Jadwal Pertandingan Turnamen PreSeason NBL Indonesia (Malang, 7-15 Juli 2010)

Grup A

Satria Muda Jakarta
CLS Knights Surabaya
Pelita Jaya Jakarta
IM Muba Hangtuah Sumsel
Angsapura Salatiga

Grup B

Aspac Jakarta
Garuda Bandung
Bima Sakti Malang
Stadium Jakarta
Citra Satria Jakarta

Rabu, 7 Juli 2010

13:00 Bima Sakti Malang vs Aspac Jakarta
15:00 Pelita Jaya Jakarta vs CLS Knights Surabaya
17:00 Garuda Bandung vs Stadium Jakarta
19:00 Satria Muda Jakarta vs IM Muba Hangtuah Sumsel

Kamis, 8 Juli 2010

13:00 Angsapura Salatiga vs CLS Knights Surabaya
15:00 Pelita Jaya Jakarta vs IM Muba Hangtuah Sumsel
17:00 Bima Sakti Malang vs Citra Satria Jakarta
19:00 Aspac Jakarta vs Stadium Jakarta

Jumat, 9 Juli 2010

13:30 Satria Muda Jakarta vs Angsapura Salatiga
15:30 Stadium Jakarta vs Bima Sakti Malang
17:30 IM Muba Hangtuah Sumsel vs CLS Knights Surabaya
19:30 Citra Satria Jakarta vs Garuda Bandung

Sabtu, 10 Juli 2010

13:00 Pelita Jaya Jakarta vs Angsapura Salatiga
15:00 Bima Sakti Malang vs Garuda Bandung
17:00 Aspac Jakarta vs Citra Satria Jakarta
19:00 CLS Knights Surabaya vs Satria Muda Jakarta

Minggu, 11 Juli 2010

13:00 Garuda Bandung vs Aspac Jakarta
15:00 Angsapura Salatiga vs IM Muba Hangtuah Sumsel
17:00 Satria Muda Jakarta vs Pelita Jaya Jakarta
19:00 Stadium Jakarta vs Citra Satria Jakarta

Semifinal

Selasa, 13 Juli 2010

17:00 Juara Grup A vs Runner-up Grup B
19:00 Juara Grup B vs Runner-up Grup A

Final

Kamis, 15 Juli 2010

17:00 Penentuan tempat ke 3
19:00 Penentuan juara

Iklan

Berbincang dengan Coach Mike Krzyzewski

Malam itu gw sedang berjalan-jalan di BIP (Bandung Indah Plaza) mall klasik di pusat kota Bandung. Mall ini tak pernah sepi pengunjung dan tak pernah terpengaruh oleh munculnya mall-mall baru yang terus disetujui pembangunannya oleh bapak Dada Rosada (Walikota Bandung).

Seperti biasa, salah satu tempat yang pasti gw masuki di setiap mall selain toko sepatu, adalah toko buku. Bukan Gramedia (di BIP gak ada Gramedia) atau Gunung Agung yang gw singgahi, melainkan sebuah pop-up book store di lantai dasar BIP, (busyeettt, lupa gw nama tokonya) Times kalau gak salah nama tokonya.

Setelah berputar-putar beberapa menit di antara beberapa buah rak di area toko yang tak lebih luas dari 10 x 10 meter ini, sebuah senyum menghampiri gw dari salah satu rak profil orang-orang sukses. Seseorang tersenyum ramah sambil memegang bola basket. Orang tersebut seolah menyapa “Hi Dan! It’s been a while since you wrote about my village, K-Ville.”

Gw membalas senyuman kepala desa K-Ville sembari menoleh ke arah penjaga toko “yang ini didiskon gak mas?” Dengan senyum ramah, sang penjaga toko menjawab pertanyaan gw “yang diskon hanya sebelah sini saja mas, sebelah situ gak diskon.”

Gelar juara yang baru saja diboyong oleh kepala desa K-Ville bagi negaranya di ajang olimpiade dan bagi kampus yang sudah diasuhnya berpuluh-puluh tahun, Duke bulan Maret/April lalu, lebih kuat menarik gw untuk mengajak sang tokoh ikut pulang daripada halangan bahwa ia tak termasuk kategori diskon.

