NBA 2011-2012 = IBL 2009-2010? Lockout Alias Berhenti Alias Mati

Apa yang terjadi pada Indonesian Basketball League (IBL) 2009-2010? Tidak ada. Yup, tak ada yang terjadi. Karena pada musim tersebut, 2009-2010, liga basket profesional kita tidak berjalan alias mati. Penyelenggara IBL tidak mampu melanjutkan liga dan memberitahukan kepada tim-tim peserta bahwa mereka mengundurkan diri. Apa penyebabnya? Sederhana, walau tak ada berita mengapa penyelenggara IBL mundur, dengan logika sederhana bisa terbaca bahwa masalahnya adalah duit, uang. Gak ada duit :(

Entah sejak kapan, yang pasti sejak mengenal Kobatama dan IBL, penyelenggaraan liga basket profesional kita mendapat sokongan besar dana untuk bergulir dari pihak sponsor. Liga bernafas melalui oksigen yang didapat dari tabung gas yang dipasok oleh sponsor. Pada musim 2008-2009, IBL bergulir tanpa sponsor. Nafas penyelenggaraan kembang-kempis dan akhirnya menulis “surat wasiat” mangkat di akhir 2009. Berharap pada penjualan tiket penonton? Tidak masuk akal.

Sumber nafas yang berbeda

Sumber oksigen NBA berbeda dengan IBL. NBA sangat mengandalkan pemasukan dari penjualan tiket untuk memastikan liganya tetap berjalan. Sponsor, penjualan pernak-pernik, dan hak siar televisi adalah bonus tambahan.

Tahun ini, Commissioner NBA, David J. Stern mengatakan bahwa NBA merugi sekitar 400 juta dollar! Dan tentunya merupakan hal buruk bagi NBA sebagai entitas bisnis penyelenggara liga basket. Agar tetap dapat bergulir di musim mendatang (2011-2012), Stern meminta kepada asosiasi pemain untuk menerima tawaran pemotongan pendapatan pemain hingga 30 persen.

Mengapa NBA bisa merugi sedemikian besar? Karena sumber oksigen utamanya, penjualan tiket nonton di arena menurun dan berimbas kerugian. Tidak semua tim memang. Namun sebagian besar tim mengalami “luka pendarahan” karena kerugian ini. Di sisi lain, tim harus membayar gaji-gaji pemain yang selangit. Jeleknya lagi, beberapa pemain dianggap menerima bayaran berlebih yang tidak sesuai dengan performa mereka di lapangan. Luka pendarahan harus segera dihentikan!

Mengapa penjualan tiket menurun alias tak banyak fans yang datang ke arena untuk nonton langsung? Banyak sebab. Antara lain, performa tim yang jarang menang, tak adanya pemain bintang (hijrahnya/berkumpulnya pemain bintang pada satu tim), atau laga dengan hasil yang mudah ditebak (terdengar akrab?).

Asosiasi pemain NBA menolak tawaran NBA untuk memotong pendapatan hingga 30 persen. Kini, banyak spekulasi mengenai apa yang akan terjadi. Umumnya berpendapat bahwa NBA benar-benar akan mengalami mati suri pada musim depan sehingga para pemain harus bersiap menghadapinya. Beberapa pemain senior seperti Jason Kidd, Steve Nash, dan Kevin Garnnet digosipkan akan mengundurkan diri.

Ancaman lockout memang datang dari NBA. Pemain NBA yang sudah mapan dengan penghasilan selangit mungkin akan sulit mendapati bahwa musim depan mereka harus bermain dengan pendapatan hanya sekitar 60 persen dari nilai di musim sebelumnya. Namun bagi NBA, untuk apa menjalankan sebuah tim dan juga liga yang merugi. Dari segi bisnis, pemilik tim adalah orang-orang tajir yang umumnya punya penghasilan lain selain bisnis tim NBA. Lockout alias berhenti sepertinya bukanlah masalah besar :P

*Oh yaa, batas akhir perjanjian antara NBA dan asosiasi pemain adalah 30 Juni. Jika hingga batas waktu tersebut tak tercapai kesepahaman, selamat tinggal NBA :)

Nyawa Sangat Berharga, dan Tentu Ada Harganya :)

Kemarin, gw tengah berkendara menuju lapangan basket untuk main di jadwal rutin setiap Selasa petang di SIS Dago. Melewati Balubur, telepon gw berdering. Inilah kewajiban kontemporer yang sulit dihindari walau jelas-jelas katanya sangat berbahaya, mengangkat telepon saat berkendara!

Suara dari seberang mampu menjadikan basket menjadi tidak penting saat itu. Salah seorang anggota keluarga masuk ICU (Intensive Care Unit) di salah sebuah rumah sakit karena serangan jantung. Tujuanpun berbalik arah 180 derajat.

Tiba di rumah sakit, anggota keluarga yang terserang jantung sedang mendapatkan analisa dari dokter. Setelah selesai, salah seorang dokter meminta kami berkumpul (kami datang bertiga, berempat dengan pasien).

“Bapak (hanya karena lebih tua yaa..) mendapat serangan jantung. Salah satu pembuluh darahnya tersumbat 100 persen dan harus dilakukan operasi secepatnya. Operasinya adalah pemasangan cincin… blah.. blah.. blah..” sang dokter menjelaskan tentang kondisi dan langkah-langkah yang harus segera mereka lakukan. “Harga satu cincin berkisar antara … sampai … juta (berpuluh-puluh juta!).” gluk.. :(

“Apakah keluarga bersedia agar dokter melakukan operasi? Kita berpacu dengan waktu..” ungkap sang dokter. Tik tok tik tok..

Stop!

Gw gak ingin terlihat naif. Namun pengalaman ini adalah pengalaman langsung. Ketika sang dokter mengatakan “..kita berpacu dengan waktu,” benak setan gw berontak “lah?! Terus lu nunggu apa lagi?! Nyawa pasien ada di tangan lu sekarang..”

Rasanya dokter tentu harus menanyakan hal tersebut Dan. Bagaimanapun, operasi tersebut adalah sebuah tindakan berisiko. Jadi sang dokter harus menanyakn dulu kepada keluarga bahwa tindakan berisiko mereka mendapat restu dari keluarga pasien.” benak malaikat gw coba menenangkan.

