Peringatan Pemerintah: Merokok Itu… (*Siapa Mau Percaya?)

Pagi tadi di twitter, garis waktu (time line) gw penuh dengan twit tentang himbauan pentingnya tidak merokok. Macam beragam isinya, mulai yang menyangkut kesehatan, kebijakan pemerintah yang tidak mendukung, politisasi di dalamnya dan macam-macam. Gw baru sadar beberapa waktu kemudian bahwa hari ini adalah Hari Anti Tembakau Sedunia :P

Gw langsung teringat posting gw sebelumnya mengenai alasan mengapa IBL berganti nama menjadi NBL Indonesia. Salah satunya yaitu karena produk rokok yang sudah melekat mendukung IBL bertahun-tahun dan seolah menyatu sebagai kesatuan dengan IBL.

Pilihan penyelenggara baru (DBL Indonesia) untuk tidak lagi bersedia didukung oleh produk rokok adalah sebuah langkah nyata usaha mengurangi “emisi” asap rokok di muka bumi. Sebuah langkah yang tidak sejalan dengan kemauan pemerintah.

Pemerintah kita sadar banget bahwa merokok itu merusak kesehatan dan merugikan masyarakatnya tapi pemerintah belum berani merugi menanggung ongkos yang katanya harus dibayar jika industri rokok dimatikan. Padahal, kabarnya pula, kerugian yang disebabkan jika industri rokok itu dihentikan tidak sebesar yang digembar-gemborkan. (Baca di sini tentang Framework Convention on Tobacco Control yang dipelintir). Malah menguntungkan sebenarnya.

Sebagai gantinya, pemerintah (kita dan negara-negara lain) mencoba menghimbau masyarakat dengan menempelkan peringatan di setiap bungkus rokok yang kurang lebih mengatakan “Isi di dalam kotak ini racun!”

Anehnya, hanya sedikit orang-orang yang percaya bahwa tulisan peringatan itu serius :D

Catatan-catatan Pertandingan Kelewat Rinci dari NBA

Tadi saat menyaksikan akhir kuarter 1 laga final wilayah barat NBA antara Los Angeles Lakers melawan Phoenix Suns, muncul sebuah catatan kecil di bagian bawah layar tv. Gw gak ingat kata-katanya dalam bahasa Inggris, tapi padanan makna bebasnya kurang lebih “Pengulangan skor imbang di kuarter 1 adalah yang paling banyak terjadi dalam satu kuarter selama sejarah NBA.”

What?! Apa-apaan ini? Sedemikian rincinya! Jangan tanya kalau hanya jumlah skor, jumlah poin, steal, assist, rebound yang terdulang oleh seorang pemain, sudah sangat tercatat rapi. Mulai dari seorang legenda sekelas Jordan hingga pemain entah-berantah yang sangat-sangat tidak terkenal. Atau catatan-catatan standar lainnya. Rapi dan kerap ditampilkan di layar tv.

Semoga NBL Indonesia nanti seperti itu :D (Amiinnn..) Soalnya saat IBL, hmm, skor akhir pertandingan Final tahun lalu saja mungkin tak ada catatannya. (Mungkin lho yaa.. Ini prasangka gw aja :P)

Semoga Koran Kompas Selalu Ikut Mewartakan NBL Indonesia

Gw adalah pembaca setia koran Kompas. Berpuluh tahun gw selalu membaca koran ini jauh lebih sering daripada koran-koran lainnya. Bahkan sekitar 8 tahun terakhir hampir setiap pagi Kompas menjadi sarapan pagi gw sebelum makanan lain sempat masuk lewat mulut, gw berlangganan. Gw punya kebiasaan membaca koran Kompas dari halaman belakang ke halaman depan, karena halaman-halaman belakang beritanya cenderung ringan, semisal berita selebritas dan olah raga.

Salah satu alasan mengapa gw suka dengan koran Kompas adalah penyampaian kalimat-kalimatnya elegan dan gw sering menemukan kata-kata baru serapan dari bahasa asing lewat Kompas. Koran Kompas adalah sumber yang baik untuk belajar Bahasa Indonesia yang baik dan benar. Lebih baik daripada teori-teori di bangku sekolah dan kuliah.

