Kenapa Angka Assist NBL Sedikit Sekali yaa?

NBL Indonesia dipenuhi oleh banyak pembagi bola handal. Sebut saja nama Faisal Achmad, Wendha Wijaya, Kelly Purwanto, Mario Gerungan, Dimaz Muharri, Budi Acun, Wallewangko, Denny Sartika, Merio Ferdiyansyah, dan Robert Yunarto. Untuk nama terakhir, gw kerap kali takjub dengan penampilannya. Setiap kali Robert main, gw selalu menanti ada atraksi apa nih dalam kecepatannya beraksi. Sekali waktu gw bahkan mengatakan “NBA punya Steve Nash, NBL punya Robert Yunarto!”

Kalimat tersebut gw tweet. Banyak teman setuju. Beberapa lagi penasaran ingin melihat langsung penampilan Robert (dan terkabul melalui siaran langsung di Antv kemarin). Tanggapan paling mengejutkan datang dari Udjo yang juga adalah penggemar berat Steve Nash, “assist-nya banyak yaa?” Nah! Gw langsung bingung menjawabnya. Sejauh ini Steve Nash membukukan rata-rata 10,8 assist per game, sementara Robert hanya 3,7 assist per game. Meskipun raihannya jauh berbeda, masih ada kesamaan sedikit, keduanya adalah urutan kedua tertinggi di liga :P Apakah itu artinya Rajon Rondo (urutan 1 NBA) sama dengan Faisal (urutan 1 NBL)? Ntar dulu :D

Apa sih sebenarnya assist itu?

Pengertian sederhananya adalah operan bola terakhir sebelum pemain mencetak angka. Logikanya, setiap kali bola dimasukan, kan pasti ada yang mengoper sebelumnya kan? Tapi pada kenyataannya, dari pertandingan dengan skor tertinggi di NBL saat ini, ketika Aspac Jakarta mengalahkan Angsapura Salatiga, 113-40, assist Aspac hanya 24 saja! 10 assist di antaranya dibukukan oleh Hendry Sudjana, sekaligus menjadi satu-satunya pemain NBL sejauh ini yang pernah menjadi pengumpul dua digit assist dalam satu game!

Ternyata ada beberapa kondisi dan syarat tambahan lagi yang menjadi ketentuan bahwa sebuah operan-masuk adalah assist. Selain operan terakhir kepada pemain yang mencetak angka, sebuah operan tersebut dikatakan assist jika pemain yang mendapatkan bola menceploskan bola sesegera mungkin!

Sebuah operan kepada seorang pemain dengan posisi leluasa untuk mencetak angka namun memutuskan untuk melakukan sebuah gerakan yang bertujuan bukan untuk menembak sebelum benar-benar mencetak angka adalah bukan assist.

Jarak menembak oleh penerima bola, faktor kemudahan/kesulitan pemain saat mencetak angka, atau pun jumlah dribble yang dilakukan sebelum mencetak poin tidak memengarui sebuah operan adalah assist atau bukan selama ia benar-benar melakukan gerakan langsung dengan intensi mencetak angka. Seorang pemain yang mendapat operan cepat lalu mendribble bola ke arah ring dengan cepat dan mencetak angka, maka teman yang mengoper bola kepadanya adalah assist. Namun jika penerima bola sampai melakukan gerakan hesitation untuk menghindari lawan atau mengubah arah sebelum ke ring, nope, itu bukan assist.

Butuh pengawasan seksama oleh pencatat statistik apakah sebuah operan berbuah poin merupakan assist ataukah bukan. Cukup sulit!

Kebiasaan pemain NBL membuat pencatatan assist malah mudah :D

Waktu bersama Detlef Schrempf di Bandung, gw ingat Detlef bilang “ketika bola mengarah ke gw, gw tahu gw akan menembak dan ketika menembak, gw tahu bolanya akan masuk.” Entah berapa banyak pemain NBL yang memiliki sikap seperti Detlef. Seringkali terjadi malah ketika menerima bola dan dalam posisi leluasa untuk menembak, pemain NBL kerap ragu-ragu dan tidak percaya diri untuk menyasar.

