Ada yang Salah dengan Poster Lakeside vs Timnas Indonesia Ini!

Salahnya, kok kita jarang bikin kayak beginian yaa? Timnas lawan tim NBL apaa gitu.. (atau gw aja yang gak tahu.. hehee..) Terus, tiketnya dijual! Yup, dijual, yang artinya pertandingannya berharga dan patut disaksikan. Gratisan biasanya gak berharga. ..dan satu lagi, lihat kalimat pada bidang yang gw terangkan! Dang**!

*gambar dari blog Pelita Jaya

**setelah menulis ini, gw langsung ingat, “oh yaa kan pernah pas di Jogja.” :P

Iklan

It’s Only Words #15

“Di liga profesional, tim yang sukses secara finansial bukanlah tim yang juara. Melainkan tim yang pemainnya selalu memberikan upaya 100 persen. Mengejar setiap bola lepas, memburu setiap rebound. Orang bisa melihat itu, dan akan menjadi penggemar fanatik kalau melihat itu. Tim seperti inilah yang justru sukses secara finansial, karena punya barisan pendukung banyak dan fanatis. Apa pun hasil yang mereka dapatkan.” Rob Beveridge, head coach Perth Wildcats.

*kutipan dari nblindonesia.com

“Safe Area Goražde”, Apa yang Terjadi di Bosnia ketika Michael Jordan Sedang Jago-jagonya!

Berapakah harga atau nilai dari sikap menghargai perbedaan dan keragaman? Banyak orang barangkali akan mengatakan “tak ternilai”. Nilainya tak bisa diukur dalam satuan tertentu. Harganya lebih berasa abstrak berupa sebuah kedamaian dalam hidup berdampingan dalam keragaman, keindahan menyaksikan rupa-rupa hasil karya perbedaan, saling hormat-menghormati dan toleransi bahkan saling menghargai. Barangkali, barangkali karena bentuk nilainya yang abstrak, terkadang kita justru lupa betapa pentingnya sikap menghargai sebuah perbedaan.

Jika keuntungan karena memiliki sikap menghargai perbedaan memiliki nilai yang abstrak, lain halnya jika kita tidak memiliki sikap tersebut. Membenci kelompok lain yang berbeda membangun prasangka-prasangka negatif. Prasangka negatif yang sangat mungkin membawa kita kepada dampak terusannya; kebencian, yang kemudian menyulut pertikaian. Dalam catatan sejarah, kebencian sebuah kelompok mayoritas atau berkuasa dan memiliki daya atas kelompok minoritas yang tak berdaya kerap berujung penindasan. Dan beberapa kali, ujungnya adalah pembantaian!

“Safe Area, Goražde” adalah sebuah novel grafis karya Joe Sacco yang terbit di tahun 2000 lalu. Novel ini ternyata agak telat gw baca karena novel grafis Joe Sacco yang lain, “Palestine” diterbitkan tahun 2001 telah lebih dulu gw baca. Safe Area bercerita tentang perang Bosnia (baca: pembantaian etnis Bosnia) di tahun 1992 hingga 1995. Sebuah perang yang dipicu oleh sikap tidak menghargai perbedaan.

Bagi beberap pihak, kejadian di Bosnia pada tahun 1992-1995 dikatakan sebagai perang, dan memang terjadi perang. Namun bagi banyak orang, apa yang terjadi sebenarnya adalah pembantaian etnis lemah oleh etnis yang jauh lebih kuat yang tak memiliki apresiasi atas keragaman dan dengan sengaja menumbuhkan rasa paranoid pada diri sendiri lalu dikembangkan menjadi sebuah propaganda.

Melalui novel grafis ini, Joe sacco menggambarkan dengan sangat baik situasi yang terjadi di Goražde, salah satu kota di Bosnia yang penduduknya dibantai. Joe Sacco menceritakan kembali cerita-cerita dari warga Goražde yang selamat. Kengerian dan ketegangan berhasil digambarkan dengan baik oleh Joe sacco melalui guratan-guratan gambar komiknya. Dan juga kalimat-kalimat satirnya. Selain ketegangan dan kengerian, Joe Sacco juga menceritakan kehidupan sehari-hari warga Goražde yang masih tegang dalam masa gencatan senjata yang tak menentu.

