Mungkin Gak Yaa, Kalau Kita Main “Total Basketball”?

Hari ini, seperti biasa gw main basket bersama teman-teman di SIS Dago. Sayangnya, hujan gak berhenti-berhenti dari siang hingga malam. Jadi yang datang sedikit sekali. Kami hanya bermain empat lawan empat, setengah lapangan :P

Konsekuensinya, biasanya saat main setengah lapangan, kemelut di bawah ring lebih sering terjadi. Sedikit sekali bermain terbuka (Sebenarnya bisa saja terjadi kebalikannya, tetapi secara kualitas permainan gw dan kawan-kawan yang cuman segitu, yaa begitulah yang terjadi). Gw bermain sebagai point guard merangkap shooting guard dan forward dengan tentu saja kemampuan yang ecek-ecek. The game and the play was fun. Saat gw menjadi point guard, ada rekan gw yang lain menjadi forward atau center. Saat gw sok-sok menjadi center dan posting berduel dengan lawan, suplai bola berasal dari rekan gw yang tadinya center dan sekarang menjadi point guard. “Menarik!” pikir gw ketika berusaha melakukan posting dan diblok dengan mudah oleh center lawan :D

Apanya yang menarik? Beberapa hari yang lalu ketika gw memuat tulisan Herdian Mohammad tentang Kiat-kiat Menjadi Point Guard yang Hebat, banyak yang bertanya dan bahkan meminta agar gw juga memuat kiat-kiat menjadi pemain hebat pada posisi lain. Alasannya, “saya bukan point guard mas.”

Tunggu sebentar..

Mari berjalan-jalan agak jauh, agak mundur di waktu lampau dan melenceng sedikit. Sepak bola pada tahun 1970-an. Ketika itu, klub Ajax Amsterdam, Belanda berinovasi dengan memberikan keleluasaan kepada para pemainnya untuk menjalankan apa pun peran yang ada di lapangan. Striker sesekali menjadi pemain belakang, pemain belakang melakukan penyerangan, dan ganti-gonta peran lainnya. Mereka menyebutnya “total football“!

Musim 1971-1972 dan 1972 dan 1973, Ajax tak pernah kalah di kandang dengan rekor 46 menang, 0 seri, 0 kalah. Dua musim berturut-turut! Tahun 1972, Ajax meraih lima gelar juara; Netherlands National League, KNVB Cup, European Cup, European Super Cup dan Intercontinental Cup!

Hehee, mulai nangkep khayalan gw kan? :P

Gw pernah mengikuti beberapa development camp yang diadakan oleh DBL Indonesia yang bekerjasama baik dengan NBA maupun NBL Australia. Selama mendapat pelatihan dari para pebasket luar negeri tersebut, ada satu kesamaan yaitu, semua pemain (meskipun masih dalam taraf fundamental) dituntut untuk mampu menjalankan semua peran posisi dalam bermain basket; 1, point guard, 2, shooting guard, 3, small forward, 4, power forward, dan 5, center. Itu yang terjadi di development camp bersama bule :D

Tetapi, kerap kali beberapa anak Indonesia, yang memiliki tinggi di atas 180 cm buru-buru diklaim atau mengklaim bagus berposisi sebagai forward atau center. Dalam bermain santai pun, dengan kesadaran yang tinggi, teman-teman gw yang memiliki postur jangkung langsung berinisiatif melakukan permainan pos. Yang serius dengan mengikuti latihan di tim-tim lokal pun mulai mengasah kemampuan teknis hanya pada posisi tertentu. Hmm..

Gw jadi ingat hal lain lagi, ketika kerap mengintip Garuda latihan di era kepelatihan David Zamar, Wiwin yang biasanya berposisi center malah rutin berlatih tembakan tiga angka. Lalu, kala Mario Wuysang masih di Garuda bahkan hingga kini, ia kerap melakukan post play dalam beberapa kesempatan yang gw rasa gak semua point guard mampu melakukan hal tersebut. Puncaknya, waktu gw bermain basket bareng Corey Williams, dan mas Antonius Joko di DBL Arena saat Indonesia Development Camp. Corey Williams bertanya ke mas Joko “what is your position man?” Mas Joko menjawab “four.”

Four? Four? You mean four??” Corey tertawa meremehkan. Yup, kerasa banget Corey ketawa ngeremehin. Dia kemudian melanjutkan “I’m a point guard man.” Dengan postur yang lebih kekar dan sedikit lebih tinggi dari mas Joko, Corey Williams adalah seorang point guard. Corey tampak tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mas Joko.

Obrolan tersebut terjadi dalam suasana kelakar yang seru, namun nempel banget di kepala gw. Nah pas main basket tadi kalimat ini lewat di kepala gw “Seharusnya, center-center atau setidaknya forward-forward di Indonesia punya kemampuan mengolah bola atau menembak sehebat point guard dan shooting guard di samping kemampuan melakukan serangan lewat post play. Jika itu dapat terjadi, mungkin, mungkin kita bisa main basket seperti Ajax Amsterdam di tahun 70-an. Total basketball!”

Ok, gak perlu dianggap serius. Barangkali ini hanya bisa diterapkan di gank main basket gw setiap Selasa di SIS Dago, profesional? Lain cerita :D *lagian, basket kan beda sama bola Dan. Hehee.. :P

5 pemikiran pada “Mungkin Gak Yaa, Kalau Kita Main “Total Basketball”?

  1. Kalo gini jadi pertanyaan: posisi itu berdasarkan fisik atau skill?

    Kalo berdasarkan fisik, ya kayak tadi, di atas 180 udah langsung dicap Center. Karena emang di lapangan rata-rata dia yang paling tinggi, jadi ada kelebihan dalam finishing atau rebounding. Tapi juga di Indo, di atas 180 itu udah termasuk di atas rata-rata (buat pemain casual bukan pro), jadi udah maklum kalo otomatis dicap center. Kevin Garnett sendiri kabarnya ngotot nggak mau didaftar sebagai 7-footer di data pemain. Pasti 6’11”. Soalnya di NBA, kalo udah 7′ itu stigmanya main center, post up.

    Kalo berdasarkan skill, biarpun tingginya berapa tapi lincah, ball handling dan passing bagus bisa aja jadi PG, walaupun badan forward misalnya (Penny Hardaway). Sama aja kalo tinggi sedeng-sedeng aja, tapi positioning rebound n lompatnya cepet bisa jadi center/PF (Kevin Love, Barkley).

    Kasus ekstrim dari 2 perspektif di atas: Shawn Bradley, 7’6″, tapi langganan didunk orang2. Satu ekstrim lagi, Magic Johnson, 6’9″ (di NBA udah badan PF) tapi main PG.

  2. Setuju mas Idan.. Gw juga keberatan kalo cuma dilatih sesuai posisi masing-masing di sekolah. PF Indonesia yang bermain di Luar negeri mungkin dianggap seorang PG oleh mereka.

  3. vamiga waktu sma juga mainnya posisi 1-2 kang idan hehehe padahal tingginya diatas rata2 anak sma yg posisinya center di bogor

  4. Buat gw, Total Basketball nggak mungkin dilakukan kalau cuma sekedar “Pick-up Game” kecuali emang kalo mau dimusuhin terang2an atau diomongin dibelakang. Kan banyak tuh yang punya hobi ngatur :D

    Lain cerita kalo di klub, yang diliat pasti bukan tinggi tapi dari “style of play”. Tapi, berapa banyak sih orang yang bisa masuk ke klub dibanding “Pick-up game”? :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s