Kamu Adalah Apa yang Kamu Tweet (di Basket)

Tulisan ini adalah kiriman dari kak Richard Insane. Ada sedikit kontroversi di dalamnya. Perdebatan berlanjut di twitter setelahnya. Tapi hanya sebentar. Ada kritisi, ada pembelaan di twitter. Dialog yang terbangun sangat menyenangkan dan mendidik :)
——

Twitter, merupakan social media yg saat ini sedang berada di level teratas obrolan semua level (terutama anak basket) di kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya saat ini. Gue gak mau bahas sejarah twitter. Gw cuma mau menegaskan bahwa seandainya media twitter digunakan dengan baik dan benar, seseorang bisa dengan mudah mendapatkan/memberikan info kepada khalayak banyak (followers) dalam hanya sebuah tweet (pesan). So, intinya gue dan kebanyakan teman-teman basket dapat dengan mudah mengetahui semua kegiatan dan karakter semua atlet-atlet basket dunia dan dalam negeri melalui tweet-tweet-nya. Jadi jangan salah kalau akhirnya ada istilah, “you are what you tweet!” Karena hampir sebagian besar tweet (ucapan) yg “terucap” di twitter anda adalah murni dari hati dan pemikiran Anda.

Nah, menyambung dan menanggapi hal itu, pagi ini saya cukup terusik dengan tweet Denny Sumargo (salah satu pemain Tim Garuda Bandung) kepada Rony Gunawan (pemain Satria Muda Jakarta), –> “RT @SumargoDenny: @rogun32 kalah ngak apa cong, yg penting digaji,” Densu nge’tweet seperti ini karena awalnya si Ronny Gunawan nge’tweet ini –> “RT @rogun32: Sorry guys we lost.. we still hv 2 more games. Keep n stay focus for that.

“Koq lu jadi ribet ‘sane? Koq loe yg kebakaran jenggot ‘sane? Kan bkn urusan loe juga? Iya, memang bukan urusan gue! Gue streetball kalii. Tapi biar bagaimana saya ingin basket kita maju dan hal ini kalau dibiarkkan bisa merusak dan menghambat kemajuan bola basket tanah air. Tidak ada keperdulian dan rasa memiliki!

So, Intinya, Kenapa saya terusik? Mereka (para pemain NBL, pujaan banyak orang, panutan anak-anak basket di Indonesia dan sorotan publik serta konsumsi media) dibayar (baca: digaji) oleh tim mereka bukan untuk kalah kan? Tapi karena mereka (tim) percaya kalau mereka (para pemain) dapat memberikan kontribusi yang baik untuk tim yg ujung-ujungnya everybody happy. Nah, klo tweet seorang Denny Sumargo seperti itu dan 24 ribu followersnya baca, hmmm, sungguh sangat disayangkan! Seorang Densu, yang notabene ikon NBL Indonesia, publik figur yang sering nge’tweet motivasi dan kata-kata bijak di twitter ternyata tidak lebih dari seorang “Ababil” (baca: Anak Basket Labil!) Sori man! Gue harus akui, tweet loe Salah Besar Man! Becanda? Tp ngk pada tempatnya masbro .. Yo Densu .. Pertanyaan gue: Bagaimana Garuda mau menang?!! Kalau pemikiran lu “gak apa-apa kalah, yg penting digaji?!” Kecewa gue sob!! *garuk aspal* *pukul bantal*!!

Pelita Jaya vs Satria Muda, 2-0! Begini Seharusnya Tim Lain Bermain!

Menyenangkan menyaksikan permainan Pelita Jaya saat mengalahkan Satria Muda untuk kedua kalinya di lanjutan seri NBL Indonesia. Pelita Jaya menunjukan sebuah gaya permainan yang menurut gw adalah gaya yang seharusnya ditiru oleh tim-tim lain di NBL; berani menembak!

Setiap mendapat kesempatan ruang kosong untuk menembak, baik Dimas Aryo, Andi Batam, dan tentu saja Ary Chandra tanpa ragu melepaskan tembakan. Dimas Aryo dan Andi Batam bahkan lebih berani, mereka tanpa ragu menghajar walau dalam penjagaan yang ketat. Oh, gw sudah sebut Romy Chandra? Yes, pemain itu juga!

Persentase field goals kedua tim memang tak jauh berbeda. Tetapi tentu saja Pelita Jaya lebih beruntung karena memasukan lebih banyak bola terutama untuk tembakan tiga angka. Pelita Jaya memang terlihat banyak membuang bola dengan melakukan 32 kali tembakan tiga angka. Jumlah banyak yang tak begitu terasa ketika pertandingan sedang berjalan. Namun efeknya, Pelita Jaya berhasil memasukan sembilan di antaranya. Satria Muda sendiri hanya berani menembak 14 kali tembakan tiga angka dan hanya dua saja yang masuk. Satria Muda bermain lebih hati-hati, main aman tak berisiko yang sebenarnya juga sangat berisiko.

Satria Muda lebih mengandalkan terobosan ke jantung basket Pelita Jaya yang tampaknya sudah ditebak oleh (Rastafari dan..) para pemain Pelita Jaya. Pelita Jaya bermain keras untuk menghentikan Roni Gunawan dan kawan-kawan. Hasilnya banyak foul memang, namun lagi-lagi, akurasi buruk mereka menguntungkan Pelita Jaya.

Pelita Jaya mengajarkan bahwa begitulah seharusnya bermain basket menghadapi tim kuat, cepat dan berani mengambil risiko. Satria Muda pun mengajarkan sesuatu, jika menembus langsung ke jantung pertahanan Pelita Jaya sedemikian sulitnya, apalagi tembok Filipina?!