Analogi dalam Komentar-komentar Basket

Saat menyaksikan pertandingan-pertandingan basket NBA atau pertandingan-pertandingan sepak bola luar negeri, gw sering terkagum-kagum dengan pilihan-pilihan kata-kata maupun kalimat-kalimat yang digunakan oleh sang komentator. Sangat kaya dan beragam sekali.

Berlari kencang terkadang dianalogikan bak kijang atau mesin turbo jet atau perumpamaan heboh lainnya. Slamdunk yang dahsyat sering diibaratkan dalam berbagai macam analogi seperti bom atom, gempa bumi, tsunami, dan lain-lain.

Penguasaan pengolahan kata dan kalimat dari para komentator ini benar-benar menjadi salah satu daya tarik yang menambah nilai sebuah pertandingan untuk terlihat lebih menarik!

Beberapa hari yang lalu, usai mengalahkan Portland Trail Blazer di babak lanjutan play off NBA, Steve Nash (Phoenix Suns) memberi jawaban atas pertanyaan dari seorang wartawan dengan analogi yang sangat indah dan cerdas.

They were making everything so it made it feel like we were running uphill, but I just felt like we had to think of this thing as long-term and think of it as the stock market. We’re not day traders, we want to be very conservative and long-term in our investment in transition. You’ve got to stick with it from the start to finish.”

Kebayang kan isi tempurung kepala si penyuka sepak bola ini?! Eh, ngomong-ngomong, komentar Steve Nash kok kayaknya masih nyambung juga ya sama dua posting sebelum tulisan ini :)

*inspirasi tulisan ini dari majalah Fast Company

7 Alasan Mengapa Pemain IBL Tidak Boleh Bermain di Kompetisi Lain

Tulisan ini boleh dikatakan sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Pemain IBL 2010 Tidak Boleh Bermain di Liga Lain!” dan mendapat perhatian cukup banyak, baik oleh pembaca blog maupun followers gw di twitter.

Sebelum dilanjutkan, kiranya perlu dicamkan bahwa yang tidak boleh bermain di kompetisi liga lain tersebut adalah PEMAIN bukan TIM atau KLUB IBL. Dan perlu disadari juga bahwa menurut hemat gw, aturan tersebut ada demi kebaikan para pemain sendiri, tim yang ikut serta, liga IBL, bahkan kepentingan basket nasional! Silahkan:

Pemain bukan manusia super

Bermain untuk sebuah liga IBL terkadang mewajibkan sebuah tim untuk harus bertanding dua hari berturut-turut dalam sebuah rangkaian seri pertandingan. Ini sering terjadi. Bayangkan jika seorang pemain yang bermain untuk dua kompetisi liga yang berbeda kemudian harus pula bertanding pada hari ke-3 dan ke-4 secara berturut-turut selama 4 hari. Akan berakibat fatal bagi tubuhnya dan akan sangat berpengaruh pada performanya saat bermain. Gw sangat yakin, kualitas penampilannya akan menurun. Ia akan dirugikan. Begitu pula timnya.

Bayangkan juga jika ternyata pertandingannya terpisah di dua kota atau pulau yang berbeda.

Bentrok jadwal pertandingan

Ketika terjadi bentrokan jadwal pertandingan, seorang pemain mau tidak mau harus memilih untuk bermain di kompetisi liga yang mana. Ketidakhadirannya pada salah satu laga yang bersamaan jelas merugikan timnya. Ia bisa menjadi kambing hitam kekalahan tim pada laga yang tidak ia bela. Akan bertambah buruk jika laga yang ia pilih untuk dibela pun ternyata kalah.

