NBL Indonesia Home and Away? (Menjawab Bung Toto Sudarsono)

Beberapa hari yang lalu di harian Kompas, bung Toto Sudarsono menyampaikan kritiknya mengenai penyelenggaraan NBL Indonesia 2010-2011 dalam tulisan yang ia beri judul “Dominasi Satria Muda Belum Berakhir“. Dari beberapa kritik yang disampaikan oleh bung Toto, ada satu atau kayaknya dua atau lebih lah yang rasanya gak sejalan dengan pemahaman saya :)

Berikut di antaranya..

Sejarahnya, Indonesia pernah memiliki kompetisi Gabatama tahun 1982-1984. Ketika itu saya masih menjadi pemain, kompetisi diikuti 10 klub terbaik dan berlangsung home and away (setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu)…” Demikian tulis bung Toto pada paragraf tujuh. Sepengetahuan saya, dari 10 tim yang mengikuti NBL Indonesia, hanya Satria Muda Jakarta, Garuda Bandung, Bimasakti Malang, dan CLS Knights Surabaya yang boleh dikatakan memiliki “home“. Home di sini bagi saya memiliki dua pengertian yaitu “home” wilayah dan “home” arena. Satria Muda, Bimasakti, dan CLS Knights masing-masing memiliki home wilayah dan arena. Sementara Garuda hanya memiliki home wilayah karena C-Tra Arena di Bandung bukanlah milik Garuda. Dan Muba Hangtuah Sumsel dan Angsapura Salatiga tidak “memiliki” home wilayah karena tak ada laga di tempat asal mereka selama NBL 2010-2011.

Jika laga home-away diberlakukan, maka sebuah pertanyaan timbul, “di manakah home dari Aspac, Citra Satria, Pelita Jaya, dan Stadium di Jakarta?” Empat tim tersebut memang mewakili Jakarta sebagai home-nya. Tetapi keempatnya tidak memiliki home arena. Jika Hall A Senayan adalah home bersama, maka tak akan ada pula yang namanya laga home-away, karena berubah menjadi home-home. Akhirnya, hal tersebut tak akan berbeda dengan penyelenggaraan away-away :D

Menurut saya, salah satu alasan logis mengapa NBL Indonesia diselenggarakan dengan sistem seri (series) adalah efisiensi biaya alias hemat. Liga basket kita belum sekaya itu. Baik itu tim maupun penyelenggaranya. Mengumpulkan beberapa pertandingan dalam satu waktu (seri) baik saat musim reguler dan championship (play off) jauh lebih hemat. Beberapa tim NBL mungkin mampu menjalani sistem home-away dari segi finansial. Tetapi rasanya ada beberapa tim yang belum begitu kuat. Belum lagi tentu saja kembali ke masalah sarana “home” tadi.

1 laga, sponsor, dan keberuntungan CLS Knights

Kembalikan sistem kompetisi NBL ke best of 3 atau best of 5 di play off, itu yang paling adil…” lanjut bung Toto di awal paragraf sembilan. Saya sedikiiiittt setuju tentang laga best of 3 atau 5. Bagi saya pribadi, laga tersebut membuat “deg-degan” penonton lebih panjang. Namun jika dikatakan “paling adil”, rasanya 1 laga pun cukup adil. Barangkali tim yang kalah akan merasa dirugikan karena masih berandai-andai jika ada game 2 atau 3 barangkali keadaan akan berbeda. Tapi coba tanyakan kepada tim yang memenangkan laga, mungkin 1 laga sangat-sangat memuaskan :D

Potongan kalimat paragraf sembilan kemudian dilanjutkan oleh bung Toto dengan “Dengan demikian, tim yang memiliki peringkat terbaik di reguler mendapatkan keuntungan. Sponsor klub jauh lebih diuntungkan dengan mendapatkan exposure liputan media cetak dan TV lebih banyak. Sebagai contoh, CLS Surabaya tidak hanya diuntungkan sebagai tuan rumah, tetapi dari liputan media TV. CLS Surabaya mendapatkan empat kali tayangan TV. Sementara tim lain satu atau dua kali (itu pun di semifinal dan final).” Menurut saya, tim yang memiliki peringkat terbaik di reguler telah diuntungkan dengan menghadapi lawan jauh dari kutub yang berlawanan dari posisinya. Posisi 1 bertemu posisi 8. Secara statistik maupun mental, rasanya ini sudah cukup menguntungkan.

