Siapakah dari 9 Pemain ini yang Layak Dipanggil Kembali ke Pelatnas? (Polling)

Selain motivator, persaingan timnas bakal ditingkatkan kembali. Caranya, memanggil tiga pemain lagi untuk menghuni pelatnas. Mereka akan diambil dari sembilan pemain yag dicoret beberapa waktu lalu.”

Demikian kalimat dalam artikel di situs resmi NBL Indonesia hari ini. Kalau begitu, menurut kalian, siapa kira-kira pemain yang layak untuk kembali mengikuti Pelatnas Basket putra untuk SEA Games 2011 November nanti? Silahkan memilih :D

*Hey, tentu saja ini polling tak resmi, walau siapa tahu berpengaruh :D

Iklan

Nate Robinson Akan Latih Pemain-pemain SMA Terbaik Se-Indonesia!

Press release resmi dari DBL Indonesia

Indonesia segera kedatangan lagi bintang basket kelas dunia. Nate Robinson, juara Slam Dunk Contest tiga kali pertama dalam sejarah NBA, bakal hadir Juli mendatang. Serangkaian event dan acara akan diikuti dalam ajang Nate Robinson DBL Indonesia Tour 2011 tersebut.

Pemain Oklahoma City Thunder itu rencananya akan menghadiri final Development Basketball League (DBL) 2011 seri Jawa Timur di DBL Arena Surabaya, 23 Juli mendatang. Kemudian, dia akan ikut melatih pemain-pemain SMA terbaik dari seluruh Indonesia, di ajang DBL Camp 2011, juga di DBL Arena Surabaya.

Lalu ada acara jumpa fans dan kegiatan sosial, baik di Surabaya dan Jakarta, sebelum pulang ke Amerika Serikat pada 27 Juli.

“Kami sudah bertahun-tahun berupaya mendatangkan Nate Robinson ke Indonesia. Dia punya banyak fans di sini, dan kami yakin dia akan meninggalkan kesan mendalam bagi para penggemar basket di Indonesia. Terima kasih kepada Nate dan tim manajemennya, harapan kami kini bisa terwujud,” kata Azrul Ananda, direktur PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia, penyelenggara liga pelajar terbesar DBL dan liga tertinggi National Basketball League (NBL) Indonesia.

Nate Robinson, yang bertinggi badan “hanya” 175 cm (dengan sepatu), merupakan salah satu atraksi paling kondang di NBA. Tiga kali dia menjadi juara Slam Dunk, saat masih membela New York Knicks (2006, 2009, 2010). Dia lantas membela Boston Celtics sebelum akhirnya bernaung di Oklahoma City Thunder. (*)

Nate Robinson
Guard, Oklahoma City Thunder
TTL: Seattle, 31 Mei 1984
Tinggi/Berat: 175 cm/82 kg
Masuk NBA: Pilihan nomor 21 NBA Draft 2005 (New York Knicks)

Karir:
New York Knicks (2005-2010)
Boston Celtics (2010-2011)
Oklahoma City Thunder (2011-sekarang)

Prestasi:
Tiga kali Champion NBA Slam Dunk Contest (2006, 2009, 2010)

Terbanglah Tinggi Bola Basket Indonesia

Tulisan ini aslinya muncul di Jawa Pos (gw bacanya di Bandung Ekspres) hari ini.

Oleh: Udjo Project Pop, penggemar basket

Di atas langit ada langit. Katakata kiasan itu sangat tepat untuk menggambarkan peta kekuatan bola basket Indonesia dengan tim Filipina.

DALAM pertemuan kedua mereka, yaitu pada partai final SEABA IX di Britama Arena (26/6), tim nasional (timnas) yang merupakan kumpulan pemain terbaik di ’’langit’’ basket Indonesia harus mengakui bahwa mereka tidak bisa melewati kemampuan ’’terbang’’ tim Filipina. Mereka berjuang sekuat tenaga untuk bisa melesakkan 50 angka, sedangkan Filipina –raja basket Asia Tenggara– dengan indahnya mempertontonkan bagaimana cara bermain basket dengan 89 angka.

Sebagai penggemar basket nasional, besar sekali harapan saya bisa melihat timnas kita menjadi jagoan di kawasan ini. Optimisme itu berawal dari bergulirnya sebuah liga basket baru yang lebih baik dan benar, yaitu National Basketball League (NBL) Indonesia. Dikemas dan diorganisasi lebih baik, liga itu menjadikan basket lebih laik tonton. Posisi para pemain diletakkan kembali sebagai pemain profesional.

