Tentang Corey Williams, Bintang DBL World Camp 2010 with NBL Australia (2/3)

Corey Homicide Williams tidak pernah punya cita-cita menjadi pemain basket profesional. Dia baru bermain basket saat berusia 13 tahun, sangat terlambat untuk ukuran anak di Amerika Serikat

COREY Williams suka bermain dan berolahraga. Tapi, tidak melulu basket. ”Saya dulu anak yang bandel dan suka bermain apa saja. Saya bahkan tidak suka basket. Saya baru mulai main basket di usia 13 tahun,” aku legenda streetball kelahiran Bronx, New York, tersebut.

Williams baru ”jatuh cinta” pada basket saat melihat salah satu kakaknya bertanding di kawasan Harlem, New York. Waktu itu dia sudah kelas 8 (setara SMP kelas 2). Sudah waktunya mendaftarkan diri masuk SMA.

Karena nilai sekolahnya kurang bagus, dia pun ditolak banyak SMA di New York. Pada suatu waktu, sang ibu mengantarkan Williams ke sebuah SMA. Di sana banyak cewek. ”Seperti kebanyakan remaja lain, saya pun mulai punya masalah ’cewek.’ Jadi, ibu saya marah dan langsung mendaftarkan saya masuk sebuah SMA yang isinya semua cowok,” tutur Williams, seperti dilansir Townsville Bulletin, Australia.

Sekali lagi, gara-gara nilainya buruk, Williams harus menjalani ”masa percobaan” pada tahun pertamanya di SMA. Itu menjadi pemicu semangat Williams. ”Kalau nilai saya jelek, saya akan didepak. Jadi, saya pun belajar dan nilai rata-rata saya B sepanjang SMA,” ceritanya.

Yang istimewa, dan tidak direncanakan sebelumnya, ternyata Williams masuk SMA yang kondang dalam hal basket. Yaitu, Rice High School di kawasan Harlem. Bukan hanya kondang, Rice merupakan salah satu SMA dengan program basket terbaik di AS.

”Kami tidak tahu bahwa Rice adalah sekolah nomor satu dalam hal basket. Pindah ke sana merupakan hal terbaik yang pernah terjadi pada saya. Itu mengubah hidup saya, membuat saya lebih dewasa. Saat itulah saya menjadi sangat serius soal basket,” ungkapnya.

Lulus SMA, jalan Corey Williams menuju jalur profesional tidaklah mulus. Tidak banyak kampus khususnya yang punya program basket elite yang mau menampungnya. Satu-satunya opsi beasiswanya adalah Penn Valley Community College di Kansas City, bermain di NJCAA Divisi II. Di AS, ada banyak junior college, menawarkan program kuliah dua tahun.

Kesulitan itu kembali memberinya motivasi. Dia bermain hebat. Pada tahun pertama, dia membantu timnya meraih gelar juara nasional NJCAA Divisi II. Tahun berikutnya, dia terpilih sebagai First Team All-American, mencetak rata-rata 20 poin per game. Pada satu pertandingan, dia bahkan sempat mencetak 49 poin!

Sayang, pada tahun kedua itu, kampusnya hanya jadi runner-up nasional. Kalah dua angka di final.

Dari situ, jalan masuk program utama terbuka. Pada 1997, Williams diterima di Alabama State University, berlaga di kompetisi kampus tertinggi, NCAA Divisi I. Sebagai salah satu andalan, Williams mencetak rata-rata 15 poin per game.

Mimpi untuk terpilih masuk NBA menjadi terbuka….

Dasar nasib, jadwal Alabama State tahun itu sangatlah berat. Meski hebat, secara tim mereka tak mampu meraih banyak kemenangan. Williams pun tidak mendapatkan sorotan yang selayaknya. Impiannya masuk NBA tiba-tiba kembali memudar.

Meski demikian, Williams tidak berhenti kuliah. Dia lulus pada 1999, meraih gelar bachelor (setara S-1) jurusan Criminal Justice. Paling tidak, kalau impian basketnya kandas, Williams punya ”pegangan” untuk ”hidup normal” seperti kebanyakan orang.

Tidak bisa ikut NBA Draft, Williams tidak menyerah. Tekadnya untuk mencari makan sebagai pemain basket profesional sangatlah kuat. Segala jalur siap dia jalani.

Mulai 2000, dia pada dasarnya mengikuti dua jalur. Pada ”musim basket profesional,” yaitu akhir hingga awal tahun, dia bermain profesional di berbagai liga di dunia. Pada musim panas (pertengahan tahun), dia pulang kampung di New York, tampil di berbagai turnamen streetball.

Namanya kondang dulu di arena streetball. Puncaknya pada 2004, saat dia merajalela di ajang Entertainers Basketball Classic (EBC) di lapangan legendaris Rucker Park New York. Dia terpilih sebagai Most Valuable Player (MVP) dan mendapatkan julukan Homicide.

Williams mengaku sangat menikmati arena streetball. Di tempat itu dia bisa menunjukkan ketangguhan, bermain habis-habisan, dan mendapat pujian besar. Dia menganggap arena streetball jauh lebih nyaman daripada memburu karir di liga-liga profesional.

”Tidak ada politik di streetball. Dari mana pun Anda berasal, dari klub kecil atau NBA, Anda bisa bermain dengan siapa saja. Tidak ada yang peduli Anda dari mana. Itu yang membuat saya bersinar. Saya punya semangat dan kemampuan, saya tidak peduli siapa lawan saya,” tandas Williams.

Di arena profesional, mungkin tidak banyak pemain lain yang punya resume sepanjang Williams. Dia telah bermain di hampir semua liga dunia. Sayang, nasib terus menghalanginya menembus arena NBA. Berkali-kali dia hampir melakukannya.

(Thanks to DBL and Aziz Hasibuan)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s