Bieber Fever-nya Udahan, Kagumnya Masih (Buku)

Nope, gw bukan Belieber atau apapun yang terkait dengan fans Justin Bieber. Lagu Justin Bieber yang gw tahu pun hanya dua. Kemasyhuran Justin Bieber yang tampaknya sedemikian cepat diraih membuat gw membeli buku “Justin Bieber, First Step 2 Forever, 100% Official”. Dan setelah selesai gw baca, rasanya ada beberapa yang sangat patut gw dan barangkali kita contoh. Ini di antaranya;

1. Justin Bieber adalah pekerja keras

Sukses dalam kurun tiga tahun dari nol besar rupanya bukan semata keberuntungan. Namun sangat banyak kerja kerasnya. Mulai dari ngamen, ketidakpastian akan mendapatkan kontrak kerja meskipun sudah bertemu produser, hingga 86 konser dalam waktu enam bulan dan dilakoni dengan naik bis keliling Amerika Serikat! Itu belum yang keliling dunia yaa.. :P

2. Memanfaatkan teknologi (youtube)

Ibunya sih memang yang melakukannya. Tapi bukan gak mungkin anak basket meniru ibunya Justin dengan membuat video aksi saat bermain basket. Siapa tahu ada tim NBL bahkan NBA yang melirik. *Jadi ingat Future MixTape :D

3. Disiplin dan rajin berlatih

Kalau ada yang menganggap suara Justin Bieber bagus dari sononya, ada benarnya. Tetapi terlepas dari itu, Justin latihan vokal dengan ekstra keras. Apalagi menghadapi masa puber di mana suaranya mulai pecah. Tak hanya berlatih vokal, ia juga patuh dan taat mengikuti gurunya untuk menjaga kondisi suaranya dengan tidak berteriak sembarangan, misalnya saat menonton hoki es atau basket. Hmm.. terdengar familiar; disiplin berlatih dan jaga kondisi :D

Meskipun bukunya terbilang ringan, pengalaman Justin Bieber sangat luar biasa dalam meraih sukses besar sekaligus justru masih berupa langkah awal untuk melewati perjalanan yang jauh lebih panjang lagi. Baca gih! :D

Iklan

Mari Seperti Atlet Profesional Ini, Tidur 12 Jam Sehari! (Infografik)

Para atlet profesional ini “gemar” tidur. Bukan karena kaya raya dan lalu jadi malas. Namun karena mereka menganggap tidur adalah salah satu hal penting dalam karir mereka. *sumber infografik gw sadur dari sini.

Infografik di bawah ini menunjukan kerugian-kerugian karena kurang tidur.

Infografik di bawah ini menunjukan waktu tidur beberapa atlet kelas dunia. Serta kiat memanfaatkan tidur untuk meningkatkan performa dan memenangkan laga! *Ada LeBron James dan Steve Nash

Gagan Rachmat Manajer Baru Garuda

Melalui press release yang dikirimkan oleh NBL Indonesia, Garuda Bandung mengangkat manajer baru menggantikan Simon Pasaribu. Gagan Rachmat yang pada musim perdana NBL Indonesia berperan sebagai power forward, kini memiliki peran penting baru sebagai manajer tim! Terima kasih kak Gagan atas pengabdian selama ini sebagai pemain kepada Garuda, sukses selalu sebagai manajer tim :D

“Kemungkinan Next Season Saya Tidak Akan di Garuda Bandung,” Agustinus ‘Aguy’ Sigar

It is that moment again :(

Perasaan dalam momen ini kembali berulang. Beberapa tahun yang lalu -sudah gak peduli juga tahun berapa- ketika TvOne sedang menyiarkan final Indonesian Basketball League (IBL) antara Aspac melawan Satria Muda, komentator yang tampil adalah Andy Batam yang sudah hijrah ke Pelita Jaya. Dalam salah satu komentarnya, Andy Batam mengatakan, “ya, kembalinya si anak hilang.” Kalimat tersebut merujuk kepada point guard Garuda kala itu, Kelly Purwanto yang dirumorkan akan hengkang dari Garuda Bandung. Kata-kata Andy Batam seolah sebuah penegasan bahwa Kelly memang akan kembali dan akhirnya ke Pelita Jaya.

