What I Talk About When I Talk About Running (Pendinginan Pasca NBL Indonesia)

Kalimat di atas adalah judul buku karangan seorang novelis Jepang Haruki Murakami. Mari kita mendinginkan hati dan otak pasca panasnya NBL Indonesia Seri 2 Bandung. Terutama bagi fans Garuda yang sepertinya lebih banyak kecewanya daripada bahagianya :)

Banyak yang minta agar gw membahas lagi tentang Garuda Bandung yang penampilannya sangat buruk pada NBL Seri Bandung lalu. Tetapi bagi gw kayaknya sudah cukup. Manajemen Garuda, pelatih, dan pemain tahu masalahnya dan tahu solusinya. Sisanya, hanya masalah keberanian untuk mengatakan “mau!” untuk berubah. Lah kok malah ngomongin Garuda lagi :P

Ok, pendinginan. Mari membaca buku :) “What I Talk About When I Talk About Running” adalah karya novelis Jepang Haruki Murakami yang bukan novel. Gw sendiri belum pernah baca novelnya Murakami tapi langsung tertarik membaca cerita dia tentang hobinya, berlari! (kegemaran gw yang lain yang ngejalaninnya lebih butuh usaha daripada main basket.)

Murakami bukan hanya hobi berlari. Tetapi sudah menjadi ritualnya sehari-hari. “Ibadah” hariannya adalah berlari minimal enam mil sehari. Demi mengejar target setidaknya mengikuti “ibadah tahunan”, lomba lari marathon sekali setahun. Marathon itu jaraknya 26 mil atau setara dengan 42,195 km!

Dalam buku tersebut, Murakami bercerita awal mula ia menggemari lari jarak jauh. Ia juga menceritakan pengalaman-pengalamannya saat berlari, apa yang ia pikirkan saat berlari, juga pengalamannya mengikuti beberapa lomba marathon terkenal di dunia seperti Boston dan New York Marathon. Murakami telah mengikuti belasan marathon bahkan beberapa kali ikut serta dalam triathlon (renang+sepeda+lari)!

Marathon mengajarkan banyak hal kepada Murakami. Salah satunya adalah fokus dan pantang menyerah. Hebatnya, Murakami memulai kebiasaannya ini pada usia 30 tahunan! Murakami mengatakan bahwa berlari dan menulis novel memiliki kesamaan. Salah satunya ya fokus itu.

Cerita Murakami cukup ringan. Lebih ringan daripada Eat Pray Love-nya Elizabeth Gilbert yang mencoba “mencari” sesuatu sekaligus “berlari” dari problema hidup yang sedang menerpanya. Murakami menulis What I Talk About When I Talk About Running lebih karena senang saja menuls tentang hobinya itu. Walau ringan atau malah justru karena ringan, pesan-pesan universal Murakami justru lebih mudah diresapi :)

Sudut Pandang Fans dan Perspektif Garuda Bandung

Waktu SMA, gw pernah berdebat dalam sebuah diskusi di kelas dengan seorang sahabat. Topik masalahnya sepele, mengapa ada siswa yang nilainya buruk? Gw dan sahabat gw itu kekeuh pada argumentasi masing-masing. Seingat gw, debatnya cukup seru karena sahabat gw itu gak mau ngalah dan gw pun enggan menyerah. Berikut argumen gw dan sahabat gw itu;

Sahabat gw: Siswa yang nilainya buruk disebabkan oleh kemampuannya yang terbatas

Sehebat apapun seorang siswa berusaha, jika kemampuannya/kepandaiannya sudah mentok, ya di situlah dia berakhir. Siswa tersebut walau sudah berusaha sehebat mungkin, nilainya tetap (katakanlah) 70 dari raihan sempurna 100. Itu adalah hasil maksimal dari usahanya yang maksimal, 70!

Gw: Siswa yang nilainya buruk disebabkan oleh usaha yang tidak maksimal

Jika, siswa tersebut usahanya maksimal, seharusnya nilainya 100. Karena itulah hasil maksimal. Jika ia mendapat nilai 70, artinya ia belum atau tidak berusaha maksimal.

