“Pemain yang Paling Banyak Makan dan Suasana Mencekam,” (Suka-Suka Liaison Officer NBL Indonesia 3/3-tamat)

*sambungan dari Bagian 2/3

oleh: @diitoooo dan Kokok

Pernah dengar istilah “makanlah untuk hidup, bukan hidup untuk makan”? Mungkin istilah ini pas banget buat para pemain NBL Indonesia. Dan bagian ini adalah bagian favorit gw karena gak jarang gw dipaksa melongo melihat porsi makan mereka :))

Biasanya usai latihan atau tanding para tim ini minta diantar ke restoran atau rumah makan yang tersohor di kota pagelaran NBL. Wawasan kami tentang kuliner pun kadang berguna di sini, meskipun mereka punya tempat makan favorit sendiri. Kalau jadwal antar-jemput kita masih memungkinkan untuk mengantar makan, menunggui nya makan hingga selesai lalu mengembalikan mereka ke hotel adalah hal wajib, fardhu ‘ain (wajib!)! Kalau waktu kita gak memungkinkan ya harap maklum yah. Mengingat kewajiban utama kita adalah untuk antar-jemput latihan dan pertandingan.

Ga jarang gw dan teman-teman gw sesama LO ketiban rejeki ditraktir makan bareng sama mereka, cewek-cewek pasti pada ngiri nih. Siapa sih yg gak mau makan semeja bareng Kak Denny Sumargo, Kak Fadlan Minallah atau sama Kak Kelly Purwanto? Hehehe..

Ngelihat porsi makan mereka gak kalah serunya dengan aksi mereka di lapangan. Kak Sandy Febyansyakh contohnya. Seri IV Bali, usai CLS Knights tanding lawan Muba Hangtuah IM Sumatera Selatan, rombongan CLS Knights minta diantar makan di salah satu rumah makan siap saji yang terkenal. Umumnya anak-anak CLSK pesan satu porsi nasi dengan dua potong ayam goreng. Tetapi kak Sandy dengan postur kurusnya mampu melahap dua porsi nasi beserta empat potong ayam goreng!! *geleng-geleng* (mudah-mudahan kak Sandy gak baca, hehehe..)

Atau kak Ruslan dari Stadium Jakarta. Gw yakin rekan-rekannya di Stadium gak ada yang berani menandingi porsi makan doi. Bahkan Kalo diadu makan melawan kak Ratreza yang badannya lebih gede dari kak Ruslan pun, gw masih jagoin Kak Ruslan. Bayangin, pagi-pagi pas gw mau mengantar Stadium pulang ke bandara usai Championship Series, kak Ruslan turun paling akhir dari kamar menuju ruang Breakfast hotel. Pertama-tama dia ambil sepiring kecil roti, okelah buat appetizer. Roti disikat hingga habis, dia memilih omelet dengan dua butir telur. Selanjutnya, masih pemanasan rupanya! Dan ini pamungkas nya, sepiring besar dengan komposisi nasi segunung, mie goreng, sosis, dan sayur-sayuran hingga penuh. Belum lagi ada sepiring buah-buahan disampingnya. Gw bersama sang manajer, kak Tonny Puah sepakat memberi gelar Raja Makan untuk kak Ruslan! :D

Seri II di Bandung juga punya banyak cerita. Salah satunya pengalaman gw mengantar Pelita Jaya Jakarta makan malam. Mengingat itu hari Sabtu, Japanese Resto yang jadi pilihan makan malam rombongan ini sepertinya keder. Selain memang lagi ramai pengunjung, rombongan Pelita Jaya berjumlah 20 orang lebih hingga si resto pun penuh. Menurut gw sih wajar saja kalau pelayanannya agak lama, tetapi beda dong dengan pemain dan official Pelita Jaya yang baru saja beres bertanding. Mereka pasti amat sangat lapar, satu menu baru bisa disajikan 30-45 menit. Itu baru 1 menu, belum berpuluh-puluh menu yang sudah dipesan. Hingga resto ini pun masuk dalam catatan rekor kak Ronald Simanjuntak (Manajer PJ) sebagai resto dengan pelayanan terlama dan terlelet sedunia. Dan pada saat itu, baru kali itu juga gw melihat ada orang yang mampu melahap tiga porsi steak dan mash potatonya sekaligus! Yak tiga porsi steak sekali makan! Dialah kak Andy Batam. Gw bergumam dalam hati, “orang-orang ini emang lapar, doyan atau
kesurupan yak? Atau mungkin kesal menunggu menunya gak keluar-keluar?
” Hahahaha.. au ah, gelap