Lalu apa maksud judul posting ini? Ini hanyalah sebuah kekhawatiran/harapan berdasarkan pengalaman gw. Gw mengalami beberapa pengalaman yang membuat gw merasa pantas untuk mengkhawatirkan “Akankah Kompas ikut memublikasikan dan memberitakan pertandingan-pertandingan NBL Indonesia nantinya?”

Beberapa pengalaman

Semua berawal di 2 tahun lalu saat pertama kali gw mengenal Development (dulu Deteksi) Basketball League (DBL). Gw mengetahui DBL dari seorang teman melalui chatting di yahoo messenger. Lewat google dan youtube, gw tersentak, bagaimana mungkin gw yang berlangganan Kompas bertahun-tahun sama sekali tak pernah tahu ada kompetisi basket antar pelajar SMA sehebat DBL?!! Belakangan gw mulai menduga bahwa gw tahu jawabannya :D

Lalu suatu saat di bulan Juli 2009 seorang bintang NBA yang sedang naik daun mengunjungi Surabaya dalam sebuah bagian dari rangkaian kegiatan basket yang boleh dikatakan cukup monumental. Gw mencari beritanya di Kompas. Ada, namun hanya sekali, padahal kegiatan seru tersebut berlangsung sekitar 3 minggu lebih!

Menyusul kedatangan pemain NBA pada Juli 2009, NBA dan DBL kembali mengadakan sebuah camp pelatihan bagi pelajar-pelajar berbakat dalam olahraga basket dari banyak kota di Indonesia (NBA Indonesian Development Camp 2009). Gw gak banyak melihat Kompas saat itu karena gw ikut ambil bagian di dalam kegiatan tersebut dan sedikit sulit mencari Kompas saat itu :P

Awal tahun 2010, sebuah kejuaraan basket besar digelar di Jakarta, Turnamen Gubernur DKI Jakarta Cup. Gw senang karena Kompas selalu memberitakan perkembangan dan hasil pertandingan setiap hari. Lalu di bulan ini, ada juga Bima Sakti Cup yang tak kalah bergengsi, namun Kompas kembali absen mewartakan.

Puncak penyebab kekhawatiran gw adalah sehari setelah peluncuran resmi NBL Indonesia pada tanggal 25 Mei lalu. Tanggal 26 Mei, hari di mana seharusnya ada liputan tentang peristiwa itu di Kompas, gw mendapati bahwa Kompas sama sekali tidak memberitakan apa-apa. Peluncuran NBL Indonesia yang dianggap oleh beberapa kalangan sebagai salah satu tonggak kebangkitan kembali basket nasional yang sedang amburadul ternyata masih kalah penting dibandingkan berita seperti kejuaraan balap sepeda di Italia dan atau Tiger Woods yang mau ikutan laga golf di Ohio (halooo, berapa orang sih yang main golf di Indonesia?!!). Padahal saat acara itu, Ketua Perbasi dan Ketua Umum KONI Pusat ikut hadir!

Sebut gw naif -__-*

Kenapa ini jadi masalah buat gw, karena gw tahu bahwa Kompas adalah salah satu sumber berita berkualitas dan paling banyak dibaca di Indonesia. Dukungan Kompas akan ikut membawa basket Indonesia semakin maju. Tanpa mengesampingkan cabang-cabang olahraga yang lain, gw rasa olah raga bola basket sungguh masih merupakan cabang olah raga yang juga sangat dan paling merakyat di Indonesia bersama sepak bola, bola voli, dan bulu tangkis. Golf? (Come on..). Bukankah Kompas adalah “Amanat Hati Nurani Rakyat”? (Slogan koran Kompas).

