Merio dan Dino dan Randolph Akan Jadi Belati Stadium! (Bark and Bite You Underdogs!!)

“Garuda aja bisa kami kalahkan,” kata Randolph Ariestedes, forward Stadium Jakarta saat tanpa sengaja kami makan bareng di nasi pecel dekat GOR Bimasakti Malang. Di turnamen preseason tersebut, sebelumnya Stadium baru saja dengan mengejutkan mengalahkan Garuda Bandung yang ketika itu masih diperkuat Mario Wuysang. Stadium memukul Garuda dengan 72-60. Point guard Stadium, Merio Ferdiyansyah menjadi pencetak angka tertinggi dengan 15 poin.

Pada turnamen preseason, secara mengejutkan pula, Stadium lolos ke babak semifinal bersama CLS Knights Surabaya, Aspac Jakarta, dan Satria Muda Jakarta. Di semifinal, Stadium harus menghadapi CLS Knights. Sayang, Merio tidak mampu tampil maksimal karena mengalami patah jari tangan ketika laga tersebut. Stadium menyerah 68-50.

Meskipun kalah di semifinal, Stadium masih menyisakan satu pertandingan perebutan tempat ketiga melawan Aspac yang juga gagal ke final setelah takluk dari Satria Muda. Jika melihat sejarah pertemuan Aspac melawan Stadium, pertandingan ini tak akan memberikan banyak kejutan. Apalagi Stadium tampil tanpa Merio Ferdiyansyah. Keliru!

Stadium bermain ngotot dan enggan menyerah. Point guard pelapis, Chandra Nurhadi mengatur serangan Stadium dengan sangat apik. Ia tak hanya menggantikan posisi Merio sebagai play maker, tetapi juga sebagai pencetak angka. Dengan 13 angka, Chandra menjadi pengumpul angka terbanyak bagi Stadium saat itu dan mengalahkan Aspac dengan 54-51. Stadium mulai dianggap sebuah ancaman oleh tim-tim NBL lain.

Kekuatan misteri Merio, Dino, dan Randolph saat lawan Aspac!

Di Bandung, Stadium tidak berhasil mengalahkan Aspac (71-47), tetapi mampu mengalahkan Garuda dengan 48-43. Stadium masih merupakan ancaman. Di Solo, Stadium kembali menyerah tipis atas Aspac dengan selisih enam angka saja, 63-57. Dan akhirnya di Bali, Stadium roboh 48-70 dari Aspac.

Ketika hanya kalah enam angka dari Aspac di Solo, duet Dino Leonardo dan Merio Ferdiyansyah terasa tajam. Dino dan Merio bahkan masing-masing memasukan dua kali tembakan 3-angka! Dan total poin raihan keduanya adalah 29 poin! Setengah dari total angka Stadium saat itu. Namun di Bandung ketika Stadium kalah 24 angka, Merio dan Dino memble dengan Dino 1 poin dan Merio 9 poin. Begitu pula ketika di Bali saat kalah 22 poin, Dino hanya 4 poin dan Merio 5 poin! Padahal rata-rata poin Merio adalah 13,08 poin per laga, hanya kalah dari Ary Chandra (Pelita Jaya) dan Lolik (Garuda). Sementara Dino biasanya membukukan 7,8 poin per laga.

Artinya, pada dua kekalahan telak Stadium atas Aspac tersebut, Merio dan Dino tidak bermain sesuai dengan standar mereka! Atau bisa jadi, Aspac berhasil mematikan Merio dan Dino. Namun anehnya, ketika Merio dan Dino terkurung, Randolph Ariestedes justru berhasil bebas dengan selalu mencetak dua digit angka! Tada!! Hmm.. mari berpikir sejenak.. Hmm.. Hmm.. Entah jurus apa yang akan dikeluarkan coach Padang jika mengetahui statistik ini. Yang jelas, setiap kali Stadium melawan Aspac, Aspac hanya mampu menghentikan Merio dan Dino atau Randolph saja! Tak pernah mampu menghentikan ketiganya sekaligus! Dan tampaknya, dengan lebih berfokus dalam menghentikan Merio dan Dino, Aspac selalu menang besar!

Jika ternyata Merio, Dino, dan Randolph berhasil bermain lebih kompak lagi dengan mampu membaca fokus pertahanan Aspac, bukan tidak mungkin yang mungkin akan menjadi mungkin dan kejutan lain akan terjadi, Stadium akhirnya menang lagi! :D

*pssttt, jangan lupa senjata rahasia a.k.a. Ruslan!

The next game will be very interesting :D Good luck Stadium! Bark and bite!! HARD!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s