Tunggu, apakah ini semata masalah izin keluarga?

Begitu keluarga setuju operasi segera dilakukan. Sang dokter tampak lega dan sumringah. Dengan tersenyum, ia segera menelepon dokter lainnya dan memberi tahu bahwa keluarga telah memberikan izin.

Ini akan terdengar sinis, namun gw gak tahu apakah senyum dokter tersebut adalah senyum karena restu keluarga atau “yang satunya lagi” (baca: kesanggupan menanggung biaya). Atau barangkali keduanya..

Sebelum operasi dilaksanakan. Salah satu dokter yang akan melakukan operasi kembali memanggil kami bertiga. Dokter kemudian menjelaskan kembali apa yang tengah terjadi agar keluarga benar-benar mengerti. Lalu, dokter juga menjelaskan secara garis besar mengenai proses operasi yang akan segera dilakukan lengkap dengan risiko-risikonya, baik risiko kecil maupun risiko besar. Sesaat lagi operasi akan segera dilaksanakan.

Beberapa menit kemudian, seorang petugas rumah sakit menghampiri kami yang tengah menunggu dan mengabarkan bahwa tampaknya akan ada satu prosedur operasi atau mungkin pengobatan lagi yang harus dilakukan. “Apakah keluarga bersedia?” tanya petugas rumah sakit tersebut sambil menyodorkan secarik kertas yang di dalamnya tertulis nominal tambahan untuk proses tersebut. Hmm.. belasan juta lagi.

Menakjubkan mengetahui sejauh mana dunia medis dan kedokteran sudah berkembang. Ketika operasi telah mulai berjalan sekitar 15 menit. Kami bertiga dipanggil tim dokter untuk ke ruang operasi. Tepatnya di sebelah ruang operasi yang berbatas sekat kaca. Pasien yang tengah dioperasi tertutup oleh tirai hijau. Di dalam ruangan tersebut ada beberapa monitor televisi. Salah satunya menayangkan video kondisi jantung dan letak pembuluh darah yang tersumbat. Dan kami akhirnya mengetahui bahwa salah satu pembuluh memang tersumbat 100 persen. Luar biasa teknologi!

Setelah mendapatkan penjelasan, sang dokter meminta kami keluar dan mereka melanjutkan operasi. Operasi berlangsung kurang lebih dua jam. Pembuluh yang tersumbat berhasil ditembus lagi walau tentunya belum lancar 100 persen. “Harus dibantu dengan obat,” kata dokter. Sampai di sini, alhamdulillaah..

—–

Gw gak ingin terjebak kepada kekesalan betapa kejamnya rumah sakit karena lebih mementingkan biaya operasi dibandingkan nyawa manusia. Dan gw pun berharap semoga tulisan ini gak menggiring kita ke arah sana. Walau tentu saja sulit sekali untuk menghindari hal tersebut. Bukan hanya sulit, mengetahui dan mengalami hal ini memberi sedikit rasa muak bahkan mungkin kebencian.

Nilai-nilai kemanusiaan rasanya memang sudah mulai super tipis. Dan sekaratnya nilai ini sangat mudah sekali dijelaskan melalui nilai-nilai kapitalisme dan dagang. Gw sendiri yang rasanya dulu sangat berapi-api ketika mengetahui adanya ketidakadilan di sana-sini (melalui media massa dan pengalaman langsung) dipaksa menyerah dan menjadi kompromis. Selamat datang (kembali lagi) di dunia nyata.

Butuh modal (kapital) untuk menemukan sebuah teknologi. Butuh modal untuk mengembangkannya. Butuh modal untuk menyebarkannya. Butuh modal untuk menjalankannya. Butuh modal untuk menghidupi orang-orang yang berdedikasi di sana. Butuh modal untuk ini dan itu yang terkait dengannya. Jika tiba-tiba kau datang tanpa modal untuk “menikmatinya”. Silahkan berpikir lagi.

Sumpah dokter? Hippokrates?

:)

*Mencegah lebih baik dan lebih murah daripada mengobati. Benar, tapi lain cerita :D

Siapa Duduk di Kursi Dekat Pintu Darurat?

Pertanyaan tersebut sering banget ditanyakan oleh Azrul waktu seri 1 Surabaya NBL 2010-2011 lalu kepada para pemain NBL yang baru tiba di Surabaya. Awalnya gw gak begitu paham. Hingga pas balik ke Jakarta dari Surabaya, sebuah jawaban melintas :)

Waktu check in, kebetulan banget gw dapat kursi di deretan pintu darurat. Karena check in bareng para pemain Aspac, om Kim Hong (Manajer Aspac) menyamperi dan bilang “kursimu tukeran sama Anggi (center Aspac) yaa..” :D

Nemu tulisan ini pas lagi baca nba.com

As a point guard, you’ve got to catch that outlet pass, and in the time it takes to click the shutter of a camera, you’ve got to see where the other nine players are on the floor. Then your mind has to be working in terms of what lanes your teammates are going to fill, and who’s the best shooter and who finishes well. Then, when you get to the top of the key, you pretty much know in your mind — even though the defenders are trying to dictate what you do — what you want to do. When you’ve got a point guard with imagination and vision and the ability to create, basketball to the viewer almost becomes an art form.” Bob Cousy

NBL Indonesia Home and Away? (Menjawab Bung Toto Sudarsono)

Beberapa hari yang lalu di harian Kompas, bung Toto Sudarsono menyampaikan kritiknya mengenai penyelenggaraan NBL Indonesia 2010-2011 dalam tulisan yang ia beri judul “Dominasi Satria Muda Belum Berakhir“. Dari beberapa kritik yang disampaikan oleh bung Toto, ada satu atau kayaknya dua atau lebih lah yang rasanya gak sejalan dengan pemahaman saya :)

Berikut di antaranya..