Ya, boleh lah memanggil gw naif karena seolah tak tahu penyebab yang membuat Kompas mungkin enggan mewartakan cerita-cerita NBL Indonesia nantinya. Tetapi sampai kapan kita mau jadi orang-orang yang penuh gengsi pribadi dan golongan yang mengesampingkan usaha kemajuan untuk kepentingan yang lebih besar? Kita semua tahu kekuatan media massa untuk membantu mempercepat pembangunan di bidang apapun!

Akhirnya, doa “Semoga Koran Kompas Selalu Ikut Mewartakan NBL Indonesia.” semoga dikabulkan oleh.. hmm.. oleh siapa yaa. Semoga Tuhan bersama kita semua. Amiin :D

3 Alasan Mengapa Nama NBL Indonesia Lebih Baik Daripada IBL

“Nama IBL sudah identik dengan kompetisi yang tidak heboh. Bahkan ada yang bilang, IBL baru nanti tidak dimulai dari nol. Melainkan harus diulang dari minus sepuluh. Dengan mengubah nama, paling tidak kami bisa mengulang dari nol lagi,” jelas Azrul Ananda pada saat peluncuran NBL Indonesia tanggal 25 Mei lalu di Ballroom hotel Four Seasons Jakarta.

Banyak yang bertanya-tanya mengapa nama Indonesian Basketball League (IBL) yang menurut beberapa teman sudah sangat unik dan mewakili Indonesia malah diganti dengan nama baru National Basketball League (NBL) Indonesia yang jelas sudah dipakai terlebih dahulu oleh Australia maupun Malaysia. Banyak yang menyayangkan.

Seperti biasa, gw akan mengungkapkan beberapa alasan dari sudut pandang gw yang merasa bahwa penggantian nama tersebut sudah sangat tepat!

1. Setuju dengan Azrul Ananda

Citra IBL beberapa tahun belakangan memang sangat menurun. Dalam bahasa Azrul Ananda “..identik dengan kompetisi yang tidak heboh.”

Pertandingan-pertandingan yang sering berakhir dengan skor jomplang bak bumi dan langit membentuk citra pada benak masyarakat bahwa hasil akhir sudah sangat bisa ditebak. Dan akhirnya, sesuatu yang mudah ditebak, tak enak lagi untuk disaksikan (Tak percaya? Coba tonton karya-karya Multivision Plus).

Ujungnya, sulit mendapatkan dukungan terutama dukungan dana dari pihak-pihak sponsor. Nama baru NBL Indonesia setidaknya menjadi sebuah titik tolak awal bahwa liga basket kita benar-benar baru. Sebuah usaha melepaskan diri dari sebuah kompetisi yang “..identik dengan kompetisi yang tidak heboh.”

2. Nama IBL “berasap”

Semuanya memang terkait dengan citra. Nama IBL bagi gw dan bahkan beberapa orang teman, sudah sangat melekat dengan merek salah satu produk tembakau hisap berasap. Bahkan produk tersebut berhasil menanamkan jingle atau nada IBL yang sangat populer ” na..na.. IBL, Feel the game! Feel the game!” yang dibawakan dengan nada hiphop ke dalam benak penggemar basket Indonesia. Hal ini tentu sangat-sangat tidak baik.

Nama NBL Indonesia memutus mata rantai yang mengikat liga basket Indonesia ini dengan produk tembakau tersebut. Kelihatannya sederhana, namun dalam pendekatan citra dan iklan, nama IBL membuat basket dan tembakau seolah bergandengan tangan, padahal tidak sama sekali!

3. Berganti nama selalu berharap demi sebuah kemajuan

Ini adalah masukan yang gw dapat dari mas Christopher (mantan manajer CLS Knights Surabaya) lewat twitnya. Sangat masuk akal! Beberapa masyarakat suku di Indonesia memiliki tradisi merubah nama untuk menjadikan si pemilik nama menjadi lebih baik sesuai hal yang diinginkan. Tidak ada orang yang mengganti nama untuk menjadi lebih buruk.

