Nyawa Sangat Berharga, dan Tentu Ada Harganya :)

Kemarin, gw tengah berkendara menuju lapangan basket untuk main di jadwal rutin setiap Selasa petang di SIS Dago. Melewati Balubur, telepon gw berdering. Inilah kewajiban kontemporer yang sulit dihindari walau jelas-jelas katanya sangat berbahaya, mengangkat telepon saat berkendara!

Suara dari seberang mampu menjadikan basket menjadi tidak penting saat itu. Salah seorang anggota keluarga masuk ICU (Intensive Care Unit) di salah sebuah rumah sakit karena serangan jantung. Tujuanpun berbalik arah 180 derajat.

Tiba di rumah sakit, anggota keluarga yang terserang jantung sedang mendapatkan analisa dari dokter. Setelah selesai, salah seorang dokter meminta kami berkumpul (kami datang bertiga, berempat dengan pasien).

“Bapak (hanya karena lebih tua yaa..) mendapat serangan jantung. Salah satu pembuluh darahnya tersumbat 100 persen dan harus dilakukan operasi secepatnya. Operasinya adalah pemasangan cincin… blah.. blah.. blah..” sang dokter menjelaskan tentang kondisi dan langkah-langkah yang harus segera mereka lakukan. “Harga satu cincin berkisar antara … sampai … juta (berpuluh-puluh juta!).” gluk.. :(

“Apakah keluarga bersedia agar dokter melakukan operasi? Kita berpacu dengan waktu..” ungkap sang dokter. Tik tok tik tok..

Stop!

Gw gak ingin terlihat naif. Namun pengalaman ini adalah pengalaman langsung. Ketika sang dokter mengatakan “..kita berpacu dengan waktu,” benak setan gw berontak “lah?! Terus lu nunggu apa lagi?! Nyawa pasien ada di tangan lu sekarang..”

Rasanya dokter tentu harus menanyakan hal tersebut Dan. Bagaimanapun, operasi tersebut adalah sebuah tindakan berisiko. Jadi sang dokter harus menanyakn dulu kepada keluarga bahwa tindakan berisiko mereka mendapat restu dari keluarga pasien.” benak malaikat gw coba menenangkan.

Tunggu, apakah ini semata masalah izin keluarga?

Begitu keluarga setuju operasi segera dilakukan. Sang dokter tampak lega dan sumringah. Dengan tersenyum, ia segera menelepon dokter lainnya dan memberi tahu bahwa keluarga telah memberikan izin.

Ini akan terdengar sinis, namun gw gak tahu apakah senyum dokter tersebut adalah senyum karena restu keluarga atau “yang satunya lagi” (baca: kesanggupan menanggung biaya). Atau barangkali keduanya..

Sebelum operasi dilaksanakan. Salah satu dokter yang akan melakukan operasi kembali memanggil kami bertiga. Dokter kemudian menjelaskan kembali apa yang tengah terjadi agar keluarga benar-benar mengerti. Lalu, dokter juga menjelaskan secara garis besar mengenai proses operasi yang akan segera dilakukan lengkap dengan risiko-risikonya, baik risiko kecil maupun risiko besar. Sesaat lagi operasi akan segera dilaksanakan.

Beberapa menit kemudian, seorang petugas rumah sakit menghampiri kami yang tengah menunggu dan mengabarkan bahwa tampaknya akan ada satu prosedur operasi atau mungkin pengobatan lagi yang harus dilakukan. “Apakah keluarga bersedia?” tanya petugas rumah sakit tersebut sambil menyodorkan secarik kertas yang di dalamnya tertulis nominal tambahan untuk proses tersebut. Hmm.. belasan juta lagi.

Menakjubkan mengetahui sejauh mana dunia medis dan kedokteran sudah berkembang. Ketika operasi telah mulai berjalan sekitar 15 menit. Kami bertiga dipanggil tim dokter untuk ke ruang operasi. Tepatnya di sebelah ruang operasi yang berbatas sekat kaca. Pasien yang tengah dioperasi tertutup oleh tirai hijau. Di dalam ruangan tersebut ada beberapa monitor televisi. Salah satunya menayangkan video kondisi jantung dan letak pembuluh darah yang tersumbat. Dan kami akhirnya mengetahui bahwa salah satu pembuluh memang tersumbat 100 persen. Luar biasa teknologi!