Lalu “Sponsor klub jauh lebih diuntungkan dengan mendapatkan exposure liputan media cetak dan TV lebih banyak..” Bagi saya, tanpa adanya liputan tv atau media yang lebih banyak atau panjang, para sponsor sudah pasti diuntungkan. Mengapa? Karena sejak awal mereka telah menyetujui sebuah kesepakatan win-win solution tentang apa yang mereka berikan kepada penyelenggara dan apa yang mereka dapatkan dari penyelenggara. Saya yakin dalam kalkulasi sponsor, mereka sudah beruntung dengan waktu dan keuntungan yang mereka dapatkan (yang sudah berjalan) dengan memberikan dukungan dalam berbagai bentuk kepada penyelenggara.

Benarkah CLS Knights diuntungkan sebagai tuan rumah seperti kalimat bung Toto “CLS Surabaya tidak hanya diuntungkan sebagai tuan rumah,”? Jika melihat perjalanan musim 2010-2011, CLS Knights belumlah menjadi sebuah tim yang memiliki keistimewaan karena bermain di rumah. Dan mereka bukan tim jago rumah. Sekali lagi, Pelita Jaya pernah mengalahkan CLS Knights di Surabaya, dan CLS Knights mengalahkan Pelita Jaya di Solo. Jangan lupa juga, Satria Muda mengalahkan CLS Knights di rumahnya (Surabaya) di seri 1 dan juga di final. Dan yang paling penting menurut saya, CLS Knights “kebetulan” main di rumah. Mengapa? Karena lokasi seri championship sudah ditentukan sejak sebelum NBL 2010-2011 dimulai. Andai kata prestasi CLS Knights jeblok dan terpuruk di urutan 9 atau 10, laga ya akan tetap diadakan di Surabaya walau CLS Knights gak ikut.

Jika bung Toto mengetahui jadwal laga mana yang akan disiarkan televisi sejak awal, maka bung Toto gak akan mengatakan “CLS Surabaya mendapatkan empat kali tayangan TV. Sementara tim lain satu atau dua kali (itu pun di semifinal dan final).” Pada seri reguler, semua tim masing-masing mendapat jatah 1 kali masuk tv. Di Surabaya: CLS Knights vs Stadium. Di Bandung: Garuda vs Pelita Jaya. Di Solo: Citra Satria vs Angsapura. Di Bali: Bimasakti vs Muba. Di Jakarta: Aspac vs Satria Muda.

Tetapi lagi-lagi, CLS Knights mendapat ekspos yang lebih hanya karena kebetulan semata. Sejak awal, NBL Indonesia yang bekerja sama dengan ANTV berkomitmen akan menyiarkan laga play off antara posisi 4 vs 5, semifinal 1 (antara pemenang 1 vs 8 X 4 vs 5), dan final dengan asumsi bahwa tiga laga tersebut adalah yang paling seru. CLS Knights berhasil duduk di posisi 4 klasemen akhir, masuk semifinal dan final. Bayangkan jika CLS Knights berada di posisi 2 atau 3, maka pasti bukan CLS Knights yang akan sering muncul di tv. Sekali lagi karena spot tersebut telah diatur sejak awal musim. Bukan disengaja demi keuntungan CLS Knights yang bermain di rumah.

Penutup..

Tulisan ini saya buat biar seru saja :D Karena menurut saya, beberapa tulisan bung Toto memang berkebalikan dengan apa yang saya tahu. Tentu saja, jika kawan-kawan pun merasa tulisan saya ngaco. Komentar pedas selalu terbuka melalui kolom comment/komentar di bawah tulisan ini :D

33 pemikiran pada “NBL Indonesia Home and Away? (Menjawab Bung Toto Sudarsono)

  1. klo kata sya c bang g masalah tu HOME – HOME coz saya kecewa bgt buat penyelenggaraan NBL musim ini. Play Off jauh bgt di Sby kan sya g bisa nonton live bisanya kan di JKT. dah gtu yg membuat sya paling heran masak Play OFF cuma sekali tanding??????? g bisa bles dendam bang klo gtu g asik.

    Saran : Pilih TV Partner yang bener gtu yang bener2 cinta basket bgt. masak laga penting j yg disiarin cuma 3 laga.g banget!!!!!!!

  2. Bagi saya, NBL Indonesia sukses memunculkan Ide-Ide baru yang tidak menguntungkan 1 pihak saja.. tapi Menguntungkan semua Pihak (10 tim yg berlaga)… dengan sistem turnamen di Championship series, setidaknya lebih memberikan kesempaatan bagi tim-tim papan bawa untuk memberikan kejutan.

    Berbeda dengan IBL lalu, dengan sistem best of 3 / 5 ..sangat kecil sekali peluang2 dari tim papan bawah untuk membuat kejutan.