Jadi sebenarnya mengapa sebuah operan-masuk seringkali tidak berbuah assist adalah bukan karena pengopernya. Faisal, Wendha, Dimaz, Kelly, Merio, atau Robert sudah bermain sangat hebat untuk membagi bola. Seringkali aksi rekan-rekannya lah yang membuat para pengumpan tersebut tidak mendapat kredit atas operan dahsyatnya.

Kembali ke kebiasaan yang berhubungan dengan kata-kata Detlef Schrempf tadi, beberapa kali gw perhatikan ketika seorang pemain NBL mendapat bola untuk dieksekusi, mereka melakukan beberapa gerakan yang terlalu banyak. Alih-alih menangkap bola, jump stop, lalu shooting, eksekutor memiliki kecenderungan untuk mendribel satu kali ke kiri-kanan, fake pass, dribble ke depan lalu mundur untuk menembak fadeaway, merubah arah seolah akan mengoper, dan lain-lain. Gerakan-gerakan ini mengakbitkan sebuah operan tidak akan dihitung sebagai assist. Jarang sekali melihat pemain yang memahirkan gerakan sederhana; terima bola, jump stop (ataupun stepping), lalu skor!

Yes, ini kembali lagi ke fundamental bermain basket!

Jadi sekali lagi, sebuah passing bukan hanya bergantung kepada sebuah operan yang menghasilkan angka atau semata passing indah yang kerap berbuah decak kagum komentator dengan kalimat “what a nice pass!”, tetapi justru bergantung kepada sang eksekutor atau pencetak angka. Semakin sedikit gerakan yang ia ambil sebelum mengeksekusi bola, semakin besar rekan yang mengopernya mendapat tambahan pundi-pundi assist pada catatan statistik pribadinya.

Jadi sekali lagi, Robert, Faisal, Kelly, Wendha, Dimaz, Merio, dan lain-lain tetaplah sangat jago, tinggal melihat kepada siapa yang nembak :D

2 pemikiran pada “Kenapa Angka Assist NBL Sedikit Sekali yaa?

  1. Penjelasan yg bagus bro.. tp disini koq ga nyinggung ttg sistem/gameplan ya? well, gw cuma pgn ambil contoh gameplan dr salah satu klub peserta NBL (CSJ). gw sering liat klo CSJ itu “Teguhsentris”? so gimana bakal ada kesempatan assist buat temen” yg lain? ini opini ya bro.. kesimpulannya, sistem jg berpengaruh pd catatan statistik. Thx :D

  2. Thanks mainbasket atas penjelasannya, bentuk tulisan seperti yang mainbasket tulis emang lebih mudah dipahami ketimbang membaca langsung pengertian Assist yang terdapat dalam Fiba Live Stats Manual.

    Ketika pertandingan berjalan cepat atau tim yang bermain memang tim yang mengandalkan speed seperti CLS Knights, Aspac, atau Muba Hangtuah kita sering melihat poin-poin yang tercipta berawal dari sebuah assist yang apik, namun ada beberapa hal yang “membatalkan” assist apik tersebut seperti yang sudah dijelaskan mainbasket diatas.

    Ketika kasus-kasus seperti itu terjadi maka feelinglah yang dapat merasakan apakah action tersebut termasuk assist atau bukan assist, layaknya seorang referee yang mengambil keputusan ketika memimpin pertandingan yang berjalan dengan tempo cepat.

    Buat rekan Bayu, mungkin yang dimaksud bukan “TeguhSentris” tetapi “EvinSentris” mengingat ketika CSJ bermain pola serangan selalu bermula dari Evin, padahal Walewangko lah sang Point Guard.

    Thanks.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s