Bersiap Menyambut Kemeriahan NBA Madness 2010! :)

Kehebohan NBA Madness akan segera dirasakan warga Surabaya dua hari lagi. Even basketball lifestyle terbesar kelas dunia itu bakal memuaskan bukan hanya penggila basket, namun juga seluruh pengunjung mal pada 10-20 Juni mendatang di Atrium Tunjungan Plaza 3, Surabaya.

“Di NBA Madness, ada banyak sekali permainan khas NBA yang bisa diikuti. Dalam sehari, akan ada lebih dari 200 game,” ujar Masany Audri, general manager DBL Indonesia, penyelenggara NBA Madness. “Siapapun bisa menjadi peserta game. Besar, kecil, orang tua, anak-anak, laki-laki, perempuan. Dan, tidak harus bisa main basket karena permainannya lebih untuk have fun,” tambahnya.

Hebatnya lagi, untuk menjajal sensasi games interaktif khas NBA itu, siapapun tidak akan dipungut biaya alias gratis. Nantinya, akan ada dua jenis permainan yang bisa diikuti. Pertama, on-court activities alias permainan di lapangan basket portable yang disediakan oleh penyelenggara. Yang kedua adalah permainan di booth-booth sponsor. “Buat yang masih malu-malu bermain di tengah lapangan, bisa ikut yang di booth,” ujar Sany, sapaan Masany.

Untuk mengikuti permainan di booth ini pun caranya seru. Pengunjung akan diberi sebuah event passport. Paspor ini bisa dibawa berkeliling dari satu booth ke booth yang lain. Setiap kali menyelesaikan satu permainan, pengunjung akan mendapat sebuah stempel di paspor.

“Di setiap booth, para sponsor menyediakan banyak sekali hadiah. Selain itu, paspor yang sudah dipenuhi stempel bisa dikumpulkan untuk mendapat berbagai hadiah NBA. Mulai dari flashdisk NBA, pakaian, sampai jersey bertanda tangan Trevor Ariza,” jelas Sany.
Pada NBA Madness tahun ini, akan ada lima booth yang menyediakan permainan seru. Yakni Jawa Pos 3-Rim Game, Honda Jump Measure, Platinum 4-Rim, Flexi Take A Shoot, dan NBA Fans Zone.

Untuk on-court activities, di NBA Madness akan terdapat tujuh buah games. Yaitu, Jawa Pos Slam Dunk Contest, DBL 3×3 Challenge, Honda Matic Shooting Stars, Vision 1 Sports 2-Ball, Platinum Skills Challenge, NBA Free Throw Conga, dan NBA 3-Point Shootout. Plus, sebuah kompetisi dance, Flexi Dance Competition.

Ahmad Hafid, salah seorang pelajar SMPN 22 Surabaya, mengaku pasti akan datang untuk menikmati NBA Madness sejak hari pertama pembukaan. Hafid memang sudah sempat menyaksikan keseruan game ala NBA Madness ketika even ini melakukan roadshow ke sekolahnya beberapa waktu lalu.

“Kalau ikut pertandingan kan susah. Kalau game di NBA Madness itu lebih santai, tapi tetap menantang. Jadi, siapa saja bisa ikutan. Nggak harus jago basket,” katanya. “Aku udah nggak sabar pengin main.” tambah Hafid.

Pembukaan NBA Madness pada 10 Juni mendatang akan dimeriahkan oleh kehadiran cewek-cewek cantik Denver Nuggets Dancers. Selain bakal tampil dengan koreografi rancaknya, Denver Nuggets Dancers juga akan menjadi juri Flexi Dance Competition. Mereka akan menghibur pengunjung Tunjungan Plaza 3 Surabaya hingga 13 Juni.

Sementara para dancer meramaikan pekan pembuka, maskot NBA dari New Orleans Hornets, Hugo akan menghibur pengunjung di Supermal Pakuwon Indah pada pekan ketiga (24-27 Juni). Lalu, bintang Houston Rockets Trevor Ariza akan hadir di Supermal Pakuwon Indah Surabaya untuk pekan puncak NBA Madness pada 1-4 Juli.

“Untuk menghadirkan nuansa khas NBA, nantinya pengunjung juga bisa membandingkan ukuran tubuh dengan ukuran asli pemain NBA. Bisa membandingkan tinggi badan, arm span, besar tangan, juga ukuran kaki. Nanti bisa foto-foto seru di sana,” ujar Masany.
Serunya lagi, salah satu yang akan menjadi bahan eksibisi adalah trofi champion NBA Larry O’Brien Trophy. Nantinya, penonton akan bisa berfoto bersama trofi bergengsi yang diperebutkan tim-tim NBA tersebut. Namun, DBL Indonesia belum bisa memastikan kapan tepatnya trofi itu bisa dipajang mengingat saat ini pertandingan final NBA sedang berlangsung. (dra)

Cobalah Berjalan Mengenakan “Sepatu” “Si Goblok!”

