Cobalah Berjalan Mengenakan “Sepatu” “Si Goblok!”

Kemarin gw main basket bareng teman-teman baru di GOR C-Tra Arena. Pada saat akan bermain, teman-teman yang bermain duluan menawarkan kepada yang belum bermain untuk ada yang menjadi wasit.

Gw ambil kesempatan tersebut untuk menjajal kemampuan gw berjalan mengenakan “sepatu” pemimpin pertandingan yang seringkali diteriaki “goblok!” tersebut. Walau tentunya dalam skala yang sangat-sangat kecil.

Sebelum tip-off, gw berpesan kepada kedua tim agar sedikit maklum jika ada keputusan gw yang kontroversial nantinya. Rupanya pesan gw gak digubris. Semuanya fokus pada bola yang akan segera dimainkan.

Permainan berjalan lancar. Selama pertandingan, gw hanya menerima satu keluhan yang meminta “foul” tapi gak gw berikan. Teman gw sedikit protes, namun langsung reda ketika gw kasih senyum manis gw sambil berkata “nggak, nggak foul bro :)”

Yup, ada sedikit tekanan untuk tetap fokus memerhatikan jalannya permainan. Ada sebuah “tuntutan” tak terlihat agar tetap seksama memelototi pemain yang memegang bola sekaligus yang menjaganya dan tentunya juga tetap mengawasi pemain-pemain lain yang tidak memegang bola.

Seorang diri mengawasi sebuah permainan terlihat mudah. Namun jika diganti menjadi seorang diri mengawasi 10 orang pemain yang terus bergerak, hmm..seru, tantangan tersendiri juga.

Tak banyak yang gw rasakan setelah mengenakan “sepatu” pak wasit dalam game senang-senang tersebut. Mungkin karena skalanya memang skala senang-senang :) Tapi ada juga imajinasi yang melayang membayangkan bagaimana jika ini adalah sebuah pertandingan resmi NBL Indonesia. Hohoo, tekanan yang datang pasti gede banget! Dari pemain, pelatih, official, dan penonton!

Kesempurnaan seorang wasit seolah menjadi keharusan. Istilah “wasit juga manusia” akan muncul belakangan setelah paduan suara satu stadion bergema menyanyikan lagu “Wasit goblok! Wasit goblok! Wasit goblok!”

“Sepatu” wasit kayaknya sudah pasti kurang nyaman. Namun tetaplah, dalam sebuah pertandingan resmi, 3 orang akan “mendapatkan” kehormatan untuk menjalankan peran sebagai pemegang kekuasaan penuh pengendali dan pengawas aturan-aturan dalam sebuah pertandingan.

Kita bisa berteriak lepas bernyanyi “Wasit goblok! Wasit goblok! Wasit goblok!” padahal mungkin gak banyak dari kita yang tahu bagaimana rasanya dikatai dengan kalimat hina-dina seperti itu.

Seorang teman gw pernah membuat sebuah lirik lagu yang menggambarkan kesedihan dari seseorang yang merasa sangat-sangat sedih ketika wasit dikatai goblok. Lagunya lebih untuk wasit sepak bola sih sebenarnya dan ditujukan untuk sebuah kelompok pendukung dari salah satu tim sepak bola yang berlaga di Liga Super Indonesia,

“Viking goblok! Viking goblok! Wasit teh, babeh aing!”* Pidi Baiq, The Panas Dalam.

* – Viking: kelompok suporter Persib Bandung
Wasit teh, babeh aing: Wasit itu bapak saya.

—-

Lagu Pidi Baiq itu tak punya tendensi mengejek Viking (kelompok pendukung Persib Bandung) tetapi justru menjadi sebuah ajakan untuk berempati terhadap perasaan sang wasit (dan juga keluarganya) bahwa ia juga adalah manusia yang sangat bisa berbuat keliru. Para anggota Viking yang mendengar lagu itu pun gw rasa akan ketawa-ketiwi.

Sedikit orang berani jadi wasit. Ketika kualitas kerjanya prima tak banyak bahkan mungkin tak ada yang memuji. Ketika sedikit saja mengambil keputusan tak tepat di mata saksi pertandingan, seluruh kesalahan langsung ditimpakan kepada mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s