Sejarahnya, Indonesia pernah memiliki kompetisi Gabatama tahun 1982-1984. Ketika itu saya masih menjadi pemain, kompetisi diikuti 10 klub terbaik dan berlangsung home and away (setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu)…” Demikian tulis bung Toto pada paragraf tujuh. Sepengetahuan saya, dari 10 tim yang mengikuti NBL Indonesia, hanya Satria Muda Jakarta, Garuda Bandung, Bimasakti Malang, dan CLS Knights Surabaya yang boleh dikatakan memiliki “home“. Home di sini bagi saya memiliki dua pengertian yaitu “home” wilayah dan “home” arena. Satria Muda, Bimasakti, dan CLS Knights masing-masing memiliki home wilayah dan arena. Sementara Garuda hanya memiliki home wilayah karena C-Tra Arena di Bandung bukanlah milik Garuda. Dan Muba Hangtuah Sumsel dan Angsapura Salatiga tidak “memiliki” home wilayah karena tak ada laga di tempat asal mereka selama NBL 2010-2011.

Jika laga home-away diberlakukan, maka sebuah pertanyaan timbul, “di manakah home dari Aspac, Citra Satria, Pelita Jaya, dan Stadium di Jakarta?” Empat tim tersebut memang mewakili Jakarta sebagai home-nya. Tetapi keempatnya tidak memiliki home arena. Jika Hall A Senayan adalah home bersama, maka tak akan ada pula yang namanya laga home-away, karena berubah menjadi home-home. Akhirnya, hal tersebut tak akan berbeda dengan penyelenggaraan away-away :D

Menurut saya, salah satu alasan logis mengapa NBL Indonesia diselenggarakan dengan sistem seri (series) adalah efisiensi biaya alias hemat. Liga basket kita belum sekaya itu. Baik itu tim maupun penyelenggaranya. Mengumpulkan beberapa pertandingan dalam satu waktu (seri) baik saat musim reguler dan championship (play off) jauh lebih hemat. Beberapa tim NBL mungkin mampu menjalani sistem home-away dari segi finansial. Tetapi rasanya ada beberapa tim yang belum begitu kuat. Belum lagi tentu saja kembali ke masalah sarana “home” tadi.

1 laga, sponsor, dan keberuntungan CLS Knights

Kembalikan sistem kompetisi NBL ke best of 3 atau best of 5 di play off, itu yang paling adil…” lanjut bung Toto di awal paragraf sembilan. Saya sedikiiiittt setuju tentang laga best of 3 atau 5. Bagi saya pribadi, laga tersebut membuat “deg-degan” penonton lebih panjang. Namun jika dikatakan “paling adil”, rasanya 1 laga pun cukup adil. Barangkali tim yang kalah akan merasa dirugikan karena masih berandai-andai jika ada game 2 atau 3 barangkali keadaan akan berbeda. Tapi coba tanyakan kepada tim yang memenangkan laga, mungkin 1 laga sangat-sangat memuaskan :D

Potongan kalimat paragraf sembilan kemudian dilanjutkan oleh bung Toto dengan “Dengan demikian, tim yang memiliki peringkat terbaik di reguler mendapatkan keuntungan. Sponsor klub jauh lebih diuntungkan dengan mendapatkan exposure liputan media cetak dan TV lebih banyak. Sebagai contoh, CLS Surabaya tidak hanya diuntungkan sebagai tuan rumah, tetapi dari liputan media TV. CLS Surabaya mendapatkan empat kali tayangan TV. Sementara tim lain satu atau dua kali (itu pun di semifinal dan final).” Menurut saya, tim yang memiliki peringkat terbaik di reguler telah diuntungkan dengan menghadapi lawan jauh dari kutub yang berlawanan dari posisinya. Posisi 1 bertemu posisi 8. Secara statistik maupun mental, rasanya ini sudah cukup menguntungkan.

Lalu “Sponsor klub jauh lebih diuntungkan dengan mendapatkan exposure liputan media cetak dan TV lebih banyak..” Bagi saya, tanpa adanya liputan tv atau media yang lebih banyak atau panjang, para sponsor sudah pasti diuntungkan. Mengapa? Karena sejak awal mereka telah menyetujui sebuah kesepakatan win-win solution tentang apa yang mereka berikan kepada penyelenggara dan apa yang mereka dapatkan dari penyelenggara. Saya yakin dalam kalkulasi sponsor, mereka sudah beruntung dengan waktu dan keuntungan yang mereka dapatkan (yang sudah berjalan) dengan memberikan dukungan dalam berbagai bentuk kepada penyelenggara.

Benarkah CLS Knights diuntungkan sebagai tuan rumah seperti kalimat bung Toto “CLS Surabaya tidak hanya diuntungkan sebagai tuan rumah,”? Jika melihat perjalanan musim 2010-2011, CLS Knights belumlah menjadi sebuah tim yang memiliki keistimewaan karena bermain di rumah. Dan mereka bukan tim jago rumah. Sekali lagi, Pelita Jaya pernah mengalahkan CLS Knights di Surabaya, dan CLS Knights mengalahkan Pelita Jaya di Solo. Jangan lupa juga, Satria Muda mengalahkan CLS Knights di rumahnya (Surabaya) di seri 1 dan juga di final. Dan yang paling penting menurut saya, CLS Knights “kebetulan” main di rumah. Mengapa? Karena lokasi seri championship sudah ditentukan sejak sebelum NBL 2010-2011 dimulai. Andai kata prestasi CLS Knights jeblok dan terpuruk di urutan 9 atau 10, laga ya akan tetap diadakan di Surabaya walau CLS Knights gak ikut.

Jika bung Toto mengetahui jadwal laga mana yang akan disiarkan televisi sejak awal, maka bung Toto gak akan mengatakan “CLS Surabaya mendapatkan empat kali tayangan TV. Sementara tim lain satu atau dua kali (itu pun di semifinal dan final).” Pada seri reguler, semua tim masing-masing mendapat jatah 1 kali masuk tv. Di Surabaya: CLS Knights vs Stadium. Di Bandung: Garuda vs Pelita Jaya. Di Solo: Citra Satria vs Angsapura. Di Bali: Bimasakti vs Muba. Di Jakarta: Aspac vs Satria Muda.

Tetapi lagi-lagi, CLS Knights mendapat ekspos yang lebih hanya karena kebetulan semata. Sejak awal, NBL Indonesia yang bekerja sama dengan ANTV berkomitmen akan menyiarkan laga play off antara posisi 4 vs 5, semifinal 1 (antara pemenang 1 vs 8 X 4 vs 5), dan final dengan asumsi bahwa tiga laga tersebut adalah yang paling seru. CLS Knights berhasil duduk di posisi 4 klasemen akhir, masuk semifinal dan final. Bayangkan jika CLS Knights berada di posisi 2 atau 3, maka pasti bukan CLS Knights yang akan sering muncul di tv. Sekali lagi karena spot tersebut telah diatur sejak awal musim. Bukan disengaja demi keuntungan CLS Knights yang bermain di rumah.