    Untuk Masalah Rookie, di Era IBL(di tulisan Kang Idan ngak ada, tapi di Tulisan Kang Toto ada tuh).. Sistem Rookie yg pernah di gunakan bagi gw, Sistem yang paling hancur!! Klub-klub berbondong2 menitipkan Pemainn2 juniornya, bukan hanya klub-klub kecil saja, klub besar malah mendominasi!!.. Taun kan Dodo (SM) di PICK di urutan ke (3 atau ke 4 kalo tidak salah)di tahun 2005 atau 2006 deh . Pdahal dia bisa di Pick di urutan Pertama dan di Pick oleh tim-tim kecil. Saat itu, Media meng-ekspos bahwa SM mendapatkan Hak draft urutan ke-4 dari salah satu tim kecil (lupa Gw). tapi bagi gw itu belum tentu benar !!! <– Bagi Aku, Sistem Rookie di Indonesia tidak/belum layak. Di bawa liga profesional seperti PBL, LIBAMA, atau apapun itu belum memiliki kompetisi yang sehat.. mereka mau dapat jam terbang dari mana ??? Selain itu, Sekarang, di Level Libama Saja banyak sekali pemain-pemain titipan… :D

    untuk permasalahan lain, Seperti Home-Away, Pemerataan 10 tim, dll deh.. itu harusnya di tanyakan kepada pengelola Liga yg lalu…!! Pasti Bung Toto ngerti semua yg terjadi. Lah Wong sampean Komentator handal kok di setiap siaran IBL dulu… Gw binggung wacana ini kok baru ada sekarang. Dulu ngak pernah deh terdengar dari seorang Bung Toto..

    Yah, You now me So well lahhh..*lagunya SM*SH

  3. Kalo masalah play off, saya cukup setuju dgn bung toto tentang dikembalikan ke sistem best of 3 atau best of 5. Tapi klo tentang home and away, saya rasa itu cukup sulit, karena akan memakan biaya yg cukup banyka sdgkan liga ini baru bergulir satu musim saja. Kalo masalah home arena sih menurut saya ga masalah kalo memang harus home – home, contohnya Staples Center di LA itu kan kandang milik LA Lakers dan LA Clippers sekaligus.

    @tyar: Maaf sblmny ga bermaksud menyinggung org Jakarta. Tapi knp harus di Jakarta kalo di kota lain bisa jadi tmpt penyelenggaraan yg layak, bahkan lebih layak dari Jakarta? Apa krn sudah menganggap Jakarta adl pusat segalanya jadi semua harus dilangsungkan di sana? Anda bilang. Anda bilang “Play Off jauh bgt di Sby kan sya g bisa nonton live bisanya kan di JKT” menurut saya ya itu alasan anda saja, kalo memang niat nonton dan bener2 cinta basket, pasti bisa kok nonton Play Off di Surabaya. Buktinya kemarin ga sedikit pendukung SM, PJE, Garuda yang dtg langsung ke Surabaya buat ntn Championship.

    Kembali ke artikel bung Toto, saya jg merasa kok sepertinya artikel tersebut tidak akurat dan hanya mengambil kesimpulan dari apa yg terlihat sekilas, tpi tdk menganalisa secara mendalam, misalnya dengan bertanya langsung ke Commissioner NBL atau paling tidak org2 yg mengerti apa yg terjadi dalam NBL itu sendiri.

  4. Setuju banget ma Kang Idan..Netrall banget…Gak kyk Bung Toto yg terlalu mojokin CLS Knights..INGAT!
    Klub2 yg dulu berada dalam posisi bawah sekarang sudah menunjukkan “taring” nya..Kompetisi akan berjalan lebih seru..Saran saya cuman, tolong lah bisa lebi rundingan dengan pihak TV, agar jadwal TV di NBL dibanyakin..Rakyat Indonesia butuh tayangan Basket!!
    GO BASKET INDONESIA!