Rasa optimisme makin membuncah ketika terpilih puluhan pemain terbaik di ’’langit’’ basket NBL Indonesia untuk masuk pelatnas guna menyongsong SEA Games XXVI di Jakarta dan Palembang akhir tahun ini. Bagaimana gak optimistis, program yang dijalani mereka tidak pernah dilakukan sebelumnya dalam sejarah basket Indonesia. Mereka berkesempatan masuk Indonesia Development Camp (IDC) with NBA yang mendatangkan Ron Harper (mantan pemain Chicago Bulls dan LA Lakers) sebagai salah seorang pelatih.

Lalu, training camp berlanjut pada program pelatihan di Perth, Australia, bersama para pelatih World Basketball Academy (WBA). Untuk urusan bela negara, timnas rela bertambah hitam dan kurus demi menempa diri di Batujajar, Bandung, Jawa Barat, secara militer. Hmmm, ini nih…era baru basket Indonesia. Dan, waktunya pun tiba untuk melihat hasil program itu di kejuaraan SEABA (Southeast Asian Basketball Association). Apa yang terjadi cukup mencengangkan. Sebagai penonton awam dengan pengharapan setinggi langit, ternyata pada pertandingan pertama, timnas bersusah payah mengalahkan Singapura. Tiga kuarter tertinggal dan menyusul di kuarter terakhir.

Fiuhhh….pendapat teman-teman yang menonton (saya gak nonton karena harus ngamen demi anak istri :) ), ”aahh belom panaaass”. Oke, itu masuk akal. Buktinya menang kok. Ya, pada partai kedua timnas harus langsung bertemu Filipina. Di dalam hati saya berkata, ’’Hey Filipinos, you’ll be surprised to play againts our ’new’ Indonesian basketball,…though it’s difficult for us to win..we’ll fight back everytime you strike!!!’’ Ciee, kalau saya optimistis… sok Inggrisnya keluar.. Apa dinyana, ternyata perlawanan yang saya umbar tidak terbukti hasilnya.

Ketika pemain lawan masuk ke lapangan dengan materi dua orang center berukuran 2 meteran dan beberapa pemain lain dengan santainya ber-slam dunk ketika pemanasan, mental saya sebagai penonton jatuh banget. Tetapi, optimisme buat mendukung timnas yang sebagian saya kenal baik tetap saya junjung. Pertandingan dimulai, the show has begun for Philippines dan tidak disangka, timnas terlihat bagai adik-adik yang baru belajar bermain basket.

Beda postur, kecepatan, skill, strategi, dan mental mengakibatkan hasil akhir yang mengejutkan. Angka 94-54 menggambarkan betapa jauhnya perlawanan yang timnas berikan. Melihat hasil itu layaknya penonton bola yang pasti lebih pintar daripada pemain dunia mana pun. Saya bertukar komentar dengan beberapa kawan yang sama-sama menyaksikan pertandingan tersebut. Yang paling picik langsung berkata, ’’Mana hasil IDC? Mana hasil Australia!!??” Yang lain menyoroti masalah beda postur dan masalah dua pemain naturalisasi Filipina. Ada juga yang membahas strategi dan roster pemain yang diturunkan pelatih, kenapa si ini gak dipilih saja? Si itu kok gak pede? Ini kok pada gak bisa nembak? dan lain-lain dan seterusnya.

Saya lebih menyoroti semangat juang yang tidak meledak-ledak dari timnas. Kalah boleh saja, tetapi harus melalui pertarungan sengit dulu, berdarahdarah kalau perlu. Uhh…mungkin semangat mereka sama jatuhnya seperti saya ketika para pemain Filipina itu berslam dunk ria saat pemanasan dan beberapa alley-oop ketika game. Pada pertarungan ketiga melawan Malaysia yang tampil ’’luar biasa’’ menghadapi Filipina, ternyata Indonesia bangkit dan mengempaskan Malaysia dengan telak. We own that game! Rasa optimisme itu muncul lagi.

