Belajar Dapur Tim NBA di Arco Arena oleh Azrul Ananda (1/3)

Commissioner Development Basketball League (DBL) Indonesia Azrul Ananda baru saja kembali dari Amerika Serikat. Di sana dia menjadi tamu khusus tim NBA Sacramento Kings, melihat rumitnya di balik layar sebuah pertandingan di Arco Arena.

Segalanya, walaupun kecil, kalau dikerjakan dengan serius, bisa membuahkan hal-hal yang tak pernah kita bayangkan sebelumnya. Saya percaya betul itu.

Pada 2004 memulai sebuah liga basket sederhana di Surabaya, sekarang liga itu sudah menjadi Development Basketball League (DBL), liga pelajar terbesar dalam sejarah Indonesia. Liga itu kemudian melangkah lebih jauh: Tahun ini ikut mengelola Indonesian Basketball League (IBL), liga profesional tertinggi di tanah air.

Jauh bukan?

Dari yang kecil dulu, ketika dikerjakan secara serius, berbagai pintu peluang terbuka di berbagai penjuru dunia. Salah satu di antaranya, membuka hubungan dengan sesuatu yang 15 tahun lalu hanyalah menjadi impian saya. Malah mungkin, memimpikannya saja belum tentu berani.

Akhir pekan lalu (1–4 April) saya menjadi tamu VIP Sacramento Kings, klub NBA yang bermarkas di ibu kota Negara Bagian California. Tinggal di suite hotel yang juga menjadi ’’rumah’’ beberapa pemain, mendapat akses penuh untuk menengok segala persiapan pertandingan di Arco Arena, termasuk memasuki ruangan-ruangan yang seharusnya tidak boleh dimasuki orang luar.

Sebagai bumbu, Sabtu lalu (3/4) saya dan keluarga mendapat tiket nonton pertandingan di kursi impian penggemar NBA. Kursi baris terdepan alias courtside.

***

Seminggu di Amerika Serikat, niat sebenarnya adalah setengah liburan-setengah bekerja. Liburan, jalan-jalan sekaligus mengunjungi teman-teman lama ketika kuliah di California State University Sacramento pada akhir 1990-an. Bekerja, karena mengunjungi beberapa kota dan organisasi untuk persiapan mengirim tim DBL Indonesia All-Star 2010, tim berisikan pemain-pemain SMA terbaik di Honda DBL 2010.

Rencananya, tim putra maupun putri itu terbang pada November mendatang untuk ikut belajar di sejumlah SMA dan menjalani beberapa pertandingan melawan tim-tim muda di AS.

Karena saya dulu kuliah di Sacramento, saya akan mengaku terus terang bahwa Sacramento Kings merupakan tim NBA favorit saya. Ketika saya kuliah (1995–1999), tim itu tidaklah hebat, tapi selalu menjadi kebanggaan kota. Pada awal dekade ini, Sacramento Kings masuk tim elite. Sekarang memang masih di papan bawah, tapi sedang dalam proses rebuilding, membangun ulang untuk masa depan.

Dulu untuk bisa nonton Kings membutuhkan perjuangan. Tiket selalu sold out dan harga di secondary market (calo dan lain-lain) berlipat-lipat. Beruntung, teman Indonesia saya ada yang tinggal bersama keluarga angkat, yang bekerja part time untuk Arco Arena. Kadang kami kebagian jatah tiket orang yang tidak terpakai. Kadang kursi lumayan, kadang kursi paling atas.

Tidak apa-apa, yang penting dapat kursi di gedung berkapasitas sekitar 15 ribu penonton tersebut.

Pernah, karena waktu itu memang tidak punya banyak duit, ketika pengin nonton hanya dapat tiket termurah. Pada 1995, kami beli tiket 8 dolaran (sekarang Rp 70 ribuan). Itu bukan untuk duduk. Kami harus naik lift ke lantai empat. Setelah itu mencari kursi nun jauh di atas. Tidak untuk duduk, melainkan berdiri di belakangnya!

Ya, di NBA, ada ’’petak-petak’’ untuk penonton yang berdiri. Di belakang kursi paling belakang ada garis-garis membentuk kotak yang bernomor, menunjukkan tempat pemegang tiket harus berdiri. Akhir pekan lalu saya lihat petak-petak itu masih ada!

Waktu itu untuk bisa nonton dengan tiket berdiri saja sudah senang bukan kepalang. Tidak pernah terbayang kalau belasan tahun kemudian kenal dengan Sacramento Kings dan dapat akses penuh di Arco Arena!

***

PT DBL Indonesia, penyelenggara Honda DBL 2010 (dan sekarang IBL), mulai bekerja sama dengan NBA pada 2008. Waktu itu mulai kenal langsung dengan Sacramento Kings. Kenalannya di Manila, Filipina, waktu dance team mereka ikut tampil di NBA Madness di sana.

Tahun 2009, kami menjadi makin kenal. Bintang Kings waktu itu, Kevin Martin, menjadi bintang tamu di final Honda DBL 2009 di Jawa Timur dan Indonesia Development Camp 2009. Waktu itu saya dan DBL Indonesia dapat perhatian di Sacramento, bahkan sempat masuk koran setempat di sana, Sacramento Bee.

Itu menyenangkan sekali buat saya karena hingga sepuluh tahun lalu Bee adalah bacaan harian saya. Mereka menganggap DBL itu unik, karena ada ’’garis hubungan’’ dengan kota Sacramento, karena saya lulusan kuliah di sana.

Sejak tahun lalu pada dasarnya Kings sangat ingin saya datang mengunjungi tim tersebut. Saya juga sangat ingin ke sana, melihat langsung segala hal di balik layar di sebuah tim NBA. Baru April ini keinginan itu bisa terwujud.