Tanpa kantung keresek dan tak masuk menyelip ke dalam tas, gw habiskan sisa jalan-jalan gw di BIP malam itu berjalan bersama seseorang yang mungkin tak terlalu terkenal di Indonesia namun adalah seorang legenda di Amerika Serikat. Tadinya gw berharap ada nada-nada kecil dari para pengunjung lainnya yang merasa iri karena melihat gw dengan berkata “Wah gila, beruntung banget tuh cowok jalan bareng orang terkenal.” Hahaa, gw rasa gak ada yang peduli juga.

Malam itu gw pulang dengan Mike Krzyzewski!

“Leading With The Heart” diimbuhi kalimat pemanis yang semakin meyakinkan gw bahwa ini “The National Bestseller” lho di Amerika Serikat.

Malam itu, Coach K dan gw langsung memulai obrolan seru seputar kepemimpinan dan kepelatihan. Tentu saja Coach K mendominasi pembicaraan. Ia memulai cerita tentang bagaimana awalnya ia bisa bersentuhan dengan dunia basket, masuk menjadi tentara di West Point, menjadi pelatih basket di akademi militer angkatan darat hingga mengambil alih kepelatihan di Duke University pada musim 1980-1981.

Coach K banyak bercerita tentang prinsip-prinsip dasar dalam polanya melatih mahasiswa-mahasiswa Duke. Sangat-sangat menarik karena dari penuturan Coach K sendiri, ia tidak pernah sama sekali menargetkan timnya untuk menang dalam setiap pertandingan. Ia tidak pernah menargetkan untuk menjadi jawara di ajang kejuaraan nasional. Coach K berujar bahwa jika target melatih basket kampus adalah meraih gelar nasional, maka akan banyak sekali kampus yang kecewa karena hanya satu kampus yang akan berhasil meraihnya. Bahkan bagi kampus yang telah berhasil meraih juara, sebuah gelar yang telah diraih tak akan bermakna banyak selain sebuah deretan catatan angka.

Prinsip-prinsip yang ditekankan Coach K dalam melatih Duke tak bisa dibatasi oleh side line dan base line lapangan basket. Kadang kala malah terasa janggal tetapi inspiratif. Suatu kali Coach K cerita ke gw bahwa ia membuat perjanjian dengan para pemainnya bahwa ia akan memberikan 100% kemampuannya kepada setiap pemainnya dan sebagai balasan, Coach K bukan menuntut kemenangan di arena atau sebuah gelar juara melainkan lulus kuliah!

“Setiap pemain seumpama setiap jari pada satu tangan, semuanya memiliki peranan yang unik. Namun ketika setiap jari bersatu membentuk kepalan, ia menjadi sangat kuat dalam menghantam!” Coach K menganalogikan setiap pemainnya ketika menyatu kompak saat bermain.

Tentu saja bukan hanya gw yang bisa ngobrol santai dengan Coach K. Gw rasa ia masih ada tuh nongkrong di salah satu rak toko buku di dekat-dekat kamu :) Siapa tahu kalian lebih beruntung dapet yang diskonan :D

Garuda Mulai Stabil Kembali, Pelita Jaya Ancaman Serius!

Pertandingan persahabatan antara Garuda Flexi Bandung melawan Pelita Jaya Esia Jakarta tadi malam menutup rangkaian pertandingan persahabatan 4 tim yang diselenggarakan oleh Institut Teknologi Harapan Bangsa Bandung.

Walau hanya bersifat pertandingan persahabatan, kedua tim menunjukkan usaha yang cukup keras untuk memenangkan pertandingan. Pada kubu Pelita Jaya, peran Kelly Purwanto yang absen bermain karena cidera pinggang saat melawan American College Team pada malam sebelumnya diambil alih dengan sempurna oleh Joulious.

Selama kuarter 1 dan 2, Joulious menjadi motor serangan Pelita Jaya dalam usaha mengacaukan pertahanan Garuda yang tampak mulai solid sejak malam sebelumnya. Pelita Jaya unggul sementara di kuarter 1 dengan kedudukan 24 – 20.