  5. this is new season, new competition… wajar kalau (katanya) masih banyak yang harus diperbaiki. tapi harus diakui dan diacungi jempol kalau NBL memberikan banyak kejutan dan perbaikan dari kompetisi terdahulu. seperti layaknya pemerintahan, penyelenggaraan NBL pasti tidak bisa memuaskan semua pihak. bagi pihak yang merasa dirugikan, pasti akan bilang NBL banyak kekurangannya dan sebaliknya. naahh… mungkin bung Toto ini salah satu yang merasa dirugikan (walaupun saya ga tau alasannya) :D

    tapi ya kalau semua ingin dipuaskan, saya yakin akan banyak kompetisi karena masing2 ingin membuat kompetisi yang menguntungkan diri sendiri. intinya ya kalau tidak bisa atau tidak memberikan kontribusi terhadap satu penyelenggaraan, dijalankan saja semua sesuai kesepakatan bersama. toh penyelenggaraan ini bukan hasil keputusan satu pihak saja. tidak semua saran harus diikuti lho… karena jika iya, penyelenggaraan bisa kacau balau ganti2 aturan terus. :)

    seiring waktu NBL pasti (saya sangat yakin) akan terus bertambah baik dan baik. tapi, itu akan terjadi jika semua mendukung kompetisi ini untuk terus baik. bukan hanya kritik, keluhan dan kemudian lari. :D

    @tyar: coba sekali2 nonton basket di luar kota deh, sama kok serunya dengan di Jakarta… :) justru rasa cinta pada sesuatu yang biasanya membuat kita rela mengorbankan beberapa hal untuk mendapatkannya. misalnya dengan bolos kuliah atau kerja demi ke Surabaya nonton Championship series :D

  6. Setuju banget kak Idan . Semua tentang CLS yg katanya diuntungkan itu adalah krn sirik belaka. Tp sorry to say , bukan hny Bung Toto yg berpikiran sprt itu . Setau gue salah satu manajemen GFB juga berpikiran seperti itu sesaat setelah kalah telak dr CLS , tertuang di tweetnya. Kalo ga salah soal lamanya break CLS , lebih drpd waktunya breaknya SMB . Coba sekarang dibalik deh ? Kalo GFB yg menang , atau PJE ? Mungkin ga sih si ‘Manajemen’ GFB ini berkoar2 kalo mereka diuntungkan? Nope.. :)

  7. Dbalik smua kekurangan penyelenggaraan NBL,hrsnya qta smua hrs bersyukur bahwa msh ada org spt Azrul Ananda yg emang bnr2 cinta basket & total dlm membangun kompetisi (yg ktnya) liga pro d Indonesia tanpa ada embel2 politik…
    Stuju bgt sm Christy klo g bs memuaskan smua pihak,g ada yg sempurna..y NBL msh musim perdana,kan ada evaluasinya mn yg msh krg n perlu dperbaiki. Qta yg emang cinta basket jgn cuma nyela aja,emang kontribusi qta jg uda sbsr apa?? Mgkn qta bs ksh mskn,tp usahakan yg objektif…
    Bwt Tyar,klo basket d Jkt trs jgn ngarep ada perubahan&perkembangan basket d Indo..aku bela2in loh bolos kerja bwt bs nntn Garuda vs Cls..sdh saatnya tmn2 d luar Jkt & Jawa dpuaskan jg dgn liat scr live..n mnrtku Azrul CS uda bs mengemas final dgn bgs,g kyk jaman d Britama Arena yg jls2 g ramah bwt tim tamu
    Anyway,thx bwt bang Idan yg konsisten ksh mskn n info bwt sluruh pencinta basket…..ttp smangat bwt bang Idan

  8. klo menurut saya, NBL kali ini sukses secara umum membuat tim2 basket lbh “semarak”. baik dr segi pemain,maupun pertandingan. tp klo masalh di siarin di tipi ga beda jauh ama beberapa tahun sebelumnya. ga ada media yg mau nyiarin banyk. jd rindu jaman bull (jordan) vs jazz (k.malone) waktu jaman SD dulu,di siarin rajin rcti lalu sctv, hiks.
    selanjutnya ttg final, dan lokasi. klo lokasi pertandingan seeh, home-away emang susah. seperti apa kata bung Idan di atas. klo mau home-away, ya tim2 NBL didukung dan disponsori dunk buat bikin kandang sendiri :D (walo ini aga utopia). klo menurut saya biar merata dulu ke wilayah2, promosi basket dan NBL nya. klo perlu jelajah dari sabang sampai merrauke sambil nunggu tiap tim punya “kandang”,hehehehe *agak lebay klo yg in*.
    pokoknya,kmi mendukung NBL maju terus,dan tetap tumbuhkn kritik2 dan saran dari pecinta basket. supaya manajemen NBL mendengar nya :)…salam olahraga *jadi inget kata2 ini klo bung Toto lg jadi komentator* :)