Setelah mendapatkan penjelasan, sang dokter meminta kami keluar dan mereka melanjutkan operasi. Operasi berlangsung kurang lebih dua jam. Pembuluh yang tersumbat berhasil ditembus lagi walau tentunya belum lancar 100 persen. “Harus dibantu dengan obat,” kata dokter. Sampai di sini, alhamdulillaah..

—–

Gw gak ingin terjebak kepada kekesalan betapa kejamnya rumah sakit karena lebih mementingkan biaya operasi dibandingkan nyawa manusia. Dan gw pun berharap semoga tulisan ini gak menggiring kita ke arah sana. Walau tentu saja sulit sekali untuk menghindari hal tersebut. Bukan hanya sulit, mengetahui dan mengalami hal ini memberi sedikit rasa muak bahkan mungkin kebencian.

Nilai-nilai kemanusiaan rasanya memang sudah mulai super tipis. Dan sekaratnya nilai ini sangat mudah sekali dijelaskan melalui nilai-nilai kapitalisme dan dagang. Gw sendiri yang rasanya dulu sangat berapi-api ketika mengetahui adanya ketidakadilan di sana-sini (melalui media massa dan pengalaman langsung) dipaksa menyerah dan menjadi kompromis. Selamat datang (kembali lagi) di dunia nyata.

Butuh modal (kapital) untuk menemukan sebuah teknologi. Butuh modal untuk mengembangkannya. Butuh modal untuk menyebarkannya. Butuh modal untuk menjalankannya. Butuh modal untuk menghidupi orang-orang yang berdedikasi di sana. Butuh modal untuk ini dan itu yang terkait dengannya. Jika tiba-tiba kau datang tanpa modal untuk “menikmatinya”. Silahkan berpikir lagi.

Sumpah dokter? Hippokrates?

:)

*Mencegah lebih baik dan lebih murah daripada mengobati. Benar, tapi lain cerita :D

7 pemikiran pada “Nyawa Sangat Berharga, dan Tentu Ada Harganya :)

  1. Turut bersimpati kang,sing enggal damang :)
    Memang masih banyak RS di Indonesia yg seperti itu,menunggu “persetujuan” keluarga,yg notabene adalah masalah biaya,saya pernah ngalamin kejadian ky gini,walaupun ga separah sodara kang idan yg kena serangan jantung,saya kecelakaan,di bawa ke RS,1jam lah di cicingkeun cuma luka luar yg di bersihkan pake alcohol *di imah ge bisa -__-* ,sampe ortu tiba di RS,baru ada penanganan serius,suntikan + rontgen,baru ketauan patah tulang…

  2. Gw mo ikutan nimbrung ,, kebetulan gw berkecimpung di dunia kesehatan

    Gini untuk melakukan tindakan medis seringan ato se”gawat” apapun emang harus minta persetujuan keluarga dalam hal ini kami menyebutnya “informed consent”
    Knp harus di lakukan ?
    1.Dalam melakukan tindakan medis banyak kemungkinan yang bisa terjadi jadi kami berkewajiban memberi tahu semua resiko yang bisa terjadi.
    2. Untuk melindungi dokter ato paramedis dri tuntutan hukum apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, selama tindakan medis tersebut sesuai dengan prosedur yang ada !

    Trus mengenai biaya operasi yang mahaL dan tidak terjangkau, kalo dalam kasus keluarganya kang idan, emang operasi pemasangan cincin emang mahaL, knp mahaL ? Alat bahan yang di pakai emang harganya segitu dan jasa dokternya percaya ato ngga ngga sampe 1/4 dri yang dibayar ( ngga etis sebenarnya ngomong biaya )

    Operasi tapi ngga punya duit bisa ngga ?? Jawabannya BISA,, caranya gmn ?? Yaa bisa pake ASKES ato JAMKESMAS yang emang di programin ama pemerintah jadi jangan pernah sepelein ASKES ato asuransi2 laennya

    Mengenai RS yang ngga ngelayanin sebelum panjar ato apalah namanya trus terang itu kebijakan dri jajaran direksi rumah sakit itu sendiri tanpa campur tangan dokter !! Kami hanya bertugas mengobati semampu dan semaksimal mungkin,,tapi ngga semua rs juga gtu !biasanya rs pemerintah ngga gtu karena mereka dapat subsidi dri pemerintah dengan jumlah tertentu secara kontinyu bandingkan dengan swasta ?? (Silahkan menyimpulkan sendiri) di tempat sy banyak pasien yang ngga mampu tapi tetap dapat pengobatan semaksimal mungkin !!

