Membangun Impian Indonesia Jawara Basket Dunia

Butuh waktu 16 tahun sebelum akhirnya Amerika Serikat kembali menjadi juara FIBA World Championship (piala dunia-nya basket). Tahun 1994 Amerika mengalahkan Rusia dengan skor lebar 137-91. Tadi malam mereka menekuk tuan rumah Turki dengan kedudukan 81-64.

Semenjak Olimpiade Beijing dua tahun lalu, Amerika memang kembali serius menunjukkan kekuatannya. Sebelumnya, mereka terlalu nyantai, berlagak sebagai yang terkuat di bumi. Turnamen dunia bak liburan bagi mereka. Bahkan kali ini (2010) saja, mereka kembali/masih datang dengan pemain kelas 2, tetapi dengan semangat yang berbeda. Underdog di mata warganya sendiri.

Sudahlah, banyak yang membahas kemenangan tim Amerika Serikat. Gw kembali bertanya (dan juga teman-teman yang lain) kapan kita, Indonesia ikutan piala dunia? Impian yang realistis. Banyak yang ingin impian ini segera terwujud, tetapi entah berapa banyak yang berpikir bahwa kita harus menapaki tangga impian tersebut satu persatu untuk sampai. Melompati dua tangga sekaligus bisa, tetapi melelahkan. Tiga tangga sekaligus? Butuh tenaga ekstra dan berisiko terjatuh kembali ke bawah.

Liga pelajar atau kompetisi usia dini adalah langkah awal yang indah. lalu membenahi liga profesional. Kemudian berbenah tuk mengalahkan negara-negara tetangga atau yang sekelas. Setelah itu meninggikan sasaran dengan segala upaya untuk meraihnya. Berusaha terus dan bekerja keras terus. Dan seterusnya.

Namun di atas-atas-atas (eh, atau bawah-bawah-bawah yaa..) semua itu, berapa banyak orang Indonesia yang memiliki impian tersebut? Satu orang-dua orang? Ah, lupakan saja kalau begitu. Impian ini harus menjadi sebuah impian kolektif. Impian kolektif memiliki kekuatan yang lebih kuat untuk terwujud. Setidaknya demikian kata Katherine Solomon, ilmuwan noetic dalam fiksi The Lost Symbol-nya Dan Brown yang kabarnya merupakan riset ilmiah yang bukan fiksi. Ketika menyaksikan beberapa pertandingan FIBA World Championship, gw melihat banyak sekali penonton yang sudah lanjut usia. dalam benak gw, “inilah orang-orang yang dulunya bersatu dalam impian kolektif sehingga negara mereka dapat tampil di piala dunia basket.” Mereka kini menuai benih impian yang dahulu mereka tebar. Plus, mereka mengajak anak cucu sebagai benih baru agar impian tetap subur terjaga.

Lalu perhatikan pertandingan IBL dulu dan NBL nanti, adakah orang-orang lanjut usia yang menonton. Ok, adakah yang berusia di atas 40 tahun? Sedikit sekali. Bagi gw, itu artinya dulu tak banyak yang memiliki impian agar basket kita maju. Kalaupun ada, impiannya tak lagi subur alias sudah terkubur. Entah karena impian lain yang lebih menarik atau impian tersebut terlupakan karena tak ada niat tuk menjaganya. Sekarang banyak anak muda menonton IBL dan kelak NBL. Banyak yang menaruh harapan dan menebar benih impian. Semoga terus terjaga sampai tua. Tak hanya satu dua orang tapi semuanya. Kelak tanpa kita sadari, impian kita insyaAllah akan terwujud. Amiin :)

You reap what you sow,” kata Bob Marley, eh Bung Karno juga ding, eh banyak kok yang ngomong begitu :D

6 pemikiran pada “Membangun Impian Indonesia Jawara Basket Dunia

  1. Yang bisa dipikirkan adalah bagaimana basket bisa jadi sama mayoritasnya dengan sepak bola, karena mungkin impian kolektif kita masih tertuju ke sana. Mungkin kita bisa “meracuni” anak-anak dengan basket, dan menanamkan impian ini kepada mereka yang mana adalah aset di masa depan (halah).

    :D

  2. saya mantan player level daerah..smp skrg masih sangat aktif main basket.. Saya masih berambisi utk ttp sanggup berlari,melompat,mendrible, dan shoot dg baik sampe kelak 2 org putra kembar saya juga melakukan hal yg sama satu lapangan dengan saya… Basket membuat hidup saya bergairah..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s