NBA 2011-2012 = IBL 2009-2010? Lockout Alias Berhenti Alias Mati

Apa yang terjadi pada Indonesian Basketball League (IBL) 2009-2010? Tidak ada. Yup, tak ada yang terjadi. Karena pada musim tersebut, 2009-2010, liga basket profesional kita tidak berjalan alias mati. Penyelenggara IBL tidak mampu melanjutkan liga dan memberitahukan kepada tim-tim peserta bahwa mereka mengundurkan diri. Apa penyebabnya? Sederhana, walau tak ada berita mengapa penyelenggara IBL mundur, dengan logika sederhana bisa terbaca bahwa masalahnya adalah duit, uang. Gak ada duit :(

Entah sejak kapan, yang pasti sejak mengenal Kobatama dan IBL, penyelenggaraan liga basket profesional kita mendapat sokongan besar dana untuk bergulir dari pihak sponsor. Liga bernafas melalui oksigen yang didapat dari tabung gas yang dipasok oleh sponsor. Pada musim 2008-2009, IBL bergulir tanpa sponsor. Nafas penyelenggaraan kembang-kempis dan akhirnya menulis “surat wasiat” mangkat di akhir 2009. Berharap pada penjualan tiket penonton? Tidak masuk akal.

Sumber nafas yang berbeda

Sumber oksigen NBA berbeda dengan IBL. NBA sangat mengandalkan pemasukan dari penjualan tiket untuk memastikan liganya tetap berjalan. Sponsor, penjualan pernak-pernik, dan hak siar televisi adalah bonus tambahan.

Tahun ini, Commissioner NBA, David J. Stern mengatakan bahwa NBA merugi sekitar 400 juta dollar! Dan tentunya merupakan hal buruk bagi NBA sebagai entitas bisnis penyelenggara liga basket. Agar tetap dapat bergulir di musim mendatang (2011-2012), Stern meminta kepada asosiasi pemain untuk menerima tawaran pemotongan pendapatan pemain hingga 30 persen.

Mengapa NBA bisa merugi sedemikian besar? Karena sumber oksigen utamanya, penjualan tiket nonton di arena menurun dan berimbas kerugian. Tidak semua tim memang. Namun sebagian besar tim mengalami “luka pendarahan” karena kerugian ini. Di sisi lain, tim harus membayar gaji-gaji pemain yang selangit. Jeleknya lagi, beberapa pemain dianggap menerima bayaran berlebih yang tidak sesuai dengan performa mereka di lapangan. Luka pendarahan harus segera dihentikan!

Mengapa penjualan tiket menurun alias tak banyak fans yang datang ke arena untuk nonton langsung? Banyak sebab. Antara lain, performa tim yang jarang menang, tak adanya pemain bintang (hijrahnya/berkumpulnya pemain bintang pada satu tim), atau laga dengan hasil yang mudah ditebak (terdengar akrab?).

Asosiasi pemain NBA menolak tawaran NBA untuk memotong pendapatan hingga 30 persen. Kini, banyak spekulasi mengenai apa yang akan terjadi. Umumnya berpendapat bahwa NBA benar-benar akan mengalami mati suri pada musim depan sehingga para pemain harus bersiap menghadapinya. Beberapa pemain senior seperti Jason Kidd, Steve Nash, dan Kevin Garnnet digosipkan akan mengundurkan diri.

Ancaman lockout memang datang dari NBA. Pemain NBA yang sudah mapan dengan penghasilan selangit mungkin akan sulit mendapati bahwa musim depan mereka harus bermain dengan pendapatan hanya sekitar 60 persen dari nilai di musim sebelumnya. Namun bagi NBA, untuk apa menjalankan sebuah tim dan juga liga yang merugi. Dari segi bisnis, pemilik tim adalah orang-orang tajir yang umumnya punya penghasilan lain selain bisnis tim NBA. Lockout alias berhenti sepertinya bukanlah masalah besar :P

*Oh yaa, batas akhir perjanjian antara NBA dan asosiasi pemain adalah 30 Juni. Jika hingga batas waktu tersebut tak tercapai kesepahaman, selamat tinggal NBA :)

Iklan

Nyawa Sangat Berharga, dan Tentu Ada Harganya :)

Kemarin, gw tengah berkendara menuju lapangan basket untuk main di jadwal rutin setiap Selasa petang di SIS Dago. Melewati Balubur, telepon gw berdering. Inilah kewajiban kontemporer yang sulit dihindari walau jelas-jelas katanya sangat berbahaya, mengangkat telepon saat berkendara!

