“What?! You’re A Power Forward??!” Corey Williams

Tanggal 7 Agustus pagi jam 10 sebelum kegiatan DBL World Camp dimulai, empat orang pelatih dari NBL Australia; Adam, Mick, Andrew, dan Paul beserta Corey Williams dan juga para pemain NBL Indonesia; Randolph, Antonius Joko, Hendru Ramli dan Coach Ocky Tamtelahitu berkumpul dalam satu ruangan. Yup, gw ikutan nyempil :)

Mereka ngobrol panjang lebar tentang arah, tujuan, teknis dan segala hal yang berkaitan dengan pelaksanaan DBL World Camp yang sebentar lagi akan segera dimulai. Semuanya lancar-lancar saja. Lalu tiba-tiba Adam Caporn (eh atau si Mick Downer yaa.. Lupa-lupa inget gw) si pelatih termuda menanyakan sesuatu yang terkait dengan perbasketan nasional. Ia bertanya (kurang lebih) “apa saja sih karakter/identitas basket Indonesia? Kita ingin nantinya materi camp ini kurang lebih mengarah kepada karakteristik tersebut.”

Tak ada jawaban..

Lalu Coach Ocky angkat bicara. Ia mengatakan bahwa identitas itu atau karakter itu tengah selalu kita cari. Akhirnya agar lebih mudah, semuanya sepakat untuk mencari kata-kata yang mewakili identitas bola basket Indonesia. Antonius Joko, Coach Ocky, Hendru, dan Randolph bergantian melempar ide kata-kata yang sekiranya memang menjadi karakter basket Indonesia yang mungkin juga adalah identitas selama ini.

Setelah mempertimbangkan hal utama yaitu postur tubuh para pemain Indonesia, pada ujung pembicaraan, semuanya menarik kesimpulan bahwa berikut adalah daftar identitas basket yang seharusnya menjadi milik bangsa Indonesia; disiplin, kerja keras, kecepatan, skill, dan rasa bangga (pride).

Lima hal tersebut seharusnya memang menjadi sebuah identitas global yang ingin dimiliki oleh negara mana saja. namun Indonesia tentu saja harus lebih tinggi kadarnya karena Indonesia memiliki kekurangan yang sangat menonjol yaitu postur rata-rata pemain Indonesia relatif kecil.

Gw mulai nyadar :P

..bahwa postur tubuh pemain kita memang kecil-kecil (heheheee..). Hehee, secara gw memang sangat jarang bertatap muka langsung, nonton, dan bermain langsung (weekkk) dengan para pemain bule atau NBA. Bertemu Sam Perkins (mantan pemain NBA) di Jakarta beberapa bulan lalu menyentak pikiran gw “busyeettt, gede amat ini orang..” Lalu bermain bersama Paul Rogers (mantan center/power forward Australia) semakin membelalakkan mata gw bahwa selain berpostur tinggi dan besar, mereka sangat kuat! Tulang dan otot pemain sekelas Paul saja sekeras tiang listrik baja, keras banget! Belum lagi jika itu dipadu dengan pergerakan kaki dan tangan yang lincah. Bagaimana pemain sekelas O’neal saat jaya atau Dwight Howard masa kini? Mampus deh! Dalam hati gw berpikir, “kita harus menemukan ‘senjata Daud’ kita untuk mengalahkan Goliath-goliath ini!” (Hufff..)

Masih tentang postur tubuh. Memasuki lapangan DBL Arena, gw berjalan bersebelahan dengan Antonius Joko yang terlibat ngobrol dengan Corey Williams. “What is you position man?” tanya Corey kepada Joko. “Power forward,” jawab Joko singkat yang spontan membuat Corey tertawa (Corey benar-benar tertawa!). “Power forward?! You mean POWER FORWARD???” Corey menekankan sambil tertawa. “Man, I’m a point guard,” Corey membandingkan dengan sinis posisinya yang sudah kita ketahui bersama sambil masih terus tertawa. Corey tertawa karena menmukan bahwa dirinya yang point guard lebih tinggi dan berisi daripada Antonius Joko yang power forward. Padahal kita tahu Joko adalah salah satu power forward terbesar dan terhandal yang kita miliki.

Bisa gak ya kita?

Seorang pelatih mempertanyakan rancangan identitas basket nasional yang coba dirumuskan tadi. Pada diskusi penutup sesi latihan di sore hari ia bertanya “mungkinkah kita bisa mencapai tujuan karakter itu jika di sekolah kita hanya mendapat porsi melatih satu kali seminggu?” Andrew Vlahov menanggapi pertanyaan ini dengan singkat “tidak mungkin.” Andrew lalu menggambarkan jadwal latihan yang ideal untuk menggapai identitas tersebut -jika ia adalah sebuah impian “kalian butuh latihan tujuh hari dalam seminggu.”

Andrew menggambarkan bahwa yang ia maksudkan dengan latihan tujuh hari dalam seminggu tidaklah harus berupa sebuah paket latihan rutin antara pelatih dan pemain. Yang terpenting adalah kemauan sang pemain untuk terus berlatih setiap waktu baik bersama pelatih maupun sendiri. Corey Williams mengamini.

“Kondisi basket dunia sekarang ada di sini,” Andrew mengarahkan tangan kanannya melebar ke kanan, “dan Indonesia berada di sini,” ia kemudian mengarahkan tangan kirinya melebar ke kiri untuk menggambarkan pemisah antara kondisi basket dunia dan Indonesia. “Basket di dunia kini tengah berkembang maju pesat. Jika kalian masih berlatih dengan pola seperti ini, kalian bukan hanya diam di tempat melainkan malah mundur,” Andrew menegaskan.

Miris juga gw mendengar itu. Pada sesi tanya jawab tersebut, banyak pelatih menanyakan tentang pola latihan yang baik, teknis yang benar bahkan kaitan basket dengan politik negara/pemerintah dalam mendukung dunia olah raga. Semua pertanyaan dijawab tegas oleh Andrew dengan penekanan kepada “fundamental and repetition. Practice, practice, practice!

4 pemikiran pada ““What?! You’re A Power Forward??!” Corey Williams

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s