Perdebatan gw dan sahabat gw berakhir di kuldesak, jalan buntu. Kita sama-sama yakin pada pendapat masing-masing. Perdebatan tersebut menjadi sebuah “bisnis yang tak tuntas” di kepala gw. Oleh karenanya gw sangat ingat sekali (gw bahkan masih ingat gw duduk di mana dan sahabat gw itu di sebelah mana!).

Beberapa tahun kemudian, gw menemukan titik temu antara argumentasi gw dan sahabat gw. Kuldesak kita adalah jawaban kita! Gw akhirnya sampai pada kesimpulan bahwa pendapat sahabat gw benar, begitu juga pendapat gw. Gw mengenakan kacamata bermerek “ideal” sementara sobat gw berlabel “realitas”. Melegakan :D

Garuda Bandung dan fansnya adalah sahabat gw dan gw (penekanan pada kata ‘sahabat’)

Fans Garuda mengenakan kacamata yang gw pakai. Kacamata bermerek “ideal”. Para fans ingin melihat Garuda untuk mendapatkan hasil yang sempurna, juara! Sementara Garuda memakai kacamata sahabat gw yang labelnya “realitas”. Garuda tengah berusaha untuk mencapai hasil maksimal. Tetapi karena satu dan macam hal hasilnya yaa hanya segitu. Itulah hasil maksimal Garuda atas usahanya sejauh ini.

Baik Garuda maupun fansnya harus saling mencoba bertukar kacamata. Garuda memahami tuntutan sudut pandang fans dan fans juga paham perspektif Garuda. Ketika kesepahaman terjalin. Maka relasi Garuda dan fansnya akan semain luar biasa. Garuda tahu bahwa fans ingin Garuda juara, oleh karenanya Garuda berusaha keras untuk mewujudkannya. Demikian pula fans mahfum bahwa Garuda tengah berusaha keras meraih hasil sempurna. Jika fans tahu bahwa Garuda sudah berusaha keras, maka apapun hasilnya akan sangat dihargai.

Menolak atau tidak saling memahami kacamata masing-masing akan membuat relasi Garuda dan fansnya memburuk. Memahami dan meresapi ini akan membuat keunikan hubungan Garuda dan fansnya selama ini akan semakin kuat. Tidak lagi hanya berdasarkan sentimen kedaerahan-kekotaan atau fanatisisme klub lokal yang memang sudah sangat kuat, tetapi juga saling memahami karena sudah memakai kacamata sahabat gw dan gw :)

Coach Johannis Winar Sebaiknya Mengundurkan Diri

Sebelum kontroversinya melebar, gw pengen tekankan lagi kalimat judulnya dengan baik. Sekali lagi “Coach Johanis Winar Sebaiknya Mengundurkan Diri” bukan sebaiknya Garuda memecat atau memberhentikan Coach Winar. Ada perbedaan besar di antara keduanya, walau ujungnya sama.

Apa bedanya antara mengundurkan diri dengan dipecat? Ah, silahkan pikir sendiri, sepertinya mudah dipahami :)

Nanti saja kita bahas alasannya mengapa, seiring lewatnya paragraf demi paragraf di tulisan ini. Pertama-tama, mari kita review sedikit tentang pertandingan melawan Satria Muda tadi. Di mata gw, selama gw nonton Garuda di C-Tra Arena, rasanya belum pernah pendukung Garuda memenuhi arena itu sedemikian hebatnya. Tak ada celah sempit di antara bangku penonton. Gang tempat jalur naik-turun melintas pun dipadati penonton. Penonton juga memenuhi sisi lapangan. Penuh sekali. Oh, dan masih ada ratusan pendukung Garuda yang tak bisa masuk karena memang di dalam sudah super penuh.

Dua hari lalu, ketika Garuda dikalahkan Aspac, gw kecewa, ah siapa sih yang gak kecewa lihat kualitas permainan Garuda seperti itu? Tapi saat itu ada setitik optimisme bahwa Garuda akan bermain bagus saat melawan Satria Muda, karena gw dan beberapa fans lain adalah saksi betapa keras dan hebatnya Garuda berusaha mengalahkan Satria Muda di Surabaya atau hebatnya perjuangan Garuda waktu lawan Pelita Jaya.