  9. kurang setuju dgn komentar tyar masalah kenapa harus di sby, nggak sedikit kok yg gw tau ada SM fanatics yg dari luar jawa :)

    setuju sama kak rony, dgn sistem gugur tim-tim papan bawah bisa bikin kejutan. jg nunjukin bgt tim papan atas yg kurang persiapan bisa aja lgsg kalah di game pertama.
    sepertinya nggak sedikit orang2 yg menantikan kejutan baru di NBL ini, mungkin orang udah tau siapa yg bakal menang tp gw yakin pasti ada yg nggak berharap tim unggulan tsb yg menang :)

    sangat tidak setuju dgn kata2 bung toto bahwa CLS sangat diuntungkan dgn penayangan TV.
    jadwal penayangan TV sudah dibuat sebelum tim-tim menempati peringkat2 tsb, jg krn CLS menang dan menang lagi hingga tembus ke final maka CLS dapet jatah tayang TV terus. kan juga belum pada tau kalo CLS bakal menang, kecuali Yang Diatas :)

  10. kang idan, sblmnya maap OOT, tapi gw berharap kang idan ngeliput DBL juga dong,(22 kota lho kang,hahahaha)
    byk lho atlit hebat dari dbl, cnthnya kyk yuni anggraeni jebolan dbl yg masuk timnas di umurnya yg masih 17 itu…
    :D

  11. cuman mau menulis fakta-fakta yg saya lihat.

    1. ada banyak fans yg datang dari luar surabaya untuk seri pamungkas ini loh. (@risa_aulia salah satunya, dari medan loh itu)
    2. pertama kali liga pro basket dengan sponsor non rokok (yg jelas2 bertentangan dengan olah raga itu sendiri)
    3. kalau mencari kekurang NBL (ada ribuan kok) apalagi kalau udah negatif minded.
    4. beberapa tim bahkan tidak punya homeground sendiri(udah di tulis kang Idan)
    5. ekspose tv masih kurang lah wong cuman berapa kali live.
    5. koran, apalagi yg memuat tulisan bung toto nulis berapakali coba?
    6. jika tim kita kalah apa aja bisa jadi alasan kok untuk menutupi kekalahan itu.
    7. saya fans cls tp tulisan ini saya tulis sebagai fans basket indonesia.

  12. Mungkin lebih ke masukan buat liputan TV. Rasanya ANTV gak memaksimalkan acara NBL buat pengiklan. Nah kalo masalahnya emang pengiklan yang berminat sedikit, saya nggak tahu. Tapi beberapa hal:

    1. Saat timeout mendingan di-cut ke iklan. Kita nggak perlu liat shooting camera ke bench liat pemain duduk dan pelatih2 nggambar play dll. Nggak banyak informasi yang didapet, kecuali komentator bisa liat play yang digambar dan bantu jelasin ke penonton apa yang diinstruksikan coach ke pemain. Tapi di jeda waktu ini, tergantung dari aturan berapa lama timeout (mungkin 1 menit), bisa dimasukin slot iklan.

    2. Halftime show..ya. Kayanya sekali lagi dipake buat iklan atau mungkin acara/klip2 promo NBL. Gw sendiri pribadi nggak tertarik di rumah liat halftime shownya. Atau kalau pake gaya TV coverage NBA, halftime bisa dibuat analisis game dan ngomongin perkembangan liga selama ini. Inget kalo coverage NBL itu sangat minim.

    3. Cara improvenya, harus ada koordinasi dari lapangan dan studio. Misalnya tim studio udah dikasih tau sama tim lapangan. Tim X mau timeout, langsung break iklan. Juga kalau udah main, langsung dicut lagi ke lapangan. Atau tim di lapangan tunggu instruksi tim TV, kalau udah ready baru main. Nggak kayak dulu stasiun TV ada yang nayangin NBA, abis iklan tiba-tiba udah shoot FT aja pemainnya. Padahal aslinya, coverage NBA itu selalu siap abis iklan sebelum pemain2 masuk.

    4. Komentator. Udah banyak yg komen rasanya, tapi kita yang nonton basket, dan publik umumnya yang mungkin jarang-jarang ntn basket perlu dapet informasi dan penjelasan soal permainannya. Kenapa wasit tiup ini, kenapa pemain ini main begini, kira2 decision pemain bagus apa nggak, dll.

  13. Saat membaca tulisan Kang Toto, saya agak terkejut, saya mengharapkan analisis mendalam dari Kang Toto seperti yg biasanya beliau berikan saat mengomentari (terus terang, menurut saya komentator pertandingan terbaik seIndonesia saat ini adalah beliau)yg ternyata tidak saya dapatkan di tulisan beliau. Tak apalah, NBL kali ini memang tidak sempurna, dan itu sudah dipaparkan oleh Azrul Ananda saat awal meracik NBL musim ini.