——–

Bagaimana dengan nama NBL yang sudah melekat di Australia dan atau Malaysia? Bukan masalah. Entoh nama kita adalah bukan hanya NBL, tetapi NBL Indonesia. Kurang lebih sama seperti nama Asep yang dimiliki ribuan orang bahkan mungkin jutaan orang di Jawa Barat, atau Bambang di Jawa, John di Inggris, serta Ahmad di Timur Tengah.

What’s in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet.” kata William Shakespeare. Walau terkadang gw kurang setuju dengan kutipan tersebut, namun kalau dipikir-pikir sedikit lebih panjang, ada benarnya juga. Apalah arti nama NBL Indonesia jika nantinya liga tersebut semakin keren?! Yang terpenting tetaplah pelaksanaannya.

Sedikit alasan mengapa gw pun kurang setuju dengan Shakespeare, karena bagi gw, nama adalah doa, pengharapan. NBL Indonesia adalah liga basket nasional yang mampu mempersatukan bangsa, memajukan bangsa, dan menjadi kebanggaan nasional. Sangat mungkin, ketika kelak liga ini sangat-sangat maju, negara tetangga tertarik untuk ikut bergabung, seperti halnya Raptors dan Grizzlies di NBA. Amiin :)

Siap-siap Surabaya, Trevor Ariza Siap Berkunjung!

(Momen dunk Ariza yang paling gw ingat! Trevor Ariza saat masih bersama Lakers)

Satu lagi bintang muda NBA datang ke Indonesia. Trevor Ariza, guard Houston Rockets, bakal menjadi bintang utama NBA Madness 2010, even basket interaktif kelas dunia, yang diselenggarakan di Surabaya pada 10 Juni hingga 4 Juli mendatang.

Ariza bakal menjadi bintang NBA keempat yang menjejakkan kakinya di Kota Pahlawan dalam dua tahun terakhir. Menyusul langkah Danny Granger (Indiana Pacers), David Lee (New York Knicks), serta rekan setimnya di Rockets, Kevin Martin.

Meski demikian, Ariza merupakan yang pertama yang pernah merasakan nikmatnya jadi jawara NBA. Pada 2009 lalu, saat masih tergabung di Los Angeles Lakers, dia merupakan pahlawan final. Sejumlah tembakan tiga angkanya membantu Kobe Bryant dan rekan-rekan lain mengalahkan Orlando Magic dan meraih gelar champion.

Ketika hadir di Surabaya pada weekend penutup NBA Madness presented by Jawa Pos, 1-4 Juli nanti di Supermal Pakuwon Indah, Ariza akan bisa menjawab pertanyaan bagaimana nikmatnya memiliki cincin juara liga paling bergengsi.

“Saya benar-benar senang mendapat kesempatan datang ke Surabaya. Terima kasih kepada Jawa Pos yang telah mengundang saya untuk menjadi bagian dari even mengasyikkan ini,” kata pemain yang baru berusia 24 tahun tersebut. “Saya tak sabar segera berjumpa dengan para penggemar di Indonesia, serta bersenang-senang dengan mereka,” lanjutnya.

Tak lama setelah membantu Lakers jadi juara, Ariza memang pindah tim. Dia pindah ke Rockets, setelah tim itu menawarinya kontrak yang menggiurkan, bernilai USD 33 juta (sekitar Rp 300 miliar) untuk lima musim.

Di Rockets, pemain 203 cm itu bukan hanya dapat bayaran mantap. Dia juga diberi kesempatan mengembangkan diri. Pada musim reguler 2009-2010 lalu, Ariza mencatat statistik rata-rata tertinggi dalam karirnya, yaitu 14,9 poin, 5,6 rebound , dan 3,8 assist. Dia juga jadi andalan utama dalam hal steal (mencuri bola), yaitu 1,8 steal per pertandingan.

Ariza tidak akan sendirian meramaikan NBA Madness 2010. Denver Nuggets Dancers yang cantik-cantik (hahahaaa..) akan tampil terlebih dulu pada weekend pembuka, 10-13 Juni, di atrium Tunjungan Plaza 3.

