Mengapa Majalah Slam Indonesia Tak Terbit Lagi?

Gw gak ingat kapan terakhir kali gw melihat majalah basket terkemuka edisi Indonesia ini. Richard “Insane” pernah bercerita bahwa edisi terakhir adalah yang bersampul muka Kelly Purwanto. Ini pun kalau gw gak salah ingat yaa. Mungkin sudah ada lebih dari setahun majalah ini tak lagi terbit. Lucunya, seorang teman beberapa hari yang lalu pernah bertanya kepada penjual majalah eceran “ada Slam Indonesia gak bang?” “Oh, sudah habis.” -___-*

Si tukang majalah kayaknya menekankan kata “habis” sebagai “habis“, *ngerti kan maksud gw? :P

Lama sudah majalah itu menghilang namun semalam melalui twitter, masih banyak saja yang bertanya mengapa majalah keren itu tak lagi terbit? Gw sih gak tahu pasti jawabannya apa. Tapi tentu saja tak sedemikian sulit untuk mengira-ngira alasan mengapa sebuah media massa berbayar harus gulung tikar. Menurut gw setidaknya ada dua kemungkinan atau tiga alasan penyebab. Penyebabnya bisa salah satunya atau malah tiga-tiganya;

1. Gak laku, beberapa mengaku bahwa mereka selalu membeli majalah Slam Indonesia setiap kali ia terbit. Ada bahkan yang mengoleksi dari edisi pertama hingga edisi terakhir. Banyak yang merindukan majalah ini tetapi entah berapa banyak yang beli (di Indonesia kan gitu, seorang yang beli, satu tim kawan dan lawan beserta cadangannya yang ikutan baca). Secara buku dan majalah kan hitungannya barang mewah di negeri ini :P Mungkin dugaan gw salah, mungkin malah majalah Slam Indonesia laris manis. Yah ini kan dugaan saja, kalau laris kan seharusnya tetap berjalan mulus.

2. Kehabisan oksigen, tak banyak yang tahu bahwa sebenarnya majalah atau koran itu adalah lembaran-lembaran berisi iklan yang dibumbui cerita dan berita. Pengiklan membayar kavling halaman atau ruang di dalam majalah tersebut agar masyarakat melihatnya. Inilah sudut pandang pembuat media massa. Bagi pembaca, majalah atau koran adalah kumpulan berita dan cerita yang terkadang diselipi iklan. Beda banget kan? Yup, berbalik 180 derajat. Nah, iklan-iklan inilah “oksigen” penyambung hidup majalah. Sekarang, coba buka majalah Slam Indonesia yang kalian punya, hitung berapa lembar atau berapa halaman iklan yang ada di sana. Nyampe 20 gak? Nyampe 10 gak? Iklan radio jangan dihitung yaa, biasanya iklan radio atau media massa lain itu barter sifatnya. Kalau ibaratnya manusia, iklan berbayar itu oksigen, iklan hasil barter itu bak karbon dioksida :P Jika iklan suatu majalah sangat sedikit, kembali lagi, pengiklan merasa bahwa majalah ini pembacanya sedikit atau tidak laku atau tidak percaya bahwa pembacanya akan banyak atau akan laku. Oksigen menipis, napas kembang kempis, akhirnya ————— *flat line

3. Mis-manajemen, anggaplah majalah Slam Indonesia laku dan iklannya lebih banyak daripada berita dan ceritanya. Manajemen yang salah juga dapat membuat, ah udah ah.. gak mungkin kayaknya alasan yang ketiga ini mah :)

Membaca antusiasme teman-teman untuk membeli majalah basket Indonesia tadi malam sangat menyenangkan. Ketika gw tanya, “mau pada beli gak kalau ada majalah basket Indonesia?” Serempak mengangguk-angguk (padahal gak mungkin melihat mereka mengangguk di twitter, heheheee). “Well, kalau membeli majalahnya saja mau, harusnya ntar pas NBL Indonesia bertanding ke kota-kota tujuan, pada nonton dong?” Semua bangkit dari tempat duduk dan teriak “MAAUUU!!!”

Hmm, udah mulai ngaco nih tulisan.. :P

19 pemikiran pada “Mengapa Majalah Slam Indonesia Tak Terbit Lagi?