    Ibarat bayi, ini adalah baby steps yg harus ditempuh untuk mencapai kematangan. NBA saja dulu 30 tahun pertama sangat kepayahan dalam mencapai kemapanan, perjalanan itu selalu dimulai dengan satu langkah Jendral!!

    Mengenai jadwal yg padat, memang sistem seri memaksa tim2 untuk bekerja rodi. Tapi jgn salah, tim di NBA pun bisa bertanding 3 hari berturut-turut di 3 tempat berbeda (malah lebih berat tho). Seperti Phoenix Suns yg saat bertanding dg Lakers kalah 3 overtime, mereka selesai bertanding lewat tengah malam, langsung berangkat ke tempat pertandingan berikutnya untuk bertanding malam itu juga. Waks!! Tapi yg seperti itu, kalau kita bisa lebih baik, kenapa tidak :D

    Mengenai “beruntungnya” CLS, saya mengecam pihak2 yg sudah menyepakati dari awal kosep NBL tahun ini, tapi lalu menuduh2/menuding2 adanya permainan. Pengecut sekali..

    Mengenai pemerataan pemain dan sistem rookie draft, saya sebenarnya setuju, berkumpulnya pemain2 unggulan dan pemain2 muda dg prospek yg baik hanya pada beberapa tim saja sangat mematikan kompetisi yg ada. Tapi ternyata saat saya lihat statistik di NBA yg sudah menerapkan sistem itu, saya kaget. Di tahun 80-89an, 2 tim sangat mendominasi, Lakers 4x juara, Celtic 3x juara. Di tahun 90-99 malah lebih parah, Bulls juara 6x. NBL/IBL 11 tahun ini? Aspac 5x juara, SM 6x juara…see any similarities?

    Mengenai sistem gugur macam March Madness, menurut saya, ini lebih menarik. Jadi ini lebih ke selera kelihatannya. Tapi kalau memang maunya sistem gugur seperti sekarang, harus dicari cara agar tidak berat sebelah soal home/awaynya, atau malah ditaruh di tempat netral.

    Maaf mas kepanjangan nulisnya, topik yg menarik soalnya :D

    1. Home and away memang nggak cocok, karena infrastruktur aja susah. Belum lagi logistiknya.

      Sistem draft juga kayanya susah. Kalo NBA itu kan mayoritas pembinaan pemain ada di Liga Kampus NCAA. NCAA itu mulai dari Divisi 1A, Divisi 1, Divisi 2, dll. Perekrutan pemain ke Universitas aja udah dimulai dari sejak pemain-pemain SMP. Sebelum dilarang malah pemain-pemain lulus SMA bisa langsung ke NBA. Ini karena pembinaannya rapih.

      Di Indonesia ini ya mungkin lebih cocok sistem farm, divisi, atau tim junior. DBL yang ada sekarang udah bagus dan rapih sekali, tapi ada missing link dari DBL ke NBL yaitu di Perguruan Tinggi. Perlu ada jembatan dari student-athlete DBL ke professional NBL.

      1. Mirip seperti yang Azrul katakan dan cita-citakan. Tengahnya memang kosong (liga kampus). Kini pelajar (DBL) sudah boleh lah dikatakan mapan. Sekarang NBL sedang melangkah ke kemapanan. Kalau sudah ok dua-duanya, membangun liga kampus yang keren sepertinya lebih mudah :D

      2. Agak miris sih, klo ngedenger DBL udah bagus & rapih…
        dgn sistem gugur di DBL & waktu pertandingan kotor, ga cukup utk bisa membina pemain muda..
        apa sih yg bisa di dapat dgn sistem gugur, selain klo tim uda kalah, lo harus sabar nungguin taon depan lagi…
        yg peru diingat para pemain yg ada di DBL itu tunas bangsa, mereka perlu waktu untuk belajar dari kesalahan. klo harus nunggu taon depan keburu di makan umur (ingat, ank kls 3 uda ga boleh main lagi) padahal pemain SMA itu mencapai kematangannya pada saat kelas 3 (terlepas dari mereka uda mau ujian nasional)…
        di level DBL sebenarnya yang harus d tekankan adalah pembinaan, bukan gimana lo mengajarkan ank sekolahan klo mau ke sekolah musti naik motor matic..
        Piss..

      3. wah sorry, soalnya yang keliatan dan dipublikasi, liga DBL itu udah rapi organisasi dan penyelenggaranya. Kalau teknis pelaksanaan dan aturannya itu gw kurang tau.