Lalu, di tengah turnamen preseason 2010-2011, Denny Sumargo yang tidak tampil selama preseason di Malang (Juli 2010) menelepon gw untuk memberi kabar bahwa ia masih akan bermain untuk Garuda. “Tetapi..” lanjut Denny saat itu “sepertinya akan ada pemain lain yang keluar bro..” Gw sudah langsung bisa menebak dan tebekan gw benar. Sebelum seri pertama musim 2010-2011 dimulai, Garuda memastikan bahwa mereka menukar Mario Wuysang dengan Wendha Wijaya. Gw bahagia dengan bergabungnya Wendha, namun sekaligus sedih dengan cabutnya Mario Wuysang.

Rasa sedih ketika seorang pemain idola akan meninggalkan tim favorit Garuda Bandung hari ini kembali terjadi. Melalui akun twitternya, Agustinus Dapas Sigar atau yang akrab dipanggil Aguy menulis “Kemungkina besar nex season saya tidak akan bermain di garuda bandung lagi thaks for all your suport,gbu all.” Twit ini kemudian diulang oleh twitter resmi Garuda Bandung. Seolah menguatkan bahwa Aguy memang akan keluar dari Garuda. Sedih? Pasti.

Aguy adalah salah satu pemain kunci di Garuda. Selama musim perdana NBL Indonesia, Aguy mencetak 147 poin dari 25 kali tampil. Tidak terlalu banyak memang. Tidak lebih dari enam poin dari satu laga. Tetapi hal tersebut bisa dipahami mengingat selama musim perdana NBL Indonesia Aguy sepertinya sedikit sekali mendapatkan waktu bermain. Melihat ketajaman shootingnya, cukup mengherankan memang mengapa Aguy kerap hanya dimainkan sebentar saja. Padahal, setiap kali Aguy masuk sebagai pemain pengganti, penonton dan fans Garuda kerap bersorak riuh yang selalu dibalas Aguy dengan raihan poin-poin penting.

“Kenapa Aguy jarang dimainin yaa bang?” banyak yang bertanya demikian kepada gw. Tentu saja gw gak tahu jawabannya. Karena menurut gw dan banyak fans Garuda, Aguy adalah pemain hebat, hanya saja jarang dimainkan. Alasannya? Entahlah. Apakah gw setuju jika Aguy meninggalkan Garuda? Sebagai fan biasa, jelas gw gak setuju. Karena gw percaya ia hebat jika diberi kepercayaan lebih banyak. Tetapi tentu saja gw pun gak bisa banyak komentar karena Garuda lebih mengetahui mana yang terbaik untuk tim. Jika ditanya lagi, gw akan tetap menjawab gw gak setuju. Dua tahun terakhir gw merasa Aguy disia-siakan, jarang dimainkan mengingat potensinya yang ciamik. Jelas itu subyektifitas gw.

Momen tak terlupakan Aguy bersama Garuda

Aguy sering menjadi penyelamat Garuda. Penyelamatan Aguy yang terindah adalah ketika perebutan juara ketiga di Turnamen IBL 2009. Saat itu Garuda melawan Aspac. Jarang dimainkan selama babak penyisihan, Aguy mendapat kepercayaan dari coach Ebos di kuarter ketiga untuk bermain. Saat itu, Garuda tertinggal cukup jauh, belasan poin. Aguy menjawab kepercayaan tersebut dengan gemilang! Melalui beberapa tembakan tiga angka, Aguy mencetak 23 (atau 21 poin yaa?) dan membawa Garuda berbalik unggul dan akhirnya menang atas Aspac. Setelah unggul, Aguy ditarik lagi ke bench dan tidak dimainkan lagi. Ketika Garuda akhirnya berbalik unggul atas Aspac, Aguy tak mampu menekan kekesalannya karena jarang dimainkan. Ia membuka jerseynya dan meletakkannya di depan coach Ebos. Seusai laga tersebut gw memberi selamat dan sedikit berbincang-bincang dengan Aguy. It was a great victory even for a third place.

Jika Aguy benar-benar meninggalkan Garuda dan tak lagi membela tim ini di musim 2011-2012, tak ada kata-kata yang patut diucapkan oleh semua fans Garuda Bandung selain “terima kasih Aguy.”

Mungkin Gak Yaa, Kalau Kita Main “Total Basketball”?