Penutup..

Tulisan ini saya buat biar seru saja :D Karena menurut saya, beberapa tulisan bung Toto memang berkebalikan dengan apa yang saya tahu. Tentu saja, jika kawan-kawan pun merasa tulisan saya ngaco. Komentar pedas selalu terbuka melalui kolom comment/komentar di bawah tulisan ini :D

Hiphopdiningrat, Tak Perlu Ngerti Bahasa Jawa Tuk Ikut Bergoyang dan Tergugah!

Tidak ada yang istimewa dengan hiphop atau rap berbahasa Jawa. Telah muncul sebelumnya dan terus bermunculan hiphop berbahasa Prancis, Mandarin, Sunda, Indonesia, Jepang dan lain-lain. Meskipun bahasa ibu dari hiphop adalah bahasa Inggris, keturunannya tak haruslah serupa. Konsekuensi dunia yang semakin kecil, lebih kecil daripada daun kelor. Tak ada lagi ada batas.

Hiphop berbahasa Jawa yang pernah lahir, lalu sepi sejenak, bangkit lagi dengan tak hanya menggunakan bahasa Jawa sebagai penyampai pesan. Liriknya menjadi lebih populer, lebih merakyat, didengarkan oleh anak-anak SD hingga mbok-mbok pasar, bahkan mengambil karya-karya sastra kuno Jawa untuk dijadikan lirik, memadukan rappers dengan sinden, dan akhirnya “naik haji” dengan manggung di New York. Hal-hal tersebut menjadikan hiphop berbahasa Jawa lebih dari luar biasa. Perjalanan Marzuki Mohammad (Juki) a.k.a. Kill The DJ (@killthedj) bersama Jogja Hiphop Foundation yang ia dirikan dari tahun 2003 hingga pertengahan 2010 (masa pendokumentasian) menjadi inti cerita film dokumenter “Hiphopdiningrat”.

Jogja Hiphop Foundation

Jogja Hip Hop Foundation (JHF) didirikan tahun 2003 oleh Juki, yang katanya bertujuan membantu aktivitas dan mempromosikan rap berbahasa Jawa.

Diawali dengan berbagai acara kecil seperti It’s Hip Hop Reunion dan Angkringan Hip Hop, pada tahun 2006-2009 JHF memulai proyek Poetry Battle; eksplorasi karya puisi Indonesia dari puisi-puisi tradisional hingga kontemporer dengan media hip hop.

Dari proyek itu JHF menghasilkan dua buah album kompilasi Poetry Battle 1 & 2, dan mulai berhasil membentuk identitas dan sikap berkarya.

Menggunakan bahasa Jawa sebagai lirik rap, tampaknya sedikit sulit mendapatkan tempat pada industri musik Indonesia. Tetapi hal ini justru mampu diatasi JHF dengan caranya sendiri. Saat ini lagu-lagu JHF sudah menjadi “lagu rakyat” di Yogyakarta, terutama setelah diluncurkannya lagu Jogja Istimewa yang sudah menjadi soundtrack kehidupan rakyat Yogyakarta. Lagu itu dinyanyikan kolektif oleh Ki Jarot, akronim dari Kill the DJ, Jahanam, Rotra, ketiganya adalah crew yang paling konsisten memproduksi lagu-lagu hip hop berbahasa dan bernuansa Jawa dan mempresentasikan eksistensi dari JHF.

Hiphopdiningrat

Gw sangat gak banyak tahu tentang musik hiphop atau rap. Namun film dokumenter Hiphopdiningrat menggambarkan sesuatu yang lebih luas daripada sebuah perkembangan sub-kultur hiphop Jawa dari kecil hingga “naik haji” ke New York. *Istilah “naik haji” gw kutip dari pertanyaan Tarlen seusai pemutaran film. Hiphopdiningrat menggambarkan sebuah usaha keras tanpa henti mengatasi semua keterbatasan dan terus berjalan entah sampai kapan harus berhenti.

Film ini diawali oleh sebuah komentar singkat pendek dari seorang jurnalis wanita asing yang menceritakan sejarah singkat lahirnya hiphop di dunia dan lalu narasi sesungguhnya dibawakan oleh Juki sendiri dari balik stir mobil sambil mengelilingi kota Yogyakarta. Melengkapi ceritanya, Juki menampilkan potongan-potongan gambar dan video segala perhelatan yang dilakoninya bersama JHF.

Selain cerita dari Juki sendiri, Hiphopdiningrat juga menampilkan komentar-komentar para penggiat kebudayaan seperti Butet Kertaradjasa, Sindhunata, dan Jaduk Ferianto yang mengagumi betapa dahsyatnya rap berbahasa Jawa ini. Iwa K, pelopor hiphop Indonesia pun ikut berkomentar dengan mengatakan betapa ia sangat kagum dengan perkembangan hiphop di Yogyakarta dan berharap andai itu terjadi Jakarta.

Kisah yang tak kalah menarik dari Hiphopdiningrat adalah perjalanan para rappers yang tampil dan setia menggunakan bahasa Jawa untuk liriknya seperti Jahanam dan Rotra. Film ini memperlihatkan bagaimana rapper lokal tersebut tetap eksis ngerap sembari tetap melakukan kegiatan kesehariannya yang lain. Lucunya, Hiphopdiningrat juga menampilkan komentar dua orang ibu yang mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya karena terlalu asik ngerap dan mengancam kuliahnya. “Hip hop gak jelas!” komentar seorang ibu yang seolah keinginan pribadinya untuk sang anak “dicuri” oleh hip hop. *Gw rasa sang ibu rasanya kini bangga melihat pencapaian anaknya dengan hip hop saat ini :)

Hiphopdiningrat tidak hanya menyampaikan perjalanan JHF dengan segala raihan dan prestasinya. Hiphopdiningrat mampu menggugah orang lain untuk terus konsisten pada panggilan jiwa, melewati semua hal yang harus dilewati dalam “perjalanan” tanpa peduli akan bagaimana hasilnya nanti.