        Soal anak kelas 3 ga boleh main, ya itulah sistem pendidikan kita. Satu taun itu rasanya dibuang sia-sia cuma buat tes ujian nasional. Dan kesannya olahraga itu cuma selingan, bagian luar dari proses “KBM” atau kegiatan belajar mengajar. Sampe pihak sekolah sadar kalo olahraga dan basket itu bagian integral dari program sekolah dan pendidikan, susah deh kalo mau maju.

        Dulu aja gw pas sekolah mesti bayar patungan pelatih basket dari luar.

  14. Menurut saya, jelas NBL jauh lebih keren dari sebelum sebelumnya, malahan lebih keren dari jaman saya masih megang NBL. Kenapa bisa begitu? Terlihat investment yang ditanam oleh Mas Azrul luar biasa, jauh melebihi pemasukan sponsor yang diterima

    Saya meyakini format yang diambil sekarang memang format yang diyakini menarik dan menghemat biaya walau dari dulu pun format home and away untuk regular season hampir mustahil untuk dilakuan karena ketidaksiapan tim, infra struktur maupun besarnya biaya yang ditimbulkan

    Waktu itu saya menyiasati dengan bermain di lebih banyak serie dan lebih banyak kota sehingga hari hari jenuh di tengah minggu bisa dihindari

    Soal best of 3 atau sudden death playoff bisa dilihat dari berbagai sudut, kalo best of 3 tentunya membuat tim yang lebih kuat lebih superior sedang sudden death playoff akan banyak melahirkan kejutan, jadi kita harus lihat efek tim yang mengalahkan dan dikalahkan, tidak pernah 100 persen bener d :)

    Kesimpulan akhir, IBL sebelum diganti NBL ibarat orang yang sudah di ICU, tinggal tunggu matinya saja, jadi kalo kita lihat sekarang NBL bisa bergairah kembali pasti sesuatu yang baik telah terjadi, He is back from death tapi jangan cepat puas dulu, menurut saya selain perlu orang orang seperti Mas Azrul, klub klub di NBL harus sadar diri, berbenahhhh, kalo gakkk ampunnnn d, klub seperti sm, aspac, garuda, cls, pelita bertanding buat menang dan juara sedangkan klub seperti muba hang tuah, stadium, bimasakti dan satya wacana dan citra satria bertanding buat apa yaaa???? hmmmm

    Saya berharap NBL nanti ditahun kedua akan lebih maju dan menjadi kebanggaan kita bersama, amin

    note- saya kok gak merasa ada yang diuntungkan dan dirugikan ya soal pengaturan jadwal dll, cukup fair, btw kalo cls diuntungkan knp cls banyakan kalah ya kalo main di dbl arena seperti kata Lolik, dbl arena bukan kandang nya cls, kandang cls itu kertajaya, hahaha ngakak dengernya :)

  15. Masalah menguntungkan CLS itu juga aneh yaa… Wacana itu sebenarnya kebanyakan hadir dari tim yang kalahkan CLS di Championship Series…

    Klasik sih, Penyelenggara dari Surabaya..di anggap semuanya menguntungkan tim Surabaya..!! berarti Boleh Donk Gw membuka sebuah Wacana..bahwa Dulu saat liga masih bernama IBL, dengan penyelenggara M*h*k* sangat menguntungkan SM. karena 1 perusahaan dengan SM. jadi 5x juara di IBL berkat keuntungan/bantuan ??

    Bagi Gw, tidak. Memang mereka layak Juara dan terbaik. Mereka sangat berkerja keras untuk mematahkan Dominasi Aspac dan Bhineka.

    Jadi, janganlah Kekalahan atau apapun itu di jadikan untuk mencari alasan kesalahan orang lain. Contoh: Salah satu Manajer Hebat di Klub NBL Indonesia Contoh yang sangat Buruk sekali. apa dia sadar, apa yang dia lakukan itulah penyebab kegagalan tim-nya.. :)

  16. Sangat menarik.. Menurut saya pribadi ttg laga home away, saat ini memang tidak memungkinkan krn kebanyakan tim NBL blom memiliki arena sendiri2.. Untuk laga championship sendiri saya lebih setuju apabila diadakan di tempat netral, misalnya jogja atau solo (yg memang ga punya wakil di NBL). Saya lihat di kedua kota ini sudah memiliki sarana dan prasarana yg cukup memadai, dan animo masyarakat thd olahraga basket pun cukup besar.