Hari ini, seperti biasa gw main basket bersama teman-teman di SIS Dago. Sayangnya, hujan gak berhenti-berhenti dari siang hingga malam. Jadi yang datang sedikit sekali. Kami hanya bermain empat lawan empat, setengah lapangan :P

Konsekuensinya, biasanya saat main setengah lapangan, kemelut di bawah ring lebih sering terjadi. Sedikit sekali bermain terbuka (Sebenarnya bisa saja terjadi kebalikannya, tetapi secara kualitas permainan gw dan kawan-kawan yang cuman segitu, yaa begitulah yang terjadi). Gw bermain sebagai point guard merangkap shooting guard dan forward dengan tentu saja kemampuan yang ecek-ecek. The game and the play was fun. Saat gw menjadi point guard, ada rekan gw yang lain menjadi forward atau center. Saat gw sok-sok menjadi center dan posting berduel dengan lawan, suplai bola berasal dari rekan gw yang tadinya center dan sekarang menjadi point guard. “Menarik!” pikir gw ketika berusaha melakukan posting dan diblok dengan mudah oleh center lawan :D

Apanya yang menarik? Beberapa hari yang lalu ketika gw memuat tulisan Herdian Mohammad tentang Kiat-kiat Menjadi Point Guard yang Hebat, banyak yang bertanya dan bahkan meminta agar gw juga memuat kiat-kiat menjadi pemain hebat pada posisi lain. Alasannya, “saya bukan point guard mas.”

Tunggu sebentar..

Mari berjalan-jalan agak jauh, agak mundur di waktu lampau dan melenceng sedikit. Sepak bola pada tahun 1970-an. Ketika itu, klub Ajax Amsterdam, Belanda berinovasi dengan memberikan keleluasaan kepada para pemainnya untuk menjalankan apa pun peran yang ada di lapangan. Striker sesekali menjadi pemain belakang, pemain belakang melakukan penyerangan, dan ganti-gonta peran lainnya. Mereka menyebutnya “total football“!

Musim 1971-1972 dan 1972 dan 1973, Ajax tak pernah kalah di kandang dengan rekor 46 menang, 0 seri, 0 kalah. Dua musim berturut-turut! Tahun 1972, Ajax meraih lima gelar juara; Netherlands National League, KNVB Cup, European Cup, European Super Cup dan Intercontinental Cup!

Hehee, mulai nangkep khayalan gw kan? :P

Gw pernah mengikuti beberapa development camp yang diadakan oleh DBL Indonesia yang bekerjasama baik dengan NBA maupun NBL Australia. Selama mendapat pelatihan dari para pebasket luar negeri tersebut, ada satu kesamaan yaitu, semua pemain (meskipun masih dalam taraf fundamental) dituntut untuk mampu menjalankan semua peran posisi dalam bermain basket; 1, point guard, 2, shooting guard, 3, small forward, 4, power forward, dan 5, center. Itu yang terjadi di development camp bersama bule :D

Tetapi, kerap kali beberapa anak Indonesia, yang memiliki tinggi di atas 180 cm buru-buru diklaim atau mengklaim bagus berposisi sebagai forward atau center. Dalam bermain santai pun, dengan kesadaran yang tinggi, teman-teman gw yang memiliki postur jangkung langsung berinisiatif melakukan permainan pos. Yang serius dengan mengikuti latihan di tim-tim lokal pun mulai mengasah kemampuan teknis hanya pada posisi tertentu. Hmm..

Gw jadi ingat hal lain lagi, ketika kerap mengintip Garuda latihan di era kepelatihan David Zamar, Wiwin yang biasanya berposisi center malah rutin berlatih tembakan tiga angka. Lalu, kala Mario Wuysang masih di Garuda bahkan hingga kini, ia kerap melakukan post play dalam beberapa kesempatan yang gw rasa gak semua point guard mampu melakukan hal tersebut. Puncaknya, waktu gw bermain basket bareng Corey Williams, dan mas Antonius Joko di DBL Arena saat Indonesia Development Camp. Corey Williams bertanya ke mas Joko “what is your position man?” Mas Joko menjawab “four.”

Four? Four? You mean four??” Corey tertawa meremehkan. Yup, kerasa banget Corey ketawa ngeremehin. Dia kemudian melanjutkan “I’m a point guard man.” Dengan postur yang lebih kekar dan sedikit lebih tinggi dari mas Joko, Corey Williams adalah seorang point guard. Corey tampak tak percaya dengan apa yang ia dengar dari mas Joko.