Sayang, Kevin Martin sudah tidak lagi di Kings. Dia akan menjadi bintang besar di Houston Rockets, digadang-gadang sebagai partner utama pemain asal Tiongkok, Yao Ming, pada musim 2010–2011 nanti.

Begitu tiba di AS pekan lalu, saya sudah aktif kontak-kontakan dengan Scott Freshour, MC pertandingan Kings yang satu almamater di California State University Sacramento. Dia bilang sudah menyiapkan banyak kejutan.

Sebenarnya diajak untuk melihat-lihat kegiatan di balik layar saja sudah lebih dari cukup bagi saya. Tapi, ternyata Kings menyiapkan lebih. Begitu tiba, kami dijamu dengan kamar hotel suite di Embassy Suites, salah satu hotel terbaik Sacramento di kawasan downtown. Tepat di depan Tower Bridge berwarna emas, ikon kota, dan satu jalan dengan State Capitol, tempat Gubernur Arnold Schwarzenegger bekerja.

Hotel itu memang partner utama Kings. Beberapa pemainnya, yang tidak punya rumah di Sacramento, ikut menginap di sana. Sebagai bukti kerja sama, setiap malam logo besar Kings ’’disinarkan’’ ke dinding luar hotel, terlihat jelas dari jalan tol yang melintasi tengah kota.

Jumat malam lalu (2/4), di sebuah restoran Jepang di tengah kota, Freshour mempertemukan saya dengan dua bos departemen entertainment Kings, Tom Vannucci (direktur kreatif) dan Maurice Brazelton (bos operasional entertainment saat pertandingan berlangsung).

Malam itu ikut bergabung Joe Prunty, asisten pelatih Portland Trail Blazers, lawan yang dijamu Kings Sabtu malamnya (3/4). Pada Agustus 2009, Prunty datang ke Surabaya bersama Kevin Martin, menjadi pelatih pemain-pemain terbaik Honda DBL 2009 di Indonesia Development Camp 2009.

Prunty malam itu datang pakai batik, yang dia dapat ketika di Surabaya. Ketika muncul, dia pun menyapa dengan ucapan ’’Selamat malam’’. Dia memang pelatih luar biasa, sangat disukai peserta camp saat di Surabaya.

Lebih banyak untuk saling berkenalan, malam itu saya menyadari bahwa pihak Kings dan Trail Blazers ternyata cukup kompak. Mereka boleh bersaing, tapi ternyata di balik layar banyak saling membantu.

Vannucci titip pesan untuk Trail Blazers lewat Prunty. Katanya, tim entertainment Kings sangat diterima dengan baik ketika ingin melihat dapur kerja Trail Blazers di Portland, beberapa waktu lalu. ’’Mereka sangat membuka diri, tidak ragu menunjukkan segala hal yang kami butuhkan,’’ kata Vannucci.

Keterbukaan itu pula yang ingin dilanjutkan Kings kepada saya, dalam hal ini DBL Indonesia. Saling berbagi, saling membantu. ’’Kalau DBL ingin mengirimkan staf untuk belajar, kami siap menerima dengan tangan terbuka,’’ ucap Vannucci.

Sabtu keesokan harinya (3/4), siang sebelum pertandingan, dapur Kings pun terbuka lebar untuk saya pelajari. Saat pertandingan melawan Trail Blazers pun, saya diberi tahu sudah disiapkan kursi istimewa, dengan kejutan ekstra saat pertandingan berlangsung.

(Bersambung)

6 pemikiran pada “Belajar Dapur Tim NBA di Arco Arena oleh Azrul Ananda (1/3)

  1. tulisannya menambahkan inspirasi nih buat tugas akhir saya yaitu Gelanggang Bola Basket di Batu…thx2 yah Buat Bang idan dan tentunya Bang Azrul dan DBL…tulisannya bisa menjadi patokan untuk mendesain ruang-ruang untuk gedung bola basket yang representatif di indonesia…karena kebanyakan gedung olahraga atau GOR, masih kurang memperhatikan penataan ruang-ruang khususnya sirkulasi di dalam bangunan dan juga fasilitas-fasilitas ruangan yang ada di GOR pada umunya belum sepenuhnya lengkap dan fungsional. salah satu contohnya adalah ruang untuk media, dimana pada GOR yang ada di indonesia, belum menyediakan ruang untuk media, dimana fungsinya sangat penting dalam membantu menyelengarakan sebuah pertandingan. problem ini bisa kita lihat pada saat tayangan Live sebuah pertandingan bola basket, dimana kebanyakan pembawa acara secara live membawakan pertandingan tepat di sisi tribun maupun didalam lapangan pertandinganpenonton…menurut saya kegiatan ini sangat kurang representatif untuk mengelar acara secara live…hahah…
    mungkin ini saja comment saya…semoga indonesia kedepannya bisa memiliki Gedung olahraga bola basket yang sesuai dengan standar-standar dan representatif….dan tentunya..INDONESIA JAWARA BASKET DUNIA !!

  2. oh yah..buat tmen2 yang lain..kalo ada commentar…tentang sebuah fasilitas gedung olahraga…tolong bantu juga yah…sekalian sama2 belajar..saya juga masih belajar, dan masih belum ngerti apa-apa…

    karena saya rasa, perkembangan bola basket di indonesia sudah semakin pesat, dan tentunya harus di dukung dengan penyediaan sebuah fasilitas atau sarana dimana salah satunya yaitu gedung olahraga….

    ini semua akan membantu kita untuk menjadikan INDONESIA JAWARA BASKET DUNIA..Heheh..THX..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s