    Mengenai liga mahasiswa sendiri, akan saya bahas sedikit. Tidak mudah menciptakan liga mahasiswa di Indonesia, krn semakin banyak sistem pemain cabutan. Bahkan pernah terjadi di libamanas, ada wakil dr tim basket univ X yg pd kenyataannya universitasnya sudah tdk beroperasi. Pemain dr univ A tiba2 pindah ke univ B di tahun berikutnya. Beserta semua kejanggalan2 lainnya.
    Saya rasa belum semua universitas mendukung penuh program student-athlete. Saat ini, tdk dpt dipungkiri bahwa universitas2 yg mendukung penuh program tsb lah yg dapat berbicara di kancah nasional. Katakan saja ubaya dan perbanas yg memang berani memberikan beasiswa penuh utk atlet2nya. Tentunya anak2 sma akan memilih univ yg menguntungkan mereka (ibaratnya sudah bisa bermain basket, berprestasi, dibiayai juga pendidikannya). Dan sekarang dpt dilihat bahwa mayoritas pemain ubaya msk ke cls (setau saya memang ada kerjasama antara kedua pihak). Di daerah2 sendiri banyak pemain dgn talent yg luar biasa namun krg terekspos akibat tdk bisa mengikuti liga mahasiswa di kancah nasional. Semua kembali ke channel dan link tokoh2 basket di daerah tsb utk membawa atlet2 muda tsb ke liga profesional.

    Pd akhirnya semua akan kembali ke tujuan masing2 univ sbg institusi pendidikan, sebesar apa mereka berkomitmen menjadi sebuah univ yg mendukung student-athlete.
    Dgn semakin banyaknya univ yg berpartisipasi maka liga mahasiswa di Indonesia akan semakin semarak dan diharapkan dpt bermain fair.

  17. Secara agak objektif sih, saya bisa mengerti pendapat bung toto tentang sistem atau bentuk kompetisi seperti masalah pertandingan home/away, championship series/playoff, sistem sudden death dan best of 3/5. Karena ini memang masih musim pertama dari NBL, jadi masukan2 seperti itu sebenarnya cukup berguna sebagai referensi untuk mendapatkan bentuk kompetisi yang baik dan menguntungkan semua pihak.

    Tentang mslh yg menguntungkan CLS, sebenarnya pada saat musim ini baru dimulai, saya sudah merasa bahwa pasti nanti akan ada pernyataan2 semacam ini hanya dikarenakan penyelenggara yg sama2 berasal dari Surabaya. Menurut saya ya ini konyol. Krn seperti yg ditulis Mas Rony T. di atas, bisa aja dong kita bilang bahwa dominasi SMB di jaman IBL karena penyelenggara masih 1 perusahaan dgn SM. Pada kenyataannya toh CLS tdk se-diuntungkan spt yg dikatakan bung Toto. Pada reguler series, catatan head to head CLS – PJE itu 2-1 untk keunggulan PJE, begitu pun dgn catatan head to head dgn Garuda. Toh pada akhirny CLS yg bisa melangkah ke Final, itu berarti mereka lbh memiliki persiapan mental dan semangat untuk meraih hasil terbaik dalam tiap pertandingan. Yang saya tngkp dari tulisan bung Toto sih, sprtiny beliau tdk memperthitungkan kekuatan2 baru di NBL ini, sepertiny beliau beranggapan kalau peta kekuatan tdk akan berubah, kesannya malah seperti tidak up to date dgn perkembangan tim2 basket Indonesia. Rasanya saya kyk bisa dgr ada yg ngomong,’Ah CLS sih untung aja mereka main di Surabaya, coba maen di di Jakarta/Bali/Bandung/Solo mana bisa mereka menang’.

    Menurut saya sih jelas, CLS bisa ke final, SM bisa mempertahankan dominasi dan PJE bisa juara reguler, itu karena kerja keras manajemen, pelatih dan pemain. Jadi gak ada yg namanya tim X diuntungkan krn begini begini begini. Sukses diraih dengan kerja keras dan saya yakin semua tim sudah bekerja keras untuk meraihnya. SM pun meraih dominasi mereka saat ini sebagai hasil kerja keras.

    *maaf terlalu fokus ke mslh CLS-nya..*

  18. Kalau sistem home-away diberlakukan,maka sebagian besar pertandingan akan digelar di Jakarta karena 5 dari 10 tim NBL berasal dari kota tersebut. bagaimana mau membangkitkan animo penonton di daerah kalau sebagian besar pertandingannya digelar di Jakarta?

  19. Tantangan buat semua pihak..supaya lebih baik lg…dan yg terpenting konsekuen ama kesepakatan awal..jd kalau tim nya kalah itu harus legowo..introspeksi sendiri..dan mengakui persiapan tim lain yg lebih siap…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s