Obrolan tersebut terjadi dalam suasana kelakar yang seru, namun nempel banget di kepala gw. Nah pas main basket tadi kalimat ini lewat di kepala gw “Seharusnya, center-center atau setidaknya forward-forward di Indonesia punya kemampuan mengolah bola atau menembak sehebat point guard dan shooting guard di samping kemampuan melakukan serangan lewat post play. Jika itu dapat terjadi, mungkin, mungkin kita bisa main basket seperti Ajax Amsterdam di tahun 70-an. Total basketball!”

Ok, gak perlu dianggap serius. Barangkali ini hanya bisa diterapkan di gank main basket gw setiap Selasa di SIS Dago, profesional? Lain cerita :D *lagian, basket kan beda sama bola Dan. Hehee.. :P

“Pemain yang Paling Banyak Makan dan Suasana Mencekam,” (Suka-Suka Liaison Officer NBL Indonesia 3/3-tamat)

*sambungan dari Bagian 2/3

oleh: @diitoooo dan Kokok

Pernah dengar istilah “makanlah untuk hidup, bukan hidup untuk makan”? Mungkin istilah ini pas banget buat para pemain NBL Indonesia. Dan bagian ini adalah bagian favorit gw karena gak jarang gw dipaksa melongo melihat porsi makan mereka :))

Biasanya usai latihan atau tanding para tim ini minta diantar ke restoran atau rumah makan yang tersohor di kota pagelaran NBL. Wawasan kami tentang kuliner pun kadang berguna di sini, meskipun mereka punya tempat makan favorit sendiri. Kalau jadwal antar-jemput kita masih memungkinkan untuk mengantar makan, menunggui nya makan hingga selesai lalu mengembalikan mereka ke hotel adalah hal wajib, fardhu ‘ain (wajib!)! Kalau waktu kita gak memungkinkan ya harap maklum yah. Mengingat kewajiban utama kita adalah untuk antar-jemput latihan dan pertandingan.

Ga jarang gw dan teman-teman gw sesama LO ketiban rejeki ditraktir makan bareng sama mereka, cewek-cewek pasti pada ngiri nih. Siapa sih yg gak mau makan semeja bareng Kak Denny Sumargo, Kak Fadlan Minallah atau sama Kak Kelly Purwanto? Hehehe..

Ngelihat porsi makan mereka gak kalah serunya dengan aksi mereka di lapangan. Kak Sandy Febyansyakh contohnya. Seri IV Bali, usai CLS Knights tanding lawan Muba Hangtuah IM Sumatera Selatan, rombongan CLS Knights minta diantar makan di salah satu rumah makan siap saji yang terkenal. Umumnya anak-anak CLSK pesan satu porsi nasi dengan dua potong ayam goreng. Tetapi kak Sandy dengan postur kurusnya mampu melahap dua porsi nasi beserta empat potong ayam goreng!! *geleng-geleng* (mudah-mudahan kak Sandy gak baca, hehehe..)

Atau kak Ruslan dari Stadium Jakarta. Gw yakin rekan-rekannya di Stadium gak ada yang berani menandingi porsi makan doi. Bahkan Kalo diadu makan melawan kak Ratreza yang badannya lebih gede dari kak Ruslan pun, gw masih jagoin Kak Ruslan. Bayangin, pagi-pagi pas gw mau mengantar Stadium pulang ke bandara usai Championship Series, kak Ruslan turun paling akhir dari kamar menuju ruang Breakfast hotel. Pertama-tama dia ambil sepiring kecil roti, okelah buat appetizer. Roti disikat hingga habis, dia memilih omelet dengan dua butir telur. Selanjutnya, masih pemanasan rupanya! Dan ini pamungkas nya, sepiring besar dengan komposisi nasi segunung, mie goreng, sosis, dan sayur-sayuran hingga penuh. Belum lagi ada sepiring buah-buahan disampingnya. Gw bersama sang manajer, kak Tonny Puah sepakat memberi gelar Raja Makan untuk kak Ruslan! :D

