See The Big Picture, Let’s Make Friends (oleh Denny Sumargo)

Tulisan ini ditulis oleh Denny Sumargo menanggapi tulisan dari Richard Insane di posting sebelumnya. Silahkan menilai sendiri dengan obyektif yaa. Dialog untuk kemajuan basket nasional itu penting soalnya, demi kemajuan sama-sama.

———-

See The Big Picture, Don’t See The Small Picture, Let’s Make Friends

Salam dari saya pebasket yang bukan siapa-siapa. Saya datang dengan kerendahan hati saya, bukan untuk merasa diri saya lebih baik daripada orang lain, atau mencari pembenaran, saya hanya mencari pertemanan dalam hidup saya.

Membaca blog yang dimuat di blog Mainbasket, mengenai saya, “Kamu adalah apa yang kamu tweet (di basket)
Saya langsung menelepon Richard Insane dan Mainbasket dengan kerendahan hati yang saya punya, saya bertanya, apa kalian berpikir saya seperti itu? My friend, Richard Insane menjawab “maaf bro, gua hanya care sama lu, makanya gua rasa lu nggak pantas tweet seperti itu?” Saya menjawab “makasih bro, saya juga sayang sama lu, tapi sudahkan kamu bertanya kepada saya maksudnya apa, sebelum kamu me-Retweet atau mem-publish-nya?”

Tweet yang bahkan bukan sebuat retweet itu saya tujukkan kepada Rony dalam sebuah candaan, yang hanya berupa reply, yang dibalas Rony juga dalam bentuk candaan. Itu salah? Yes, kata-katanya salah. Pertama, karena bro Insane me-RT-nya dan secara tidak langsung mengiyakan statemen itu dan diposkan di blog Mainbasket dengan tanpa bertanya pada saya kebenarannya.

Saya mengiyakan kata-kata saya salah, dengan besar hati tolong jangan berpikir bahwa itu benar, tapi saya jadi berpikir, mama saya tidak pernah mengajarkan saya untuk hidup hanya dengan uang. Uang buat saya penting tapi kecintaan saya akan sesuatu di atas segalanya. Pernah ada yang bertanya kepada saya “Den, kenapa lu suka pindah dari satu klub ke klub lain? Padahal kalau dipikir secara penghasilan gua rasa lu bisa mendapat itu lebih baik di satu klub.” Saya menjawab “It’s all not because of the money.”

Tujuan hidup saya bukan itu, saya mencari tantangan, saya hidup hanya sekali, dan saya tidak ingin dikenang seperti keinginan orang lain, saya ingin dikenang seperti bagaimana saya ingin Tuhan menjadikan saya, saya tidak mencari pembenaran di dunia ini saya mencari pertemanan.

Cedera di tubuh saya sudah sangat banyak. Pernahkah saya complain dengan semua itu? Pernahkah saya tidak total dalam setiap misi saya di basket untuk klub saya? Pernakah saya tidak memberikan semua yang ada pada diri saya untuk klub saya? Pikiran, semangat, bahkan semua cedera saya untuk bertarung habis-habisan untuk klub yang saya bela. Saya hidup seperti itu karena saya adalah petarung sejati yang tidak mau complain dengan keadaan. Saya tidak ingin menganggu dan mengomentari hidup orang, karena saya tidak sempurna. Saya berbuat salah, saya hanya manusia yang harus berbakti, saya berfokus hanya pada misi saya, saya harus menginspirasi orang-orang yang mengenal saya dari jalur yang positif, saya sedang dalam perlombaan menjadi yang terpositif dalam jalan saya.

Saya juga punya hati, saya juga punya kesedihan, saya juga percaya kalian semua memiliki itu, hidup saya bukan hanya sebuah omongan, hidup saya adalah sebuah tindakan, pantaskah menghakimi orang lain hanya karena sebuah tweet candaan yang bahkan kamu sendiri tidak mengerti artinya! Sudahkah kamu bertanya sebagai teman?

