Ewing Theory/Braess’s Paradox untuk Garuda Bandung

Butuh waktu rada lama untuk memahami tulisan jurnal ilmiah yang ditulis oleh Brian Skinner dari School of Physics and Astronomy, University of Minnesota, Minneapolis, Minnesota dengan judul “The Price of Anarchy in Basketball” yang gak sengaja gw temukan kemarin. Hmm, sejujurnya sih gw benar-benar gak paham tentang rumus-rumus yang ia paparkan terkait dengan kesetimbangan Nash dan lain-lain. Namun kesimpulan secara garis besar dari teori Brian Skinner kurang lebih mengatakan bahwa dalam rangka mencapai tingkat efisiensi paling optimal pada saat menyerang, sangat penting bagi sebuah tim (justru) menghindari strategi/taktik/usaha menyerang (offensive) yang mereka anggap paling efisien! Dalam hal ini (Garuda), untuk mengoptimalkan permainan para pemainnya, maka (Garuda) sebaiknya tidak menggunakan pemain (yang ia anggap) terbaiknya*. *baca: bintang! Bahasa kerennya, Braess’s paradox.

Dalam istilah lain, Bill Simmons, seorang kolumnis olahraga di ESPN memberikan istilah lain, Ewing theory, yang menyatakan bahwa dengan mengeluarkan seorang pemain bintang dari dalam sebuah tim, efeknya justru akan membuat tim tersebut semakin baik. Dan kembali menurut Brian Skinner, hal ini dapat dijustifikasi secara ilmiah (teori “network-based”) bukan hanya secara psikologis (baca selengkapnya di link yang gw kasih di atas yaa..).

Pada akhir makalah ilmiahnya, Brian Skinner juga bilang bahwa sebenarnya teori yang dia paparkan adalah hal lazim yang sering dilakukan oleh setiap pelatih olahraga apapun. Setiap pelatih kerap menurunkan pemain andalannya. Awalnya memang bagus, namun lama-kelamaan pemain lawanpun mulai menangkap pola permainan si pemain bintang dan akhirnya menemukan cara terbaik untuk mematikan si pemain utama tersebut. Nah, efisiensi pemain tersebut tentunya akan berkurang. Oleh karenanya si pemain bintang malah sering gak dimainkan.

Nah, jika pemain bintang sudah sering bermain namun kontribusinya justru tidak signifikan atau malah mengurangi efisiensi penyerangan, gw rasa Ewing theory ini sudah patut dilaksanakan. Dalam kasus Garuda Bandung, siapakah pemain bintang dari sekian banyak bintang di Garuda yang harus lebih banyak tidak dimainkan atau malah dikeluarkan?

Selamat berpikir :P

*ilustrasi gambar gak ada tendensi apa-apa lho yaa.. Nih orang-orang pada makin sensitif soalnya :P

2 pemikiran pada “Ewing Theory/Braess’s Paradox untuk Garuda Bandung

  1. Dari beberapa posting ka Idan seputar NBL ataupun Garuda Flexi Bandung,posting ini hrus saya baca sampai 2x untuk memahami maksud dan intinya. *mungkin saya agak2 lamban untuk mencerna posting yg satu ini

    tapi setelah membaca posting kaka ini,muncul pertanyaan baru ne ka. Apa Garuda memang harus mengeluarkan salah satu pemain bintangnya? Karena kalau pemain bintang ini tetap ada di Garuda namun dengan minute play yg minim pasti semakin membuat opini2 baru di kalangan fans yg pasti penasaran..

  2. sebenarnya yg terjadi diGFB, mereka tidak terkena ewing theory. tapi, klo bisa saya contohkan GFB ibarat manusia. manusia hanya punya 1 tulang punggung yg menopang 1 badan, tetapi yg terjadi di GFB mereka terlalu banyak mempunyai tulang punggung yg menyebabkan mereka sendiri binggung siapa yg menopang tim. coba bayangkan klo manusia mempunyai banyak tulang punggung, ribet kan!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s