Kembali ke nilai atau harga dari sebuah “penghargaan atas keragaman”, harga dari hilangnya sikap ini pada konflik Bosnia adalah sekitar 100.000 hingga 110.000 manusia kehilngan nyawa, dua juta lebih pengungsi, dan ah, banyak, sangat banyak sekali korban perkosaan. Itu semua belum termasuk kerugian materi.

Novel ini bagus untuk dibaca karena ketika kita, anak basket sedang asyik masyuk menikmati kehebatan Michael Jordan yang berlaga lalu pensiun lalu masuk lagi ke Chicago Bulls hingga 1998, di belahan dunia lain, di Bosnia, ada pembantaian masal! Baca buku, buka mata :(

*ada dua scene dalam novel grafis ini di mana sang tokoh tengah membicarakan Michael Jordan dan Clyde Drexler :P

Cedric Ceballos yang Juara Slam Dunk Contest 1992 atau yang Rapper? Dua-duanya :D

Salah satu pemain veteran legenda NBA yang akan datang dan ikut bermain di ajang NBL Indonesia Challenge 22 Juni di Jakarta dan 25 Juni di Surabaya nanti adalah Cedric Ceballos. Selain pernah bermain di Dallas Mavericks, Detroit Pistons, dan Miami Heat, Ceballos sangat menonjol ketika bermain bersama Charles Barkley di Phoenix Suns dan juga ketika pindah dan bermain untuk Los Angeles Lakers.

Bersama Phoenix Suns di tahun 1992-1993, Ceballos membukukan rerata field goal tertinggi di NBA dengan persentase 57,6 persen sekaligus menembus final NBA namun kalah dari Chicago Bulls, 4-2 yang kala itu bersama Michael Jordan. Ketika pindah ke L.A. Lakers, di musim 1994-1995 Ceballos merupakan pengumpul rata-rata angka terbanyak dalam timnya dengan 21,7 poin per game dan masuk dalam jajaran pemain NBA All-Star. Demikian pula pada musim selanjutnya, 1995-1996, Ceballos mengumpulkan rata-rata angka tertinggi di Lakers dengan 21,2 poin per game dan menjadi pemain Lakers pertama sejak 20 tahun sebelumnya yang mampu mencetak 50 poin dalam satu game. Sayang tahun itu Ceballos tidak masuk All-Star.

Prestasi Ceballos yang paling lekat dalam ingatan penggemar NBA adalah ketika ia memenangkan slam dunk contest di tahun 1992. Ketika itu ia mengalahkan salah satu slam dunker terhebat di NBA, Shawn Kemp dan Larry Johnson. Gaya Ceballos sangat-sangat unik! Perhatikan:

Cedric Ceballos ternyata tak hanya jago basket. Ia pun seorang rapper. Bahkan dalam salah satu petikan wawancara dengan majalah Slam, Ceballos mengaku bahwa passion utamanya sebenarnya adalah musik. Namun setamat SMA, Ceballos kemudian serius menggeluti basket dan semakin dalam “terjerumus” ke dalamnya. Dibantu oleh Warren G, Cedric Ceballos akhirnya sempat mengeluarkan satu single berjudul “Flow On” dalam album kompilasi berjudul “B-Ball’s Best Kept Secret”. Album tersebut adalah album hiphop yang dibawakan oleh para pemain NBA seperti; Shaquille O’Neal, Gary Payton, Jason Kidd, Brian Shaw, dan tentunya Cedric Ceballos. Tengok videonya!

Jawaban untuk yang Rindu NBL Indonesia All-Star :D

Bulan Februari lalu, ketika NBL Indonesia 2010-2011 Seri Jakarta tengah bergulir dan NBA All-Star 2011 sedang gencar-gencar berpromosi dan akan dilaksanakan pada 18 hingga 20 Februari, banyak yang bertanya, “kapan NBL Indonesia All-Star?” atau sekadar, “akan ada NBL Indonesia All-Star gak sih?”

