Kita Belum Seperti Itu, Gak Akan Seperti Itu, Tapi Lebih Daripada Itu

Tadi malam ketika hadir dalam acaranya The Marketeers, gw mendengar Farhan* bercerita tentang bagaimana panitia pelaksana pertandingan Persib melawan Persebaya di Bandung “mengendalikan” para pendukung Persebaya, also known as “bonek” yang berbondong-bondong akan ke Si Jalak Harupat, Soreang, Bandung. Saat itu, kabarnya bapak-bapak polisi gak mau ambil pusing dan memilih untuk melarang kedatangan mereka. Tetapi, panitia pelaksana punya cara yang lebih elegan!

Bonek dibiarkan berangkat menggunakan kereta. Dalam perjalanan, kabarnya, rombongan bonek itu mendapat “sambutan” di jalan dengan lemparan batu :D Sebelum memasuki Bandung, tepatnya di stasiun Rancaekek, para bonek ini diminta turun dan kemudian mendapat sambutan (tanpa tanda kutip) dari para bobotoh (pendukung Persib). “Cai.. cai.. cai..” (“Air.. air.. air..”) demikian Farhan menirukan perilaku ramah para bobotoh yang memberi air minum kepada bonek yang pasti kelelahan. Dari Rancaekek, bonek ini diangkut menggunakan mobil truk (milik polisi/tentara) ke hanggar di … hmm… Husein atau Nurtanio deket Soreang yaa..gak inget gw.. pokoknya ke hanggar.

Di dalam hanggar, bonek diberi makanan. “Ada 7.000 orang!” kata Farhan. Setelah semua bonek kenyang, Farhan bercerita sambil menirukan (mungkin) panitia di sana saat itu “kalian kan sudah kita baikin nih.. sekarang beli tiket doong..”

“Alhamdulillaah, dapet tujuh juta!” cerita Farhan dengan miris sambil menyungging senyum :'(, “lumayan lho daripada mereka gak bayar sama sekali.” Para bonek ini lalu diangkut lagi ke Si Jalak Harupat (nama stadion bola di Kabupaten Bandung). Sebelum laga Persib vs Persebaya dimulai, ada acara kecil untuk mengungkapkan kedamaian dan kekompakan antara kedua kelompok suporter yang dikenal memang karib ini.

Laga pun dimulai…

Selesai laga, bonek dibawa keluar dengan pengawalan. Dikumpulkan di suatu tempat, lalu kembali diberi makanan. Setelah itu, diangkut ke stasiun kereta, “kita ngasih 40 juta ke kereta api,” ungkap Farhan. Farhan kemudian menyelesaikan ceritanya dengan membanggakan rangkaian kejadian tenang terkendali itu yang padahal tadinya berpotensi rusuh. “Ketika pulang, bonek yaa ‘disambut’ lagi di beberapa tempat.” :)

Kebanggaan milik bobotoh karena mampu berlaku tenang dan gak rusuh. Demikian moral cerita yang sepertinya ingin disampaikan dan yang gw tangkap.**

*) Yes, Farhan yang di tv itu. Ia ikut bantu-bantu memasarkan Persib. Bukan.. bukan yang itu.. itu mah FarhaT Abas, bukan dia :P
**) Cerita di atas hanya penggalan dari cerita Farhan yang sebenarnya mencoba membuka mata bagaimana potensi pasar pendukung bola khususnya Persib Bandung sangatlah luar biasa besar dan fanatik.

——————

Kita belum seperti itu

Pendukung tim-tim NBL Indonesia rasanya belum banyak yang seperti pendukung tim sepak bola. Barangkali ada, tetapi pasti jumlahnya sedikit. Penggemar yang rela meluangkan waktu untuk memilih pertandingan tim kesayangannya daripada kegiatan-kegiatan lain adalah penggemar fanatik yang memiliki kebanggaan karena cinta. Sekali lagi, belum banyak yang begitu. Tetapi…

Kita gak akan seperti itu

Memaksakan diri menyaksikan pertandingan basket hanya bermodal nekat, mengharap gratisan bahkan harus dijamu oleh tuan rumah yang ketakutan akan terjadinya hal-hal yang tak diinginkan gak akan terjadi pada penonton basket. Jika gak punya uang. yaa gak usah nonton di arena. Silahkan nikmati pertandingan di televisi (walau pertandingan yang disiarkan masih sangat sedikit dan tentu saja aura nonton langsung jauh lebih hebat!). Sekali lagi, kita gak akan seperti itu karena fanatisme kita bentuknya berbeda. Karena…

Kita akan lebih daripada itu…

Kita akan nekat menghabiskan uang kita untuk nonton basket langsung di arena, berapapun harganya dengan mengorbankan keinginan lain dengan harga serupa. Atau memang karena uang kita ada lebihnya. Itulah kita! Kita rela antri dengan tertib. Dandan rapih, cantik, dan wangi sebelum berangkat, dan tentunya mengisi perut dengan cukup agar nanti mampu berteriak keras mendukung tim primadona di arena. Jika harga tiket naik, kita paling-paling akan mengeluh sedikit sebentar lalu berusaha sekuat tenaga (dengan halal) untuk menambah penghasilan lalu kita korbankan untuk menyaksikan tim idola kita. Itulah kita.. :)

3 pemikiran pada “Kita Belum Seperti Itu, Gak Akan Seperti Itu, Tapi Lebih Daripada Itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s