja para peserta camp barangkali (pasti) kecapean :)

Hari berikutnya, masih ada ibu-ibu lagi yang nonton DBL Camp. Bukan ibu-ibu yang kemarin lagi kelihatannya. Ia datang dengan seorang anak perempuan. Tampaknya seperti anaknya. Terlihat menonjol di antara deretan bangku penonton DBL Arena yang memang kosong.

DBL Camp memang tidak di desain untuk ditonton. Dan para peserta camp juga tak terlalu ambil pusing dengan ada atau tidaknya penonton yang menyaksikan, karena sibuk dan keasyikan sendiri :D Tetapi jika ada penggemar basket yang ingin menyaksikan DBL Camp, pintu masuk DBL Arena terbuka lebar bagi siapa saja yang menyaksikan camp atau mungkin mengambil manfat dari camp ini. Gratis!

Yes, gratis! Sayangnya, gak ada yang mau mengambil manfaat ilmu gratis yang sedang disebarkan oleh para pemberi materi camp. Gak ada pelatih lokal (selain pelatih DBL yang terpilih untuk kumpul di Surabaya), gak ada pemain basket lokal, gak ada wakil Perbasi, gak ada wasit.

Kenapa pelatih lokal seharusnya nonton DBL Camp? Setidaknya mereka bisa belajar langsung mengenai fundamental bermain basket dari para pelatih dan pemain yang pernah bermain di level kompetisi tertinggi dalam kejuaraan basket.

Kenapa pemain basket lokal seharusnya nonton NBL Camp? Hmm.. siapa tahu setelah nonton menjadi tambah jago!

Kenapa Perbasi seharusnya nonton DBL Camp? Siapa tahu jadi tertarik membuat camp-camp basket lain dan lebih sering untuk dilaksanakan di seluruh Indonesia :D

Kenapa wasit seharusnya nonton DBL Camp? Hmm.. bingung juga jawabnya :D

Latihan Sederhana Menajamkan Tembakan dari Nate Robinson (DBL Camp 2011, 24-28 Juli 2011)

Para pemain NBA atau NBL Australia yang datang ke Indonesia ketika mendapat pertanyaan “bagaimana cara menajamkan tembakan?” hanya menjawab, “latihan yang sering!”

Sebuah jawaban yang terlalu luas meskipun terkadang dilanjutkan dengan “setidaknya latihan menembaklah 100 kali masuk sehari, minimal!”

Pada hari kedua DBL Camp, Nate sempat memberikan kiat menajamkan tembakan yang biasa ia lakukan saat berlatih di NBA. Selain menjelaskan kiatnya, Nate Robinson juga langsung memraktekannya, “menembaklah dari setiap titik di lapangan basket dan masukan bola sebanyak tiga kali berturut-turut! Jangan pindah lokasi menembak sebelum tiga kali masuk berturut-turut! Jadikan ini sebagai kebiasaan berlatih untuk menajamkan tembakan!”

Keberanian Mengubah Kebiasaan (DBL Camp 2011, 24-28 Juli 2011)

Entah ini adalah DBL Camp keberapa yang gw ikuti. Mungkin empat atau lima. Pada hari pertama DBL camp bersama pelatih NBL Australia ini tidak banyak hal baru yang dipelajari. Karena memang hari pertama hanya berisi beberapa tes alias ujian yang menyangkut ketahanan fisik dan kelincahan. Latihan belum memasuki drill-drill yang terkait langsung dalam permainan basket.

Besok, NBL Australia akan mengajarkan hal yang (mungkin) sudah sama-sama kita ketahui bersama, fundamental bermain basket! Mudah? Barangkali. Namun melalui sekian kali mengikuti DBL Camp, kini gw sedikit tahu tantangan utamanya. Dan tantangan utama yang akan dihadapi para peserta camp besok adalah kemauan untuk menerima hal-hal baru dan memraktekannya dalam kehidupan/permainan sehari-hari! Artinya, merubah kebiasaan dan menggantinya dengan yang baru. Nggak mudah!

“Final DBL East Java yang gw tonton kemarin adalah salah satu pertandingan basket yang terburuk yang pernah gw tonton!” Coach Blair O’Donovan, NBL Australia.

Besok, bersiap tuk belajar mengubah yang terburuk menjadi yang terbaik! Nggak mudah, tetapi bukan gak mungkin! Sampai jumpa besok di hari kedua! :D

Katanya Bandung Kota Kreatif :(

Alternatif yang sebelumnya ternyata jiplakan. Dan kini logo baru (gambar pertama) yang mungkin sudah disetujui oleh NBL Indonesia untuk digunakan sebagai logo tim mulai musim 2011-2012 nanti akhirnya selesai. Tetapi ternyata..

Gambar kedua ini adalah logo alternatif dari New York Hawks (gw gak tahu itu tim divisi dari liga apa). Yang jelas logonya.. Hadoohhh.. Ceu nah urang Bandung loba nu kreatip!

*Gw gak nyari-nyari kesalahan logo Garuda Bandung. Temuan ini dikirimkan oleh pembaca Mainbasket yang gw rasa sangat sadar akan pentingnya orisinalitas dalam sebuah karya desain. Gw pribadi sebagai fans Garuda merasa malu :(