    Sekian

    GWS buat keluarganya kang idan

    1. Terima kasih Reza atas penjelasannya. Gw paham kok tentang apa yang kamu jelaskan. Makanya di atas gw menyebut beberapa kali tentang “modal” dan gak mau ngotot tentang hal ini karena gw pun setuju dengan apa yang kamu ungkapkan :D

      Gw hanya miris saja dengan prosedur yang kontroversial (setidaknya buat gw kontroversial..heheheee..) itu. Terlepas dari ongkos produksi dan jasa yang harus ditutupinya :)

      Oh, tentang asuransi, beruntunglah yang memilikinya :D

  3. Kang idan kt emang ngga bisa apa2 ,, kt di “paksa” menerima keadaan seperti diatas,, trus terang gw sebenarnya sangat ngga setuju juga dengan prosedur kontoversi itu ,,karena bukan kalangan umum aja dokter pun pernah ada yang terganjal masalah itu

    Terlalu banyak yang mesti diperbaiki di negara ini

    Ngomongin basket lebih seru euy :))

  4. Masalah ini sudah berkali-kali menjadi bahan diskusi kami selama menjalani pendidikan dan masa bakti sebelum kami menjadi dokter. Betapa sistem pembiayaan kesehatan di negara kita ini sangat tidak mendukung sumpah hipocrates yg kami lafalkan saat dilantik. Bagaimana kami bisa memberikan terapi yg terbaik bila tak ada yg membayar? Kami dokter pun hanya manusia biasa, bukan Tuhan yg punya segala..percaya lah mas, bila ada px di depan kami yg sgt butuh pertolongan dan ia bisa mendapatkannya, kami tersenyum karena sumpah kami terlaksana. Tapi bila tidak, percaya lah, kami kepikiran terus menerus…

    Saya sangat mendambakan sistem pembiayaan kesehatan yg lepas dr punya uang atau tidak, punya asuransi atau tidak, yg penting pasien dtg, kami berusaha memberikan yg terbaik, urusan duit belakangan. Pernah nonton film dokumenternya Michael Moore soal sistem kesehatan nggak mas? Judulnya Sicko. Di situ saya terpana, ternyata sistem kesehatan Amerika yg selama ini saya jadikan model ideal (asuransi) sama saja dg punya uang atau tidak. Justru sistem terbaik dimiliki Inggris dan Prancis. Kanada bahkan jauh lbh baik dr Amerika. Pasien datang, kita tangani sebaik mungkin. Masalah duit? Ini dia sistem yg menurut saya sampai ini ideal: Dana kesehatan ditarik dr setiap warga negara (kayak pajak gitu), dan dana itu digunakan untuk siapa pun yg sakit. Saya kagum sekali, itu yg namanya sedikit yg menjadi bukit. Dan warganya pun selain membiayai dirinya, juga membantu orang lain…sekali dayung, 2 pulau terlampaui. Universal health care! Semoga Indonesia bisa melaksanakannya…

    Masalah informed consent (penjelasan dan permintaan persetujuan kepada pasien/keluarganya), itu adalah standar praktik kedokteran di seluruh dunia. Karena memang, kami sebagai dokter butuh menjelaskan dan pasien/keluarga jg butuh tahu. Sebagai perlindungan, kami butuh persetujuan. Sedang bagi pasien/keluarga, ini memberi pilihan bagi mereka. Ada bermacam-macam manusia di sana, informed consent adalah salah satu cara untuk menstandardkannya…

    1. hohoo.. Terima kasih ceritanya mas.. Semoga di tangan anak muda banyak sistem kelak membaik di negeri kita yaa.. Berharap aja dulu. Daripada masuk golongan sinis dan pesimis :P

  5. Believe it or not, kadang ada yg tidak mau kita tangani, dan dampaknya buruk sekali bila tanpa informed consent, ia balik menuntut dokternya karena menangani tanpa persetujuan…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s