Seri II di Bandung juga punya banyak cerita. Salah satunya pengalaman gw mengantar Pelita Jaya Jakarta makan malam. Mengingat itu hari Sabtu, Japanese Resto yang jadi pilihan makan malam rombongan ini sepertinya keder. Selain memang lagi ramai pengunjung, rombongan Pelita Jaya berjumlah 20 orang lebih hingga si resto pun penuh. Menurut gw sih wajar saja kalau pelayanannya agak lama, tetapi beda dong dengan pemain dan official Pelita Jaya yang baru saja beres bertanding. Mereka pasti amat sangat lapar, satu menu baru bisa disajikan 30-45 menit. Itu baru 1 menu, belum berpuluh-puluh menu yang sudah dipesan. Hingga resto ini pun masuk dalam catatan rekor kak Ronald Simanjuntak (Manajer PJ) sebagai resto dengan pelayanan terlama dan terlelet sedunia. Dan pada saat itu, baru kali itu juga gw melihat ada orang yang mampu melahap tiga porsi steak dan mash potatonya sekaligus! Yak tiga porsi steak sekali makan! Dialah kak Andy Batam. Gw bergumam dalam hati, “orang-orang ini emang lapar, doyan atau
kesurupan yak? Atau mungkin kesal menunggu menunya gak keluar-keluar?
” Hahahaha.. au ah, gelap

Kali lain, giliran antar CLS Knights makan siang usai latihan di Sritex Arena, Solo. CLSK minta diantar makan siang bakso di bilangan Widuran atas rekomendasi dari kak Rachmad Febri Utomo yang memang asli Solo dan pakarnya kuliner di Solo. Sialnya, kak Febri gak ikut rombongan dalam bus, dia membawa mobil sendiri dan hanya memberi petunjuk jalan menuju rumah makan. Mengingat LO dan supir busnya diimpor dari Surabaya, otomatis hanya jalan menuju Hotel dan arenalah yang dihapal. Beruntung tadi diberi petunjuk jalan oleh kak Febri, maka sampailah kita di rumah makan tersebut dan para pemain pun langsung makan. Selesai makan, kak Febri pamit terlebih dahulu, mau ambil sepatu di rumah katanya. Saatnya rombongan CLSK pulang ke hotel, dan gw lupa nanya jalan pulang ke hotel kepada kak Febri. Berkat naluri dan intuisi gw sebagai LO, gw pun memandu pak supir bus, “lewat sini saja pak, nanti depan belok kiri,” ujar gw. “Yakin mas?” tanya pak supir.

“sudah, yakin saja pak sama saya,” pak supir pun menurut. Penumpang gw pun pada percaya saja ke gw yg sotoy ini, hingga tak lama kemudian jalan yang kami lalui lama kelamaan semakin mengecil. Alhasil kami nyasar di tengah-tengah pasar yang belakangan gw ketahui adalah Pasar Legi. Seisi bus pun lalu membahana menertawakan gw, “nah looooo.. LO nya nyasaarrrr.. hahaha,” teriak sang kapten, Agustinus Indrajaya. Lalu ditimpali kak Andrie Ekayana “yo mesti ae, lha wong LO ne wong Suroboyo guduk wong kene.. hahahaha,” (ya iyalaaaah.. LO-nya kan orang Surabaya, bukan orang sini) gw sama pak supir pun ikutan ketawa ngakak. Beruntung Solo hanya kota kecil, jadi senyasar-nyasarnya kami, masih tetap di Solo kok :))

Itulah kenapa bagian ini menjadi bagian favorit di cerita gw ini, belum lagi pas di Bali. Ketika tiba-tiba kak Rommy Chandra teriak kenceng banget minta busnya untuk menepi sebentar ketika melihat ada Indomart. Gw pikir ada yang darurat sehingga Mas Bro (panggilan akrab gw ke kak Rommy Chandra) minta bisnya berhenti di sini. Gw sama pak supir pun menurutinya, hampir sebagian isi bus pun turun dan mulai menyerbu Indomart. Ternyata eh ternyata, perawakan tinggi besar seperti Mas Bro, dan badan ber-tato sangar milik Kak Kelly Purwanto atau postur gempal seperti Kak Koming cuma pengen beli es krim! Seperti Connello, Magnum atau es krim Moo di Indomart! Yang harusnya menurut gw jajanan es krim itu lebih pas buat anak-anak si Mas Bro :D

Itu tadi tugas sampingan gw sebagai LO, antar mereka makan. Yang mana tugas utama gw adalah untuk keperluan pertandingan, makanya dari awal gw bilang kegiatan mengantar mereka makan adalah “fardhu ‘ain” (wajib). Jikalau tidak mengganggu jadwal untuk keperluan pertandingan atau latihan, maka gw di-“sunnah“-kan memberi pelayanan mengantar makan. Seneng saja sih bisa lebih dekat dengan para pemain atau official di meja makan, mereka semua pribadi yg baik lho.