Suara dari seberang mampu menjadikan basket menjadi tidak penting saat itu. Salah seorang anggota keluarga masuk ICU (Intensive Care Unit) di salah sebuah rumah sakit karena serangan jantung. Tujuanpun berbalik arah 180 derajat.

Tiba di rumah sakit, anggota keluarga yang terserang jantung sedang mendapatkan analisa dari dokter. Setelah selesai, salah seorang dokter meminta kami berkumpul (kami datang bertiga, berempat dengan pasien).

“Bapak (hanya karena lebih tua yaa..) mendapat serangan jantung. Salah satu pembuluh darahnya tersumbat 100 persen dan harus dilakukan operasi secepatnya. Operasinya adalah pemasangan cincin… blah.. blah.. blah..” sang dokter menjelaskan tentang kondisi dan langkah-langkah yang harus segera mereka lakukan. “Harga satu cincin berkisar antara … sampai … juta (berpuluh-puluh juta!).” gluk.. :(

“Apakah keluarga bersedia agar dokter melakukan operasi? Kita berpacu dengan waktu..” ungkap sang dokter. Tik tok tik tok..

Stop!

Gw gak ingin terlihat naif. Namun pengalaman ini adalah pengalaman langsung. Ketika sang dokter mengatakan “..kita berpacu dengan waktu,” benak setan gw berontak “lah?! Terus lu nunggu apa lagi?! Nyawa pasien ada di tangan lu sekarang..”

Rasanya dokter tentu harus menanyakan hal tersebut Dan. Bagaimanapun, operasi tersebut adalah sebuah tindakan berisiko. Jadi sang dokter harus menanyakn dulu kepada keluarga bahwa tindakan berisiko mereka mendapat restu dari keluarga pasien.” benak malaikat gw coba menenangkan.

Tunggu, apakah ini semata masalah izin keluarga?

Begitu keluarga setuju operasi segera dilakukan. Sang dokter tampak lega dan sumringah. Dengan tersenyum, ia segera menelepon dokter lainnya dan memberi tahu bahwa keluarga telah memberikan izin.

Ini akan terdengar sinis, namun gw gak tahu apakah senyum dokter tersebut adalah senyum karena restu keluarga atau “yang satunya lagi” (baca: kesanggupan menanggung biaya). Atau barangkali keduanya..

Sebelum operasi dilaksanakan. Salah satu dokter yang akan melakukan operasi kembali memanggil kami bertiga. Dokter kemudian menjelaskan kembali apa yang tengah terjadi agar keluarga benar-benar mengerti. Lalu, dokter juga menjelaskan secara garis besar mengenai proses operasi yang akan segera dilakukan lengkap dengan risiko-risikonya, baik risiko kecil maupun risiko besar. Sesaat lagi operasi akan segera dilaksanakan.

Beberapa menit kemudian, seorang petugas rumah sakit menghampiri kami yang tengah menunggu dan mengabarkan bahwa tampaknya akan ada satu prosedur operasi atau mungkin pengobatan lagi yang harus dilakukan. “Apakah keluarga bersedia?” tanya petugas rumah sakit tersebut sambil menyodorkan secarik kertas yang di dalamnya tertulis nominal tambahan untuk proses tersebut. Hmm.. belasan juta lagi.

Menakjubkan mengetahui sejauh mana dunia medis dan kedokteran sudah berkembang. Ketika operasi telah mulai berjalan sekitar 15 menit. Kami bertiga dipanggil tim dokter untuk ke ruang operasi. Tepatnya di sebelah ruang operasi yang berbatas sekat kaca. Pasien yang tengah dioperasi tertutup oleh tirai hijau. Di dalam ruangan tersebut ada beberapa monitor televisi. Salah satunya menayangkan video kondisi jantung dan letak pembuluh darah yang tersumbat. Dan kami akhirnya mengetahui bahwa salah satu pembuluh memang tersumbat 100 persen. Luar biasa teknologi!

Setelah mendapatkan penjelasan, sang dokter meminta kami keluar dan mereka melanjutkan operasi. Operasi berlangsung kurang lebih dua jam. Pembuluh yang tersumbat berhasil ditembus lagi walau tentunya belum lancar 100 persen. “Harus dibantu dengan obat,” kata dokter. Sampai di sini, alhamdulillaah..