Sayangnya, film yang disutradarai oleh Juki sendiri bersama rekannya Chandra Hutagaol ini belum diputar luas sehingga dapat ditonton oleh banyak orang. Gw sendiri tadi malam bukanlah salah seorang tamu yang diundang. Gw berhasil masuk nonton karena mencatut nama salah satu tamu yang diundang (Suave.. sorry guys :D). Tampaknya keinginan keras gw untuk nonton yang akhirnya “membawa” gw berhasil masuk di Blitz tadi malam :D Forgive me God :D Mirip-mirip gak yaa dengan kisah JHF yang akhirnya sampai ke New York? :D

*Alhamdulillah ngerti bahasa Inggris, Hiphopdiningrat disampaikan 80% menggunakan bahasa Jawa! :D

Coach Amran (kembali) ke Garuda Bandung dan Sosok Misterius Pelatih Baru CLS Knights

Pagi ini situs resmi NBL Indonesia akhirnya merilis kepindahan pelatih kepala CLS Knights Surabaya, W. Amran ke Garuda Bandung setelah sebelumnya memang sudah santer bahwa ia kabarnya akan balik lagi ke Bandung.

Coach Amran Kembali ke Garuda

Coach Amran adalah harapan baru bagi Garuda. Mengingat prestasi Garuda yang kurang memuaskan di musim 2010-2011.

Muncul sebagai salah satu unggulan di awal musim, Garuda finis di urutan lima dan merupakan tim pertama yang tersingkir di babak Championship Series setelah dikalahkan CLS Knights, yang dilatih coach Amran.

Melihat raihan coach Amran bersama CLS Knights di musim lalu, yang berhasil membawa tim Surabaya ini hingga final, rasanya merupakan hal yang lumrah jika fans Garuda sangat berharap kepada coach Amran. Mengingat pula dalam beberapa kesempatan, coach Amran sendiri pernah mengatakan -kurang lebih- bahwa Garuda adalah tim hebat jika tampil dalam performa terbaiknya.

Tahun 2005, coach Amran menjadi Head Coach of the Year di IBL karena mengangkat Garuda yang pada tahun sebelumnya berada diperingkat 9 naik ke peringkat 3 dengan materi pemain yang sebagian besar sama. Musim 2010-2011, coach Amran membangunkan CLS Knights menjadi ksatria-ksatria yang menakutkan. Tahun 2011-2012 adalah tantangan baru bagi coach Amran untuk kembali memuaskan fans Garuda Bandung! Menjadikan Garuda seperti apa yang kerap ia katakan :D

Sosok Misterius di CLS Knights

Kabar bahwa Coach Amran akan ke Bandung sudah beredar gak jelas sejak bulan Desember 2010 lalu, apalagi ketika itu CLS Knights terlihat selalu didampingi oleh seorang “sosok misterius” yang selalu menyaksikan laga CLS Knights dari tepi lapangan.

Pada seri Jakarta, dalam sebuah laga antara CLS Knights melawan.. (hmm..lupa gw), rumor bahwa coach Amran (setidaknya) akan meninggalkan CLS Knights tampaknya bukan lagi isapan jempol belaka. Setidaknya buat gw :P

Saat itu, seperti biasa, di akhir kuarter kedua CLS Knights dan lawannya menuju ke belakang (harusnya sih locker room yaa.. tapi malah ke halaman belakang :P). Anehnya, coach Amran hanya duduk sendiri di lorong sementara para pemain CLS Knights berkumpul sendiri dan tampak tengah diberi pengarahan oleh sang sosok misterius. Yup! Dia adalah sosok misterius yang kerap menyaksikan laga CLS Knights dari sisi lapangan.

Ketika kembali ke lapangan untuk kuarter ketiga dan keempat, coach Amran hanya duduk menyaksikan laga tanpa memberi instruksi. Hanya asistennya saja yang bekerja lebih aktif. Apakah sosok misterius adalah suksesor coach Amran di CLS Knights? Kita tunggu saja yak :D

Kegagalan pada Bola Basket, oleh Koko Heru, Asisten Pelatih Pelita Jaya

Tettttttttttt.. bunyi buzzer kuarter empat berbunyi. Dua tim namun ada dua situasi berbeda di lapangan; selebrasi dan kesedihan, kalah dan menang, gagal dan berhasil, itu dua kenyataan yang ada dan harus dihadapi dalam bola basket.

Seseorang pernah bilang, berani menang harus berani pula menghadapi kekalahan. Namun pada kenyataannya sulit untuk menyiapkan diri menghadapi situasi yg ke-dua, kekalahan. Termasuk saya :))

Kegagalan dalam akhir sebuah musim kompetisi biasanya menghasilkan rasa kecewa yang sangat dalam. Mengapa? Satu musim berlatih keras, pengorbankan waktu, meninggalkan keluarga dan teman demi satu tujuan menggapai no 1, lalu pada akhirnya gagal menggapai tujuan tersebut.

Dalam situasi seperti itu ijinkan diri sendiri untuk meratap, bersedih, berduka memang terkesan hiperbola. Namun sangat normal jika seorang pemain merasa sedih. Kecewa atas sebuah kegagalan bahkan baik buat si atlet. Seseorang yang sudah mengalami kegagalan dalam sebuah musim kompetisi telah kehilangan sesesuatu yang amat berharga bagi dirinya. Seseorang yang belum pernah mengalami situasi tersebut tidak akan bisa mengerti betapa sakitnya totalitas terhadap sesuatu namun hasilnya tak sesuai dengan apa yang diharapkan dan yang semakin memperburuk keadaan adalah bahwa sesuatu itu sudah lewat dan berakhir tanpa bisa diperbaiki.

Tapi itulah kenyataan hidup (maafkan jika terlalu jujur). Waktu akan terus berjalan dan semua yang kita miliki akan hilang. Orang tua, teman, kesehatan, binatang peliharaan, dan termasuk hidup kita semua akan berlalu dan hilang. Yang, bagi saya, itu adalah sebuah alasan mengapa kita akan sangat peduli terhadap sesuatu yang kita cintai dan miliki.