Melewati kuarter 1, Garuda mulai konsisten menambah angka dan mengambil alih keunggulan angka di akhir kuarter 2 menjadi 40 – 35. Garuda meninggalkan Pelita Jaya hingga 15 angka pada akhir kuarter 3 sebelum akhirnya menutup pertandingan persahabatan dengan skor akhir, Garuda 74 – Pelita Jaya 65.

Joulious, Ary Chandra, Mario Wuysang, Okto, Donnda

Tadi malam gw semakin menyadari betapa Pelita Jaya memang ancaman yang sangat serius bagi tim-tim NBL Indonesia yang lain. Mereka bermain cepat dengan perpindahan bola yang mengalir mantap. Dua pemain yang paling berbahaya menurut gw adalah Ary Chandra dan Joulious. Ary Chandra memiliki keberanian dan percaya diri yang tinggi dalam melepaskan tembakan dari berbagai sudut lapangan di samping mampu melihat celah-celah kosong untuk menjadi daerah pijakan melontarkan tembakan. Selain Ary Chandra, penampilan menonjol juga ditunjukkan oleh Joulious yang membuat para pemain Garuda terlihat kewalahan dengan pergerakannya yang liar. Hanya eksekusi yang buruk yang membuat tim ini tertinggal.

Kemistri antara para pemain Garuda mulai kembali terasa terikat dan menguat. Okto harus diakui mengalami perkembangan penampilan yang signifikan dibandingkan pertandingan-pertandingan di tahun 2009. Aksi Mario Wuysang yang melakukan lay-up shoot dan menambah angka bagi Garuda setelah melewati pertahanan ketat Pelita Jaya memberikan pasokan percaya diri ekstra bagi semua anggota tim. Tak ketinggalan tentunya Nico Donnda yang selalu bermain dengan semangat 45.

Wasit wasit wasit

Setiap tim memiliki pola dan paket pelatihan bagi para pemainnya untuk berkembang. Adakah wasit juga melakukan hal serupa? Wasit kembali mencuri perhatian gw tadi malam. Beberapa keputusan gw pikir cukup kontroversial dan memicu protes para pemain yang gw nilai wajar.

Beberapa kali para pemain Pelita Jaya dilanggar oleh pemain-pemain Garuda pada saat sedang akan menembak namun hanya mendapat ganjaran lemparan ke dalam dari sisi base line. Protes teriak-teriak tak urung beberapa kali dilakukan pemain dan ofisial Pelita Jaya. Walau gw mendukung Garuda, gw rasa kepemimpinan wasit malam itu tidak menguntungkan Pelita Jaya.

Semakin gak sabar menyaksikan 2 tim ini berlaga di NBL Indonesia bersama 8 tim lainnya :D

Scott Schuman di NBL Indonesia :D

Untuk urusan fashion, The Sartorialist adalah blog yang paling pas untuk mewakili kata keren. Blog ini ditulis atau tepatnya dipotret oleh seorang penggila fashion yang memang pernah bekerja selama 15 tahun di industri fashion, Scott Schuman.

Scott berjalan-jalan keliling dunia sambil menenteng kamera dan memotret orang-orang yang dia anggap berpenampilan gaya lalu foto-foto tersebut ia masukkan ke dalam blognya. Hanya foto saja yang muncul. Imbuhan kata-kata akan tampil sesekali pada foto-foto yang luar biasa atau ketika Scott ingin menunjukkan sebuah detail bermakna namun mungkin kurang terlihat pada obyek yang ia foto.

Pengaruh blog The Sartorialist sangat-sangat luar biasa. Scott bahkan dianggap sebagai salah seorang yang berpengaruh dalam dunia fashion planet bumi. Padahal ia bukan seorang fashion designer.

Scott Schuman bukanlah seorang “fashion police” yang memotret orang-orang yang merasa keren lalu dikata-katai “baju lo, nggak banget deh boook..” Ia semata mengikuti nalurinya bahwa orang ini berpenampilan keren, lalu mengapresiasinya dengan menampilkan di blog. Ujungnya, umumnya pembaca The Sartorialist selalu sepakat dengan naluri Scott.

Penggila fashion di kota-kota mode dunia seperti Paris, London, Milan, New York, dan lain-lain selalu berharap-harap cemas tertangkap kamera dan muncul di The Sartorialist-nya Scott.