Final versus Filipina….Kita akan kalah, tetapi tidak akan sehancur pertemuan pertama. Ternyata, hasilnya seperti saya tulis di kalimat paling atas. Langit basket Indonesia memang berbeda dengan Filipina. Terlalu tinggi buat kita menguasai bola basket. ASEAN sekarang! Ya bukan sekarang, suatu hari nanti pasti bisa. Kalimat tadi bukan suatu pesimisme, tetapi keyakinan jangka panjang. Setelah saya ingat-ingat, NBL baru berjalan satu musim. Isinya 27 pertandingan yang harus dilakukan tiap tim (lebih baik daripada IBL yang 18 pertandingan per tim). IDC dan program Australia saya pandang sebagai kursus singkat untuk meletakkan kembali permasalahan inti dari timnas Indonesia, basic basketball habit modern yang baik dan benar. Program itu membuka mata pemain, pelatih, dan tim ofisial.

Bagaimana berbedanya metode pelatihan basket di Negeri Kanguru yang sangat menekankan pada hal-hal fundamental, baik di dalam maupun di luar lapangan. Program itu juga membukakan mata kita akan pentingnya pembinaan fundamental basket sejak usia dini lewat program kurikulum sekolah dan liga yang berjenjang (liga pelajar, liga mahasiswa, Kobanita, Kobatama, puncaknya NBL). Semua butuh waktu, proses, dan usaha bersama. Meminjam istilah Kesatria Basket-nya Bapak Anggito Abimanyu, Ketum Perbasi (yang di klip videonya gak ada saya dan Yosi :p), para kesatria itu sudah ada.

Yakni Perbasi dengan para pengurusnya, commissioner NBL dan jajarannya, para pemilik klub dan sponsor, para pelatih dan pemain basket, saya dan ribuan penggemar basket lainnya. Dengan kerja superkeras, kerja sama yang simultan, dan dukungan semua pihak yang besar (termasuk pemerintah), saya yakin basket Indonesia bisa terbang lebih tinggi, melesat ke langit yang lebih tinggi lagi. Dan kerja keras itu harus kita lakukan bersama, sekarang. Bangkitlah bola basket Indonesia! (*)

Laga Penghormatan Tuk Para Veteran

Jika tidak datang dan menyaksikan langsung NBL Indonesia Challenge yang telah dilaksanakan pada tanggal 22 Juni di Jakarta dan 25 Juni lalu di Surabaya, barangkali penggemar basket Indonesia tak akan mengetahui bahwa ada sebuah laga yang sangat dedikatif tetapi tetap menghibur. Di Jakarta, sebelum NBL Indonesia Challenge, penonton menyaksikan sebuah pertandingan amal para pesohor yang didedikasikan untuk para veteran perang Republik Indonesia. Di Surabaya, para pemain veteran dan legendaris dari tim CLS Surabaya dan Bimasakti Malang beradu kembali dalam laga nostalgia.

Sebelum laga amal para pesohor yang diadakan di Jakarta, seluruh pemain mengadakan sesi foto bersama dengan beberapa veteran yang datang. Gw ikut bermain. Menyaksikan antusiasme para veteran untuk foto bersama sejujurnya gw lebih bersemangat untuk mendengarkan mereka bercerita daripada bermain basket. Tetapi di sisi lain, para veteran ini pun tak sabar menyaksikan laga yang didedikasikan bagi mereka. Senyum mereka lebar banget. Senaaang banget melihat pertandingan yang memang disajikan untuk mereka.

Sebuah laga basket memang gak ada apa-apanya dibandingkan apa yang telah mereka berikan kepada orang-orang Indonesia yang hidup saat ini. Malam itu, semua orang terbahak-bahak melihat kekonyolan-kekonyolan Augie, Udjo, Pandji, dan kawan-kawan. Di antara ribuan tawa tersebut, mengetahui ada selipan tawa beberapa veteran yang datang dan terhibur karena melihat tontonan basket, luar biasa berharga rasanya.

Berangkat ke Surabaya, gw tahu bahwa tak akan ada lagi laga amal dari para pesohor karena sepengetahuan gw tak ada kabar apapun bahwa Udjo, Mario Lawalata, Augie, dan yang lainnya juga tengah bersiap untuk ke Surabaya. Sayang banget, padahal laga amal yang didedikasikan untuk para veteran tersebut sangat-sangat luar biasa.