Pikiran kecil saya yang jahat berkata mungkin saya bisa membalasmu, tapi hati saya berkata, buat apa? Bukan itu tujuan hidupmu, setiap manusia punya kelebihan dan pasti punya kekurangan, kamu mencari pertemanan bukan pembenaran. Sekarang saya sadar kenapa saya suka menertawakan hidup saya karena saya merasa hidup itu harus dilihat dari sisi yang lucu dan menyenangkan.

Lucu karena ini menjadi pembahasan. Saya tersenyum karena begitu banyak yang sayang sama saya, lovers and haters.

Lovers stay with me because I will inspire you to the end of my life. Haters stay with what you believe, but remember be positive and bisa melihat mana prioritas mana bukan dalam hidupmu. Hidup bukan untuk terlihat keren atau hebat karena kata-kata. Hidup untuk pertemanan dan menjadi berkat untuk orang lain:)

Saya percaya setiap orang memiliki hati yang baik dan mereka spesial di Mata Tuhan. Yang membedakan hanya tujuannya dan caranya. Jangan mencari keuntungan dari kelemahan seseorang, tetapi berlombalah untuk menjadi yang terpositif. Jangan sia-siakan hidupmu untuk keburukan karena hidupmu hanya sekali dan buatlah sebaik mungkin untuk orang-orang yang kamu sayangi dengan kerendahan hati.

Salam sayang saya untuk semua pecinta basket *HUGS Insane and Mainbasket.

Jangan berpikir saya akan menjahati kalian, saya akan selalu melihat sisi positif hidup kalian yang akan saya contoh.

Salam Hormat saya. Denny Sumargo, hidup untuk sebuah pelayanan dan pembelajaran.

Kenapa Angka Assist NBL Sedikit Sekali yaa?

NBL Indonesia dipenuhi oleh banyak pembagi bola handal. Sebut saja nama Faisal Achmad, Wendha Wijaya, Kelly Purwanto, Mario Gerungan, Dimaz Muharri, Budi Acun, Wallewangko, Denny Sartika, Merio Ferdiyansyah, dan Robert Yunarto. Untuk nama terakhir, gw kerap kali takjub dengan penampilannya. Setiap kali Robert main, gw selalu menanti ada atraksi apa nih dalam kecepatannya beraksi. Sekali waktu gw bahkan mengatakan “NBA punya Steve Nash, NBL punya Robert Yunarto!”

Kalimat tersebut gw tweet. Banyak teman setuju. Beberapa lagi penasaran ingin melihat langsung penampilan Robert (dan terkabul melalui siaran langsung di Antv kemarin). Tanggapan paling mengejutkan datang dari Udjo yang juga adalah penggemar berat Steve Nash, “assist-nya banyak yaa?” Nah! Gw langsung bingung menjawabnya. Sejauh ini Steve Nash membukukan rata-rata 10,8 assist per game, sementara Robert hanya 3,7 assist per game. Meskipun raihannya jauh berbeda, masih ada kesamaan sedikit, keduanya adalah urutan kedua tertinggi di liga :P Apakah itu artinya Rajon Rondo (urutan 1 NBA) sama dengan Faisal (urutan 1 NBL)? Ntar dulu :D

Apa sih sebenarnya assist itu?

Pengertian sederhananya adalah operan bola terakhir sebelum pemain mencetak angka. Logikanya, setiap kali bola dimasukan, kan pasti ada yang mengoper sebelumnya kan? Tapi pada kenyataannya, dari pertandingan dengan skor tertinggi di NBL saat ini, ketika Aspac Jakarta mengalahkan Angsapura Salatiga, 113-40, assist Aspac hanya 24 saja! 10 assist di antaranya dibukukan oleh Hendry Sudjana, sekaligus menjadi satu-satunya pemain NBL sejauh ini yang pernah menjadi pengumpul dua digit assist dalam satu game!

