Bilamana Nama Sponsor Berubah Menjadi Nama Klub

Bayangkan bilamana nama-nama klub di NBL Indonesia menjadi: Britama Jakarta, Esia Jakarta, Dell Jakarta, Comfort Mobile Jakarta, Flexi Bandung, Nikko Steel Malang, Nuvo Surabaya, Satya Wacana Salatiga, dan Muba Hangtuah Sumatera Selatan. Stadium Jakarta gak termasuk karena namanya sudah lebih dulu merupakan nama sponsornya yaitu Stadium.

Britama adalah produk perbankan BRI, Esia dan Flexi adalah operator telepon seluler, Dell merek komputer, Comfort Mobile adalah merek induk salah sebuah telepon genggam, Nikko Steel adalah pabrik baja, Nuvo merek sabun, Satya Wacana adalah nama perguruan tinggi, dan Muba Hangtuah adalah nama kabupaten di Sumatera Selatan.

Mungkinkah hal tersebut terjadi?

Tarumatex, Hadtex, Panasia, Panasia Indosyntex, Garuda Panasia, Garuda Flexi

Koreksi jika keliru. Setahu gw, demikianlah nama-nama klub basket yang selalu mewakili satu kata yang tak pernah berubah, Bandung di ajang kompetisi bola basket tertinggi tanah air; Gabatama, Kobatama, IBL, dan NBL. Terkecuali kata “Garuda”, semuanya adalah nama merek. Tarumatex, Hadtex, Panasia, dan Panasia Indosyntex adalah merek/nama pabrik tekstil. Gak tahu pasti sih tentang Tarumatex, namun dari akhiran “tex” rasanya juga mewakili “tex“-tile.

Rasanya, sejak pergantian nama-nama dari Tarumatex hingga Garuda, tak ada atau mungkin sedikit yang komplain. Garuda adalah nama pertama dari klub Bandung ini yang tidak terkait dengan sebuah merek atau usaha apapun, dan ini menyenangkan :D Akhirnya klub basket Bandung memiliki identitas independennya sendiri. Persis seperti CLS Knights, Bimasakti, Indonesia Muda, Staria Muda, Pelita Jaya, dll.

Klub lain yang “bermerek”

Apakah klub asal Bandung itu saja yang mengalami hal tersebut. Tidak juga. Tengoklah Asaba Jakarta. Asaba? Yup, Asaba adalah nama salah sebuah perusahaan (kalau nge-google sih perusahaan alat tulis dan stationery, kalau pas gw ke kantornya di Bandung, semacam perusahaan penyedia alat survey lapangan untuk kepentingan tambang dll) dan Asaba ini adalah juga salah satu tim yang berlaga di Kobatama dulu. Asaba mungkin gak begitu akrab. Tapi ketika Asaba berubah menjadi Aspac, tadaaa, semua langsung tahu.. Dan ingatkah juga bahwa Aspac sendiri adalah nama sebuah bank di masa lalu?

Itu saja? gak juga, ada pula Pelita Jaya. Sebelum kembali memakai nama Pelita Jaya, klub ini sempat bernama Kalila. Namanya sangat terdengar asing. Tetapi jika kita mau ngoprek-ngoprek sedikit mengenai nama-nama perusahaan energi di Indonesia, Kalila akan naik ke permukaan.

Balik lagi ke Tarumatex-Garuda Flexi..

Bagaimana jika Garuda Flexi berubah menjadi Flexi Bandung saja? Garudanya lenyap. Atau misalkan Nuvo Surabaya saja atau Nikko Steel Malang saja? Tentu sah-sah saja. Namun mengetahui bahwa nama baru tersebut adalah sebuah nama merek. Rasanya gak ridho. Gak rela.

Dulu barangkali fans menganggap hal tersebut biasa saja. Tetapi kini, fans (setidaknya gw laah) lebih sensitif. Nama sponsor yang langsung bergandengan dengan nama kota membuat gw merasa dimanfaatkan untuk kepentingan perusahaan tersebut. Merasa tertipu. Gw gak bisa membayangkan di dalam arena berteriak “Flexi! Flexi! Flexi!” atau “Ayo Nuvo! Go Nuvo!” Gw gak bisa membedakan apakah gw sedang mendukung tim kesayangan gw atau mengagung-agungkan merek tersebut.

*eh, kok mendadak ngomongin ini yak? Kepikiran aje dan bisa saja terjadi lhoo :D

Citra merek belum tentu nyambung dengan pencitraan diri fans

Di zaman pencitraan seperti sekarang, sebuah merek kerap memiliki citra tersendiri atau setidaknya ingin dipandang memiliki citra tertentu; macho, feminin, metroseksual, rebellious, geek, anak gaul, anak cerdas, mewah, eksklusif, sporty, dan lain-lain. Demikian pula orang yang juga memiliki karakter dan citra tertentu atau mencoba memiliki karakter dan citra tertentu tersebut. Orang-orang ini akhirnya pun mencari orang-orang seidentitas dengan karakter dan citra yang serupa untuk dijadikan teman, mencari tempat nongkrong yang sesuai, DAN produk-produk yang sesuai dengan citra dirinya.