Ketika Garuda kalah dari Aspac, gw ngetwit panjang lebar tentang pentingnya kesetiaan fans pada timnya karena gw khawatir para pendukung Garuda akan sangat down, sehingga enggan datang mendukung Garuda pada laga berikutnya melawan Satria Muda. Alhamdulillaah kekhawatiran gw berlebihan. Pendukung Garuda yang datang jauh melampaui harapan. Fans Garuda terbukti memang setia. Paling setia! :)

Malam tadi, usai kekalahan Garuda, gw gak lagi ngetwit tentang betapa gw masih mendukung tim ini walaupun lagi sering kalah, gw ngetwit “Kalau gw jadi head coach @GarudaFlexi, gw akan bilang “gw mundur.””

Garuda yang kebingungan dan melamban

Tadi malam, saat melawan Satria Muda, ketika para pemain Garuda dipanggil oleh announcer, mereka memasuki lapangan dengan berjalan kaki. Berkebalikan dengan Satria Muda yang bersemangat berlari! Hmm..ada yang salah sepertinya. Apakah Coach Winar yang menginstruksikan agar pemainnya masuk lapangan dengan begitu? Rasanya pasti bukan. Tapi pasti Coach Winar harusnya paham bahwa ini adalah bagian dari pertarungan-peperangan!

Hasil akhir pertandingan melawan Satria Muda adalah 64-41 untuk Satria Muda. Sekali lagi, bukan hasil akhir yang gw sedihkan namun permainan selama di lapangan terasa sangat tak bergairah. Point guard, baik Wendha atau Teddy kerap bingung harus mengarahkan bola ke mana, entah karena Satria Muda bertahan dengan baik atau memang serangan Garuda yang polanya gak jelas. Ujungnya, Garuda lebih banyak bermain individu. Sedikit sekali komunikasi. Kalaupun ada, sepertinya tidak efektif. Yes, semua pemain kebingungan mau ngapain. Apakah para pemain hanya mengikuti perintah head coach? Entah.

Melamban! Gw gak setuju dengan faktor usia yang katanya sudah pada sepuh. Gak banget! Bagi gw justru ini adalah saat panas-panasnya! Masalahnya adalah mau-tidak mau. Motivasi untuk menang untuk meraih gelar juara itu masih ada atau nggak! Nah, di sinilah salah satu faktor mengapa gw bilang sebaiknya Coach Winar mending mengundurkan diri saja. Ia gak berhasil membangunkan motivasi para pemainnya untuk tampil garang, cepat, dan lapar kemenangan!

Pertunjukan buruk Coach Winar

Coach Winar bukanlah seorang pelatih yang buruk. Namun apa yang ia pertontonkan kepada ribuan pendukung Garuda tadi dengan sangat emosional marah-marah sambil memukul-mukul papan strategi adalah sesuatu yang seharusnya ia lakukan pada saat latihan. Bukan pada saat pertandingan. Marah-marah kepada pemain saat pertandingan memang wajar, tapi aksi Coach Winar tadi menunjukan kepanikan dan keputusasaan (mungkin gw salah, tapi itu yang gw rasa saat melihat itu).

Banyak yang bilang, ini faktor kedekatan usia antara Coach Winar dengan pemainnya sehingga ada kecenderungan ia sedikit diremehkan oleh para pemainnya. Sulit membuktikan ini, namun lagi-lagi terkadang sangat terasa. Seorang teman yang menyaksikan laga Garuda melawan Pelita Jaya di televisi bercerita, “beda banget yaa. Saat coach Rastafari ngasih instruksi, semua pemain fokus memperhatikan. Ketika Coach Winar ngomong, pemain Garuda gak fokus, asyik sendiri, menggampangkan, ada kesan meremehkan.”

Jika asumsi gw bahwa Coach Winar memang terkesan diremehkan, maka ini adalah alasan lain mengapa Coach Winar harus mengundurkan diri. Ngapain memegang pemain-pemain yang gak mau respek kepada pelatihnya?! Mengundurkan diri adalah sebuah pertunjukan sikap yang tegas! Ah, semoga ini hanya asumsi gw saja.