Kita kembali ke hal utama yaitu pertandingan. Setelah rangkaian di pagi hari tadi yaitu latihan, seluruh tim bersiap untuk melakoni pertandingan mereka di siang hari. Sebagai LO gw wajib mengingatkan kepada Official tim, jersey warna apa yang harus mereka gunakan dalam pertandingan nanti. Karena tidak ada sistem home and away seperti di sepakbola, maka tim yg namanya disebut pertama harus menggunakan jersey warna cerah dan tim lawan atau tim yang namanya disebut kedua harus mengenakan jersey berwarna gelap. Contoh : Satria Muda Jakarta vs Satya Wacana Angsapura Salatiga, maka Satria Muda mengenakan Jersey warna putih dan Satya Wacana memakai jersey warna biru. Hal ini wajib kita ingatkan agar tidak terjadi kesamaan warna jersey di lapangan antara kedua tim.

Selanjutnya, kami wajib membawa dan meyerahkan yang namanya rooster team berikut SLU kepada Headcoach atau asistennya. Apa itu rooster team? Rooster team ini adalah daftar nama pemain, pelatih, asisten pelatih, manajer dan utility yang akan berada di bench. SLU adalah singkatan dari Starting Line Up, yang artinya daftar lima pemain inti yang bermain sejak tip off. Biasanya rooster team dan SLU nya ini gw serahkan ke head coach atau asistennya di penginapan mereka sesaat sebelum berangkat bertanding ke arena.

Tiba di arena, gw wajib mengantar para pemain dan officialnya masuk ke locker room atau ruang ganti yang telah ditentukan. Selanjutnya, gw tinggal menanti rooster team dan SLU diisi oleh headcoach atau asistennya. Biasanya mereka menyerahkan rooster team lebih awal ke gw. Tapi, khusus SLU ini gw harus nunggu hingga mereka masuk lapangan dan para pemain pemanasan di lapangan. Sesuai peraturan FIBA, SLU harus diserahkan paling lambat 10
menit sebelum tip off. SLU ini sangat sakral bagi mereka, karena SLU ini bersifat rahasia yang meliputi taktik dan strategi tim mereka. Gw pun kudu amanah, begitu gw menerima SLU dari sang pelatih, harus buru-buru gw serahkan ke petugas meja pertandingan supaya rahasia timnya terjaga.

Selagi pertandingan bergulir, kalau gw harus menjemput tim yang akan bertanding selanjutnya maka gw harus segera berangkat. Atau kalau sudah gak ada jadwal jemput lagi maka gw bersama supir bus gw bisa istirahat. Biasanya sih gw memanfaatkannya untuk menonton pertandingan supaya gw bisa tahu, tim yang gw antar pulang nanti ini tim yang menang atau tim yang kalah. Supaya gw kudu siap-siap mental kalau ternyata yang gw antar pulang adalah tim yang kalah. Biasanya, suasana dalam bus ini cukup mecekam kalau mereka kalah. Kadang gak ada seorang pun yang bersuara, kadang ada juga sih yang cuek saja.

Ketika pertandingan berakhir, gw harus menyiapkan bus dulu di parkiran. Kalau busnya sudah siap maka gw harus buru-buru masuk ke arena guna mendampingi tim yang hendak gw antar pulang. Biasanya gw dimintai tolong sama kakak-kakak wartawan atau pemburu berita guna mengatur wawancara dengan salah satu pemain atau pelatih nya.

Selanjutnya adalah mengawal kedalam bus kalau semua pemain dan officialnya sudah siap. Nah, di bagian ini yang paling gak enak menurut gw. Kadang sebelum para pemain ini menuju lorong pintu keluar menuju bus, di situ sudah banyak fans yang berkumpul menunggu sekedar ingin foto bareng pemain idolanya dan meminta tanda tangannya. Kadang jumlahnya puluhan bahkan ratusan. Keder juga kan kalo mengawal para pemain sendirian, biasanya sih gw dibantu satuan security dari NBL. Sebelumnya gw tanya dulu sama manajer, apakah pemainnya diizinkan menemui fansnya atau gak. Kalau memang diizinkan oleh manajer atau si pemain memang mau menemui dan melayani serbuan fansnya ya gw cuma mengawasi keamanan mereka saja. Jika tidak ada izin dari pak manajer, atau kalau si pemain sedang tidak dalam kondisi yang memungkinkan untuk menemui dan melayani penggemarnya, ya mohon maaf, bukannya gw mau menghalangi para fans untuk foto bareng pemain idolanya yaaa.. Gw hanya menjalankan tugas gw sebagai LO. Sering gw dimaki atau diteriaki oleh para fans gara-gara gak ngasih kesempatan untuk foto-foto.

