Milik IBL yang Tak Ada Lagi di NBL

Dulu saat Denny Sumargo belum memberikan kepastian akan tetap bermain untuk Garuda, hijrah ke Pelita Jaya atau Aspac (rumor gak jelas), atau malah pensiun bermain basket, gw sempat berpikir bahwa sebaiknya pemain sekelas Denny Sumargo dengan kualitas performa (saat) terbaiknya sebaiknya pindah saja ke Muba Hangtuah Indonesia Muda! Kala itu gw pikir, tim sekelas Muba butuh suplai pemain sekaliber Denny untuk mengangkat nama dan prestasinya.

Namun, ketika kompetisi sudah berjalan dan Seri I Surabaya telah berakhir, pikiran gw dahulu langsung mentah! Terpental jauh layaknya sebuah pemikiran ngawur. Denny yang akhirnya menetapkan diri untuk tetap bersama Garuda justru kelabakan saat menghadapi Muba Hangtuah pada pertandingan pertamanya di NBL. Muba Hangtuah tidak membutuhkan Denny Sumargo untuk menjadi bertaji. Di sana ada Dian Heryadi dan Buggi Setiawan yang sangat padu ditambah point guard edan bernama Robert Santo Yunarto! Muba Hangtuah bahkan bercokol di posisi 4 klasemen sementara. Dua tingkat di atas Garuda.

Hampir semua tim NBL masih mengandalkan pemain-pemain lama. Perpindahan pemain tak banyak terjadi. Praktis hanya Pelita Jaya yang menunjukan wajah-wajah baru. Itupun sudah dibangun sejak beberapa tahun sebelumnya alias mereka hanya menambah Dimas Aryo Dewanto untuk menghadapi NBL, eiitts, tunggu dulu, entah kenapa tim ini rasanya semua pemainnya adalah baru semua..hahahaaa. Padahal Garuda ada Wendha, Satria Muda banyak pemain muda, CLS Knights ada Sigit, dan Angsapura 100% baru!

Ah, sebelum ngelantur, gw sebenarnya penasaran, mengapa kita menganggap ada beberapa tim yang jago dan ada beberapa tim yang biasa-biasa saja? Jawabannya sederhana sih (yaelaahh, dijawab sendiri), karena satu tim itu adalah juara bertahan, karena tim lain dihuni pemain-pemain jago, karena tim yang itu bertabur bintang, karena tim ini berisi pemain-pemain muda berbakat, karena tim ini berasal dari kota kelahiran gw, dan alasan-alasan lainnya.

Wajar memang, tetapi rasanya anggapan lama bahwa sebuah tim jago dan tim ini-itu biasa saja ini sedang diacak-acak. Di atur ulang di benak para penggemar basket Indonesia. Aha! Ya yaa.. kuncinya adalah “benak penggemar basket“! Tim unggulan, non-unggulan, kuda hitam, dan berbagai julukan lain hanya ada di “benak penggemar basket”. Pada benak pemainnya belum tentu ada! Dan sebaiknya jangan pernah ada! Dulu, yaa dulu sekali, beberapa tim sepertinya memandang tim lain lebih hebat dan tim lain lebih rendah. Ketika sebuah tim menganggap tim lain sama kuat, biasanya pertandingan akan berjalan seru dan penuh kejutan!

Itulah yang hilang dari NBL yang dulu ada di IBL. Kehilangan yang melegakan. Kehilangan yang justru membuat kompetisi berjalan seru. Kita kehilangan sesuatu yang sebenarnya memang tak pernah kita miliki! Kini setelah Seri I Surabaya usai, rasanya setiap tim sudah enggan memiliki asumsi tim ini bagus dan tim ini mudah dikalahkan. Yang ada hanya bekerja keras bermain baik dan menghasilkan poin sebanyak-banyaknya. Kemenangan adalah berkah, kekalahan tak masalah karena keringat tercucur terperah berguna tak sia-sia. Selamat datang November, selamat datang kekuatan-kekuatan misterius yang akan saling mengalahkan. Sampai jumpa di Bandung!

13 pemikiran pada “Milik IBL yang Tak Ada Lagi di NBL

  1. Masih belum mas.
    Angsapura msh 2 level dibawah big 4.Gk usah diperdebatkan wong memang jauh. Ini jg baru awal yoo perjalanan wis msh panjang. Kejutan bs trjadi tp ora iso jd ukuran mas.

    Trims

  2. angsapura saya yakin punya prospek yang baik ke depannya . mereka hanya sedikit kurang pengalaman . kita tunggu saja “bom waktu” ini “meledak”

    go angsapura go !

  3. Hmm.. Setuju…Menambahkan..

    ada 1 hal lagi yang Hilang dari IBL..

    yang Ntn d Tribun Penonton sudah tidak bisa di hitung lagi dengan Jari Tangan…*Berdasarkan Pengamatan d Seri 1 Surabaya..

  4. Yes, setuju dengan sebagian besar pendapat. Liga baru saja dimulai. Dari total 27 game, hanya CLS Knights yang sudah bermain 6 kali.. yes, masih panjang sekali :D

  5. Peristiwa Denny Sumargo bukan terletak pd keputusannya untuk pindah atau tetap di GFB.tp krn attitude nya lah sebenarnya GFB sudah mau menterminasikan dirinya.PJ maupun Aspac tdk ada minat sama sekali mengambilnya.Apalagi MUBA.Denny tetap di GFB,krn belas kasian club tersebut.Meliat performa dr GFB tdk baik pd saat turnamen sblm NBL digelar.
    Tim PJ,Aspac,CLS dan MUBA baik pd saat NBL,coba dibahas siapa pelatih mereka dan kredibilitasnya.pemain hanyalah pemain,tanpa instruksi yg benar tdk terjadi permainan tim yg baik.
    Tx

  6. semua tim punya kelas masing-masing,tapi gw rasa angsapura tunggu waktu jadi kandidat…syaratnya kerja keras serta jangan pernah berubah pemain dan head coach,siapa pun akan tertarik menjadi sponsor angsapura…doa banjar untuk angsapura

  7. Yang gawat Muba bro Idan..
    Perubahan pelatih nampaknya berpengaruh banyak terhadap tim ini, hanya keberuntungan di Seri I saja yang belum sepenuhnya menaungi tim ini.

    Point guardnya Santo, gue pernah liat dia beberapa kali maen di turnamen sebelum NBL dan hasilnya tuh orang nafasnya gak ada matinya, hahahaha..
    main full speed di hampir 35 menitan dengan penurunan sedikit saja “kualitas” nafas baru di quarter 4, gile benerr…jadi nampaknya emang Muba lebih perlu coach bagus kayak sekarang dibandingkan DS ya :)
    Just my 2 cents, hehehehhe…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s