Sampai di DBL Arena sore itu, gw agak kaget karena katanya akan ada laga pembuka kejutan sebelum laga utama antara NBL Indonesia Selection dan USA Legends. Laga pembuka tersebut tak banyak didengungkan di media massa. Ketika menaiki tangga belakang dan melewati ruang ganti pemain, gw melihat sosok Filix Bendatu tengah bersiap mengganti pakaian. Lalu sekilas gw pun melihat A Kiat sedang mempersiapkan jersey bertanding. Tak butuh waktu lama, gw lalu tersenyum, ini akan menjadi laga yang super seru! :D

Sejak bola tip off bergulir, laga langsung berjalan sengit. Ini seperti melihat pertandingan NBL Indonesia sesungguhnya antara CLS Knights Surabaya melawan Bimasakti Malang! Hmm, hanya saja kok para pemainnya terlihat agak kurang berotot yaa.. :D

Jika di Jakarta para pesohor bermain basket untuk para veteran Republik Indonesia, di Surabaya, para pemain veteran dari CLS Surabaya dan Bimasakti Malang kembali bermain seolah mengatakan “kami pun dahulu tak kalah hebatnya dengan kalian kini!” Para pemain veteran ini terlihat bersemangat dan sesekali masih memperlihatkan rivalitas yang tak pudar. Di akhir laga, NBL Indonesia memberikan penghargaan kepada dua legenda basket Indonesia; Gatot Sugiarto dan Sony Hendrawan.

Secara keseluruhan, dua laga menghormati para veteran terasa luar biasa. Di Jakarta para penonton terpingkal-pingkal karena aksi lucu. Di Surabaya, tepuk tangan meriah tak pernah berhenti mengagumi setiap aksi para veteran yang masih mampu memasukan bola dengan tajam walau sedikit melamban. Semoga laga-laga penghormatan seperti ini akan lebih sering lagi digelar oleh NBL Indonesia. Menghargai dan mengingat masa depan agar semakin mantap melangkah dan membangun masa depan basket Indonesia :D

Pekerjaan Rumah Terbesar Tim Nasional Indonesia adalah Pertahanan! (9th SEABA Championship)

Oleh: Hendry Muliana

Pertandingan melawan Filipina, 24 Juni 2011

Nelangsa, satu kata yang pas melihat penampilan Timnas kita ketika melawan Filipina. Hasil skor yang mencolok menunjukan ada yang gak beres sama Timnas kita. Dan hal itu adalah defense!

Dilihat dari skill individu dan kecepatan setiap individunya, Filipina memperlihatkan bahwa mereka sekelas di atas Timnas kita. Hal yang ngeselin gue adalah Filipina hanya bermain dengan sembilan pemain dan semuanya memiliki skill yang rata, dan bahkan pemain naturalisasi mereka (pemain berkulit hitam) mungkin malah menjadi yang “terlemah” di dalam tim mereka. Tapi yang harus diakui adalah kecepatan, kedisiplinan dalam bertahan dan menyerang, serta kengototan setiap pemainnya dalam melakukan defense gak peduli berapa besar mereka sudah mencetak skor dan berapapun menit pertandingan. Mereka bermain ngotot full 40 menit. Luar biasa etos permainannya!

Sementara Timnas kita, defensenya sangat mudah ditembus, tidak bermain ngotot dalam defense sehingga tidak bisa menutup kekurangannya dalam kecepatan. Mau bukti ketidakngototan dalam defense Timnas kita? Selain Timnas mendapatkan “two handed slamdunk” sebanyak 3x (tapi 1 tidak dihitung skor oleh wasit karena terjadi pelanggaran) ketika di fast-break, Timnas juga dapet “hadiah” 2 alley-oop dunk dari hasil set-play offense-nya Filipina. Alley-oop dunk pertama masih membuat pendukung Timnas “shock” karena pemain kita tidak ada yang bereaksi sama sekali ketika defense kita dibobol dengan cara seperti ini. Pukulan paling telak berikutnya adalah ketika pemain Filipina dengan sengaja mencari kesempatan khusus untuk bisa set play yang diakhiri dengan alley-oop dunk lagi!, dan hal itu terjadi kurang dari 5 menit setelah alley-oop dunk pertama. Tragis bukan? Dan ini menjadi pukulan telak betapa defense kita baik secara individu dan tim sangat lemah. Kecuali Xaverius, rasanya semua pemain kita terlihat kurang ngotot dalam defense, sehingga semakin gak bisa nutupin kekalahan mereka dalam skill dan speed.