Kemudian, maskot New Orleans Hornets, Hugo, bakal menghebohkan Supermal Pakuwon Indah pada weekend ketiga, 24-27 Juni. Hugo akan menampilkan berbagai atraksi kocak, sekaligus memukau penonton dengan aksi-aksi slam dunk yang akrobatik.

“Barisan bintang tamu NBA Madness 2010 tahun ini sangat membuat kami senang. Bila tahun lalu NBA Madness di Surabaya disebut sebagai yang terbaik di Asia, tahun ini kami yakin bisa mempertahankan standar. Apalagi, orang sudah lebih familiar, dan penggemar dari berbagai penjuru Indonesia akan datang ke Surabaya untuk menikmati even ini,” kata Azrul Ananda, direktur Jawa Pos dan DBL Indonesia, penyelenggara NBA Madness di Indonesia.

Even kelas dunia ini tahun lalu dinikmati hingga 700 ribu pengunjung selama empat weekend . Memang, even ini terbuka untuk penggemar dari berbagai kalangan dan usia. Semua bisa datang ke atrium mal, berpartisipasi dalam berbagai kompetisi seru di lapangan portable atau menikmati eksibisi seru asli NBA.

NBL Indonesia, New Season New Hope For Indonesia

Bagi gw, semuanya berawal sekitar 2 tahun yang lalu. Ketika itu musim kompetisi reguler Indonesian Basketball League 2008 sudah akan segera dimulai. Bukan keceriaan yang meliputi awal musim saat itu melainkan sebuah kekhawatiran dan cukup banyak kekecewaan. Kekecewaan yang hadir umumnya bernada sama “IBL semakin sepi.” Sedangkan kekhawatiran yang membayangi adalah IBL tidak akan berjalan lagi karena belum mendapatkan sponsor utama.

Kekhawatiran pupus sudah mana kala IBL akhirnya tetap berjalan walau tanpa dukungan sponsor utama. Beberapa sponsor kecil masih setia mendukung IBL saat itu. Tetapi kekecewaan masih terus berlanjut, IBL tetap sangat sepi. Pernah dalam suatu pertandingan di GOR C-Tra Arena Bandung, gw dan mas Chris (Manajer CLS Knights Surabaya saat itu) berbicara dengan nada miris dan sedih di luar GOR setelah mengetahui bahwa stadion yang bisa dijejali kurang lebih 5000 orang penonton itu hanya diisi oleh 20 orang saja!

DBL si Liga Pelajar

Di tengah situasi itu, gw dikejutkan oleh sebuah liga basket pelajar yang sangat-sangat tidak populer di Jawa Barat dan Jakarta tetapi menjadi bintang di daerah-daerah lain. Deteksi (belakangan menjadi Development) Basketball League namanya. Butuh waktu hanya 3 film di youtube buat gw untuk menganga dan berdecak kagum berulang kali menakjubi kehebohan suasana liga pelajar tersebut. Gw pun mempelajari dan mengikuti liga tersebut lebih intensif.

Penyelenggara DBL lalu mengundang gw untuk menyaksikan secara langsung sebuah even pertama yang bekerjasama dengan NBA yang mereka prakarsai dan diadakan di Surabaya, NBA Madness. Selain gw, beberapa pemain profesional IBL pun diundang.

Dalam acara makan malam perpisahan di akhir acara NBA Madness, gw sempat berbicara dan bercerita panjang lebar sebatas pengetahuan gw tentang apa itu DBL, DBL Indonesia, serta kegiatan NBA Madness yang mereka adakan kepada beberapa pemain profesional IBL. Para pemain profesional IBL sangat-sangat antusias bertanya kepada gw karena tak jauh berbeda dengan gw, mereka pun takjub menyaksikan ada sebuah liga pelajar heboh populer yang tidak populer (ngerti kan maksudnya?)

Saat itulah gw pertama kali mendengar kata-kata “DBL harus mengelola IBL!”

