Nalar yang Kacau! Dan Logika Orang-orang Normal!

Sebut gw naif, polos, bau kencur, atau masih hijau dan belum banyak paham apa-apa tentang banyak hal. Kejadian yang terjadi tadi malam menunjukan kenaifan gw atau mungkin juga nalar gw yang kacau.

Malam tadi terjadi sebuah peristiwa penting-gak penting dalam dunia basket Indonesia. Pemilihan ketua umum Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia, disingkat Perbasi yang hasil akhirnya mengolok-olok logika naif gw.

Singkat cerita, tersebutlah bahwa organisasi pecinta basket terbesar di Nusantara yang direstui dan disokong pemerintah ini tengah mencari seorang ketua umum baru. Beberapa nama muncul sebagai kandidat. Empat orang tepatnya; Maruarar Sirait, Anggito Abimanyu, Ary Sudarsono, dan Azrul Ananda. Dua nama yang pertama gw sebutkan tak begitu akrab bagi gw. Dua nama berikutnya sudah sangat populer di kancah bola basket dalam negeri.

Kabarnya, sebelum-sebelumnya dalam mencari seorang ketua umum baru bukanlah hal yang rumit bagi Perbasi. Kerap kali calon ketua hanyalah satu orang dan seringkali terpilih secara aklamasi. Kali ini berbeda. Empat orang bergairah ingin berada pada posisi tersebut.

Siapakah Maruarar Sirait? Gw gak tahu, yang gw ingat, ia kerap berseliweran di televisi pada saat heboh kasus Bank Century. Itu yang gw ingat.

Lalu siapa Anggito Abimanyu? Seorang cendekia. Guru besar ekonomi di Universitas Gajah Mada dan mantan wakil menteri keuangan yang tak mau lagi duduk di pemerintahan karena (katanya) kecewa sebab tak diangkat menjadi menteri ketika yang ia wakili, Sri Mulyani memilih jabatan baru sebagai salah satu direktur Bank Dunia (World Bank). Anggito katanya sempat aktif dalam dunia basket Indonesia dengan pernah menjadi salah seorang pengurus klub Indonesia Muda di Kobatama/IBL.

Ary Sudarsono, gw kenal Ary Sudarsono karena ia dulu adalah seorang komentator basket di televisi. Anak muda angkatan gw pasti akrab dengan namanya. Ary Sudarsono juga pernah menjabat sebagai Direktur IBL (nama sebelum berubah menjadi NBL). Terakhir kali melihat Ary Sudarsono, ia menjadi announcer pada pertandingan terakhir petinju kebanggaan Indonesia, Chris John. Yes, itu bung Ary yang memperkenalkan kedua petinju.

Azrul Ananda, ah kita semua tahu lah siapa orang yang satu ini.

Dalam perjalanan menit-menit menuju pemilihan, Maruarar dan Ary mengundurkan diri. Tinggalah Anggito dan Azrul yang tersisa dan harus melewati mekanisme voting untuk menentukan siapa yang menjadi ketua umum yang baru. Siapa yang gw jagokan? Tentu saja Azrul Ananda. Tetapi agar terlihat bijaksana, gw mengatakan juga bahwa asalkan yang terpilih berhasil memajukan basket Indonesia tentu gw dukung. Siapapun ia. Itu agar terlihat bijaksana. Namun tentu saja gw gak sebijaksana itu. Mengatakan mendukung siapa saja asal demi kebaikan rasanya (maaf) terlalu cemen, main aman. Gw berpihak kepada Azrul Ananda.

Keberpihakan gw tentu bukannya tanpa alasan. Keberpihakan yang (tadinya gw pikir) berdasarkan nalar yang sehat. Ketika banyak orang bermimpi membangun kembali basket Indonesia menjadi lebih baik, Azrul melakukannya. Ketika para pecinta basket bermimpi ada liga pelajar se-Indonesia yang heboh, ramai, dan berkualitas, Azrul bersusah payah membangun DBL dari nol. Ketika penyelenggara IBL yang lampau dengan duka rela lara menyatakan tak mau lagi mengadakan liga profesional terbesar di negeri ini, Azrul menyelenggarakan NBL. Ketika banyak orang bermimpi untuk bertemu atau mendatangkan para pemain NBA ke Indonesia, Azrul bahkan mengajak NBA untuk menyumbang ilmu kepada anak-anak muda Indonesia. Ketika kita bermimpi mampu mengadakan kerjasama internasional dengan basket dunia luar, Azrul meyakinkan dunia luar bahwa merekalah yang ingin bekerjasama dengan Indonesia. Ketika kita berharap para pelajar Indonesia mampu bersaing dengan para pelajar negara-negara lain, Azrul membuktikan bahwa pelajar kita pun bisa menang melawan pelajar-pelajar dari luar negeri. Ketika kita baru bermimpi, berbicara ide, memaparkan konsep, Azrul bukan saja telah melakukannya, tetapi melakukannya dengan sangat baik serta tanpa dukungan pemerintah!