Bukti kelemahan dalam defense lainnya adalah banjir foul dari pemain timnas kita. Dodo bahkan sudah buat foul 3x dalam 4 menit pertama. Sementara center Filipina baru membuat foul pertamanya pada quarter ke 4.

You must challenge every shot they made”, itu kata-kata yang sering diteraikin waktu pelatihan dari coach NBA dan Ron Harper. Gue rasa mereka harus menambahkan lagi satu kalimat kunci “you must give your best defense for every second you play on the court!”. Masukan dari gue, etos kerja dalam defense harus mendapatkan perhatian khusus dari Tim Coach kita, sehingga semua pemain kita tanpa terkecuali mau mati-matian dalam defense di setiap detik mereka tampil di lapangan.

Gimana dengan offense? Ketika lawan Filipina, terlihat hanya Mario, Batam dan Xaverius yang pede dalam melepaskan tembakan-tembakannya. Amin sempat pede di 10 menit kuarter awal lalu menurun di kuarter 2 sampai 4. Amin mendapatkan masalahnya ketika kalah speed dengan lawan yang menjaganya sehingga sangat jarang mendapatkan kesempatan menembak. Pemain lainnya rasanya harus kerja keras lagi buat bia melakukan offense dengan pede.

Akhir kata, gue kecewa sama Timnas ketika lawan Filipina bukan karena mencoloknya skor akhir, tetapi kekalahan itu diperoleh karena ketidakmaksimalan permainan Timnas kita. Kalau semua sudah memberikan yag terbaik dan masih tetap kalah, maka kekalahan itupun bisa kita terima dengan lapang dada.

Pertandingan melawan Malaysia, 25 Juni 2011

Penampilan Timnas di 2 quarter awal melawan Malaysia lagi-lagi menunjukkan kelemahan mereka dalam defense yang untungnya tertutupi dengan membaiknya offense. Hampir semua pemain kita pernah dan bisa dilewati dengan mudah oleh para pemain Malaysia yang dari mukanya kayaknya masih sekelas universitas ya? Padahal jika dibandingkan kualitas skill individu dan speed-nya, pemain kita masih selevel bahkan beberapa pemain masih selevel lebih baik dari pemain Malaysia. Tapi kenapa kok banyak easy lay up dari pemain Malaysia? Kengototan dalam defense kayaknya lagi-lagi menjadi kunci semua itu. Untungnya hal ini diperbaiki di kuarter 3 dan 4 sehingga kita bisa unggul lumayan jauh, walau sempat didekati beberapa kali oleh Malaysia. Geregetan rasanya liat defense Timnas kita. Padahal, pas gue nonton pertandingan Filipina lawan Singapura pada pertandingan sebelumnya, pemain Filipina ngotot banget defense-nya bahkan sampe 10 detik terakhir di kuarter 4? Edannn…semua pemain yang ada di lapangan dan terutama playmaker mereka defense kayak teamnya lagi ketinggalan point aja, bener-bener salut!

Banjir foul? Ini jadi penyakit utama Timnas dalam 2 hari yang gue tonton. Sialnya hal ini lagi-lagi terjadi di 4 kuarter permainan, sementara pemain Malaysia sedikit sekali membuat foul. Thoyib bahkan membuat 4 foul di minutenya yang gak nyampe 8 menit…… Gak tahu apa yang salah dalam defense kita karena call referee soal foul, sedikit sekali yang keliru. Pemain Timnas kita “jorok” banget ketika defense, sampe pas nengok ke atas liat papan skor, itu titik foul di semua pemain Indonesia kok banyak banget ya…sangat kontras dengan Malaysia :(

Kerugian dari banyaknya foul ini jelas membuat pemain Malaysia jadi sering mendapatkan free throw dan mereka punya persentase yang lumayan baik, sehingga sempat beberapa kali skor mereka bisa mendekati kita. Untungnya Batam, Ius dan Amin bermain baik ketika offense dengan tembakan-tembakan 3 point mereka. Mario juga bermain brilian malam ini dengan visi permainan dan penguasaan bola yang baik.