—–

Gw gak ingin terjebak kepada kekesalan betapa kejamnya rumah sakit karena lebih mementingkan biaya operasi dibandingkan nyawa manusia. Dan gw pun berharap semoga tulisan ini gak menggiring kita ke arah sana. Walau tentu saja sulit sekali untuk menghindari hal tersebut. Bukan hanya sulit, mengetahui dan mengalami hal ini memberi sedikit rasa muak bahkan mungkin kebencian.

Nilai-nilai kemanusiaan rasanya memang sudah mulai super tipis. Dan sekaratnya nilai ini sangat mudah sekali dijelaskan melalui nilai-nilai kapitalisme dan dagang. Gw sendiri yang rasanya dulu sangat berapi-api ketika mengetahui adanya ketidakadilan di sana-sini (melalui media massa dan pengalaman langsung) dipaksa menyerah dan menjadi kompromis. Selamat datang (kembali lagi) di dunia nyata.

Butuh modal (kapital) untuk menemukan sebuah teknologi. Butuh modal untuk mengembangkannya. Butuh modal untuk menyebarkannya. Butuh modal untuk menjalankannya. Butuh modal untuk menghidupi orang-orang yang berdedikasi di sana. Butuh modal untuk ini dan itu yang terkait dengannya. Jika tiba-tiba kau datang tanpa modal untuk “menikmatinya”. Silahkan berpikir lagi.

Sumpah dokter? Hippokrates?

:)

*Mencegah lebih baik dan lebih murah daripada mengobati. Benar, tapi lain cerita :D

Siapa Duduk di Kursi Dekat Pintu Darurat?

Pertanyaan tersebut sering banget ditanyakan oleh Azrul waktu seri 1 Surabaya NBL 2010-2011 lalu kepada para pemain NBL yang baru tiba di Surabaya. Awalnya gw gak begitu paham. Hingga pas balik ke Jakarta dari Surabaya, sebuah jawaban melintas :)

Waktu check in, kebetulan banget gw dapat kursi di deretan pintu darurat. Karena check in bareng para pemain Aspac, om Kim Hong (Manajer Aspac) menyamperi dan bilang “kursimu tukeran sama Anggi (center Aspac) yaa..” :D

Nemu tulisan ini pas lagi baca nba.com

As a point guard, you’ve got to catch that outlet pass, and in the time it takes to click the shutter of a camera, you’ve got to see where the other nine players are on the floor. Then your mind has to be working in terms of what lanes your teammates are going to fill, and who’s the best shooter and who finishes well. Then, when you get to the top of the key, you pretty much know in your mind — even though the defenders are trying to dictate what you do — what you want to do. When you’ve got a point guard with imagination and vision and the ability to create, basketball to the viewer almost becomes an art form.” Bob Cousy

NBL Indonesia Home and Away? (Menjawab Bung Toto Sudarsono)

Beberapa hari yang lalu di harian Kompas, bung Toto Sudarsono menyampaikan kritiknya mengenai penyelenggaraan NBL Indonesia 2010-2011 dalam tulisan yang ia beri judul “Dominasi Satria Muda Belum Berakhir“. Dari beberapa kritik yang disampaikan oleh bung Toto, ada satu atau kayaknya dua atau lebih lah yang rasanya gak sejalan dengan pemahaman saya :)

Berikut di antaranya..

Sejarahnya, Indonesia pernah memiliki kompetisi Gabatama tahun 1982-1984. Ketika itu saya masih menjadi pemain, kompetisi diikuti 10 klub terbaik dan berlangsung home and away (setiap hari Jumat, Sabtu dan Minggu)…” Demikian tulis bung Toto pada paragraf tujuh. Sepengetahuan saya, dari 10 tim yang mengikuti NBL Indonesia, hanya Satria Muda Jakarta, Garuda Bandung, Bimasakti Malang, dan CLS Knights Surabaya yang boleh dikatakan memiliki “home“. Home di sini bagi saya memiliki dua pengertian yaitu “home” wilayah dan “home” arena. Satria Muda, Bimasakti, dan CLS Knights masing-masing memiliki home wilayah dan arena. Sementara Garuda hanya memiliki home wilayah karena C-Tra Arena di Bandung bukanlah milik Garuda. Dan Muba Hangtuah Sumsel dan Angsapura Salatiga tidak “memiliki” home wilayah karena tak ada laga di tempat asal mereka selama NBL 2010-2011.