  1. Gw gak pernah beli memang. Dulu langganan dikasih sama om Richard Insane karena gw selalu membahas Slam setiap kali terbit. Terakhir, seorang distributor majalah ngasih gw majalah Slam USA.

    Seperti gw bilang di atas, buku dan majalah di Indonesia itu masih barang mewah. Mahal. Harus diakui itu. Kalau ada majalah basket Indonesia yang bukan Slam tapi murah lu mau beli kaan? :)

  2. @Wiwaha, memang hipotesis. Tapi hemat saya, tak ada penyebab lain selain dari faktor di atas yang menyebabkan hancurnya media cetak. Jadi, gak perlu juga dicari secara mendalam mengapa majalah itu bubar karena saya YAKIN bahwa penyebabnya adalah salah satu kalau tidak tiga-tiganya dari faktor tersebut.

    *Ada sih kemungkinan lain. Kalau dalam bahasa hukumnya, force majeur :P

  3. gw pernah ngobrol sama insane kenapa majalah ini ga terbit.,krn majalah ini dari luar dan di luar sudah membuat budget berapa iklan yg harus diadapat slam indonesia,tetapi ternayata iklan nya sampai batas waktu tertentu tidak didapatkan juga,alhasil harus berhenti de majalahnmya..

  4. Sayang dari judul terlihat meyakinkan. Ternyata dari isinya pendapat pribadi bkn berdasarkan fakta yg ada.

    Semoga ada klarifikasi yg jelas yah dari Slam Indonesia.
    Salam.

  5. Ada dua komentar yang sangat menarik sejauh ini. Keduanya sangat ingin mengetahui mengapa Slam bubar.

    Beneran sebesar itu rasa penasarannya? Terus, kalau sudah ketahuan mau bagaimana? Hmm… Gw jadi penasaran kenapa jadi sebegitu pentingnya penyebab bubar itu yaa.. :D Gw beneran pengen tahu kenapa pengen banget tahu banget penyebab bubarnya.. :D

  6. Saya termasuk yg kadang beli kadang nggak, banyakan dapetnya waktu jaman IBL mereka mbagi-bagiin gratis =p

    Seneng banget dulu waktu tau ada Slam Indonesia, sebelum2nya bacanya Slam yg terbitan tanah kelahirannya.
    Dari pengamatan saya di beberapa terbitan, tulisan2 di Slam Indonesia masih belum keliatan karakternya. Masih terasa ringan gitu, in depth coverage & analisisnya ga kerasa. Ga seperti Slam USA, ato tabloid Bola. Kecuali pas tulisannya mas Insane waktu bikin profilnya Ijal Nightmare, itu dapet banget. Tapi ya, ini ngomong soal selera sih, beda2 lah…

    Cuma tetep deh, saya berharap Slam Indo bisa hidup lagi, bang Idan jadi Editor in Chiefnya dong…

    1. Gw prnh ngobrol ama yg punya account mjlh slam.. dia tanya gmn pdpt gw ttg majalah slam? (soalnya gw langganan).. gw blg aja kl gw beli mjlh slam indo gw ga baca liputan nba nya.. knp? krn itu trans tool lan.. ngerti kan maksud gw? itu kan dari sono nya bhs inggris trs diterjemahkan bebas pk trans tool.. bahasa nya jd gak enak di baca… padahal kl yg liputan indo nya enak bgt baca nya.. jadi ada ke jomplangan aja..

  7. Ah, begitu toh makanya Slam Indonesia gak terbit lagi. Saya sih waktu pertama kali keluar seneng-seneng aja, majalah basket gitu, di Indonesia! Kalau sekarang memang majalah Slam Impor Amerika memang udah ada di pasaran, tapi harganya 3 kali lipat dari yang Indonesia. Setelah majalahnya gak ada, dan gak sanggup beli yang versi amerika, saya hijrah deh ke webiste Slamonline. Padahal kan lumayan, dan banyak soal Basket Indonesia yang bisa diliput–seperti majalah Slam Amerika yang bahkan kelas SMA pun dibahas, apalagi indonesia yang banyak Komunitas-komunitas basket gitu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s