Fashion police di NBL Indonesia

Jangan coba-coba bergaya pakaian yang indah-indah bak pelangi saat menyaksikan pertandingan NBL Indonesia. Karena mulai musim kompetisi 2010-2011 ini akan ada “polisi fesyen” yang akan mengawasi. Tentu saja ini bukan ditujukan bagi para penonton yaa. Pak polisi fesyen nanti benar-benar ada untuk menegakan aturan baru di NBL Indonesia mengenai pakaian yang boleh bahkan wajib dikenakan oleh pemain, pelatih, beserta para ofisialnya, dan tentu saja yang juga tidak boleh dikenakan.

Pelatih wajib mengenakan kemeja lengan panjang, dasi, jas, celana panjang kain, dan sepatu fantovel saat mendampingi tim bertanding. Aturan yang sama berlaku untuk ofisial tim lain, serta pemain yang tidak bertanding tapi duduk di area bench. Khusus pertandingan hari Jumat, ofisial dan pemain mengenakan batik lengan panjang.

Pemain wajib mengenakan polo shirt (dimasukkan), celana panjang, dan sepatu saat menonton pertandingan di atas tribun. Peraturan juga berlaku bagi ofisial tim yang sedang menonton.

Untuk jersey saat bertanding, setiap tim boleh memiliki tiga set jersey. Satu warna, satu putih, dan satu alternatif desain. Warna jersey harus ada yang dominan (80 persen). Lutut pemain harus terlihat.

Akan ada teguran bahkan sanksi bagi pelatih, pemain, dan ofisial yang melanggar aturan tata berpakaian tersebut.

Bagaimana dengan penonton?

Bergaya sekeren-kerennya! Siapa tahu Scott Schuman nonton NBL Indonesia dan tahu-tahu kita masuk blog The Sartorialist :D

American College Team Memberi “Pelajaran” Kepada Garuda

Setelah sekian lama tak menyaksikan penampilan Garuda Flexi Bandung, kemarin dalam sebuah pertandingan persahabatan yang diadakan oleh Institut Teknologi Harapan Bangsa, gw dan banyak penggemar Garuda lainnya kembali menyaksikan tim kebanggaan Bandung ini berlaga. Garuda Flexi Bandung melawan American College Team (ACT), kumpulan mahasiswa yang juga bermain di NCAA divisi I dan II.

Garuda menurunkan 5 pemain pertama: Mario, Indra, Lolik, Tiara, dan Hendrik. Hendrik dipaksakan untuk bermain walau sedang dalam keadaan demam yang cukup parah. Awalnya gw sangsi Garuda akan mampu memberikan perlawanan yang baik. Namun lay-up Indra yang membuka 2 poin pertama untuk Garuda langsung menghancurkan keraguan gw :D

Tampaknya para pemain ACT pun sedikit menganggap remeh Garuda dan menyebabkan mereka tertinggal 7-2 di menit-menit awal. ACT langsung mengambil timeout untuk membenahi pertahanan mereka setelah Garuda unggul 10-3.

Hendrik yang tengah bermain pada menit awal kuarter 1 mendadak terlihat lunglai dan hampir roboh sebelum akhirnya segera digantikan. Walau tidak mencetak angka, Hendrik sempat melakukan 2 blok dan membuat para pemain ACT kewalahan. Hendrik memang tengah demam parah saat itu.

Keluarnya Hendrik praktis membuat Garuda tidak memiliki pemain yang berposisi sebagai center. Kuarter 1 ditutup dengan keunggulan sementara ACT, 20 – 16.

Kuarter 2 berjalan dengan cepat dan ketat. Para pemain ACT mulai mengandalkan akurasi tembakan jarak jauh yang benar-benar jitu. Beberapa kali para pemain ACT menembak dari jarak yang cukup jauh di luar garis batas 3 poin tanpa mampu dibendung para pemain Garuda. Unggul 7 angka, ACT menutup kuarter 2 dengan unggul kedudukan 42 – 35.

Walau tertinggal di kuarter 1 dan 2, Garuda sebenarnya menunjukkan permainan tim yang sangat kompak. Memasuki kuarter 3, kualitas permainan tidak terjaga dan Garuda harus menerima menjadi bulan-bulanan para mahasiswa Amerika ini. Sempat memimpin hingga 34 angka, ACT menutup kuarter 3 dengan sangat meyakinkan, 75 – 38.