Ternyata ada beberapa kondisi dan syarat tambahan lagi yang menjadi ketentuan bahwa sebuah operan-masuk adalah assist. Selain operan terakhir kepada pemain yang mencetak angka, sebuah operan tersebut dikatakan assist jika pemain yang mendapatkan bola menceploskan bola sesegera mungkin!

Sebuah operan kepada seorang pemain dengan posisi leluasa untuk mencetak angka namun memutuskan untuk melakukan sebuah gerakan yang bertujuan bukan untuk menembak sebelum benar-benar mencetak angka adalah bukan assist.

Jarak menembak oleh penerima bola, faktor kemudahan/kesulitan pemain saat mencetak angka, atau pun jumlah dribble yang dilakukan sebelum mencetak poin tidak memengarui sebuah operan adalah assist atau bukan selama ia benar-benar melakukan gerakan langsung dengan intensi mencetak angka. Seorang pemain yang mendapat operan cepat lalu mendribble bola ke arah ring dengan cepat dan mencetak angka, maka teman yang mengoper bola kepadanya adalah assist. Namun jika penerima bola sampai melakukan gerakan hesitation untuk menghindari lawan atau mengubah arah sebelum ke ring, nope, itu bukan assist.

Butuh pengawasan seksama oleh pencatat statistik apakah sebuah operan berbuah poin merupakan assist ataukah bukan. Cukup sulit!

Kebiasaan pemain NBL membuat pencatatan assist malah mudah :D

Waktu bersama Detlef Schrempf di Bandung, gw ingat Detlef bilang “ketika bola mengarah ke gw, gw tahu gw akan menembak dan ketika menembak, gw tahu bolanya akan masuk.” Entah berapa banyak pemain NBL yang memiliki sikap seperti Detlef. Seringkali terjadi malah ketika menerima bola dan dalam posisi leluasa untuk menembak, pemain NBL kerap ragu-ragu dan tidak percaya diri untuk menyasar.

Jadi sebenarnya mengapa sebuah operan-masuk seringkali tidak berbuah assist adalah bukan karena pengopernya. Faisal, Wendha, Dimaz, Kelly, Merio, atau Robert sudah bermain sangat hebat untuk membagi bola. Seringkali aksi rekan-rekannya lah yang membuat para pengumpan tersebut tidak mendapat kredit atas operan dahsyatnya.

Kembali ke kebiasaan yang berhubungan dengan kata-kata Detlef Schrempf tadi, beberapa kali gw perhatikan ketika seorang pemain NBL mendapat bola untuk dieksekusi, mereka melakukan beberapa gerakan yang terlalu banyak. Alih-alih menangkap bola, jump stop, lalu shooting, eksekutor memiliki kecenderungan untuk mendribel satu kali ke kiri-kanan, fake pass, dribble ke depan lalu mundur untuk menembak fadeaway, merubah arah seolah akan mengoper, dan lain-lain. Gerakan-gerakan ini mengakbitkan sebuah operan tidak akan dihitung sebagai assist. Jarang sekali melihat pemain yang memahirkan gerakan sederhana; terima bola, jump stop (ataupun stepping), lalu skor!

Yes, ini kembali lagi ke fundamental bermain basket!

Jadi sekali lagi, sebuah passing bukan hanya bergantung kepada sebuah operan yang menghasilkan angka atau semata passing indah yang kerap berbuah decak kagum komentator dengan kalimat “what a nice pass!”, tetapi justru bergantung kepada sang eksekutor atau pencetak angka. Semakin sedikit gerakan yang ia ambil sebelum mengeksekusi bola, semakin besar rekan yang mengopernya mendapat tambahan pundi-pundi assist pada catatan statistik pribadinya.

Jadi sekali lagi, Robert, Faisal, Kelly, Wendha, Dimaz, Merio, dan lain-lain tetaplah sangat jago, tinggal melihat kepada siapa yang nembak :D