Kali lain, giliran antar CLS Knights makan siang usai latihan di Sritex Arena, Solo. CLSK minta diantar makan siang bakso di bilangan Widuran atas rekomendasi dari kak Rachmad Febri Utomo yang memang asli Solo dan pakarnya kuliner di Solo. Sialnya, kak Febri gak ikut rombongan dalam bus, dia membawa mobil sendiri dan hanya memberi petunjuk jalan menuju rumah makan. Mengingat LO dan supir busnya diimpor dari Surabaya, otomatis hanya jalan menuju Hotel dan arenalah yang dihapal. Beruntung tadi diberi petunjuk jalan oleh kak Febri, maka sampailah kita di rumah makan tersebut dan para pemain pun langsung makan. Selesai makan, kak Febri pamit terlebih dahulu, mau ambil sepatu di rumah katanya. Saatnya rombongan CLSK pulang ke hotel, dan gw lupa nanya jalan pulang ke hotel kepada kak Febri. Berkat naluri dan intuisi gw sebagai LO, gw pun memandu pak supir bus, “lewat sini saja pak, nanti depan belok kiri,” ujar gw. “Yakin mas?” tanya pak supir.

“sudah, yakin saja pak sama saya,” pak supir pun menurut. Penumpang gw pun pada percaya saja ke gw yg sotoy ini, hingga tak lama kemudian jalan yang kami lalui lama kelamaan semakin mengecil. Alhasil kami nyasar di tengah-tengah pasar yang belakangan gw ketahui adalah Pasar Legi. Seisi bus pun lalu membahana menertawakan gw, “nah looooo.. LO nya nyasaarrrr.. hahaha,” teriak sang kapten, Agustinus Indrajaya. Lalu ditimpali kak Andrie Ekayana “yo mesti ae, lha wong LO ne wong Suroboyo guduk wong kene.. hahahaha,” (ya iyalaaaah.. LO-nya kan orang Surabaya, bukan orang sini) gw sama pak supir pun ikutan ketawa ngakak. Beruntung Solo hanya kota kecil, jadi senyasar-nyasarnya kami, masih tetap di Solo kok :))

Itulah kenapa bagian ini menjadi bagian favorit di cerita gw ini, belum lagi pas di Bali. Ketika tiba-tiba kak Rommy Chandra teriak kenceng banget minta busnya untuk menepi sebentar ketika melihat ada Indomart. Gw pikir ada yang darurat sehingga Mas Bro (panggilan akrab gw ke kak Rommy Chandra) minta bisnya berhenti di sini. Gw sama pak supir pun menurutinya, hampir sebagian isi bus pun turun dan mulai menyerbu Indomart. Ternyata eh ternyata, perawakan tinggi besar seperti Mas Bro, dan badan ber-tato sangar milik Kak Kelly Purwanto atau postur gempal seperti Kak Koming cuma pengen beli es krim! Seperti Connello, Magnum atau es krim Moo di Indomart! Yang harusnya menurut gw jajanan es krim itu lebih pas buat anak-anak si Mas Bro :D

Itu tadi tugas sampingan gw sebagai LO, antar mereka makan. Yang mana tugas utama gw adalah untuk keperluan pertandingan, makanya dari awal gw bilang kegiatan mengantar mereka makan adalah “fardhu ‘ain” (wajib). Jikalau tidak mengganggu jadwal untuk keperluan pertandingan atau latihan, maka gw di-“sunnah“-kan memberi pelayanan mengantar makan. Seneng saja sih bisa lebih dekat dengan para pemain atau official di meja makan, mereka semua pribadi yg baik lho.

Kita kembali ke hal utama yaitu pertandingan. Setelah rangkaian di pagi hari tadi yaitu latihan, seluruh tim bersiap untuk melakoni pertandingan mereka di siang hari. Sebagai LO gw wajib mengingatkan kepada Official tim, jersey warna apa yang harus mereka gunakan dalam pertandingan nanti. Karena tidak ada sistem home and away seperti di sepakbola, maka tim yg namanya disebut pertama harus menggunakan jersey warna cerah dan tim lawan atau tim yang namanya disebut kedua harus mengenakan jersey berwarna gelap. Contoh : Satria Muda Jakarta vs Satya Wacana Angsapura Salatiga, maka Satria Muda mengenakan Jersey warna putih dan Satya Wacana memakai jersey warna biru. Hal ini wajib kita ingatkan agar tidak terjadi kesamaan warna jersey di lapangan antara kedua tim.

Selanjutnya, kami wajib membawa dan meyerahkan yang namanya rooster team berikut SLU kepada Headcoach atau asistennya. Apa itu rooster team? Rooster team ini adalah daftar nama pemain, pelatih, asisten pelatih, manajer dan utility yang akan berada di bench. SLU adalah singkatan dari Starting Line Up, yang artinya daftar lima pemain inti yang bermain sejak tip off. Biasanya rooster team dan SLU nya ini gw serahkan ke head coach atau asistennya di penginapan mereka sesaat sebelum berangkat bertanding ke arena.

