Belajar dari Sebuah Kunjungan Singkat Trevor Ariza

Beberapa orang barangkali hanya menganggap bahwa momen melihat Ariza hanyalah momen melihat langsung seorang bintang NBA yang pernah menjuarai kompetisi basket tertinggi di Amerika atau mungkin paling heboh seluruh dunia. Bahkan beberapa orang pengunjung datang dari luar kota untuk itu! Yah termasuk gw, Bandung.

Gw selalu berpikir, apa yang bisa gw pelajari dari sebuah kunjungan singkat seorang bintang basket NBA ke Indonesia, dalam hal ini Trevor Ariza (Houston Rockets). Histeria karena bersua dengan seorang bintang rasanya hanya sekejap. Mudah dilupakan.

Bertemu Ariza bagi gw bukan sekadar bertemu seorang bintang. Jauh-jauh hari gw sudah memikirkan apa yang bisa gw pelajari dalam sebuah pertemuan yang sangat singkat. 3 hari saja!

Hingga saat ini, gw sebenarnya gak yakin dengan apa yang gw dapat dari pertemuan singkat yang berakhir 2 hari yang lalu. 3 hari bersama Ariza, gw selalu memerhatikan gerak-geriknya. Cara ia berjalan, cara ia menanggapi fans, cara ia berinteraksi, cara ia menjawab setiap pertanyaan, cara berbicara, dan lain-lain. Sangat menarik dan menyenangkan. Satu hal yang jelas, Trevor Ariza tidak menggigit-gigit kuku seperti LeBron James :P

Komunikatif

Kita pasti menginginkan lebih banyak pemain bintang NBA yang datang ke Indonesia, atau setidaknya mereka yang sangat-sangat populer seperti Kobe Bryant, LeBron James, Kevin Garnet, atau Dwyane Wade. Tetapi setelah bertemu dengan 4 pemain NBA yang ke Indonesia dan seorang pemain WNBA, gw mendapati bahwa bukan mega bintang yang kita inginkan, melainkan seorang bintang yang mau berbagi!

Ariza terasa rendah hati dan cukup komunikatif. Ia dengan senang hati menjawab setiap pertanyaan yang gw ajukan. Ia bahkan melambai dengan senyum dan berbincang dengan seorang anak yang berteriak dari lantai atas mal Pakuwon (tempat penyelenggaraan acara) memrotes kepindahannya dari Lakers ke Rockets.

Ketika memberikan pelatihan singkat, Ariza berkomunikasi dengan semua orang. Baik dengan para peserta pelatihan hingga penonton. Di tengah keasyikan menyaksikan beberapa permainan yang diikuti oleh para pengunjung NBA Madness, sesekali gw ngobrol dengan Ariza. Gw bertanya tentang kebiasaannya dalam melatih ketajaman menembaknya, “I have to score 600 to 700 shots per day on practice.” ungkap Ariza suatu kali. Pemain yang berinteraksi aktif dengan penonton lebih baik daripada superstar yang belagu.

Rendah hati

Dulu saat meminta tanda tangan kepada David Lee (New York Knicks), ia baru mau memenuhi permintaan gw untuk menandatangani gambar kedua dirinya setelah sedikit gw paksa. Saat bertemu Sam Perkins (pensiunan NBA) di Jakarta, Sam terlalu capek untuk membubuhi kata singkat “to Idan” sebelum tanda tangan di atas kartu pos bergambar dirinya.

Trevor Ariza kebalikannya. Ia tak sungkan mendatangi penonton yang berteriak memanggil namanya dari jauh dan meminta foto bareng dari balik pembatas lapangan. Gw rasa ia cukup rendah hati :)

Perhatian lebih

Mendapat ucapan selamat ulang tahun dari anak-anak panti asuhan, Ariza terisak terharu. Ia merasa malu mendapatkan kue ulang tahun, beberapa buah kado, dan nyanyian selamat ulang tahun dari anak-anak yatim piatu yang datang sedangkan ia tidak memberikan apa-apa.

Ariza sempat meminta kepada panitia agar diizinkan untuk mentraktir ratusan anak-anak yatim piatu yang hadir malam itu. Sayang memang waktu sudah terlalu malam dan keesokan harinya Ariza harus kembali berkunjung ke sebuah panti asuhan yang lain dalam rangka kegiatan NBA Cares.

Berlatih keras! “Size does not matter.”

Gw selalu bertanya kepada setiap pemain NBA yang datang tentang potensi basket Indonesia. Tentu saja jawabannya selalu positif. Orang Indonesia sendiri selalu meragukan bentuk postur orang-orang Indonesia yang katanya tak cocok untuk menjadi seorang pebasket handal. Tetapi tidak bagi Ariza.

