Rasanya Seperti Camp Basket Saja

Malam pertama bulan puasa tahun ini gw tengah berada di Surabaya tepat pada hari penutup camp DBL bersama NBL Australia dan NBL Indonesia. Sekarang, malam terakhir di bulan Ramadhan 1431 H ini tiba-tiba gw merasa kok sepertinya ada kesamaan antara camp basket itu dengan “camp” Ramadhan ini.

Memasuki camp basket DBL bersama NBL Australia dan Indonesia tepat sebulan lalu, gw memerhatikan ada satu motivasi utama yang menempel pada benak para peserta camp. Motivasi tersebut adalah menjadi anggota tim yang dikirim untuk bertanding ke Amerika Serikat. Walau demikian, tidak sedikit pula yang bersemangat karena kesempatan mengikuti camp tersebut adalah sebuah pengalaman berharga yang tak semua orang bisa mengalaminya.

Demikian pula memasuki bulan puasa ini. Pak ustad di masjid selalu menggembar-gemborkan bahwa “hadiah” utama puasa ini adalah taqwa. Ada pula bonus malam lailatul qadar yang sangat berharga 1.000 bulan. Belum lagi bonus-bonus lainnya berupa lipatan-lipatan pahala ataupun kegunaan-kegunaan puasa lainnya baik bagi fisik maupun mental.

Hari pertama camp basket di Surabaya, semua peserta camp bersemangat. Peserta yang dianggap memiliki kemauan keras dibarengi kemampuan yang ciamik dipilih untuk mengikuti hari berikutnya. Pada hari-hari selanjutnya, jumlah peserta camp mengerucut menyedikit hingga akhirnya hanya terpilih 12 orang saja yang berhasil meraih hadiah utama yaitu melawat ke Amerika Serikat berlatih tanding di sana. Para pelatih dari NBL Australia dan Indonesia menjadi pelatih sekaligus yang melakukan seleksi.

Pada bulan Ramadhan, setiap peserta merangkap pula sebagai juri bagi dirinya masing-masing. Hari pertama puasa, semua orang bersemangat sekali. Masjid penuh jubel oleh orang yang beribadah shalat malam. Seiring berjalannya waktu, beberapa orang mulai memberikan penilaian pada dirinya masing-masing bahwa sebagian merasa dirinya sudah mulai kelelahan (puasa ini sangat fisik banget soalnya) dan mulai jarang ke masjid untuk ibadah tambahan walau tentunya tetap melakukan puasa Ramadhan, dan beberapa lagi meyakinkan juri (dirinya sendiri) bahwa ia mampu melewati serangkaian ibadah Ramadhan ini dari awal hingga akhir dengan tuntas, konsisten, dan sukses. Jika ini merupakan sebuah “beep test” yang misalnya dibatasi hingga level 30, maka mereka mampu melewatinya tanpa sedikit pun melakukan keslahan.

Kala camp basket usai, terlihat siapa yang terpilih maupun yang tidak. Pada “camp” Ramadhan tak ada yang mengetahui siapa yang mendapat gelar taqwa. Tapi menurut gw beberapa orang mungkin merasakannya walau tentunya akan bukanlah sebuah ketaqwaan jika ia mengaku bahwa dirinya bertaqwa. ya, hasil “camp” Ramadhan adalah misterius. Hanya Allah saja yang tahu, walau sangat mungkin kita bisa melihat para pemenangnya melalui perilaku yang baik dan utama setelah selesai ramadhan dan seterusnya.

Perpisahan camp basket diwarnai tangis dan tawa. Ada tawa karena terpilih. Banyak pula yang tertawa karena momen camp basketnya sendiri adalah momen yang sangat membahagiakan. Peserta camp yang menangis pun tak sedikit. Menangis haru karena terpilih, juga menangis haru karena harus meninggalkan camp yang sangat menyenangkan dan tentu saja sangat mengesankan.

Lebaran adalah penutup “camp” Ramadhan. Seluruh peserta “camp” larut bahagia karena menang melewati ujian dan pelatihan Ramadhan. Sebagian lagi banyak pula yang menangis sedih karena Ramadhan sendiri adalah “sosok” yang akan selalu dirindukan terlepas dari baik buruknya prestasi kita saat bersamanya.

Pulang dari camp basket, para pelatih menekankan untuk memraktikan materi yang diterima ketika camp setiap saat agar kualitas permainan membaik. Para peserta “camp” Ramadhan pun berusaha sekuat tenaga menghidupi malam-malam dan hari-hari selama setahun penuh seolah tak ada bedanya dengan Ramadhan yang suci.

Demikianlah mengapa “camp” Ramadhan ini rasanya seperti camp basket saja, atau sebaliknya.

Alhamdulillaah :D

Satu pemikiran pada “Rasanya Seperti Camp Basket Saja

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s