Jika laga home-away diberlakukan, maka sebuah pertanyaan timbul, “di manakah home dari Aspac, Citra Satria, Pelita Jaya, dan Stadium di Jakarta?” Empat tim tersebut memang mewakili Jakarta sebagai home-nya. Tetapi keempatnya tidak memiliki home arena. Jika Hall A Senayan adalah home bersama, maka tak akan ada pula yang namanya laga home-away, karena berubah menjadi home-home. Akhirnya, hal tersebut tak akan berbeda dengan penyelenggaraan away-away :D

Menurut saya, salah satu alasan logis mengapa NBL Indonesia diselenggarakan dengan sistem seri (series) adalah efisiensi biaya alias hemat. Liga basket kita belum sekaya itu. Baik itu tim maupun penyelenggaranya. Mengumpulkan beberapa pertandingan dalam satu waktu (seri) baik saat musim reguler dan championship (play off) jauh lebih hemat. Beberapa tim NBL mungkin mampu menjalani sistem home-away dari segi finansial. Tetapi rasanya ada beberapa tim yang belum begitu kuat. Belum lagi tentu saja kembali ke masalah sarana “home” tadi.

1 laga, sponsor, dan keberuntungan CLS Knights

Kembalikan sistem kompetisi NBL ke best of 3 atau best of 5 di play off, itu yang paling adil…” lanjut bung Toto di awal paragraf sembilan. Saya sedikiiiittt setuju tentang laga best of 3 atau 5. Bagi saya pribadi, laga tersebut membuat “deg-degan” penonton lebih panjang. Namun jika dikatakan “paling adil”, rasanya 1 laga pun cukup adil. Barangkali tim yang kalah akan merasa dirugikan karena masih berandai-andai jika ada game 2 atau 3 barangkali keadaan akan berbeda. Tapi coba tanyakan kepada tim yang memenangkan laga, mungkin 1 laga sangat-sangat memuaskan :D

Potongan kalimat paragraf sembilan kemudian dilanjutkan oleh bung Toto dengan “Dengan demikian, tim yang memiliki peringkat terbaik di reguler mendapatkan keuntungan. Sponsor klub jauh lebih diuntungkan dengan mendapatkan exposure liputan media cetak dan TV lebih banyak. Sebagai contoh, CLS Surabaya tidak hanya diuntungkan sebagai tuan rumah, tetapi dari liputan media TV. CLS Surabaya mendapatkan empat kali tayangan TV. Sementara tim lain satu atau dua kali (itu pun di semifinal dan final).” Menurut saya, tim yang memiliki peringkat terbaik di reguler telah diuntungkan dengan menghadapi lawan jauh dari kutub yang berlawanan dari posisinya. Posisi 1 bertemu posisi 8. Secara statistik maupun mental, rasanya ini sudah cukup menguntungkan.

Lalu “Sponsor klub jauh lebih diuntungkan dengan mendapatkan exposure liputan media cetak dan TV lebih banyak..” Bagi saya, tanpa adanya liputan tv atau media yang lebih banyak atau panjang, para sponsor sudah pasti diuntungkan. Mengapa? Karena sejak awal mereka telah menyetujui sebuah kesepakatan win-win solution tentang apa yang mereka berikan kepada penyelenggara dan apa yang mereka dapatkan dari penyelenggara. Saya yakin dalam kalkulasi sponsor, mereka sudah beruntung dengan waktu dan keuntungan yang mereka dapatkan (yang sudah berjalan) dengan memberikan dukungan dalam berbagai bentuk kepada penyelenggara.

Benarkah CLS Knights diuntungkan sebagai tuan rumah seperti kalimat bung Toto “CLS Surabaya tidak hanya diuntungkan sebagai tuan rumah,”? Jika melihat perjalanan musim 2010-2011, CLS Knights belumlah menjadi sebuah tim yang memiliki keistimewaan karena bermain di rumah. Dan mereka bukan tim jago rumah. Sekali lagi, Pelita Jaya pernah mengalahkan CLS Knights di Surabaya, dan CLS Knights mengalahkan Pelita Jaya di Solo. Jangan lupa juga, Satria Muda mengalahkan CLS Knights di rumahnya (Surabaya) di seri 1 dan juga di final. Dan yang paling penting menurut saya, CLS Knights “kebetulan” main di rumah. Mengapa? Karena lokasi seri championship sudah ditentukan sejak sebelum NBL 2010-2011 dimulai. Andai kata prestasi CLS Knights jeblok dan terpuruk di urutan 9 atau 10, laga ya akan tetap diadakan di Surabaya walau CLS Knights gak ikut.