Secara keseluruhan, permainan Timnas Malaysia malam ini jauh dibawah form mereka ketika kemarin mengalahkan Singapura. Shoot mereka hari ini lumayan “bau”. Kalau lagi wangi kayak kemarin lawan Singapura, bisa celaka Timnas kita kalau defense masih seperti ini, hehehehe :P

Kesimpulan

Bila kita ingin juara di SEA Games atau minimal merebut perak, maka kengototan dalam defense dan peningkatan speed menjadi hal PR mutlak bagi Timnas kita. Defense, defense dan defense! itu yang harus ditekankan dalam setiap latihan. Pola offense juga masih belum berjalan maksimal dan harus dipoles lagi.

Masalah mental juga menimpa beberapa pemain “muka baru” di Timnas. Koming bermain buruk dalam offense ketika melawan Malaysia. Koming sampai tak henti-hentinya diteriakin head coach kita. Anehnya minute playnya tetep lebih banyak daripada Wellyanson yang bermain lebih baik hari ini. Rommy Chandra sebagai pemain paling senior malah mendapatkan minute play hanya sekitar 2-3 menit di 2 pertandingan ini.

Akhir kata, gue tetep cinta mati sama Timnas kita dan setia membelanya apapun hasil dan bentuk permainannya. Tapi lebih enak lihatnya kalau mereka bisa bermain baik, maksimal dan juga memetik kemenangan bukan? Biar bisa tidur nyenyak :D

*Hendry Muliana adalah penggemar berat bola basket nasional. Menjadi fan salah satu tim NBL lebih dari dua dekade.

Indonesia vs Filipina di SEABA Championship, Sudut Pandang Seorang Fan

Tragis!

Mungkin itu kata yang paling tepat untuk menggambarkan hasil dari laga SEABA antara Indonesia melawan Filipina tadi, 24 Juni. Banyak penonton kecewa dengan hasil pertandingan tersebut.

Memang, di atas kertas pemain-pemain Filipina mungkin memiliki statistik dan pengalaman yang lebih daripada pemain-pemain kita. Tetapi kalah 40 poin di pertandingan tersebut benar-benar mencoreng muka kita sebagai tuan rumah turnamen ini.

Para pemain timnas ini seperti bermain di bawah tekanan. Tidak ada ‘feel’ bermain sama sekali. Terlihat jelas dari cara bermain mereka yang amat sangat mengecewakan. Kalau tidak salah, tidak ada pemain yang berhasil mencetak point sampai 2 digit.

Banyak turnover, tidak ada rebound, eksekusi bola yang buruk dan defense yang hancur. Terbukti dari seringnya pemain Filipina melakukan dunk. Bahkan para pemain timnas yang berasal dari tim Satria Muda saja seperti tidak bisa menaklukan “rumah” mereka sendiri. Amin prihantono, Mario Wuysang, Faisal. J. achmad yang biasanya bermain luar biasa di ‘rumah’ mereka, hari ini benar-benar bermain sangat buruk. Andy ‘Batam’ pun bermain kurang baik, biasanya tembakan 3 poinnya sangatlah akurat, entah kenapa hari ini benar2 mengecewakan. Dimas Aryo yang biasanya bermain cemerlang pun seperti kehilangan arah.

Beberapa kali menonton para pemain timnas ini berlatih, tidak banyak kemajuan yang ditunjukan oleh mereka, tidak ada kekompakan sama sekali, meskipun sudah kurang lebih 2 bulan mereka berlatih bersama. Sepertinya percuma saja mereka sampai mengundang legenda NBA, Ron Harper dan melakukan tryout ke Australia bulan kemarin.

Kalau seperti ini caranya,bagaimana kita bisa memenuhi “mimpi” kita untuk mendapatkan emas di SEA Games November mendatang? Mungkin para coaching staff harus sedikit merombak ‘isi’ di tim ini. Banyak pemain yang saya rasa lebih pantas untuk diberi kesempatan agar bisa menjadi squad timnas kita. Jangan menutup kemungkinan untuk pemain muda untuk bisa masuk menjadi pemain timnas. Wallewangko (Citra Satria), Febri (CLS Knights), Galank (Satria Muda), Valentino Wuwungan (Satya Wacana) mungkin bisa menjadi pertimbangan untuk squad timnas kita. Mungkin anak-anak ‘miskin’ pengalaman ini bisa bermain lebih bersemangat dan lebih baik daripada para pemain berpengalaman.

Siapa tahu?

Better late than never.

*Tulisan ini adalah kiriman seorang fan yang menyaksikan langsung laga Indonesia vs Filipina, 24 Juni 2011.