Tiba di arena, gw wajib mengantar para pemain dan officialnya masuk ke locker room atau ruang ganti yang telah ditentukan. Selanjutnya, gw tinggal menanti rooster team dan SLU diisi oleh headcoach atau asistennya. Biasanya mereka menyerahkan rooster team lebih awal ke gw. Tapi, khusus SLU ini gw harus nunggu hingga mereka masuk lapangan dan para pemain pemanasan di lapangan. Sesuai peraturan FIBA, SLU harus diserahkan paling lambat 10
menit sebelum tip off. SLU ini sangat sakral bagi mereka, karena SLU ini bersifat rahasia yang meliputi taktik dan strategi tim mereka. Gw pun kudu amanah, begitu gw menerima SLU dari sang pelatih, harus buru-buru gw serahkan ke petugas meja pertandingan supaya rahasia timnya terjaga.

Selagi pertandingan bergulir, kalau gw harus menjemput tim yang akan bertanding selanjutnya maka gw harus segera berangkat. Atau kalau sudah gak ada jadwal jemput lagi maka gw bersama supir bus gw bisa istirahat. Biasanya sih gw memanfaatkannya untuk menonton pertandingan supaya gw bisa tahu, tim yang gw antar pulang nanti ini tim yang menang atau tim yang kalah. Supaya gw kudu siap-siap mental kalau ternyata yang gw antar pulang adalah tim yang kalah. Biasanya, suasana dalam bus ini cukup mecekam kalau mereka kalah. Kadang gak ada seorang pun yang bersuara, kadang ada juga sih yang cuek saja.

Ketika pertandingan berakhir, gw harus menyiapkan bus dulu di parkiran. Kalau busnya sudah siap maka gw harus buru-buru masuk ke arena guna mendampingi tim yang hendak gw antar pulang. Biasanya gw dimintai tolong sama kakak-kakak wartawan atau pemburu berita guna mengatur wawancara dengan salah satu pemain atau pelatih nya.

Selanjutnya adalah mengawal kedalam bus kalau semua pemain dan officialnya sudah siap. Nah, di bagian ini yang paling gak enak menurut gw. Kadang sebelum para pemain ini menuju lorong pintu keluar menuju bus, di situ sudah banyak fans yang berkumpul menunggu sekedar ingin foto bareng pemain idolanya dan meminta tanda tangannya. Kadang jumlahnya puluhan bahkan ratusan. Keder juga kan kalo mengawal para pemain sendirian, biasanya sih gw dibantu satuan security dari NBL. Sebelumnya gw tanya dulu sama manajer, apakah pemainnya diizinkan menemui fansnya atau gak. Kalau memang diizinkan oleh manajer atau si pemain memang mau menemui dan melayani serbuan fansnya ya gw cuma mengawasi keamanan mereka saja. Jika tidak ada izin dari pak manajer, atau kalau si pemain sedang tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk menemui dan melayani penggemarnya, ya mohon maaf, bukannya gw mau menghalangi para fans untuk foto bareng pemain idolanya yaaa.. Gw hanya menjalankan tugas gw sebagai LO. Sering gw dimaki atau diteriaki oleh para fans gara-gara gak ngasih kesempatan untuk foto-foto.

Di balik semua itu, setelah apa yang gw alami selama semusim yang panjang dan menyenangkan di NBL Indonesia, setelah semua kejadian yang baik dan buruk, gw amat sangat mencintai pekerjaan gw sebagai liaison officer. Maju terus basket Indonesia!

(Tamat)

8 pemikiran pada ““Pemain yang Paling Banyak Makan dan Suasana Mencekam,” (Suka-Suka Liaison Officer NBL Indonesia 3/3-tamat)

  1. Seru banget ceritanya! Saya ngikutin dr seri 1-3,dan trnyata gak gampang ya jd LO. Harus byk sabar. Tp crita soal hobi makan paluing bikin ketawa kak! Crita2 lg donk kak,soal pengalamannya jd LO NBL.

  2. Asik dah jadi LO NBL Indonesia..tapi kerjanya cape banget kayaknya :D kalau pekerjaan di jadiin hobi asik juga..

    Cerita lebih bannyak lagi dong!! :D
    Asik ceritannya nih, yang gak w tau, jadi tau haha selain jago basket, jago makan juga haha

    Di tunggu cerita cerita berikutnya

  3. jangankan pemain, aku aja kalo pas ikut makan, makannya jg porsi kuli bangunan :p *semoga nggak dibaca ko itop
    kayanya aku tau nih mas LOnya :D

    @mas hay : yes! Brarti aku punya tandingan makan kalo nanti sandy pulang ke sby :))

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s