Catatan Hingga Akhir Seri 3 Solo: Wasit Goblok atau Kita yang Goblok?

“Wasit goblok! Wasit goblok!” Umpat kita kala wasit meniup peluit sementara kita, penonton dan semuanya yang non-wasit merasa bahwa keputusan wasit itu ngawur. Susah benar jadi wasit sepertinya jika ada dalam posisi tersebut, “sendiri menghadapi dunia”! Bagaimana kalau ternyata keputusan wasit benar? Yang jelas ia gak mungkin teriak balik ke kita “penonton, pemain goblok!”. Kasihan yaa.. dunia gak adil kepada wasit :P

Gw dan beberapa teman yang selalu nonton NBL Indonesia punya wasit-wasit NBL “favorit”. Kata “favorit” diberi tanda kutip karena maksudnya memang agak menyimpang. Wasit “favorit” yang kita maksud adalah wasit-wasit yang kerap memberi tiupan kontroversial. Atau malah gak niup tapi kontroversial juga. Wasit yang niup dan kontroversial itu misalnya, saat ia meniup dan memberi tanda traveling, kita kecewa karena kita anggap gak ada pelanggaran traveling sama sekali. Dan wasit yang gak niup tapi kontroversial itu adalah pada saat kita merasa ada pelanggaran, sang wasit malah santai menganggap tak ada pelanggaran.

Wasit itu seperti gong. Ia mengeluarkan bunyi (peluit) untuk menandakan sesuatu. Tapi nasibnya yaa begitu, dipukul benjol, gak dipukul juga benjol! Jadi kalau mau jadi wasit, yaa bersiaplah untuk benjol. Itu sudah fitrahnya wasit. Benjol! :P

Dalam sebuah pertandingan NBL di Solo, wasit “favorit” gw memimpin pertandingan. Tak hanya gw yang berasumsi “yaahhh, wasit ini lagi..” tetapi ternyata cukup banyak yang gw lihat mengeluarkan tawa mengejek sinis ketika wasit bersangkutan memasuki lapangan. Mukanya juga sudah nyebelin soalnya.. hehee.

Ketika pertandingan berlangsung, dalam suatu kejadian, ia meniup peluit dan memberi tanda gerakan tangan bahwa si pemain melakukan traveling. Pemain protes. Pelatih di luar lapangan protes. Pemain-pemain yang lain juga protes. Penonton kaget “apanya yang traveling?!!” Tetapi sang wasit bersikukuh bahwa ia melihat terjadinya pelanggaran traveling. Pertandingan dilanjutkan kembali.

Selang beberapa waktu kemudian, wasit tersebut kembali meniup peluit dan menyatakan bahwa telah terjadi traveling. Kali ini pemain, penonton, dan semuanya hanya tertawa geli melihat kelakuan wasit seolah pasrah “sudahlah, terima saja.. wasitnya parah..!” Dari bangku penonton gw mendengar teriakan “wasit goblok!!” Lucu, kalau ini di Bandung, bukan seorang saja yang teriak demikian. Justru yang gak teriak “wasit goblok!” yang bisa dihitung dengan jari.

Beberapa hari kemudian, teman gw memperlihatkan rekaman video ketika sang wasit meniup peluit menyatakan traveling. Duarr!!! Gw tersentak. Keputusannya benar! Dalam gerakan lamban, pemain tersebut memang melakukan traveling. “Mampus!” pikir gw. Berarti wasit benar dan kita semua yang goblok! :P

Menghormati wasit dan ketegasan wasit

Terlepas dari kejadian di atas. Gw seringkali melihat bahwa pemain seringkali kurang menghormati wasit dan wasit berlaku kurang tegas. Di Solo, gw melihat sendiri seorang pemain menunjuk-nunjuk wasit karena mendapat peluit karena merasa tak melakukan pelanggaran. Saat bersamaan, sang wasit diam saja. Gw berpikir lagi, jikalau gw yang jadi wasit, pemain tersebut akan gw ganjar technical foul!

Lalu ada pula pemain yang bercanda dengan wasit. Ketika bercanda, tanpa segan sang pemain melap tangannya yang basah oleh keringat ke celana wasit dan wasit diam saja. Damn! Si pemain kurang ajar, dan wasit mau aja lagi digituin!

Ketika meniup peluit untuk menyatakan pelanggaran ketika terjadi kemelut di bawah basket, wasit juga selalu berlari ke arah meja untuk melaporkan pemain mana yang melakukan foul. Pada saat wasit berlari, yang gw rasa bukan sebuah ketegasan mengambil keputusan dan melapor kepada petugas meja, tetapi wasit seolah berlari menghindari protes pemain. Terlihat lucu :P

Bosan juga dengan pernyataan “wasit juga manusia”

Posisi wasit memang krusial. Gak akan ada pertandingan tanpa wasit. Sejauh ini gw setuju bahwa keputusan wasit memang banyak kontroversialnya. Kenapa terasa banyak? Karena kita memang gak pernah menghitung atau menghargai keputusan wasit yang benar. Wasit NBL memang harus meningkatkan mutunya. Kadang gw pikir (lagi) ini mah bukan masalah penguasaan materi perwasitan yang kurang atau pengamatan yang kurang jeli. Melainkan masalah ketegasan dan wibawa. Wasit kita teh kurang berwibawa kayaknya.. Wallahu’alam :P

3 pemikiran pada “Catatan Hingga Akhir Seri 3 Solo: Wasit Goblok atau Kita yang Goblok?

  1. memang seharusnya jadi wasit itu yg bejiimane bang idan?
    contoh :
    waktu di solo kemarin pada pertandingan cls dan SM kayanya…. ada wasit yang pendek dan botak itu terlalu over, dan setiap menghampiri meja selalu diketawain sama penonton dan para juri di meja sendiri. dinilai terlalu banyak ngomong dan becanda. seperti iklan sosis ituhh…

    coba diinget-inget lagi bagemana kalo wasit yg kaya gitu?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s