Rasa penasaran tersebut gw teruskan kepada teman-teman di DBL Indonesia, penyelenggara NBL Indonesia. Jawaban mereka, teman-teman yang gw tanyakan sangat singkat, “gak boleh diomongin!” Kenapa gak boleh diomongin? Gusar gw. Rupanya, ngomongin NBL Indonesia All Star ketika itu akan membuat pekerjaan teman-teman di DBL Indonesia semakin banyak di sela kesibukan mengurus NBL Indonesia dan liga pelajar yang memang tengah tumpuk-menumpuknya. Pertanyan serupa juga gw lontarkan kepada Azrul Ananda, “gak bikin All-Star mas?” Bertolak dari hasil laga eksebisi tim Pelatnas di Yogyakarta (yang notabene bisa juga dikatakan NBL Indonesia All-Star), Azrul kurang lebih mengatakan ia ingin yang sedikit lebih seru :D

Menyelenggarakan NBL Indonesia All-Star di antara usainya musim reguler dan memasuki babak Championship Series (play offs) terdengar seperti sebuah ide cemerlang. Namun tampaknya tidak demikian adanya. Tim-tim NBL Indonesia tengah konsentrasi memutar-mutar lensa tenaga dan strategi untuk fokus kepada play offs yang menjalankan sistem yang sangat seram, kalah-keluar!

Dua bulan setelah NBL Indonesia 2010-2011 usai, NBL Indonesia memberi angin gembira dengan hembusan kabar akan menyelenggarakan NBL Indonesia Challenge yang akan mempertemukan para pemain NBL Indonesia pilihan dengan beberapa orang veteran legenda NBA dan pemain-pemain NBA Development League. Akhirnya, ini bisa jadi lebih seru daripada sekadar NBL Indonesia All-Star :D

Tetapi…

Bukankah para “All-Star” kita tengah berkumpul di Pelatnas untuk persiapan SEA Games? Benar. Dan mereka gak akan main di NBL Indonesia Challenge nanti. Barangkali lebih seru memang jika melihat Rony Gunawan atau Xaverius Prawiro atau Om Lolik bermain di NBL Indonesia Challenge. Tetapi bagi gw, NBL Indonesia punya lebih banyak All-Star daripada yang dibayangkan. Jangan lupa, Denny Sumargo tak ikut Pelatnas, demikian juga Kelly Purwanto, Dimaz Muharri, atau Youbel Sondakh, dan lain-lain. Dan nama-nama tersebut sangat-sangat mungkin ikut meramaikan NBL Indonesia Challenge di bulan Juni nanti :D

Tetapi lagi…

Mengapa bukan Magic Johnson dan Michael Jordan yang datang? Ada lho yang bertanya demikian. Michael Jordan dan Magic Johnson adalah dua nama hebat. Mereka lagi sibuk :D

Cedric Ceballos, salah seorang veteran legenda NBA yang akan ikut bermain adalah mantan top scorer Los Angeles Lakers (All-Star 1995). Selain pernah terpilih masuk NBA All-Star, Ceballos juga pernah bikin sensasi saat meraih gelar juara NBA Slam Dunk pada 1992. Lalu ada juga Dale Ellis, mantan bintang Seattle SuperSonics (All-Star 1989). Dale Ellis pernah merebut juara NBA Three-Point Shootout 1989. Sebelum itu, pada 1987, Ellis meraih gelar NBA Most Improved Player. Veteran legenda lain yang akan ikut bermain adalah Clifford Robinson, mantan andalan Portland Trail Blazers (All-Star 1994). Selain ketiga eks All-Star di atas, akan hadir juga Voshon Lenard, juara NBA Three-Point Shootout 2004 saat membela Denver Nuggets. Lalu ada dua mantan pemain Los Angeles Lakers, Ike Nwankwo dan Duane Cooper. Datang bersama para veteran legenda NBA tersebut, enam orang pemain “beneran” dari NBA Development League. Jadi kalau “All-Star” NBL Indonesia berpikir bahwa laga nanti adalah laga melawan para pensiunan, mereka salah :D

Tim USA Legends akan menghadapi NBL Indonesia di Hall A Senayan Jakarta tanggal 22 Juni, lalu terbang ke DBL Arena Surabaya pada 25 Juni mendatang. Waktunya kita, penggemar basket Indonesia untuk menyaksikan event langka nan seru ini. Bikin ramai dan heboh sampai tiba-tiba suatu saat nanti Jordan dan Johnson meninggalkan kesibukan mereka dan bilang “gw mau main-main ke Indonesia.”

:D

Cedric Ceballos, Clifford Robinson, Dale Ellis, Voshon Lenard, dkk Tantang NBL Indonesia!