Singkat kata singkat cerita, pada penghujung tahun 2009 lalu DBL Indonesia kembali menggelar sebuah event internasional di Surabaya, Surabaya International Challenge. Saat itulah salah seorang teman menunjukkan kepada gw sebuah surat pernyataan dari penyelenggara IBL yang lama tentang ketidakmampuan mereka dalam kembali menggelar kompetisi IBL putaran selanjutnya. Tim-tim IBL benar-benar berada dalam ketidakpastian.

Dorongan agar DBL Indonesia yang telah berpengalaman menyelenggarakan kompetisi antar pelajar, DBL, serta beberapa kegiatan basket internasional semakin kencang datang agar DBL Indonesia juga “megang” IBL. Awal tahun 2010, DBL Indonesia pun bersedia menerima permintaan tersebut.

New Season New Hope

Seharusnya tulisan ini muncul kemarin. Sayang, kemarin gw sama sekali tidak bertemu dengan komputer.

2 hari lalu, bertempat di Ballroom hotel Four Seasons Jakarta IBL “baru” diluncurkan. Nama IBL secara resmi ditinggalkan dan berganti dengan National Basketball League Indonesia, disingkat NBL Indonesia.

(Untuk cerita lengkap peluncuran NBL Indonesia, baca di sini.)

Sebelum acara resmi diadakan, wajah ceria dan bersemangat para pemain NBL Indonesia maupun para undangan lain telah menunjukkan keceriaan. Dalam bahasa Sue Wicks (legenda WNBA yang ikut menjadi saksi peluncuran NBL Indonesia) “Wajah-wajah penuh optimisme dan harapan serta penuh semangat untuk segera menunjukkan kemampuan masing-masing di lapangan.”

“Kita harus punya komitmen baru juga..” kata Sam Perkins (salah seorang legenda NBA yang menjadi saksi juga) ketika membari sambutan singkat. Pernyataan Sue dan Sam adalah yang paling melekat di hati gw pada acara peluncuran NBL Indonesia. Malam itu para pemain memang terlihat sangat ceria dan bersemangat. Beberapa mengeluarkan celetukan “acara seperti ini (peluncuran resmi) belum pernah ada sebelumnya.”

Bahkan sang bintang NBA, Sam Perkins juga mengatakan “Acara ini sudah sangat mirip dengan yang sering diadakan oleh NBA.”

Kata-kata yang datang dari Sue Wicks pun benar-benar menggugah “ini membuat saya merindukan kembali saat masih menjadi pemain aktif dulu.”

Ketika gw berpapasan dengan Mario Wuysang, gw mengatakan “Champion bro! (Garuda Flexi Bandung)” dan Mario dengan bersemangat menjawab “We will!” Bahkan saking bersemangatnya, Mario bahkan membawa pulang sebuah manekin bergambar dirinya yang menjadi pajangan pada acara peluncuran tersebut.

“Ini baru permulaan, masih banyak yang harus dilakukan.” ujar Azrul Ananda. Yup! Seperti yang dikatakan oleh Sam Perkins tadi, yang dibutuhkan adalah komitmen dari semua pihak yang merasa peduli dan sayang kepada liga ini, NBL Indonesia. Siapapun bisa menunjukkan komitmen kecintaan dan dukungannya untuk kemajuan NBL Indonesia. Bentuk komitmen dan dukungan paling sederhana tetapi justru paling-paling sangat berharga adalah menyaksikan pertandingan-pertandingan NBL Indonesia yang akan mulai digelar Juli (Turnamen) dan Oktober nanti.

Wajah-wajah khawatir sudah berganti penuh harap dan semangat. Semuanya terlihat jelas malam itu. New hope for new season for Indonesia!

Press Release: NBL Indonesia Launch

Liga basket tertinggi di Indonesia kini punya identitas baru. Indonesian Basketball League (IBL), yang sudah berjalan sejak 2003, sekarang berganti nama menjadi National Basketball League (NBL) Indonesia.

Pergantian nama itu diumumkan secara resmi di Ballroom Hotel Four Seasons Jakarta, tadi malam (25/5), oleh Azrul Ananda, direktur PT DBL Indonesia, pengelola baru IBL. Dalam acara itu, jadwal musim dan perubahan-perubahan lain juga disampaikan. Termasuk di antaranya penambahan jumlah pertandingan secara signifikan.

