Terbanglah Tinggi Bola Basket Indonesia

Tulisan ini aslinya muncul di Jawa Pos (gw bacanya di Bandung Ekspres) hari ini.

Oleh: Udjo Project Pop, penggemar basket

Di atas langit ada langit. Katakata kiasan itu sangat tepat untuk menggambarkan peta kekuatan bola basket Indonesia dengan tim Filipina.

DALAM pertemuan kedua mereka, yaitu pada partai final SEABA IX di Britama Arena (26/6), tim nasional (timnas) yang merupakan kumpulan pemain terbaik di ’’langit’’ basket Indonesia harus mengakui bahwa mereka tidak bisa melewati kemampuan ’’terbang’’ tim Filipina. Mereka berjuang sekuat tenaga untuk bisa melesakkan 50 angka, sedangkan Filipina –raja basket Asia Tenggara– dengan indahnya mempertontonkan bagaimana cara bermain basket dengan 89 angka.

Sebagai penggemar basket nasional, besar sekali harapan saya bisa melihat timnas kita menjadi jagoan di kawasan ini. Optimisme itu berawal dari bergulirnya sebuah liga basket baru yang lebih baik dan benar, yaitu National Basketball League (NBL) Indonesia. Dikemas dan diorganisasi lebih baik, liga itu menjadikan basket lebih laik tonton. Posisi para pemain diletakkan kembali sebagai pemain profesional.

Rasa optimisme makin membuncah ketika terpilih puluhan pemain terbaik di ’’langit’’ basket NBL Indonesia untuk masuk pelatnas guna menyongsong SEA Games XXVI di Jakarta dan Palembang akhir tahun ini. Bagaimana gak optimistis, program yang dijalani mereka tidak pernah dilakukan sebelumnya dalam sejarah basket Indonesia. Mereka berkesempatan masuk Indonesia Development Camp (IDC) with NBA yang mendatangkan Ron Harper (mantan pemain Chicago Bulls dan LA Lakers) sebagai salah seorang pelatih.

Lalu, training camp berlanjut pada program pelatihan di Perth, Australia, bersama para pelatih World Basketball Academy (WBA). Untuk urusan bela negara, timnas rela bertambah hitam dan kurus demi menempa diri di Batujajar, Bandung, Jawa Barat, secara militer. Hmmm, ini nih…era baru basket Indonesia. Dan, waktunya pun tiba untuk melihat hasil program itu di kejuaraan SEABA (Southeast Asian Basketball Association). Apa yang terjadi cukup mencengangkan. Sebagai penonton awam dengan pengharapan setinggi langit, ternyata pada pertandingan pertama, timnas bersusah payah mengalahkan Singapura. Tiga kuarter tertinggal dan menyusul di kuarter terakhir.

Fiuhhh….pendapat teman-teman yang menonton (saya gak nonton karena harus ngamen demi anak istri :) ), ”aahh belom panaaass”. Oke, itu masuk akal. Buktinya menang kok. Ya, pada partai kedua timnas harus langsung bertemu Filipina. Di dalam hati saya berkata, ’’Hey Filipinos, you’ll be surprised to play againts our ’new’ Indonesian basketball,…though it’s difficult for us to win..we’ll fight back everytime you strike!!!’’ Ciee, kalau saya optimistis… sok Inggrisnya keluar.. Apa dinyana, ternyata perlawanan yang saya umbar tidak terbukti hasilnya.

Ketika pemain lawan masuk ke lapangan dengan materi dua orang center berukuran 2 meteran dan beberapa pemain lain dengan santainya ber-slam dunk ketika pemanasan, mental saya sebagai penonton jatuh banget. Tetapi, optimisme buat mendukung timnas yang sebagian saya kenal baik tetap saya junjung. Pertandingan dimulai, the show has begun for Philippines dan tidak disangka, timnas terlihat bagai adik-adik yang baru belajar bermain basket.

Beda postur, kecepatan, skill, strategi, dan mental mengakibatkan hasil akhir yang mengejutkan. Angka 94-54 menggambarkan betapa jauhnya perlawanan yang timnas berikan. Melihat hasil itu layaknya penonton bola yang pasti lebih pintar daripada pemain dunia mana pun. Saya bertukar komentar dengan beberapa kawan yang sama-sama menyaksikan pertandingan tersebut. Yang paling picik langsung berkata, ’’Mana hasil IDC? Mana hasil Australia!!??” Yang lain menyoroti masalah beda postur dan masalah dua pemain naturalisasi Filipina. Ada juga yang membahas strategi dan roster pemain yang diturunkan pelatih, kenapa si ini gak dipilih saja? Si itu kok gak pede? Ini kok pada gak bisa nembak? dan lain-lain dan seterusnya.

Saya lebih menyoroti semangat juang yang tidak meledak-ledak dari timnas. Kalah boleh saja, tetapi harus melalui pertarungan sengit dulu, berdarahdarah kalau perlu. Uhh…mungkin semangat mereka sama jatuhnya seperti saya ketika para pemain Filipina itu berslam dunk ria saat pemanasan dan beberapa alley-oop ketika game. Pada pertarungan ketiga melawan Malaysia yang tampil ’’luar biasa’’ menghadapi Filipina, ternyata Indonesia bangkit dan mengempaskan Malaysia dengan telak. We own that game! Rasa optimisme itu muncul lagi.

Final versus Filipina….Kita akan kalah, tetapi tidak akan sehancur pertemuan pertama. Ternyata, hasilnya seperti saya tulis di kalimat paling atas. Langit basket Indonesia memang berbeda dengan Filipina. Terlalu tinggi buat kita menguasai bola basket. ASEAN sekarang! Ya bukan sekarang, suatu hari nanti pasti bisa. Kalimat tadi bukan suatu pesimisme, tetapi keyakinan jangka panjang. Setelah saya ingat-ingat, NBL baru berjalan satu musim. Isinya 27 pertandingan yang harus dilakukan tiap tim (lebih baik daripada IBL yang 18 pertandingan per tim). IDC dan program Australia saya pandang sebagai kursus singkat untuk meletakkan kembali permasalahan inti dari timnas Indonesia, basic basketball habit modern yang baik dan benar. Program itu membuka mata pemain, pelatih, dan tim ofisial.

Bagaimana berbedanya metode pelatihan basket di Negeri Kanguru yang sangat menekankan pada hal-hal fundamental, baik di dalam maupun di luar lapangan. Program itu juga membukakan mata kita akan pentingnya pembinaan fundamental basket sejak usia dini lewat program kurikulum sekolah dan liga yang berjenjang (liga pelajar, liga mahasiswa, Kobanita, Kobatama, puncaknya NBL). Semua butuh waktu, proses, dan usaha bersama. Meminjam istilah Kesatria Basket-nya Bapak Anggito Abimanyu, Ketum Perbasi (yang di klip videonya gak ada saya dan Yosi :p), para kesatria itu sudah ada.

Yakni Perbasi dengan para pengurusnya, commissioner NBL dan jajarannya, para pemilik klub dan sponsor, para pelatih dan pemain basket, saya dan ribuan penggemar basket lainnya. Dengan kerja superkeras, kerja sama yang simultan, dan dukungan semua pihak yang besar (termasuk pemerintah), saya yakin basket Indonesia bisa terbang lebih tinggi, melesat ke langit yang lebih tinggi lagi. Dan kerja keras itu harus kita lakukan bersama, sekarang. Bangkitlah bola basket Indonesia! (*)

Iklan