Press Release dari NBL Indonesia

Tiga mantan NBA All-Star bakal menjadi bintang utama tim USA Legends, yang Juni nanti akan bertanding melawan tim bentukan National Basketball League (NBL) Indonesia di Jakarta dan Surabaya, di ajang Flexi NBL Indonesia Challenge 2011.

Mereka adalah Cedric Ceballos, mantan top scorer Los Angeles Lakers (All-Star 1995), Dale Ellis, mantan bintang Seattle SuperSonics (All-Star 1989), dan Clifford Robinson, mantan andalan Portland Trail Blazers (All-Star 1994).

Selain pernah terpilih masuk NBA All-Star, Ceballos juga pernah bikin sensasi saat meraih gelar juara NBA Slam Dunk pada 1992. Dale Ellis pernah merebut juara NBA Three-Point Shootout 1989. Sebelum itu, pada 1987, Ellis meraih gelar NBA Most Improved Player. Sedangkan Clifford Robinson pada 1993 juga meraih gelar Sixth Man of the Year.

Selain ketiga eks All-Star di atas, akan hadir pula Voshon Lenard, mantan juara NBA Three-Point Shootout 2004 saat membela Denver Nuggets. Lalu ada dua mantan pemain Los Angeles Lakers, Ike Nwankwo dan Duane Cooper. Selain enam mantan pemain NBA di atas, tim USA Legends akan diperkuat enam orang pemain hebat dari NBA Development League.

Menurut jadwal, tim USA Legends ini akan menghadapi NBL Indonesia Selection Team di Hall A Senayan Jakarta pada 22 Juni, lalu di DBL Arena Surabaya pada 25 Juni mendatang.

“Kami senang dan bangga bisa menyelenggarakan Flexi NBL Indonesia Challenge 2011. Bukan hal mudah mendatangkan tim seperti ini. Kami yakin, kalau tahun ini sukses, semakin banyak bintang basket dunia yang ingin menunjukkan kemampuan mereka di Indonesia,” kata Azrul Ananda, direktur PT Deteksi Basket Lintas (DBL) Indonesia sekaligus commissioner NBL Indonesia, penyelenggara even ini.

David Chu, general manager USA Legends, mengaku tak sabar segera menyapa penggemar basket di Indonesia. “Even ini bersejarah. Untuk kali pertama, ada tim beranggotakan enam mantan pemain NBA, termasuk tiga orang All-Star, bertanding melawan bintang-bintang NBL Indonesia,” katanya. “Kami senang bisa bekerja sama dengan PT DBL Indonesia, organisasi yang sangat profesional di Indonesia. Kami yakin even ini adalah awal dari kunjungan rutin tim USA Legends ke Indonesia,” tambahnya.

Tim NBL Indonesia sendiri akan berisikan pemain-pemain dari sepuluh klub peserta liga tertinggi di tanah air tersebut. Kebanyakan adalah pemain muda, didukung bintang-bintang populer. Sejauh ini, nama yang sudah dipastikan oleh penyelenggara adalah Denny Sumargo (Garuda Flexi), Dimaz Muharri (CLS Knights), Oki Wira Sanjaya (Aspac), serta para peraih award musim 2010-2011 seperti Dian Heryadi (top rebound, Muba Hangtuah Indonesia Muda) dan Valentino Wuwungan (rookie of the year, Satya Wacana Angsapura).

“Ketika merancang even ini beberapa bulan lalu, kami sebenarnya berniat mempertemukan All-Star NBL Indonesia dengan USA Legends. Tapi banyak bintang NBL Indonesia yang sekarang bertugas membela tim nasional. Jadi, kami memutuskan untuk membentuk NBL Indonesia Selection Team, yang berisikan banyak bintang muda. Kami berharap, even ini akan memberi mereka pengalaman berharga. Itu akan baik untuk masa depan NBL Indonesia, dan tentu saja masa depan basket Indonesia,” papar Azrul.

Susunan lengkap NBL Indonesia Selection Team akan diumumkan dalam waktu dekat. “Kami terus berkoordinasi dengan tim nasional tentang pemain,” pungkas Azrul.

Selain datang bertanding di Flexi NBL Indonesia Challenge 2011, barisan USA Legends juga akan menghadiri peluncuran musim baru NBL Indonesia 2011-2012, yang rencananya dimulai Desember mendatang. (*)