Jika bersedihnya sudah cukup, dan menerima kegagalan sebagai sebuah kenyataan. Itu mungkin dapat sedikit membebaskan diri kita dari rasa stres berkepanjangan.

Sebentar lagi off season practice mulai, walau masih dihantui oleh perasaan sedih dan kecewa, sempatkan diri sendiri untuk selalu berpikir positif bahwa itulah yang dilakukan oleh setiap atlet hebat dan superhero (hiperbola lagi). Karena dengan pola pikir seperti itu akan timbul logika, sadar apa yang penting atau tidak.

Merasakan betapa berharganya kesempatan itu, kita akan bangkit dari keterpurukan, melanjutkan bermimpi walau menyadari konsekuensi yang akan dihadapi nanti pada saat semuanya telah berakhir kembali. Kenyataan seperti itu yang membuat bola basket menyenangkan, menarik buat saya.

Kegagalan itu keberhasilan hidup mengajarkan kita untuk selalu bangkit.

We failed, lets cry a river and build a bridge so we can make it to the other end.

Prestasi Tim Nasional Bola Basket Indonesia (1958-2010)

*Catatan ini dikutip dari situs resmi Perbasi

1958
Tampil pada Asia Games III di Tokyo. Timnas dilatih oleh J.C Aultman dari Amerika Serikat.

1960
Peringkat ke-6 dari 7 peserta Kejuaraan Asia I di Manila. Indonesia mencetak sekali kemenangan atas Malaya (Malaysia) 98-76.

1962
Peringkat ke-5 Asia Games IV di Jakarta. Gelar juara direbut Filipina, kemudian Jepang dan Korea Selatan.

1963
Peringkat ke-2 Ganefo I di Jakarta. Di final Indonesia dikalahkan Cina.

1964
Peringkat ke-10 dari 10 peserta Pra-Olimpiade 1964. Timnas dilatih oleh Bob Ackerman.

1965
Peringkat ke-4 Turnamen Dasawarsa Konferensi Asia Afrika. Gelar juara direbut Cina, kemudian Korea Utara dan Kamboja.

1966
Peringkat ke-2 Ganefo Asia I di Kamboja. Di final Indonesia dikalahkan Cina.

1967
Peringkat ke-4 dari 10 peserta Kejuaraan Asia di Seoul. Indonesia mencetak 4 kali kemenangan.

1968
Peringkat ke-5 dari 5 peserta Pra-Olimpiade di Meksiko. Indonesia mencetak 1 kali kemenangan atas Australia dengan skor 58 – 51

1970
Peringkat ke-5 dari 5 peserta Pra-Olimpiade di Meksiko. Indonesia mencetak 1 kali kemenangan atas Australia dengan skor 58 – 51
Tim putra merebut perunggu pada Pesta Sukan di Singapura di bawah Cina Taipei dan Thailand.

1972
Tim putri menduduki peringkat 4 dari 5 peserta Kejuaraan Asia IV di Cina Taipei.

1973
Peringkat ke-8 dari 12 peserta Kejuaraan ABC VII di Manila.

1977
Peringkat ke-13 Kejuaraan Asia IX di Kuala Lumpur. Juru kunci diduduki oleh Srilangka.

1978
Tim putri menduduki peringkat ke-9 dari 10 peserta Kejuaraan Asia di Hongkong.

1979
Tim putri merebut perunggu pada Sea Games X di Jakarta, setelah Malaysia dan Thailand.

1983
Peringkat ke-12 Kejuaraan Asia XII di Hongkong.

1986
Tim putri menduduki posisi juru kunci Kejuaraan Asia XI di Kuala Lumpur.

1987
Peringkat ke-12 Kejuaraan Bola Basket ABC di Bangkok.

1988
Indonesia diwakili ASABA menduduki peringkat ke-6 Kejuaraan Antar Klub Asia III. Juara direbut oleh SWIFT PABL (Phillipina), ddiikuti Liao Ning (Cina), dan Samsung (Korea).

1989
Peringkat ke-10 dari 16 tim. Kejuaraan Junior Asia Putra X di Manila. Peringkat pertama diraih Cina, diikuti Cina Taipei, dan Phillipina.
Tim putra peringkat ke-4 Kejuaraan Pelajar ASEAN V di Bangkok. Peringkat pertama diraih Thailand, diikuti Malaysia dan Singapura.
Tim putri menduduki peringkat ke-4 juga. Peringkat pertama diraih Thailand, diikuti Malaysia dan Singapura.
Tim Sea Games merebut perunggu Turnamen Piala Kemerdekaan IV di Jakarta. Juara direbut Philipina, diikuti Korea.
Peringkat ke-14 dari 15 peserta Kejuaraan ABC ke-15 di Beijing. Peringkat pertama diraih Cina, diikuti Korea dan Cina Taipei. Satu-satunya kemenangan Indonesia diperoleh atas tim Bangladesh.
Meraih perunggu pada The 19th Triennial Intervarsity Games di Jakarta. Gelar juara dan running-up diraih Malaysia dan Singapura. Tim putri juga meraih perunggu.
Tim putri meraih perunggu pada SEA Games di Kuala Lumpur.

1990
Tim putri menduduki peringkat ke-4 (Kategori B) dalam Kejuaraan Asia XIII di Singapura. Juara direbut Korea Utara. Sementara untuk Kategori B direbut oleh Cina.
Tim Indonesia diwakili oleh Halim Kediri menduduki peringkat ke-6 dari 7 peserta Kejuaraan Antar Klub Asia IV di Jakarta. Juara diraih oleh Lioning AG dari Cina, diikuti Bank of Korea dan Kazma dari Kuwait.
Tim putra Indonesia menduduki peringkat ke-12 dari 13 peserta Kejuaraan Asia Junior di Nagoya.
Tim putri menduduki posisi ke-9 dari 10 peserta.

1991
Tim putra dan putri menjadi runner-up Kejuaraan Pelajar ASEAN di Bagiao. Kejuaraan diikuti lima negara.
Indonesia menduduki peringkat ke-14 dari 18 peserta pada Kejuaraan ABC XVI di Kobe, Jepang.
Tim putri merebut medali perak pada SEA Games XVI di Manila. Tim putra menjadi juru kunci dari 5 negara peserta.