Sejumlah kalangan olahraga Indonesia ikut menghadiri acara tersebut. Antara lain Noviantika Nasution (ketua umum PB Perbasi), Rita Wibowo (ketua KONI Pusat), serta seluruh perwakilan klub-klub peserta NBL Indonesia.

Tamu dari luar negeri antara lain Sam Perkins dan Sue Wicks, legenda basket NBA dan WNBA yang memang sedang berada di Indonesia untuk program sports envoy Kedutaan Besar Amerika Serikat. Lalu ada Andrew Vlahov, legenda basket Australia, mewakili Basketball Australia dan NBL Australia. Hadir pula Tan Kee Han, commissioner NBL Malaysia.

Acara yang dibawakan oleh Udjo Project Pop tadi malam dibuka dengan penampilan rapper Iwa K, membawakan lagu Nombok Dong yang dianggap sebagai salah satu lagu penting dalam sejarah basket Indonesia. Kemudian, baru presentasi perkenalan nama NBL Indonesia.

Awalnya, Azrul menjelaskan awal mula keterlibatan PT DBL Indonesia. “Kami sama sekali tak pernah punya bayangan mengambil alih IBL. Pada Desember 2009, seluruh perwakilan klub datang ke Surabaya untuk menemui kami. Kata mereka, liga sedang dalam kondisi terburuk dalam 20 tahun terakhir,” ungkap Azrul.

Semula, lanjut Azrul, pihaknya belum bersedia. Sebab, pihaknya sudah punya beban besar mengembangkan Development Basketball League (DBL), liga pelajar terbesar yang kini sudah merambah 21 kota di Indonesia, dari Aceh sampai Papua.

“Setelah berbincang dengan berbagai pihak, baik di Indonesia maupun di luar negeri, akhirnya kami bersedia. Banyak yang mendorong kami untuk mau, dengan alasan untuk membantu basket Indonesia,” ucapnya. “Kami mengucapkan terima kasih kepada seluruh klub, PB Perbasi, dan para penggemar basket Indonesia atas kepercayaan ini. Kami akan bekerja keras untuk mengembalikan gengsi basket Indonesia,” lanjut pria 32 tahun tersebut.

Bella Erwin Harahap, Ketua Dewan Komisaris liga, mengaku senang DBL Indonesia bersedia jadi pengelola. Dia menegaskan lagi ucapan terdahulu, bahwa DBL Indonesia memenuhi lima kriteria yang dibutuhkan. “Yaitu infrastruktur yang memadai, cukup SDM, kuat dalam hal media, cukup finansial, dan memiliki jaringan kuat di lingkungan basket”, tuturnya.

Noviantika Nasution pun menyampaikan rasa lega dengan kehadiran DBL Indonesia sebagai pengelola. “Basket Indonesia membutuhkan orang-orang muda seperti di DBL Indonesia. Visioner, tapi mau memahami keadaan dan paham dalam menghadapi keadaan tersebut. Visi mereka sejalan dengan apa yang kami inginkan,” ucapnya.

Legenda NBA Sam Perkins dan WNBA Sue Wicks kemarin juga hadir memberikan dukungan kepada peluncuran NBL Indonesia. Ketika dimintai pendapatnya di atas panggung, keduanya mengaku kagum dengan semangat yang ditunjukkan masyarakat Indonesia dalam bermain basket.

Apalagi, ketika mereka menyaksikan video yang menyuguhkan komentar dan harapan perwakilan pemain NBL Indonesia yang ditampilkan di launching. “Saya tadi merinding (melihat video itu, Red). Antusiasme mereka di sana luar biasa. Spirit seperti ini bukan hal yang biasa. Senang sekali bisa menjadi bagian dari launching ini,” ujar Sue ketika diminta komentarnya.