Di balik semua itu, setelah apa yang gw alami selama semusim yang panjang dan menyenangkan di NBL Indonesia, setelah semua kejadian yang baik dan buruk, gw amat sangat mencintai pekerjaan gw sebagai liaison officer. Maju terus basket Indonesia!

(Tamat)

“Latihan Pagi, oh Latihan Pagi,” (Suka-Suka Liaison Officer NBL Indonesia 2/3)

*sambungan dari Bagian 1/3

oleh: @diitoooo dan Kokok

Jadi begini, di saat kalian masih pada tidur, kami sudah pada mandi sebelum subuh dan berangkat dari rumah menuju venue alias arena. Tanpa janjian pun kadang kita selalu berangkat bareng sama tukang sayur yang mau kulakan di pasar! Hahahaha. Jam 5 pagi kami sudah sampai di penginapan tim yang latihan paling awal. Karena latihan ini difasilitasi oleh NBL Indonesia, maka jadwal latihan seluruh tim kontestan selama musim kompetisi dikelola oleh NBL Indonesia. Latihan paling pagi biasanya dimulai jam 06:00 sampai jam 07:00, latihan tim kedua mulai jam 07:00 sampai jam 08:00, latihan tim ketiga dimulai jam 08:00 sampai jam 09:00 dan seterusnya, dan seterusnya.

Paling gak enak pas kebagian jemput latihan tim pertama, kita harus berangkat lebih awal lalu membangunkan pak manajer yang hendak dijemput. Kadang sungkan juga pas kita telepon ternyata mereka sudah siap duluan di lobby hotel. Syukurlah semua manajer tim di NBL ini baik hati dan enak diajak berkoordinasi. Menyapa & senyum (dalam keadaan seperti apapun) adalah hal yg harus kita berikan sebelum mereka naik Bus.

Berangkatlah LO beserta tim yang mendapat jatah latihan pertama. Sampai di arena, kami menyiapkan bola latihan dan memastikan air mineral untuk para pemain dan official sudah tersedia di lapangan. Lalu kita selalu nyamperin head coach dan memberi tahu durasi latihan, durasi latihan ini juga sangat penting untuk diperhatikan agar tidak mengganggu jam latihan tim lain. Di sinilah kecakapan berkomunikasi seorang LO diuji!

Pernah ada sedikit insiden kecil ketika latihan pagi di musim regular seri pertama di Surabaya. Waktu itu bus yang hendak menjemput tim pertama latihan mengalami kendala di jalan, karena terburu-buru bus salah ambil jalur di jalan yang sebenarnya gak boleh dilewati kendaraan besar di jam-jam tertentu. Kami distop oleh pak polisi! Kena tilang dong? Berkat modal berkomunikasi yang baik, pak polisi mau memaafkan dan mempersilahkan kami melanjutkan perjalanan dengan catatan tidak mengulangi kesalahan yang sama.

Waktu sudah terbuang kurang-lebih 15 menit, pak manajer yang timnya dapat jatah latihan pertama sudah panik. Misscall di hape gw sudah lebih dari 7 kali! (hehehe..) Ketika ada kejadian seperti itu kami dilarang ikutan panik. Yang harus kami lakukan adalah mencari solusi bagaimana agar durasi latihan seluruh tim tidak terganggu. Kami menggunakan beberapa solusi.

Pertama, kami koordinasikan dahulu kepada koordinator LO dan supervisornya. Lalu meminta maaf kepada para manajer dan menyampaikan dengan santun bahwa jadwal latihan tim mereka mundur 15 menit. Bayangin, betapa berharganya 15 menit itu dan betapa repotnya harus menghubungi 10 manajer tim itu satu persatu! Syukur-syukur kalo manajernya bisa ngertiin dan memaafkan kami, kalau gak? Habislah kami diomelin. Karena yang kami hadapi ini adalah tim profesional yang bermain di kasta tertinggi bola basket nasional, NBL Indonesia! Mereka sangat disiplin terhadap waktu dan dalam segala hal! Segalanya harus sempurna. Mereka punya timeline sendiri di timnya; jam berapa mereka harus bangun, jam berapa mereka harus sarapan, jam berapa mereka harus latihan, jam berapa mereka harus istirahat, jam berapa mereka harus siap bertanding dan sebagainya, dan sebagai nya. Maka sebagai LO pun kita harus TEPAT WAKTU alias OFF TIME!!

