Tentang Corey Williams, Bintang DBL World Camp 2010 with NBL Australia (1/3)

Bintang basket kelas dunia tidak harus bermain di NBA. Corey “Homicide” Williams, bintang utama Development Basketball League (DBL) World Camp 2010 di Surabaya Agustus nanti, adalah buktinya. Berikut kisahnya.

”NAMA saya Corey ‘Homicide’ Williams. Saya lahir dan dibesarkan di Bronx, New York. Beberapa orang menyebut saya sebagai Raja New York. Setelah kuliah, saya mengejar pengakuan dan kredibilitas di jalanan New York. Rata-rata saya antara 30 sampai 40 poin di setiap turnamen di New York. Setiap orang yang mencoba menghadang saya selalu kalah. Itulah asal muasal sebutan ‘Homicide.’ Karena saya selalu menghancurkan lawan-lawan saya.”

Penjelasan singkat itu disampaikan langsung oleh Corey Williams, dalam wawancara dengan Elevation Mag, salah satu media streetball top. Dalam wawancara yang sama, dia menegaskan lagi julukan ”seram”-nya: Homicide alias 187 alias pembunuhan.

”Saya mendapatkan nama itu karena permainan saya yang agresif, karena saya selalu menyerang dan mematikan lawan-lawan di depan saya. Titik,” tandasnya.

***

Penggemar berat basket, khususnya streetball, tentu sudah tidak asing lagi dengan nama Corey ”Homicide” Williams. Dia merupakan salah seorang le genda basket jalanan, bahkan pernah dinobatkan sebagai salah satu pemain streetball terbaik dalam sejarah.

Tentu saja, Williams lebih dari sekadar bintang streetball. Dengan skill basketnya, dia sudah melanglang dunia, menja jal berbagai kompetisi profesional di berbagai benua. Mulai di Amerika Serikat, Eropa, Amerika Selatan, Asia, hingga Australia. Dia juga sudah berkali-kali masuk seleksi tim-tim NBA. Hanya nasib yang menghalanginya punya karir di liga paling bergengsi tersebut.

Bisa dibilang, Williams telah merasakan indahnya kedua ”dunia basket.” Sukses di arena streetball yang ”bebas aturan.” Sukses di arena profesional.

Soal definisi streetball sendiri, Williams ingin menegaskan apa itu streetball yang sebenarnya. ”Tur streetball (yang populer di dunia) telah menghancurkan apa itu streetball yang sebenarnya. Sekarang, orang mengidentikkan streetball dengan trik-trik bermain basket. Padahal, yang benar adalah orang-orang yang adu ketang guhan di lapangan outdoor, tanpa ada wasit dan foul, tanpa gerakange rakan lemah. Itu streetball yang sebenarnya,” ungkapnya.

Williams mengaku tidak akan melupakan jalanan New York, tempatnya meraup sukses awal. Khususnya di lapangan Rucker Park yang legendaris. Di sanalah dulu dia mendapatkan julukan seramnya.

”Ada komentator seru di even Enter tainer’s Basketball Classic (EBC, Red) di Rucker Park, bernama Hannibal ‘Da Most Electrifying One.’ Dia mengo mentari setiap pertandingan, dan selalu menghadiri pertandingan legendaris di sana sejak tahun 2000. Kalau kita bermain di sana dan mampu memukau, mereka langsung memberi kita nama,” kenang Williams.

Pemain yang kini berusia 32 tahun itu mengaku tidak langsung mendapat julukan ”Homicide.” Awalnya adalah ”The Hard Worker” (pekerja keras), lalu ke ”C-Murder,” lalu ke ”C-Homicide,” baru kemudian menjadi ”Homicide.”

Williams memang benar-benar ngetop di New York. Di arena streetball, dia berkali-kali menghadapi bintang-bintang streetball kelas dunia lain, atau bahkan menghadapi pemain-pemain NBA secara individual. Pernah, dalam suatu even, dia menghadapi Ron Artest. Waktu itu Artest masih terga bung di Indiana Pacers, dan memegang gelar Defensive Player of the Year. Sekarang, penggemar NBA tentu tahu, Artest baru saja membantu Los Angeles Lakers meraih gelar juara 2010.

Berhadapan langsung dengan Artest, Williams tidak gentar. Berkali-kali dikasari dan diblok, Williams terus menyerang. Alhasil, dia pun mencetak 26 poin. Timnya kalah tipis, tapi dia mampu meraup banyak poin meski dikawal Artest yang lebih tebal dan besar (Williams 190 cm, Artest 201 cm). ”Itu 26 poin paling sulit yang pernah saya dapatkan. Tapi saya mampu mendapatkan 26 poin! Pertandingan itu benar-benar membantu mental saya, memberi tahu saya kalau saya mampu bermain di level tertinggi,” ucapnya seperti dikutip majalah Dime.

Dari jalanan New York pula Williams mendapat ”penghargaan” tertinggi dalam karir seorang pemain basket: Yaitu mendapatkan kontrak sepatu, dan dibuatkan sepatu signature sendiri, yang kemudian dijual laris diberbagai penjuru dunia.

K1X, merek sepatu asal Jerman, mengontraknya. Membuatkannya sepatu bernama ”187,” alias kode polisi New York untuk pembunuhan alias homicide. ”Saya ingin menegaskan kepada Anda, bahwa saya adalah pemain street ball pertama dalam sejarah yang mendapatkan kontrak sepatu signature. Saya juga pemain pertama dalam sejarah yang mendapat sepatu eksklusif tanpa harus bermain di NBA!” tukasnya.”Ini saya dapatkan karena kemurahan hati Tuhan, kerja keras, dan tekad untuk tidak pernah menyerah,” tegasnya.

Sampai hari ini, Williams masih tidak mau melupakan masa lalunya di ja lanan New York. Meski sudah ber ke luarga dan tinggal di Denver, serta mengejar dolar di berbagai penjuru dunia, Williams terus menyempatkan diri untuk kembali ke Rucker Park, New York.

Pertengahan Juli lalu, dia kembali mengikuti even bergengsi Entertainer’s Basketball Classic (EBC) di kota tersebut. Dan meski sudah tergolong pemain senior, dia masih menjadi idola. Performa pun tidak mengecewakan. Dia menjadi top scorer, mencetak 36 poin dalam pertandingan ekshibisi yang sangat bergengsi itu.

”Semakin banyak penonton, semakin besar beban, semakin baik saya bermain. Inilah yang saya cintai,” katanya seperti dilansir New York Post.

Sambil terus berlaga di ajang yang dia cintai, sampai hari ini Williams juga masih mencari sukses berkelanjutan di liga profesional kelas dunia. Di usia 32 tahun, masanya tidak akan lagi lama. Masih mampukah dia menembus arena NBA?

(Thanks to DBL and kak Aziz Hasibuan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s