Kemarin gw main basket bareng teman-teman baru di GOR C-Tra Arena. Pada saat akan bermain, teman-teman yang bermain duluan menawarkan kepada yang belum bermain untuk ada yang menjadi wasit.

Gw ambil kesempatan tersebut untuk menjajal kemampuan gw berjalan mengenakan “sepatu” pemimpin pertandingan yang seringkali diteriaki “goblok!” tersebut. Walau tentunya dalam skala yang sangat-sangat kecil.

Sebelum tip-off, gw berpesan kepada kedua tim agar sedikit maklum jika ada keputusan gw yang kontroversial nantinya. Rupanya pesan gw gak digubris. Semuanya fokus pada bola yang akan segera dimainkan.

Permainan berjalan lancar. Selama pertandingan, gw hanya menerima satu keluhan yang meminta “foul” tapi gak gw berikan. Teman gw sedikit protes, namun langsung reda ketika gw kasih senyum manis gw sambil berkata “nggak, nggak foul bro :)”

Yup, ada sedikit tekanan untuk tetap fokus memerhatikan jalannya permainan. Ada sebuah “tuntutan” tak terlihat agar tetap seksama memelototi pemain yang memegang bola sekaligus yang menjaganya dan tentunya juga tetap mengawasi pemain-pemain lain yang tidak memegang bola.

Seorang diri mengawasi sebuah permainan terlihat mudah. Namun jika diganti menjadi seorang diri mengawasi 10 orang pemain yang terus bergerak, hmm..seru, tantangan tersendiri juga.

Tak banyak yang gw rasakan setelah mengenakan “sepatu” pak wasit dalam game senang-senang tersebut. Mungkin karena skalanya memang skala senang-senang :) Tapi ada juga imajinasi yang melayang membayangkan bagaimana jika ini adalah sebuah pertandingan resmi NBL Indonesia. Hohoo, tekanan yang datang pasti gede banget! Dari pemain, pelatih, official, dan penonton!

Kesempurnaan seorang wasit seolah menjadi keharusan. Istilah “wasit juga manusia” akan muncul belakangan setelah paduan suara satu stadion bergema menyanyikan lagu “Wasit goblok! Wasit goblok! Wasit goblok!”

“Sepatu” wasit kayaknya sudah pasti kurang nyaman. Namun tetaplah, dalam sebuah pertandingan resmi, 3 orang akan “mendapatkan” kehormatan untuk menjalankan peran sebagai pemegang kekuasaan penuh pengendali dan pengawas aturan-aturan dalam sebuah pertandingan.

Kita bisa berteriak lepas bernyanyi “Wasit goblok! Wasit goblok! Wasit goblok!” padahal mungkin gak banyak dari kita yang tahu bagaimana rasanya dikatai dengan kalimat hina-dina seperti itu.

Seorang teman gw pernah membuat sebuah lirik lagu yang menggambarkan kesedihan dari seseorang yang merasa sangat-sangat sedih ketika wasit dikatai goblok. Lagunya lebih untuk wasit sepak bola sih sebenarnya dan ditujukan untuk sebuah kelompok pendukung dari salah satu tim sepak bola yang berlaga di Liga Super Indonesia,

“Viking goblok! Viking goblok! Wasit teh, babeh aing!”* Pidi Baiq, The Panas Dalam.

* – Viking: kelompok suporter Persib Bandung
Wasit teh, babeh aing: Wasit itu bapak saya.

—-

Lagu Pidi Baiq itu tak punya tendensi mengejek Viking (kelompok pendukung Persib Bandung) tetapi justru menjadi sebuah ajakan untuk berempati terhadap perasaan sang wasit (dan juga keluarganya) bahwa ia juga adalah manusia yang sangat bisa berbuat keliru. Para anggota Viking yang mendengar lagu itu pun gw rasa akan ketawa-ketiwi.

Sedikit orang berani jadi wasit. Ketika kualitas kerjanya prima tak banyak bahkan mungkin tak ada yang memuji. Ketika sedikit saja mengambil keputusan tak tepat di mata saksi pertandingan, seluruh kesalahan langsung ditimpakan kepada mereka.