Nama Baru, Image Baru

Dalam presentasinya, Azrul menjelaskan kalau pihaknya semula tak punya niatan mengubah nama liga. Namun, setelah bertemu dengan sejumlah calon sponsor, serta berdiskusi dengan banyak pihak, perubahan pun menjadi tidak terelakkan. Mengubah logo dan program saja tidaklah cukup.

“Nama IBL sudah identik dengan kompetisi yang tidak heboh. Bahkan ada yang bilang, IBL baru nanti tidak dimulai dari nol. Melainkan harus diulang dari minus sepuluh. Dengan mengubah nama, paling tidak kami bisa mengulang dari nol lagi,” papar Azrul.

Logo baru NBL Indonesia dibuat dengan desain sederhana, berwarna merah dan putih. “Liga ini dilahirkan untuk berusaha kembali ke masa emas basket Indonesia. Jadi harus merah putih. Slogan liga pun jelas: For Indonesia,” ujar Azrul, “Sekali lagi, kami mengucapkan terima kasih kepada klub-klub peserta dan PB Perbasi, yang mendukung penuh perubahan identitas ini.”

Untuk era baru ini, Azrul mengumumkan pula sejumlah perubahan dalam pelaksanaan kompetisi. Pertama, soal jadwal kompetisi. Dengan identitas baru, NBL Indonesia punya kesempatan untuk menyesuaikan diri dengan liga-liga profesional di negara-negara lain.

“Di negara-negara yang basketnya maju, kompetisi profesional selalu dimulai pada akhir tahun, lalu berakhir di awal tahun berikutnya. Di Amerika begitu, juga di Eropa, Australia, hingga Tiongkok. Baru pada Mei hingga Agustus, kompetisi-kompetisi yang bersifat internasional diselenggarakan,” terang Azrul.

Jadi, musim perdana NBL Indonesia adalah musim 2010-2011. Musim reguler diselenggarakan pada Oktober 2010 hingga Februari 2011. Sebelumnya ada kompetisi pramusim pada Juli 2010, sebelum bulan puasa.

Kompetisi ditutup dengan Championship Series pada Maret 2011. Delapan klub terbaik (dari total sepuluh peserta) akan berkumpul di satu tempat, lalu saling menggugurkan lewat sistem single game elimination. Tim yang bertahan sampai akhir dinobatkan sebagai champion.

“Format ini akan sangat mendebarkan. Setiap tim hanya punya satu kesempatan untuk menang dan lolos. Seperti NCAA di Amerika dan Euroleague,” kata Azrul.

Meski babak penutupnya relatif singkat, Azrul bilang untuk tidak khawatir. Sebab, saat musim reguler, jumlah pertandingan bertambah signifikan. “Di IBL dulu, setiap tim bertemu hanya dua kali. Total hanya main 18 kali semusim. Kini, setiap tim bertemu tiga kali. Total masing-masing klub akan bermain 27 kali,” jelas Azrul.

Secara keseluruhan, NBL Indonesia akan menyelenggarakan 166 pertandingan pada musim 2010-2011. Musim terakhir IBL, termasuk turnamen, tidak sampai 130 pertandingan. “Lebih banyak game, lebih banyak pengalaman bertanding untuk semua tim. Lebih banyak juga hiburan untuk penggemar,” tegas Azrul.

Dalam perkenalan tadi malam, Menegpora Dr. Andi A. Mallarangeng semestinya dijadwalkan hadir. Namun, sorenya mendadak harus terbang menemani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke Oslo, Norwegia. Sebelum pergi, Andi sempat meninggalkan ucapan selamat kepada DBL Indonesia.

“Selamat atas hadirnya NBL Indonesia sebagai liga basket tertinggi baru di Indonesia. Saya percaya di bawah pengelolaan Azrul Ananda dan DBL Indonesia, liga ini akan meraih sukses yang belum pernah dicapai sebelumnya di Indonesia. Semoga NBL Indonesia pada akhirnya juga bisa menghasilkan prestasi tertinggi baru untuk olahraga Indonesia. Serta menginspirasi olahraga-olahraga lain untuk berkembang secara profesional,” begitu pesan Andi A. Mallarangeng.