Kok off time sih, bukan on time? Istilah ini sering dipakai oleh divisi kami, kami selalu camkan kepada sesama teman LO. Kalau on time adalah tepat waktu, maka kami harus sampai sebelum waktu yang ditentukan :D Contoh, Pelita Jaya (salah satu tim idola gw, hehehe..) latihan jam 06:00 sampai dengan jam 07:00, otomatis harus berangkat dari penginapan 30 menit atau 1 jam sebelumnya, tergantung jarak tempuh dan waktu tempuh. Artinya jam 05:30 sudah berangkat ke arena, maka jam 05:00 gw dan shuttle bus sudah harus siap-sedia di penginapan Pelita jaya dari jam 05:00! Nah, dari situlah istilah off time itu muncul :))

Masih mengira pekerjaan ini adalah pekerjaan yang mudah dan menyenangkan? Hohoho, ini baru permulaan coy! Kembali ke cerita tentang latihan, usai mengantar tim yang mendapat jadwal pertama latihan dan memastikan bola latihan beserta air mineral tersedia plus mengingatkan durasi latihan ke head coach-nya, gw bersama shuttle bus langsung cabut untuk menjemput tim yang akan latihan berikutnya yaitu tim kelima. Tim yang mendapat jatah latihan kedua, ketiga dan keempat sudah ada yang menangani yaitu teman-teman gw, Si LO 2, LO 3 dan LO 4. Nah, lalu tim yang mendapat jatah latihan pertama tadi siapa yangg mengantar pulang usai latihan? Biasanya LO 2 inilah yang mengantar pulang tim yang latihan pertama. LO 3 mengantar pulang tim yang mendapat jatah latihan ke 2, LO 4 mengantar pulang tim yang latihan ke 3 dan seterusnya, dan seterusnya sampe kesepuluh tim beres latihan. Enak dong LO 1, jam latihan tim kelima kan masih lama? Nah, disinilah kesempatan para LO dan driver serta kondektur shuttle bus untuk istirahat dan makan sebelum kembali riwa-riwi antar jemput tim yang latihan ke 5, 6, 7, 8, 9 dan 10.

Begitulah kira-kira aktivitas LO, itu baru latihan loh! Belum antar jemput untuk pertandingan! Intinya, kami ini tua di jalan dan hidup di atas roda selama musim kompetisi bergulir hehehe. Beruntung setiap hari cuma ada tiga pertandingan, maksimal empat pertandingan. Artinya tiap hari ada enam tim yang bertanding (maksimal delapan tim jika ada empat pertandingan) Bisa tolong dibayangin kalau ada lima pertandingan dalam sehari?? :P

Jangan terlalu serius ngebayanginnya. Soalnya, gak mungkin juga kok ada lima pertandingan dalam satu hari. Waktunya ga akan cukup. Pertandingan keempat saja baru mulai jam 20:00, selesai nya juga kurang-lebih jam 22:00.

Oh ya, latihan ini digelar di tempat pertandingan guna seluruh tim dapat beradaptasi dengan lapangan pertandingan dan merasakan atmosfir lapangan itu sendiri. Terkadang gak selalu juga di tempat pertandingan karena alasan waktu yang tidak memungkinkan. Maka latihan di lapangan lain untuk tim yang tidak bertanding di hari itu adalah solusi nya. Lokasinya otomatis agak jauh dari tempat pertandingan, inilah yang terkadang membuat kami sebagai LO ngerasa keder. Kalau lokasinya jauh banget, waktu tempuh untuk jemput tim yang lainpun akhirnya harus dipikirkan. “Lama banget sih mas, jemputnya? Kita sudah pada laper nih!” kalimat ini sering mampir di telinga kami kalau terlambat menjemput. Nah, kalau kalimat itu sudah terceplos, kami kudu sabar, tenang, tarik nafas dalam-dalam, dan senyuuummmm. Bagaimanapun mereka adalah “raja” bagi kami :D

(bersambung)