Makassar Prioritas DBL Tahun Depan (Final DBL Makassar 2010)

Makassar, Kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia, Development Basketball League (DBL) 2010, menemui dua kendala yang hampir bertolak-belakang di Sulawesi. Manado punya gedung berlokasi ideal di tengah kota, tapi butuh renovasi supaya lebih layak. Sedangkan Makassar sudah punya gedung yang besar dan megah, tapi letaknya terlalu jauh dari jangkauan.

Keluhan-keluhan itu kemarin (17/4) dirasakan saat final DBL 2010 seri Sulawesi Selatan di KOR Sudiang. Baik dari penyelenggara maupun peserta dan penonton. “Secara fisik, Sudiang termasuk gedung terbaik di Indonesia. Besar, terang, dengan aliran udara yang baik. Sayang lokasinya jauh sekali dari kota, menghambat pertumbuhan penonton dan kompetisi. Menurut saya, ini satu lagi contoh mubazirnya pembangunan gedung olahraga di Indonesia. Buang-buang uang banyak, tapi sulit dinikmati masyarakat,” ujar Azrul Ananda, commissioner DBL.

“Di Makassar, pertumbuhan penonton memang diakui terhambat. Kemarin, sekitar 2.500 penonton menyaksikan babak final. Namun, total penonton di kota tersebut masih mirip dengan tahun lalu, di kisaran 12.500 penonton. Padahal, animo peserta meningkat. Tahun ini lebih banyak dari tahun lalu,” kata Azrul.

Sejak 2008, praktis memang hanya DBL yang menggelar even olahraga besar di KOR Sudiang. Di luar itu nyaris tak ada satu pun even yang menggunakan gedung megah berkapasitas hampir 10 ribu penonton tersebut.

“Tak terbantahkan lagi, DBL merupakan even basket paling bergengsi. Tapi khusus di Sulsel, panitia perlu memikirkan arena baru selain KOR Sudiang yang terlalu jauh dari kota. Masalahnya, di kota tidak ada tempat yang memenuhi standar. Ini pekerjaan rumah bagi kita semua,” ucap Intan Nelysa, 19, penonton umum di KOR Sudiang kemarin.

Melissa Suwardi, pemain SMA Katolik Rajawali Makassar, mengaku jauhnya jarak itu membuat timnya sulit mendapatkan dukungan suporter. Maklum, dari pusat kota, untuk mencapai KOR Sudiang bisa memakan waktu sampai satu jam naik mobil. “KOR Sudiang sangat representatif, tapi jauh,” tandas gadis yang kemarin terpilih sebagai Most Valuable Player (MVP) tersebut.

Azrul Ananda mengaku pihak DBL Indonesia bersama Harian Fajar (Jawa Pos Group), sebagai penyelenggara di Makassar, akan berupaya agar kompetisi ini lebih mudah dinikmati warga Sulsel pada tahun-tahun selanjutnya. Termasuk memikirkan gedung-gedung yang sudah ada di kota Makassar. “Siapa tahu ada yang bisa disulap dan memenuhi standar DBL,” ujarnya.

“Apa pun yang terjadi, kami akan konsisten menyelenggarakan even ini di Makassar. Semoga tahun-tahun berikutnya even ini bisa lebih berkembang seperti di kota-kota lain. Kota ini menjadi salah satu prioritas kami untuk tahun depan,” ucapnya.

Kemarin, tim putri SMA Katolik Rajawali Makassar berhasil mempertahankan gelar. Mereka menundukkan lawan yang sama dengan tahun lalu, SMAN 2 Makassar, 48-31. Namun, ratusan pendukung SMAN 2 tak pulang kecewa. Tim putra mereka sukses menjadi jawara, mengalahkan SMA Gamaliel Makassar 55-50.

Makassar merupakan kota ke-15 yang menyelesaikan seri DBL 2010. Saat ini, kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia itu juga diselenggarakan bersamaan di Jogjakarta, Semarang, dan Solo. Setelah itu, giliran Samarinda, Malang, dan Surabaya.

2 pemikiran pada “Makassar Prioritas DBL Tahun Depan (Final DBL Makassar 2010)

  1. setahun yang lalu, gw tinggal di makassar dan sempat menjadi suporter untuk tim sekolah dan gw tau susahnya untuk samapai ke gor sudiang. untungnya teman gw ada yang bawa mobil jadi gw ga terlalu repot pulang pergi. tapi tetep aja, karena tim sekolah gw yang tampil terakhir, akhirnya gw sampe di rumah jam 11 malam, ga kebayang kalo ada suporter yang harus naik turun angkutan kota untuk sampai ke sana. mau sampe rumah jam berapa mereka?

    gor sudiang memang bagus, tapi kalo boleh usul kenapa DBL makassar ga diadain di salah satu gor di daerah laiya, teman” gw biasanya nyebut tempat itu FW (gw juga lupa FW itu singkatan dari apa)
    sayangnya FW ga sebesar sudiang, dan tempatnya (untuk standar DBL) harus di poles sana – sini. tempat duduk penonton juga dikit, jadi kalo mau nonton kayaknya harus gantian. dan jalan untuk masuk ke FW agak kecil. tapi enaknya FW ada di tengah kota, jadi mudah di jangkau.

    btw, selamat buat tim putri SMA Rajawali. mereka memang lawan yang tangguh. beberapa kali tim gw tanding sama mereka dan tim gw memang harus mengakui ketangguhan mereka.
    selamat juga buat tim putranya SMA 2. sayang tim sekolah saya ga bisa mempertahankan gelar tahun lalu :) cheers!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s