Sering banget gw mendengar ada teman gw yang berkata “gw tuh Nike banget,” atau “gue gak bisa pakai pasta gigi lain selain Pepsodent,” (absurd tapi nyata!) Nah, begitu sebuah tim yang sangat dicintai mengganti nama menjadi merek yang berlawanan dengan “pencitraan diri” yang secara absurd dibangun oleh seseorang atau memang sudah menjadi karakternya, ada rasa kejengkelan tersendiri. “Gw pakai Indosat, ngapain gw teriak-teriak Flexi,” misalnya. Atau “Ih gw kan sebel banget sama iklan Nuvo, dan sekarang gw mengelu-elukan Nuvo!” Rasanya ada penolakan di dalam hati. Dilema :(

Itu belum termasuk bayangan buruk gw jika tiba-tiba salah sebuah tim mengganti namanya menjadi Sozis So Nice, atau Softex! Kebayang gak lu meneriakan merek-merek tersebut di dalam arena? Hiii.. amit.. amit.. :P

Seharusnya menjadi simbiosis mutualisme

Seamit-amitnya gw jika hal tersebut sampai terjadi. Kuasa korporasi dengan modal besar untuk melakukan hal tersebut sangat terbuka. Jika sebuah tim kesulitan dana lalu ada pihak lain membeli tim tersebut tanpa syarat dengan kebebasan mengganti nama tim, itu bisa terjadi. Jika sebuah tim mendapat sokongan dana sponsor sedemikian besar sehingga tercapai kesepakatan mengganti nama, pun bisa terjadi. Semuanya kan tak akan terjadi jika NBL memiliki aturan untuk supaya setiap tim memiliki nama yang independen. Tetapi rasanya NBL belum punya aturan tersebut.

Jika korporasi ingin mengganti nama sebuah tim menjadi nama merek hasil produksinya, atau merek produk tertentu, fans dan tim basket itu sendiri harus memahami mengapa keinginan tersebut dapat muncul. Perusahaan ingin kontribusinya dalam mensponsori sebuah tim (baca: beriklan dan promosi) berefek meningkatnya penjualan produk tersebut. Minimal, merek tersebut menempel di benak orang yang membacanya. Meningkatnya awareness.

Ketika mengatakan tim Garuda, kadang orang berlanjut mengatakan Garuda Flexi. Saat sedang membahas performa Aspac, merek Dell ikut berseliweran di kepala. Dan yang paling penting yang paling diharapkan sponsor adalah fans menggunakan produk sponsor tersebut. Fans CLS Knights mandi pakai Nuvo sebelum ke arena, fans Garuda mengajak pacar dan teman-temannya nonton di arena menggunakan telepon flexi, atau fans Aspac yang kesehariannya menggunakan komputer Dell, atau juga semua fans Satria Muda menabung di BRI, dan seterusnya.

Namun bila dengan cara demikian, awareness terhadap merek sponsor masih juga dirasa kurang. Sikat saja nama lama dengan nama baru sponsor. Jadi ketika tampil di media massa dan menjadi obrolan publik, yang diomongkan adalah langsung nama sponsor! Sekali pukul dua nyamuk mati! Bukan gak mungkin bila sponsor ujug-ujug punya pemikiran begitu!

Tim harus membantu sponsor membantu tim membantu basket..

Mengganti nama tim menjadi nama merek sponsor buat gw pribadi -saat ini akan sangat- menjengkelkan. Tetapi mengetahui bahwa tim tidak berbuat banyak agar sponsornya mendapatkan keuntungan lebih juga menyedihkan. Ini harus menjadi sebuah solusi menang-menang.

Solusi menang-menang dalam sudut pandang gw adalah, ketika sebuah merek akan mensponsori sebuah klub, nama merek tersebut hanya menempel di depan atau di belakang nama klub. Pemilik dan pemain klub mampu menjaga kesetiaan, dan fans tetap dapat membanggakan fanatismenya. Tetapi, ketika sebuah merek akan mensponsori klub, ia harus meminta kompensasi lebih. Menjadi bagian dari nama klub hanya salah satu. Sponsor juga harus meminta dan klub bersedia menyediakan hal-hal tambahan-tambahan lain dalam meningkatkan citra dan awareness merek tersebut di mata fans terlebih semua fans NBL bahkan masyarakat.

Bentuknya bisa macam-macam. Merchandise yang dijual atau gratis. Program-program klub kepada fans di luar pertandingan yang “disusupi” pesan sponsor. Klub menjadi wakli sponsor dalam mengenalkan produk dan memperkuat merek. Para pemain menjadi model, contoh, bahkan teladan sebagai pengguna yang mengakui keunggulan produk sponsor yang membawa fans ikut memakai, dan lain-lain, dan lain-lain. Interaksi sosial antara klub-sponsor-fans di zaman sekarang rasanya lebih kuat membentuk citra dan saling mengikat dibandingkan memaksakan agar nama merek menempel ke dalam benak publik dalam bentuk pemaksaan yang terlalu vulgar.