ACT akhirnya menyudahi pertandingan dengan skor 90 – 61. Tidak hadirnya beberapa pemain penting: Wiwin, Hendrik, Aguy, Denny membuat Garuda terlihat cukup kelelahan. Bagi gw, ACT mengajarkan satu hal lucu tadi malam, “Garis 3 point akan keluar lebih jauh 50 cm, jadi bersiaplah!”

Pelita Jaya mengalahkan ITHB Bandung

Pada pertandingan sebelumnya, Pelita Jaya Esia Jakarta menundukan dengan mudah mahasiswa-mahasiswa ITHB dengan kedudukan 101 – 63. Tidak dipimpin langsung oleh pelatih kepala, Rastafari, para pemain Pelita Jaya bermain santai. Para pemain ITHB dari segi postur tubuh, stamina, dan teknik bermain memang sangat tertinggal dari para pemain Pelita Jaya.

Salah satu tontonan menarik yang muncul pada pertandingan persahabatan antara Pelita Jaya melawan ITHB adalah aksi slam dunk yang dilakukan oleh Kelly Purwanto untuk menutup keunggulan sementara Pelita Jaya di kuarter 3, 77 – 42. Kereen!

Surabaya “Curi” Larry O’Brien Trophy dari LA Lakers!

Simbol utama juara NBA, Larry O’Brien Trophy, bakal kembali ke Indonesia dan dipamerkan di arena NBA Madness Presented. Setelah kemenangan Kobe Bryant dan Los Angeles Lakers pada laga terakhir final, Kamis pekan lalu (17/6), NBA langsung menerbangkan trofi tersebut ke Surabaya.

“Kalau sempat, trofi itu bisa dipamerkan langsung pada weekend ketiga NBA Madness, mulai 24 Juni nanti, di Supermal Pakuwon Indah Surabaya. Atau pada weekend penutup, 1-4 Juli nanti, di tempat yang sama,” kata Azrul Ananda, direktur Jawa Pos dan DBL Indonesia, penyelenggara even kelas dunia tersebut.

Tahun lalu, trofi tersebut juga mampir di Surabaya, saat NBA Madness kali pertama diselenggarakan. Tahun ini, pihak NBA kembali memutuskan untuk mengirimkannya ke Indonesia.

Bila jadi ditampilkan pada weekend ketiga, maka Larry O’Brien Trophy akan tampil bersama Hugo, maskot New Orleans Hornets yang kocak dan jago nge-dunk.

Bila ditampilkan pada weekend keempat, maka Larry O’Brien Trophy bakal tampil bareng Trevor Ariza, bintang Houston Rockets. Penampilan bersama ini bisa dibilang sebagai reuni. Sebab, pada 2009 lalu, Ariza pernah ikut memenangkan trofi tersebut, saat masih bersama Los Angeles Lakers.

“Ini bakal momen langka. Untuk kali pertama, ada pemain champion NBA berpose bersama trofi juaranya di Indonesia,” ucap Azrul.

Kemarin (20/6), rangkaian awal NBA Madness di Tunjungan Plaza 3 Surabaya telah berakhir. Empat bintang National Basketball League (NBL) Indonesia, Romy Chandra (Pelita Jaya), Fadlan Minallah (Citra Satria), Mario Gerungan (Aspac), dan Valentino Wuwungan (Satya Wacana Angsapura) tampil bermain sejumlah games bersama pengunjung, serta menyediakan waktu untuk foto dan bagi tanda tangan.

Mereka berempat juga sempat memberi klinik basket kepada 20 anak-anak SD dan SMP, dipandu oleh asisten pelatih CLS Knights Surabaya, Erwin Triono.

Bintang Pelita Jaya Romy C. Chandra mendapat kesan istimewa di even NBA Madness pertama yang dia ikuti ini. ”Tentu saya terkesan dengan even ini. Apalagi sambutan masyarakat Surabaya juga sangat bagus. Even ini penuh kegembiraan. Dan hal inilah yang penting. Sebab NBA Madness bisa memunculkan kecintaan anak-anak muda ke basket,” jelasnya.