Perlukah Menyiarkan Lebih Banyak Pertandingan NBL di Televisi? Dilema Kecil

NBL Indonesia baru hanya bergulir di pulau Jawa dan Bali. Setiap kota selama putaran seri NBL disinggahi selama sembilan hari. Artinya, sembilan hari-setahun untuk satu kota. Penggemar basket di Indonesia berjuta-juta rasanya. Itu asumsi gw. Atau setidaknya beratus ribu yang tersebar di banyak kota dan desa. Followers gw di twitter tentu gak bisa dijadikan acuan. Namun menarik, setiap kali gw mengabarkan mengenai sebuah pertandingan tertentu, banyak followers gw yang bertanya apakah game tersebut masuk televisi.

Bila mayoritas pertandingan NBL Indonesia disiarkan oleh televisi, ratusan ribu bahkan mungkin jutaan penggemar basket di Indonesia akan merasakan manfaatnya. Mereka mungkin akan meninggalkan aktifitas lain untuk dapat menikmati aksi pebasket nasional. Dan tentu saja (baca: tetapi juga), penggemar NBL yang kotanya sedang disinggahi seri reguler pun akhirnya memiliki pilihan, nonton langsung di arena atau murah meriah melalui layar televisi?

Stasiun televisi mau menyiarkan NBL jika penonton di arena banyak atau penuh. Ini indikasi bahwa basket memang digemari dan tentu juga baik bagi estetika tampilan di layar kaca. Pertandingan basket yang sepi penonton entah mengapa berpengaruh kepada tingkat seru-tidaknya sebuah pertandingan. Inilah dilemanya: Jika basket ramai ditonton di arena, televisi mungkin mau untuk lebih sering menyiarkannya. Tetapi begitu televisi menyiarkan, potensi penonton yang datang ke arena bisa saja berkurang karena telah memiliki alternatif cara menonton :)

Masih maukah menonton langsung ke arena jika dengan duduk santai di rumah saja keinginan nonton NBL sudah terpenuhi? :D