Melihat perawakan Ariza saja sudah cukup bagi gw untuk membantah keraguan bangsa sendiri akan potensinya. Cukup banyak orang Indonesia yang memiliki postur tubuh seperti dirinya. Yang bagi gw cukup aneh adalah badannya tidak sedemikian kekar dan bahkan betis Ariza sangat kecil! Tak lebih besar daripada Kevin Martin (pernah ke Surabaya juga) dan hampir sama dengan besar betis gw (beneran!)! Bagaimana mungkin ia bisa melompat sedemikian tinggi dan menjadi momok para pemain bertahan?!

Size doesn’t matter. You know, Kevin Durant is a very skinny player.” ungkap Ariza menanggapi penasaran gw. Tentu saja Ariza mengimbuhinya dengan pernyataan bahwa yang jauh lebih penting adalah ketekunan dalam berlatih.

Memberi dan menerima

Di tengah perjalanan menuju sebuah panti asuhan, gw bertanya kepada Azrul Ananda apakah nantinya NBL Indonesia juga akan mengadakan kegiatan seperti ini (NBA Cares)? Azrul menganggukkan kepala. Hari itu Ariza berkunjung ke sebuah panti asuhan dan melakukan beberapa kegiatan donasi. Dalam hati gw berpikir, “bagaimana lu gak akan cinta dengan olahraga basket jika basket memberikan perhatian buat hidup lu?

Anak-anak yatim piatu di panti asuhan tersebut boleh jadi tak mengenal siapa Trevor Ariza, namun gw yakin mereka tidak akan pernah lupa bahwa pernah seorang pemain basket datang ke panti asuhan itu, mendonasikan 4 buah komputer, 1 buah papan/ring basket, dan beberapa buah bola basket. Ia tak pernah mengajarkan cara bermain basket yang baik atau benar. Ia lebih banyak diam sembari menyodorkan hadiah yang bernama “kesempatan untuk maju”!

Gw benar-benar masih penasaran dan akan terus mencari apa yang bisa kita pelajari dalam setiap kunjungan pemain-pemain hebat dalam waktu yang sangat singkat. Latihan intensif dan kiat jitu dalam waktu singkat rasanya tak mungkin. Gw belum mendapatkan jawaban yang lebih spesifik atau lebih baik untuk menjadi seorang pemain yang handal selain menjadi seorang yang rendah hati dan tekun berlatih. Terima kasih Ariza untuk kembali mengingatkan hal tersebut :)

15 pemikiran pada “Belajar dari Sebuah Kunjungan Singkat Trevor Ariza

  1. Seorang bintang yg tetep berpijak di bumi (u know what i mean)…ga kayak artis kita yg udh tenar dikit sombongnya sampe kelangit tujuh.

    Anak gw seneng banget dan udh minta main basket.

    Salam kenal ya penulis, saya Reza anak papua, tinggal di Surabaya. Bolak balik Papua – Surabaya.

  2. Tulisan yang bagus Bro Idan..
    Akhirnya ada juga tulisan hasil dari Surabaya yang gue nanti-nantikan.
    Pengen banget deh ke Surabaya dan Malang, apadaya masih terbelenggu kerjaan :(
    Ditunggu report dari Malang ya Bro..
    Sukses selalu

  3. Tulisannya harus bisa di baca oleh pemain-pemain Profesional Indonesia….Agar bisa mencontoh apa yang di Lakukan Oleh Ariza Untuk Indonesia….!!

  4. Setuju..setujuu… Beneran Rendah hati si bg trevor kak.. :D

    kEliaatan bgt.. bnrn nymperin fans, salaman n tosh.. saat selesai dunk contes 5 pemain NBL it.. satu lg… si ARIZA malah passing bola ke kak rusla bwt ngdunk… pdhl saat mgkin kl dy sombong mgkin udh ditunjuKin Kl dy lbh hebatt dr mrka.. :D

  5. i always like your writings mas idan. simpel, apa ada nya, inspiratif, blak2an, tidak memihak siapa pun dan jujur. tulisan2 anda mampu membuka mata para pembaca nya lebih lebar, saya yakin akan hal itu. keep up the writings! saya tunggu tweetport nya dari malang ya (sayang saya ga bisa kesana untuk menyaksikan kebangkitan basket Indonesia) cheers bro!

  6. Bagus Banget tulisannya …
    benar banget …
    kita bukan butuh superstar yang belagu tapi yang begitu perduli seperti yang anda tulis ….
    smga di DBL nanti yang didatangkan seperti layaknya sosok Ariza ^_^

  7. MANTAP
    pemain sekelas NBA mau berbagi dengan kita
    eh yang bener si lebron suka gigit kuku?
    hahahaha

    kalau pemain lokal kita yang paling enak diajak ngobrol dan share menurut bang idan siapa bang?

  8. wah bagus banget bro ni post nya! =)

    tapi perlu diketahui juga bro, byk juga superstar yg rendah hati seperti Ariza contoh Steve Nash,Brandon Roy, dan Carmelo Anthony.

    Di NBA selalu ngadain kek semacam coaching keperilakuan buat para rookie2 yg baru masuk. Yg diajarkan byk hal, selain attitude juga sosialisasi dan kontribusi kpd kotanya =) semoga para pemain NBL juga bisa seperti itu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s