Mengundurkan diri adalah langkah awal untuk membangun kewibawaan

Beberapa hari yang lalu, Korea Utara menggempur Yeonpyeong di Korea Selatan dan mengakibatkan dua tentara Korea Selatan tewas. Menteri pertahanan Korea Selatan, Kim Tae Young langsung mengundurkan diri karena merasa bertanggungjawab atas kecolongan serangan Korea Utara tersebut. Legawa sekali! Bandingkan dengan, misalnya Menteri Perhubungan kita yang banyak alasan ngeles saat kecelakaan transportasi terjadi di mana-mana. Atau Menteri Tenaga Kerja yang kebingungan mengatasi masalah TKI kita yang disiksa oleh beberapa orang-orang gak beradab di luar negeri tempat mereka bekerja. Atau Nurdin Halid yang.. ah sudahlah. Mengundurkan diri jauh lebih berwibawa! Nah, lagi-lagi Coach Winar bisa menjadi pionir di sini!

Mengundurkan diri menunjukan bahwa Coach Winar bertanggungjawab penuh atas hasil yang diraih Garuda sejauh ini. Hey, bukankah liga ini baru berjalan sepertiganya saja? Justru itu, gw pribadi sulit membayangkan Coach Winar mampu membalikan keadaan dalam waktu yang singkat itu dengan kondisi sekarang.

Eh, bukankah Coach Winar berhasil membawa Garuda juara di Gubernur DKI Cup di awal tahun 2010 lalu? Gw sih gak nonton ajang itu, tapi jelas itu adalah prestasi lampau (patut dihargai memang), namun juga harus dilihat betapa tim-tim lain segera berbenah sejak itu. Dan melihat hasil pertandingan NBL sejauh ini, rasanya tim-tim NBL pasti jauh lebih hebat dibandingkan saat Piala Gubernur DKI itu.

Entah mengapa gw merasa bahwa Garuda gak akan memecat Coach Winar. Masih ada semacam harapan bahwa tim ini akan berubah setelah Seri Bandung ini, walau di mata gw (sebagai seorang fan biasa) hal tersebut sulit terjadi.

Harapan gw, jika Coach Winar mengundurkan diri, manajemen Garuda akan bersusah-payah mencari pengganti yang jauh lebih hebat daripada Coach Winar sembari berterimakasih atas apa yang telah diberikan Coach Winar selama ini. Manajemen lalu mencari pelatih baru yang bisa menangani pemain-pemain yang katanya bintang-bintang itu untuk bermain hebat kembali. Pelatih baru yang mampu memompa atau membakar kembali semangat dan motivasi para pemain Garuda. Pelatih baru yang didengarkan saat pelatih memberi instruksi saat bertanding di lapangan.

Sekali lagi, mengundurkan diri akan membuat Coach Winar terlihat bertanggungjawab dan berwibawa (setidaknya di mata gw yang awam ini..)

Memang gak ada jaminan bahwa Garuda akan lebih baik jika Coach Winar mengundurkan diri atau tetap melatih Garuda. Namun jika di akhir nanti Garuda mampu menjadi juara atau setidaknya memperlihatkan sebuah performa yang meningkat dengan signifikan, insyaAllah gw akan datangi Coach Winar dan mengatakan “maaf telah menulis tulisan ini. Saya salah menilai kehebatan anda, Coach. Mohon maaf dan selamat!” :D

Tentang fans Garuda? Gak perlu dipertanyakan lagi, lihat saja saat pertandingan tadi. InsyaAllah akan selalu begitu. Selalu Garuda di dadaku! :D

Garuda vs Aspac tadi Malam :)

Silahkan sebutkan faktor-faktor yang membuat sebuah permainan menjadi jelek; tak ada kerjasama tim, chemistry yang hampa, akurasi eksekusi yang buruk, banjir turnover, defense krupuk, dan lain-lain dan lain-lain tambahin sendiri aja. Ada semuanya dalam permainan Garuda (58) tadi malam saat melawan Aspac (72) :D

Semoga saat melawan Satria Muda malam ini permainan Garuda membaik 180 derajat!

Seri 2 Bandung Setelah 5 Hari

Gak kerasa yaa, sudah lima hari NBL Indonesia Seri 2 Bandung berlangsung dan masih ada empat hari lagi seblum bergerak ke Seri 3 Solo. Berikut beberapa hal yang paling mengemuka dalam pandangan gw selama lima hari terakhir.

