It’s Robert and Buggi Time! Let’s Go Muba Hangtuah!! (Bark and Bite You Underdogs!!!)

Buggi Setyawan!

Final IBL 2009 antara Aspac melawan Satria Muda berlangsung hebat. Pada pertemuan pertama, Aspac berhasil mengalahkan Satria Muda dengan skor 76-73. Ketika itu, Riko Hantono bermain gemilang bersama Xaverius, Pringgo, dan Rizky. Hebatnya lagi, kemenangan tersebut diraih di Britama Arena, sarang Satria Muda.

Pada game kedua, masih di Britama Arena, coach Tjetjep memainkan Buggi di kuarter pertama. Di luar dugaan, Buggi saat itu bermain sangat baik di kuarter pertama dengan mengejutkan Satria Muda melalui tembakan-tembakan jitunya. Kuarter pertama menjadi milik Satria Muda dengan skor 20-13. Setengah dari skor Aspac dicetak oleh Buggi Setyawan. Game kedua berakhir naas bagi Aspac, kalah cukup telak 60-43. Satria Muda pada akhirnya berhasil menjadi juara IBL 2009. IBL terakhir.

Penampilan Buggi di kuarter pertama di game dua final IBL 2009 merupakan salah satu penampilan paling mengesankan. Ia dengan lincah mencari ruang tembak, menerima bola, keker, tembak, dan ploosss.. nothing but the net! Walau ia hanya bermain sebentar, permainan tersebut mengesankan sekali. Teman-teman yang ikut menyaksikan laga tersebut rata-rata ingat bagaimana sangarnya Buggi saat itu.

Memasuki musim pertama NBL Indonesia, Buggi meninggalkan Aspac Jakarta dan bergabung dengan Muba Hangtuah Indonesia Muda Sumatera Selatan. Cukup mengejutkan. Namun yang menyenangkan, Buggi mendapat kepercayaan utuk melakukan apa yang biasa ia lakukan persis seperti ketika game kedua final IBL 2009 tersebut. Buggi masih tajam.

Pada musim reguler 2010-2011, Buggi bermain 26 kali. Gw gak ingat dalam laga yang mana ia absen. Dari semua 26 penampilan tersebut gaya Buggi selalu sama; cari tempat kosong, terima bola, tembak! Namun jangan sekali-sekali membiarkan daerah pertahanan terbuka, Buggi selalu sedia siap melakukan penetrasi dan melepaskan tembakan layup. Efektifitas tembakan Buggi hanya sekitar 1 berbanding 3. Rata-rata raihan Buggi perlaga sekitar 13 poin dengan total sebanyak 339 poin dari 26 laga. Sejajar dengan peraih angka terbanyak pada setiap tim yang rata-rata di atas 300 poin.

Keistimewaan Buggi adalah percaya diri yang tinggi. Setiap melepaskan tembakan, Buggi tak pernah terlihat ragu-ragu. Dan yang paling mengagumkan adalah kepercayaan yang diberikan oleh coach Nathaniel Canson. Setiap kali tembakan Buggi meleset, coach Nathan tak pernah memperlihatkan ekspresi kesal (hampir tak pernah sama sekali!). Ia tahu, itulah yang harus Buggi lakukan. Dan harus tetap dilakukan saat melawan Satria Muda di babak awal Championship Series nanti. Kepercayaan coach Nathan akan berbuah senyum jika akurasi tembakan Buggi semakin tajam. It’s gonna be another Buggi time!

Robert Yunarto!

Gw bilang pada Udjo Project P yang sangat suka dengan gaya permainan Steve Nash, “jika lu suka Steve Nash, maka lu harus lihat Robert Yunarto!” Akhirnya Udjo baru berkesempatan mengagumi Robert ketika Seri 5 Jakarta. Udjo geleng-geleng kepala menyaksikan aksi Robert saat itu. Ia terkagum-kagum.

Penampilan pertama Robert yang gw saksikan adalah ketika Muba Hangtuah melawan Satria Muda di Seri 1 Surabaya. Robert langsung mencuri perhatian pecinta NBL di Surabaya saat itu. Meskipun Muba kalah 59-71, Robert berhasil mencetak 8 poin, 5 assist, 7 rebound, 5 steal! Hmm…

Melawan Garuda Bandung adalah penampilan kedua Robert. Ia menggila, hanya keberuntungan kecil yang menyelamatkan muka Garuda saat itu (Garuda 61-58 Muba). Robert tak mampu dihentikan para pemain Garuda yang juga baru (kalau gak salah) pertama kali menghadapi Robert. Ia mencetak 15 poin (lebih tinggi dari pencetak angka tertinggi Garuda, Denny Sumargo, 12 poin), 7 rebound (tertinggi kedua setelah Dian Heriyadi, 8 rebound), 3 assist (tertinggi), 3 steal (sama dengan Denny Sumargo), dan 1 blok (yes, blok!).

Robert seketika menjadi salah satu point guard yang sangat ditakuti di NBL. Robert menjadi salah satu pemain yang harus dihentikan lawan. Semakin berusaha dihentikan, semakin cepat Robert bergerak. Dari 27 kali penampilannya, Robert mencetak 201 angka, dan 83 assist. Dalam rata-rata, Robert adalah pengumpul assist ketiga tertinggi di liga. Kekurangan Robert hanyalah 3,63 turn over per laga, terparah ketiga setelah Evin dan Hardianus (hanya 4 kali tampil dari 27 laga).

Let Robert, Dian and Buggi do the dance!

Buggi dan Robert menajamkan akurasi, sudah harus dan pasti! Robert mengurangi turn over, wajib! Sisanya, keindahan permainan Robert dan Buggi akan menjadi senjata ampuh Muba ketika melawan Satria Muda nanti. Robert kerap melakukan terobosan berbahaya ke pertahanan lawan memanfaatkan screening kawan yang membuka jalan. Pilihan Robert kerap kali ada tiga; menyelesaikan dengan layup, menyempurnakan pick and roll (ini cukup sering dilakukan Robert dan pemain Muba, biasanya antara Robert dan Dian Heriyadi), dan mengumpan kepada Buggi yang biasanya sudah siap dengan posisi tembak (kadang kala ada pula Tri Wilopo dan Ary Sapto)!

Gaya tersebut sangat tipikal Muba Hangtuah. Semua tim rasanya sudah hapal di luar kepala, termasuk Satria Muda. Dimainkan dengan berulang, permainan Muba terbaca. Tetapi jika dimainkan berulang dengan cepat dan dengan akurasi setajam silet, lawan akan frustasi!

Sisanya, Muba Hangtuah hanya cukup mengingat bahwa waktu “berdansa” adalah 4 x 10 menit. Biasanya, lawan (peringkat 5 ke atas) akan menunjukan grafik peningkatan performa di kuarter 3 dan 4 di mana sebaliknya, peringkat 5 ke bawah justru kedodoran pada kuarter tersebut. Good luck Muba! Bark and bite! HARD!

2 pemikiran pada “It’s Robert and Buggi Time! Let’s Go Muba Hangtuah!! (Bark and Bite You Underdogs!!!)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s