1992
Indonesia diwakili Pelita Jaya menjadi juru kunci Kejuaraan Internasional Piala William Jones di Cina Taipei.
Tim putra meraih peringkat ke-6 dari 14 peserta dalam Kejuaraan ABC Junior di Beijing. Sementara tim putri meraih peringkat ke-7 dari 10 peserta.

1993
Peringkat ke-5 dari 13 dalam Kejuaraan ABC U-22 di Hongkong.
Tim putra dan putri merebut perunggu pada SEA Games XVII di Singapura.

1995
Peringkat ke-12 dari 12 peserta Kejuaraan Bola Basket Asia (ABC) XVI di Shizuoka.
Tim putri meraih peringkat ke-4 dari 9 peserta SEABA di Thailand.

1996
Juara SEABA II di Surabaya mengalahkan Philipina.

1997
Indonesia diwakili Aspac merebut posisi ke-3 di bawah Regal (Hongkong SAR) dan Kia Motors (Korea Selatan) pada Kejuaraan Antar Klub Asia VIII di Jakarta.
Tim putri meraih perunggu pada SEA Games XIX di Jakarta setelah mengalahkan Philipina.

1998
Tim putra diwakili Panasia Indosyntec menduduki peringkat ke-9 dari 10 negara Kejuaraan Antar Klub IX di Kuala Lumpur.

1999
Merebut perunggu pada SEA Games XX di Brunei Darussalam. Juara direbut Phillipina, diikuti Thailand.

2000
Tim putra diwakili Mahaka Satria Muda menempati peringkat ke-8 Kejuaraan Antar Klub Asia di Lebanon.

2001
Tim putra merebut perak SEA Games XXI di Kuala Lumpur.

2003
Tim putra dan putri Indonesia menduduki peringkat ke-5 dari 6 peserta SEA Games XXII di Vietnam. Peringkat pertama putra diraih oleh Phillipina, diikuti Malaysia dan Thailand. Peringakat pertama putri diraih oleh Malaysia, diikuti Singapura dan Philipina.
Tim putri menduduki peringkat ke-5 dari 6 peserta.

2004
Tim putra menduduki peringkat ke-2 dari 5 peserta pada Kejuaraan Pelajar KU-18 di Phuket, Thailand. Peringkat pertama diduduki oleh Thailand.
Tim putri menduduki peringkat terakhir.

2005
Indonesia menduduki peringkat ke-2 dari 4 peserta pada 6th SEABA Championship for Men di Malaysia, yang diikuti 5 negara. Peringkat pertama diduduki oleh Malaysia.
Indonesia menduduki peringkat ke-14 dari 16 peserta pada 23rd FIBA ASIA Championship for Men di Qatar. Peringkat pertama diduduki Cina, diikuti Lebanon dan Qatar.
Tim putri menduduki peringkat ke-3 dari 4 peserta pada 1st Phuket Women International Basketball Invitation di Phuket, Thailand. Peringkat pertama direbut Thailand, diikuti India.

2007
Indonesia menduduki peringkat ke-2 dari 5 peserta pada SEA Games XXIV di Thailand. Peringkat pertama diduduki Philipina.
Tim putri menduduki peringkat ke-4 dari 4 peserta pada SEABA Championship for Women di Phuket, Thailand.

2009
Indonesia diwakili tim Garuda Flexi Bandung menduduki peringkat ke-2 dari 4 peserta pada 8th SEABA Championship yang berlangsung di Medan.
Tim 3 on 3 putri menduduki peringkat ke-6 dari 16 peserta Asian Youth Games di Singapura.
Indonesia diwakili Satria Muda Britama menduduki peringkat ke-10 dari 10 peserta pada 20th FIBA CHAMPIONS CUP di Jakarta.
Indonesia diwakili Pelita Jaya Esia menduduki peringakat ke-15 dari 16 peserta pada 25th FIBA ASIA Championship for Men yang diadakan di Tianjin, Cina.

2010
Tim putri yang diwakili Peng-Prov Jawa Tengah menduduki peringkat ke-4 dari 5 peserta pada 7th SEABA Championship for Women di Manila.

15 Pemain Nasional SEA Games Versi Mainbasket :)

Kemarin, 24 pemain profesional kita dipanggil untuk mengikuti seleksi pemain tim nasional untuk SEA Games yang akan diadakan pada tanggal 11-22 November 2011 mendatang. Dari 24 nama tersebut, kabarnya hanya 15 nama yang akan lolos dan mewakili Indonesia. 9 lainnya harus memberi dukungan dari luar lapangan.

Seleksi baru akan dimulai. Tetapi rasanya mengasyikan juga menerka-nerka siapa saja yang akan menggenakan jersey bertuliskan “Indonesia” di dada mereka nanti. Berikut pilihan gw dan sedikiiit alasannya :)

Posisi Center

Rony Gunawan (Satria Muda Jakarta): Pergerakan kaki lincah. Kuat untuk beradu post play. Sky-hook-nya juga ok.
Christian Ronaldo Sitepu (Satria Muda Jakarta): Tangguh saat menyerang dan bertahan, dan punya senjata rahasia: tembakan 3 angka!
M. Isman Thoyib (Aspac Jakarta): MounThoyib paling kokoh saat bertahan.

Posisi Point Guard

Faisal J. Achmad (Satria Muda Jakarta): Mental bagus, shooting dan penetrasi bagus.
Mario Wuysang (Satria Muda Jakarta – ABL): Pengatur serangan yang paling baik. Pengalaman bermain internasional juga ok.
Kelly Purwanto (Pelita Jaya Jakarta): Dribbling bolanya maut! Semoga aksi penetrasinya tetap dahsyat dan mampu mengacaukan pertahanan lawan.

Posisi Shooting Guard

Amin Prihantono (Satria Muda Jakarta): Tembakannya setajam silet! Amin juga kerap menerobos.
Xaverius Prawiro (Aspac Jakarta): Tajam, percaya diri kalau menembak!
Rahmat Febri Utomo (CLS Knights Surabaya): Komplit!
Okiwira Sanjaya (Aspac Jakarta): Jago mencari tempat kosong dan mengeksekusi tembakan dengan cepat dan akurat.