Azrul sudah sangat sibuk membangun liga pelajar DBL dan liga profesional NBL. Dia sangat super sibuk. Ketika mencalonkan diri menjadi ketua umum Perbasi tentu saja gw menganggap ia menambah-nambah pekerjaan. Tetapi sekali lagi ketika ia dengan mantap mengatakan bahwa ia serius ingin mencalonkan diri menjadi ketua umum Perbasi, gw tahu ia mampu. Karenanya gw dukung.

Gw berpikir bahwa akan sangat sulit mengendalikan sekian banyak kepengurusan cabang Perbasi yang tersebar di seluruh Indonesia. Bagaimana cara Azrul menjalankannya? Sulit pasti “memegang” orang-orang di daerah dengan segala keaneka-ragaman karakter dan kepentingannya. Namun logika sederhana gw mengatakan hal tersebut justru sangat mudah bagi Azrul mengingat apa yang tengah dan sedang ia lakukan selama ini dengan liga pelajar DBL yang tersebar di seluruh Indonesia. Azrul selalu memberdayakan para pegawainya yang bekerja pada surat kabar-surat kabar miliknya yang menggurita ke daerah-daerah. Azrul tinggal memberdayakan (lagi) mereka untuk menjadi “mata dan pelaksana” yang lebih kuat baginya dibandingkan orang-orang yang memang sudah berada di dalam Perbasi sendiri.

Anggito Abimanyu? Seorang teman di twitter yang juga seorang wartawan senior, mas Eko Widodo mengatakan bahwa konsep yang diusulkan oleh bapak Anggito lebih holistik dibanding Azrul. Gw sih gak tahu apa konsep pak Anggito. Namun demikian, gw percaya bahwa konsep pak Anggito mungkin lebih baik daripada Azrul, lebih holistik. Bahkan mungkin jaauuuhhh lebih baik. Tetapi sekali lagi, itu baru sebatas ide dan konsep. Azrul sudah bergerak melampauinya jauh di depan. Apa yang dikerjakan Azrul sudah sangat berdampak. Jauh lebih menyeluruh. Azrul memajukan pendidikan anak-anak basket yang kerap kali adalah anak-anak yang biasanya justru yang kemampuan pendidikannya di bawah teman-temannya yang lain. Azrul bahkan menyatukan mereka dalam semangat persatuan yang membawa nama negara Indonesia. Bukan dalam dunia mimpi berlipat bak film Inception, tapi kenyataan. Konsep sudah basi di tangan Azrul. Semuanya masalah tindakan.

Semua orang tahu apa yang telah dan sedang dilakukan Azrul. Presiden dan menteri tahu apa yang ia usahakan. Sebagai orang Indonesia gw bangga atas apa yang ia lakukan. Cita-cita pribadi gw, ia yang mewujudkannya. Nalar bodoh gw berpikir, apa yang ada dalam benak gw sama seperti apa isi kepala orang-orang. Gak mungkin orang basket di Indonesia gak tahu apa yang telah dan sedang Azrul lakukan.

Dengan sedemikian banyak dan panjang rekam jejak Azrul yang sudah dan masih ia tuliskan, gw optimis bahwa sesama saudara yang ingin melihat kemajuan basket Indonesia akan mendukung Azrul menjadi ketua umum Perbasi. Demi Perbasi yang super jauh lebih baik. Apa yang pernah dilakukan Anggito Abimanyu? Ia pernah aktif di tim basket Indonesia Muda. Itu dulu. Dan oh, Anggito Abimanyu cinta pada basket. Sama seperti gw dan Erik teman gw atau Herdian teman gw yang mantan pemain profesional atau Pandji, rapper yang masih rutin main basket. Anggito Abimanyu adalah seorang ekonom ulung. Guru besar salah satu perguruan tinggi terkemuka di Asia

Atas dasar-dasar tersebut, gw hakul yakin Azrul akan terpilih menjadi ketua umum Perbasi yang baru. Tetapi itu dia, nalar gw ngaco. Logika gw tidak bekerja layaknya logika normal. Apa yang gw tahu, apa yang gw pikir orang-orang tahu ternyata berkebalikan dengan logika orang-orang normal. Anggito Abimanyu mengalahkan Azrul dengan 133 suara melawan 68 suara saja yang mendukung Azrul.

Semuanya berawal dari mimpi Dan. Mimpi pak Anggito indah. Ah atuh laah, siapa yang mau terus berada di alam mimpi ketika kita berada dalam dunia nyata yang jelas-jelas kita impikan. Wake fucking up!