Huruf yang Paling Dibenci di Kotanya D

ertanyalah kepada orang-orang ibu kota Jawa Barat ini, apa yang membuat (konon) Kota Kembang ini macet di akhir pekan. Pada umumnya akan menjawab, B! Ada benarnya, silahkan tanyak bapak Polantas tentang data validnya. Atau sudahlah, kayaknya pak Polantas gak punya datanya. Kalau ditanya berapa harga bikin SIM, baru pak Polantas hapal luar kepala!

Lalu, ada pula sebuah mitos yang mengatakan bahwa pengendara B harus berhati-hati ketika klub sepak bola kesayangan warga yang dipimpin walikota yang fotonya tersebar di mana-mana ini tengah bertanding di Siliwangi atau Si Jalak Harupat. Awalnya gw gak percaya hingga gw mengalaminya sendiri tadi malam. Tadi malam usai bermain imbang melawan klub dari kota Malang, para penggemar tim sepak bola kesayangan kota ini kembali beraksi ugal-ugalan!

Malam tadi gw berada pada tempat yang keliru di waktu yang tidak tepat! Gw tengah berkendara dari Ujung Berung mengarah ke Cicaheum. Di tengah jalan gw berpapasan dengan ratusan penggemar fanatik tim sepak bola lokal. Gw tahu, mungkin akan ada sebuah masalah, jika mitos itu memang benar, gw tengah nyetir sebuah B!

Gw dipaksa menepi. Tapi gw tetap jalan. Lalu sebuah sepeda motor yang ditumpangi dua orang datang dari arah depan dan dengan sangat keras menghajar spion kanan B yang tengah gw supiri. Braakkk! Hanya satu detik kurang, kaca spion itu langsung hilang hancur lebur ke aspal. Gw gak bisa berbuat apa-apa :P

Ada polisi saat itu. Gw berpikir, aneh, biasanya polisi gemar sekali sembunyi lalu menjebak pengendara sepeda motor diperempatan jalan karena tidak mengenakan helm dengan tujuan mendapatkan “perdamaian”. Kali ini, ratusan pengendara sepeda motor tak mengenakan helm menari-nari di hadapan polisi yang tak punya harga diri. Dalam benak gw berujar “ini seharusnya menjadi ladang “perdamaian” bapak-bapak polisi!” Sayang, polisinya gak bernyali. T*t*t ayam :P

Perjalanan pulang gw lanjutkan. Pendukung sepak bola fanatik sudah tak lagi terlihat. Hanya satu dua yang motornya mogok. Ingin sekali rasanya menabrak mereka hingga mampus! Tapi logika pasar gw bicara “nyawa manusia tak sebanding dengan kaca spion.” :D

Huruf B tampaknya akan selalu dibenci oleh kota yang dipimpin oleh walikota yang pernah melarang adanya pom bensin di Jalan Dago, tapi tiba-tiba mengizinkan Petronas untuk buka pom bensin di sana. Padahal, jika mau mikir sedikit, B justru memberikan manfaat ekonomi yang sangat besar bagi kota yang berjarak sekitar dua jam dari kotanya B ini. Sayang, semuanya lebih senang mengumbar kepicikan dan lebih suka membenci B daripada mengambil manfaat dari kehadirannya.

Jika kota ini dan masyarakatnya benar-benar benci pada B, sekalian saja cabut huruf B dari segala embel-embel yang berbau kota ini:

Andung.

Persi Andung, atau..

O-otoh Persi.

Walikotanya sih cerdas, dia dari kecil gak butuh huruf B. Dia tahu, ini adalah kota D. Kalau tidak, namanya pasti Baba Rosaba! :D

Iklan

13 pemikiran pada “Huruf yang Paling Dibenci di Kotanya D

  1. Haha keren kak.
    Tp emang bener kan weekend yg menuhin parkiran FO sama jalan2 utama di bdg itu adlh B. :p
    Kalo masalah pendukung persib itu karna emg perseteruan dgn pendukung kota B yg ga tau sampe kapan bakal damai.

    Btw ikut prihatin sama spion kendaraan B yg kakak kendarai semalam. :D

  2. @slams, nonton kerusuhan sih sudah sering, yaa seperti lu laah. Tapi berada di tengahnya dan mendapatkan kerugian materi langsung dari orang gak bertanggungjawab yaa baru sekali itu (semoga gak terulang :P). Lu sudah pernah? Beda rasanya nonton dengan aktif di dalamnya lhoo.. Baik sebagai perusuh atau yang dirugikannya :P

  3. Hehe nada penuh kebencian di tulisan ini. I know how’s the feeling, i’ve been there before bang. Hanya karena kita berlawanan arah tetep aja dihajar padahal plat saya D bang. Mobil diberentiin & dimintain duit. Itu yang ditengah rombongan bang, diawal & diakhir rombongan mobil saya dipukul tongkat bendera, beberapa bagian penyok deh.

    Yang shock mah istri saya bang. Ngga nyangka sampe kayak gitu. Dia berasal dari kota yang juga punya pendukung fanatik klub bola tapi ngga pernah nemu kasus gitu.

    Buat saya itu kasus kedua kalinya. Mitos itu ngga salah juga sih. Bahkan bisa lebih parah kalo timnya kalah. Jadi saya lebih memilih ngga ada di jalanan saat bubaran bola itu. Karena yang kita hadapi adalah massa fanatik yang menghasilkan akumulasi energi sehingga mereka lebih berani, belum lagi kondisi malam hari yang membuat mereka sulit dikenali.

  4. Mau dibandingin sama suporter bola di tempat saya? Rasanya pengen nabrak mereka jg kalo pas lewat..karena rame2 mereka jd berani (psikologi massa) ga pake helm, nerobos lampu merah bareng2, dan melakukan hal lain-lainnya yg jelek2. Yang terakhir sampai mematikan orang lain…ya tuhan. Saya malu nama kota saya tercoreng oleh ulah mereka…
    Ini rasanya bukan masalah kota D saja, ini masalah sistemnya bola itu yg ga mendidik.

  5. di Jakarta ga pernah tuh kayanya nyenggol2 si “D” di jalanan..
    walau sebenarnya kalo mau bisa aja..

    yah, rasis mah ga urusan tim nya main aja..
    sweaping2 mahasiswa dari kota J juga gencar terjadi disana :D

  6. ya bgitulah sifat” asli mereka…
    dr ketuanya aja dah egoisnya stengah mampus..
    padahal mereka juga pasti masih ada yg mencari penghasilan di ibu kota…
    supporter fanatik yg ada di ibu kota mudah”an gak meniru kelakuan dusun seperti itu..

    jT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s