Posisi Power Forward

Welyanson Situmorang (Satria Muda Jakarta): Ngotot!
Ponsianus Indrawan (Pelita Jaya Jakarta): Tenang, dan berani beradu.
I Made Sudiadnyana (Garuda Bandung): Power! Power! Power! dan akurasi menembak masih tajam.

Posisi Small Forward

Youbel Sondakh (Satria Muda Jakarta): Pemain elegan!
Andi Poedjakesuma (Pelita Jaya Jakarta): Pada performa terbaiknya, shooting akurat, penetrasinya bertenaga!

Silahkan pilih sendiri jagoanmu dari 24 pemain sebelumnya yak. Seru-seruan nih!

24 Pemain Peserta Seleksi Tim Nasional Basket SEA Games 2011

Posisi Center

Rony Gunawan (Satria Muda Jakarta)
Fidyandini (Pelita Jaya Jakarta)
Christian Ronaldo Sitepu (Satria Muda Jakarta)
M. Isman Thoyib (Aspac Jakarta)

Posisi Point Guard

Faisal J. Achmad (Satria Muda Jakarta)
Mario Wuysang (Satria Muda Jakarta – ABL)
Kelly Purwanto (Pelita Jaya Jakarta)
Mario Gerungan (Aspac Jakarta)

Posisi Shooting Guard

Dimas Aryo Dewanto (Pelita Jaya Jakarta)
Ary Chandra (Pelita Jaya Jakarta)
Amin Prihantono (Satria Muda Jakarta)
Xaverius Prawiro (Aspac Jakarta)
Rahmat Febri Utomo (CLS Knights Surabaya)
Sandy Febyansyakh (CLS Knights Surabaya)
Okiwira Sanjaya (Aspac Jakarta)

Posisi Power Forward

Romy Chandra (Pelita Jaya Jakarta)
Welyanson Situmorang (Satria Muda Jakarta)
Ponsianus Indrawan (Pelita Jaya Jakarta)
Dwi Haryoko (CLS Knights Surabaya)
I Made Sudiadnyana (Garuda Bandung)

Posisi Small Forward

Youbel Sondakh (Satria Muda Jakarta)
Andi Poedjakesuma (Pelita Jaya Jakarta)
Ruslan (Stadium Jakarta)
Pringgo Regowo (Aspac Jakarta)

*SEA Games cabang bola basket akan diadakan di Britama Arena Jakarta pada tanggal 11-22 November 2011.

Mengapa Sedikit Sekali yang Masuk TV? (FAQ1)

Pertanyaan ini luar biasa sering muncul di twitter gw dalam bentuk variasi yang mirip-mirip. Kehadiran pertanyaan ini, menurut gw disebabkan adanya sebuah pembanding ketika dulu Indonesian Basketball League disiarkan jauh lebih sering oleh TvOne. Jika ANTV menyiarkan 8 pertandingan NBL, maka TvOne dulu menyiarkan lebih dari 20 laga IBL. Tentu siaran NBL di ANTV terlihat sedikit banget.

Namun konon kabarnya, meskipun banyak disiarkan oleh televisi, laga IBL dulu tak begitu banyak ditonton. Akibatnya, televisi ragu-ragu untuk menyiarkan kembali laga-laga basket nasional (NBL). 8 laga dalam satu musim NBL adalah sebuah pencapaian yang patut disyukuri, karena sebenarnya, GAK ADA yang mau nyiarin NBL sebelumnya. *Kabar baik: laga Garuda vs Pelita Jaya dan Final NBL kabarnya menggapai rating yang cukup tinggi dan ini membuat semua pihak tersenyum bahagia :)

Televisi belum butuh kita (basket) :D

Di negara-negara maju di mana industri olahraganya sudah sangat mutakhir, stasiun televisi berebut untuk menyiarkan kegiatan olah raga. Akibatnya, pihak penyelenggara olah raga memiliki posisi tawar yang tinggi kepada banyak stasiun televisi. Siapa yang mampu membayar lebih, dialah yang berhak menyiarkan dan menjual siaran olahraga tersebut dalam bentuk spot iklan ataupun menjual kembali ke pihak ketiga. Nah, di Indonesia, olah raga nomor satu saja, sepak bola, masih harus membayar ke televisi agar pertandingan mereka disiarkan. Bukan sebaliknya!

Kalau sepak bola saja posisi tawarnya terhadap televisi sedemikian rendah, maka sangat besar kemungkinan televisi mengeluarkan pertanyaan “basket? Emang ada yang mau nonton?” Mengapa televisi bertanya begitu? Karena setiap siaran adalah ongkos besar yang harus ditutupi dengan duit dan tentu saja wajib menguntungkan. Hitungannya bukan juta-juta, tetapi beratus-ratus juta persiaran :D

Posisi tawar yang rendah membuat kita nurut pada televisi :)

Sudah dikasih spot waktu tayang di televisi, masih saja mengeluh -___-. Hanya partai final saja yang ditayangkan pada jam utama (21:00), sisanya jam 13:00. Sekali lagi, basket kita itu sedang merangkak naik. Ketika televisi mengatakan bahwa “kalau mau disiarkan televisi, kami hanya punya waktu jam 13:00. Itu karena sepak bola sudah mengikat perjanjian lebih dulu di jam 16:00-an dan kalian kayaknya duitnya masih sedikit :)”, maka memang itulah yang terjadi. Jadi kalau ada penonton yang bertanya kenapa disiarkan siang sekali, itulah alasannya. Tentunya semua atas persetujuan tim-tim NBL juga untuk main pada jam segitu :)

Jika suatu saat penggemar basket Indonesia benar-benar membludak. Sangat mungkin kekuatan tawar akan berada pada kita, para penggemar basket. Kondisi di mana bola basket sedemikian majunya hingga banyak televisi berebut untuk menyiarkan. Hukum pasarnya, barang sedikit (waktu dan pertandingan basket), permintaan banyak (stasiun-stasiun televisi). Kalau sudah begitu, pemain bahagia, tim-tim senang, penyelenggara ketawa-ketiwi, dan tentu saja penggemar basket se-Indonesia yang paling diuntungkan :D

Lalu bagaimana agar posisi tawar kita, para penggemar basket mampu unggul atas stasiun-stasiun televisi? Jawabannya hanya satu, nonton laga NBL langsung di arena! :D