Jika bung Toto mengetahui jadwal laga mana yang akan disiarkan televisi sejak awal, maka bung Toto gak akan mengatakan “CLS Surabaya mendapatkan empat kali tayangan TV. Sementara tim lain satu atau dua kali (itu pun di semifinal dan final).” Pada seri reguler, semua tim masing-masing mendapat jatah 1 kali masuk tv. Di Surabaya: CLS Knights vs Stadium. Di Bandung: Garuda vs Pelita Jaya. Di Solo: Citra Satria vs Angsapura. Di Bali: Bimasakti vs Muba. Di Jakarta: Aspac vs Satria Muda.

Tetapi lagi-lagi, CLS Knights mendapat ekspos yang lebih hanya karena kebetulan semata. Sejak awal, NBL Indonesia yang bekerja sama dengan ANTV berkomitmen akan menyiarkan laga play off antara posisi 4 vs 5, semifinal 1 (antara pemenang 1 vs 8 X 4 vs 5), dan final dengan asumsi bahwa tiga laga tersebut adalah yang paling seru. CLS Knights berhasil duduk di posisi 4 klasemen akhir, masuk semifinal dan final. Bayangkan jika CLS Knights berada di posisi 2 atau 3, maka pasti bukan CLS Knights yang akan sering muncul di tv. Sekali lagi karena spot tersebut telah diatur sejak awal musim. Bukan disengaja demi keuntungan CLS Knights yang bermain di rumah.

Penutup..

Tulisan ini saya buat biar seru saja :D Karena menurut saya, beberapa tulisan bung Toto memang berkebalikan dengan apa yang saya tahu. Tentu saja, jika kawan-kawan pun merasa tulisan saya ngaco. Komentar pedas selalu terbuka melalui kolom comment/komentar di bawah tulisan ini :D

Hiphopdiningrat, Tak Perlu Ngerti Bahasa Jawa Tuk Ikut Bergoyang dan Tergugah!

Tidak ada yang istimewa dengan hiphop atau rap berbahasa Jawa. Telah muncul sebelumnya dan terus bermunculan hiphop berbahasa Prancis, Mandarin, Sunda, Indonesia, Jepang dan lain-lain. Meskipun bahasa ibu dari hiphop adalah bahasa Inggris, keturunannya tak haruslah serupa. Konsekuensi dunia yang semakin kecil, lebih kecil daripada daun kelor. Tak ada lagi ada batas.

Hiphop berbahasa Jawa yang pernah lahir, lalu sepi sejenak, bangkit lagi dengan tak hanya menggunakan bahasa Jawa sebagai penyampai pesan. Liriknya menjadi lebih populer, lebih merakyat, didengarkan oleh anak-anak SD hingga mbok-mbok pasar, bahkan mengambil karya-karya sastra kuno Jawa untuk dijadikan lirik, memadukan rappers dengan sinden, dan akhirnya “naik haji” dengan manggung di New York. Hal-hal tersebut menjadikan hiphop berbahasa Jawa lebih dari luar biasa. Perjalanan Marzuki Mohammad (Juki) a.k.a. Kill The DJ (@killthedj) bersama Jogja Hiphop Foundation yang ia dirikan dari tahun 2003 hingga pertengahan 2010 (masa pendokumentasian) menjadi inti cerita film dokumenter “Hiphopdiningrat”.

Jogja Hiphop Foundation

Jogja Hip Hop Foundation (JHF) didirikan tahun 2003 oleh Juki, yang katanya bertujuan membantu aktivitas dan mempromosikan rap berbahasa Jawa.

Diawali dengan berbagai acara kecil seperti It’s Hip Hop Reunion dan Angkringan Hip Hop, pada tahun 2006-2009 JHF memulai proyek Poetry Battle; eksplorasi karya puisi Indonesia dari puisi-puisi tradisional hingga kontemporer dengan media hip hop.