**nama sponsor menjadi nama klub cukup lazim. Di liga sepak bola nasional dan liga voli nasional, beberapa nama klub adalah nama/merek sponsornya.

8 pemikiran pada “Bilamana Nama Sponsor Berubah Menjadi Nama Klub

  1. cita – cita saya sih jersey pemain nbl bersih dari iklan kaya jersey nba.
    yang bisa memberikan nafas dari penjualan pernak pernik dari club tersebut.

    atau mungkin ada perusahaan dermawan yang mau memberi uang, tapa harus mencantumkan nama.

    jersey di design bagus” kok di kotorin sama tembelan seponsor

  2. Yup bener sekali, saat club butuh sponsor akan susah jika club tidak bener2 puya bargaining position yg baik. adalah contoh baik saat cls musim lalu dengan nuvo menyandingkan 2 brand/logo mereka sedimikian. sehingga terkesan sama/ setara hingga tidak ada yg menggaburkan nama tim (contoh garuda) saya hampir tidak dapat membaca tulisan garuda pada kostum pemain, kecuali sangat dekat. lalu bagaimana ini di siasati. satu tentu club harus puny bargaining position yg cukup tinggi. dua bisa saja pihak otorisasi(liga) dalam hal ini nbl menerbitkan aturan tentang penempatan nama sponsor yg jelas. mungkin tidak campur aduk dengan logo tim. tahun ini saya rasa sudah berjalan tetapi masih ada kok yang melanggarnya. nah semoga di tahun ke 2 itu bisa lebih tertata.

    NBL/DBL sudah bisa memberi contoh dalam membuat kesejajaran nama even dan sponsor kok kalau menurut saya.

  3. seandainya kalu nama merek dihilangkan juga bukan suatu keinginan fans…. karena jelas suatu tim bisa hidup karena sponsor (walaupun tidak 100%) yah…. pada akhirnya sebuah merk akan kembali menjadi tulang tulang rusuk yang melindungi kepentingan klub (organ2 tubuh)agar tetap bisa hidup dalam liga yang ketat, NBL semoga kedepannya bisa menentukan sikap dan membawa nama indonesia ke yang lebih baik….

  4. Salah satu liga bola basket yg cukup sukses di kawasan asean adalah PBL (Philippines Basketball League). Di PBL tim2 yang berlomba sudah menggunakan nama sponsor/perusahaan sebagai nama club sejak lama. Nama2 club seperti Coca Cola, Shell, Talk & Text, Santa Lucia realty, San Miguel dll adalah nama yg telah mendukung berkembangnya “industry” bola basket di Philippines dan menjadikan basket sebagai #1 sports do Philippines. Saya kita peran sponsor sangat penting bagi berkembangnya bolabasket. Ibaratny mobil, bisa dibilang sponsor dengan merk2 nya adalah bensin nya bola basket. Club dan pemain2 sebagai mesin-nya dan Perbasi atau NBL sebagai chasis dan body design nya. Kalo ini bisa terjadi dengan baik, Basket yg dari yg dulunya (duluuuu sekali) berasal dari “history dan fanatisme club” kemudian berkembang menjadi “sports entertainment” dan nantinya (mudah2 an) dapat benar2 menjadi “sports Industry” yang menciptakan lapangan kerja dan memajukan ekonomi serta prestasi bangsa dan negara ini. Mudah2 an.

  5. setuju sama yang diomongin clsknightsfan, kabanyak kan jersey yang dipakai pemain yang terlihat menonjol malah justru nama sponsor, seakan-akan klub milik sponsor, dan identitas nama mereka malah tenggelam, :(
    kayaknya belom ada pembuktian tentang sponsor yang dipakai klub dengan statsistik peningkatan penjualan, belum tentu seorang fans misal Garuda terpengaruh lalu beralih provider menjadi flexi gara-gara idolanya memiliki sponsor flexi? ataupun klub yang lainnya.
    jujur saja secara pribadi saya lebih suka nama Garuda Bandung saat masih IbL pada jersey peamain tanpa embel-embel “flexi” terkesan lebih menunjukkan jati diri mereka yang mempunyai pendukung fanatik di Bandung.
    seumpama pada akhirnya nama klub diganti atau diselingi embel-embel sponsor, ada baiknya nama sponsor yang mengusung jiwa sportifitas, jangan menggunakan sponsor rokok, karena citra dari rokok yang tidak mencerminkan segi sportifitas atau olahraga.

  6. memang benar sponsor adalah sesuatu yang penting untuk sebuah klub, tetapi saya tidak setuju jika sebuah klub benar-benar menggantungkan finansialnya kepada sponsor, tidak masalah kalau pemilik klub yang berposisi juga pemilik perusahaan yang akan memberikan sponsor, dan kenapa juga harus bercermin basket kita kepada sesama negara asia? sudah berapa lama klub-klub basket kita menggunakan nama sponsor?
    apa sudah bisa dibilang “sport Industry” ? apa klub-klub di NBA juga dulunya menggunakan nama sponsor sebagai nama klubnya? kalo dulunya klub di NBL mengunakan nama sponsor sebagai nama klubnya, baru akan saya dukung nama sponsor sebagai nama klub

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s