Garuda kalah di dua partai awal lalu menang di dua laga berikutnya

Keuntungan bermain di rumah tak cukup membawa keberuntungan bagi Garuda. Melalui pertandingan panjang dan melelahkan, Garuda kalah atas Pelita Jaya melalui dua kali over time, 78-74. Esoknya, Garuda kembali kalah saat melawan Stadium. Garuda bermain sangat buruk dengan raihan angka sangat minim, 43-48. Pada pertandingan berikutnya, Garuda baru “panas” dengan mengalahkan Muba Hangtuah 63-36 dan Angsapura 79-40.

Kekecewaan terhadap siaran ANTV

Kegembiraan karena laga besar antara Garuda melawan Pelita Jaya disiarkan oleh ANTV berbalik kekecewaan yang dibumbui caci maki ketika ANTV tidak menyiarkan babak perpanjangan waktu yang berlangsung dua kali.

Pelita Jaya belum pernah kalah, Angsapura belum pernah menang

Keduanya telah menjalankan delapan laga. Bedanya, ya di raihan kemenangan.

Ruslan dan Fadlan slam dunk!

Kedua pemain ini melakukan slam dunk yang indah. Ruslan (Stadium) melakukan slam dunk di tengah penjagaan ketat para pemain Garuda. Dan Fadlan Minallah (Garuda) melakukan slam dunk hasil dari operan cepat saat ditempel oleh dua pemain Angsapura.

Dua gigi Dimas Aryo Dewanto (Pelita Jaya) patah

Saat menghadapi Muba Hangtuah, Dimas terjatuh di kuarter dua dengan wajah membentur lantai lapangan. Dua gigi seri Dimas sampai patah. Hebatnya, Dimas masih kembali main dan menjadi top skorer dengan mencetak 26 angka bagi Pelita Jaya!

Robert Santo Yunarto (Muba Hangtuah) adalah…

Steve Nash versi nusantara!

Banyak momen lain yang barangkali teringat oleh para pencinta NBL yang lain. Silahkan tambahkan di komentar/comment :) Masih akan ada laga seru lain di sisa empat hari Seri 2 Bandung. Sangat mungkin akan ada momen-momen tak terlupakan lainnya :D

Semakin Uniknya Fans Garuda Bandung (Hanya Terjadi di Bandung!)

Jauh sebelum Seri 2 Bandung dimulai, teman-teman gw sudah bertanya “kapan Garuda lawan SM (Satria Muda) Dan?!” Ada nada semangat dan antusias yang tinggi untuk membela tim kesayangan Bandung ini. Tinggi sekali seolah para fans ingin membantu Garuda tuk melumat lawan bebuyutannya itu.

Lalu ada pula yang bertanya “Garuda kapan ketemu CLS Knights di Bandung?!” Terdengar nada “gak nerima” karena Garuda dikalahkan hingga 31 poin saat bermain di Surabaya. Garuda itu bukan milik pemilik Garuda -sebagai sebuah tim/perusahaan. Saat Garuda kalah, yang sedih itu orang Bandung!

Gw sudah sering cerita bagaimana fans Garuda Bandung menangis ketika Garuda kalah di semifinal IBL 2009 saat melawan Aspac. Gw rasa itu sudah lebih dari setahun yang lalu sebelum tiba-tiba kemarin seorang fan cewe muda (masih SMP) datang nyamperin gw “kak, kemarin saya nyanyi sendiri ‘Garuda di dadaku’, kok yang lain gak ikutan yaa?!” matanya berkaca-kaca. Sobat gw yang lain bilang “Dan, itu lagu Garuda Di Dadaku jangan disetel deh, gak ada rasanya! Lagu itu akan muncul sendiri kok nanti dari tengah-tengah fans!”

Yang paling keren adalah saat Garuda main lawan Stadium dua hari lalu. Gw benar-benar gak nyangka, sangat-sangat gak nyangka ketika fans Garuda bersorak kecewa ketika salah seorang pemain Garuda diturunkan bermain. Setiap kali pemain tersebut membawa bola, ia disoraki “boooooo..” Bukan dukungan, melainkan celaan, cemooh, ejekan! (Gw sih gak setuju atas perlakuan tersebut.)

“Sekarang gue disorakin (ejek) dong sama orang Bandung,” kata Kelly Purwanto (Pelita Jaya) yang dulu sempat menjadi idola Bandung saat masih membela Garuda :)