Dari proyek itu JHF menghasilkan dua buah album kompilasi Poetry Battle 1 & 2, dan mulai berhasil membentuk identitas dan sikap berkarya.

Menggunakan bahasa Jawa sebagai lirik rap, tampaknya sedikit sulit mendapatkan tempat pada industri musik Indonesia. Tetapi hal ini justru mampu diatasi JHF dengan caranya sendiri. Saat ini lagu-lagu JHF sudah menjadi “lagu rakyat” di Yogyakarta, terutama setelah diluncurkannya lagu Jogja Istimewa yang sudah menjadi soundtrack kehidupan rakyat Yogyakarta. Lagu itu dinyanyikan kolektif oleh Ki Jarot, akronim dari Kill the DJ, Jahanam, Rotra, ketiganya adalah crew yang paling konsisten memproduksi lagu-lagu hip hop berbahasa dan bernuansa Jawa dan mempresentasikan eksistensi dari JHF.

Hiphopdiningrat

Gw sangat gak banyak tahu tentang musik hiphop atau rap. Namun film dokumenter Hiphopdiningrat menggambarkan sesuatu yang lebih luas daripada sebuah perkembangan sub-kultur hiphop Jawa dari kecil hingga “naik haji” ke New York. *Istilah “naik haji” gw kutip dari pertanyaan Tarlen seusai pemutaran film. Hiphopdiningrat menggambarkan sebuah usaha keras tanpa henti mengatasi semua keterbatasan dan terus berjalan entah sampai kapan harus berhenti.

Film ini diawali oleh sebuah komentar singkat pendek dari seorang jurnalis wanita asing yang menceritakan sejarah singkat lahirnya hiphop di dunia dan lalu narasi sesungguhnya dibawakan oleh Juki sendiri dari balik stir mobil sambil mengelilingi kota Yogyakarta. Melengkapi ceritanya, Juki menampilkan potongan-potongan gambar dan video segala perhelatan yang dilakoninya bersama JHF.

Selain cerita dari Juki sendiri, Hiphopdiningrat juga menampilkan komentar-komentar para penggiat kebudayaan seperti Butet Kertaradjasa, Sindhunata, dan Jaduk Ferianto yang mengagumi betapa dahsyatnya rap berbahasa Jawa ini. Iwa K, pelopor hiphop Indonesia pun ikut berkomentar dengan mengatakan betapa ia sangat kagum dengan perkembangan hiphop di Yogyakarta dan berharap andai itu terjadi Jakarta.

Kisah yang tak kalah menarik dari Hiphopdiningrat adalah perjalanan para rappers yang tampil dan setia menggunakan bahasa Jawa untuk liriknya seperti Jahanam dan Rotra. Film ini memperlihatkan bagaimana rapper lokal tersebut tetap eksis ngerap sembari tetap melakukan kegiatan kesehariannya yang lain. Lucunya, Hiphopdiningrat juga menampilkan komentar dua orang ibu yang mengkhawatirkan masa depan anak-anaknya karena terlalu asik ngerap dan mengancam kuliahnya. “Hip hop gak jelas!” komentar seorang ibu yang seolah keinginan pribadinya untuk sang anak “dicuri” oleh hip hop. *Gw rasa sang ibu rasanya kini bangga melihat pencapaian anaknya dengan hip hop saat ini :)

Hiphopdiningrat tidak hanya menyampaikan perjalanan JHF dengan segala raihan dan prestasinya. Hiphopdiningrat mampu menggugah orang lain untuk terus konsisten pada panggilan jiwa, melewati semua hal yang harus dilewati dalam “perjalanan” tanpa peduli akan bagaimana hasilnya nanti.

Sayangnya, film yang disutradarai oleh Juki sendiri bersama rekannya Chandra Hutagaol ini belum diputar luas sehingga dapat ditonton oleh banyak orang. Gw sendiri tadi malam bukanlah salah seorang tamu yang diundang. Gw berhasil masuk nonton karena mencatut nama salah satu tamu yang diundang (Suave.. sorry guys :D). Tampaknya keinginan keras gw untuk nonton yang akhirnya “membawa” gw berhasil masuk di Blitz tadi malam :D Forgive me God :D Mirip-mirip gak yaa dengan kisah JHF yang akhirnya sampai ke New York? :D

*Alhamdulillah ngerti bahasa Inggris, Hiphopdiningrat disampaikan 80% menggunakan bahasa Jawa! :D