Tuntutan profesionalisme

Dua alasan di atas masih berbicara dalam kerangka seorang pemain berlaga di dua kompetisi liga berbeda namun masih dalam satu tim yang sama. Bagaimana jika ia bermain di dua kompetisi liga yang berbeda dan membela dua tim yang berbeda pula? Maka profesionalismenya akan sangat dipertanyakan. Lagi-lagi, seorang atlet bukanlah seorang manusia super. Ia bukan saja harus membagi waktu pada saat laga pertandingan yang berbeda, tetapi juga wajib membagi waktu berlatih untuk dua tim tersebut. Bisa terbayang bagaimana ia memiliki dan membagi waktu jadwal berlatih di dua tim yang berbeda. Bagaimana pula jika waktu berlatihnya pun bentrok? Semakin stress lah si pemain. Ujung-ujungnya, lagi-lagi kemampuan dan penampilannya tidak akan maksimal.

Oh, bagaimana pula jika ia cidera karena bertanding atau saat berlatih di salah satu tim di liga berbeda? Maka tim lain tempatnya bernaung akan sangat-sangat dirugikan (Ibarat tak ikut makan nangka namun terkena getahnya. Apes!).

Pemborosan dan (juga) tuntutan profesionalisme tim

Kembali lagi jika seorang pemain bermain di dua kompetisi liga tetapi masih di dalam satu tim yang sama. Gw tidak meragukan kemampuan finansial sebuah tim IBL. Dengan menyertakan seorang pemain atau lebih untuk mengikuti dua kompetisi liga yang berbeda, maka tim tersebut harus mengeluarkan uang lebih banyak dalam rangka mengikuti dua liga tersebut. Dan secara profesional pun tim tersebut harus membayar lebih banyak kepada sang pemain. Bukan karena si pemain berada di dalam “satu perusahaan” maka ia digaji seperti biasa. Ini sama saja bahwa pemain tersebut bekerja untuk sebuah perusahaan dengan beban kerja ganda.

IBL sebagai sarana pengembangan sosial budaya akan sulit tercapai

IBL nantinya akan berkembang layaknya NBA. Ia bukan sekadar organisasi yang mewadahi pertandingan antar klub saja. Ia akan menjadi sebuah “organisasi kemasyarakatan” dengan misi-misi tertentu. IBL akan memiliki banyak pesan dan misi sosial budaya yang akan disampaikan kepada masyarakat dalam bentuk berbagai kegiatan, dan semua pemain, pelatih, dan semua pecinta IBL akan berkomitmen mendukung ini. Bagaimana jadinya jika saat IBL memiliki kegiatan non-pertandingan berupa (contohnya) kunjungan ke panti asuhan atau kegiatan pelestarian lingkungan hidup harus berakhir kurang sempurna hanya karena salah satu pemain yang seharusnya hadir atau harapan publik untuk ikut hadir dan berkontribusi positif berhalangan karena harus bermain di liga lain?

Sisi bisnis dan ekonomi IBL dapat terhambat

Jangan lupa juga, IBL itu punya potensi nilai ekonomi yang sangat-sangat luar biasa. Ia bisa menghidupi bukan saja pemain, pelatih, atau ofisial yang terlibat langsung tetapi juga banyak orang yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita, semisal penjual minuman ringan di depan stadion, atau bahkan pekerja pabrik tekstil di antah-berantah yang tidak tahu sama sekali apa itu IBL. Bermain di dua kompetisi liga juga akan menghambat tujuan ini. Tentu saja lagi-lagi terkait hal jika ia harus memilih antara dua pilihan krusial bagi kepentingan kemajuan bisnis dan ekonomi dua kompetisi liga yang ia ikuti.

Ujung-ujungnya, basket nasional akan semakin terpuruk

Gw rasa teman-teman akan mampu menambahkan sendiri lebih banyak kekurangan daripada keuntungan akibat dari seorang pemain IBL yang juga bermain di kompetisi liga lain. Ujungnya adalah si pemain justru menghancurkan dirinya sendiri. Merusak potensinya sendiri. Kemampuan bermain basket yang seharusnya maksimal jika difokuskan malah setengah-setengah hanya karena ia harus membagi tenaga dan pikirannya untuk dua kompetisi liga yang berbeda. Kalau sudah begitu, siapa yang dirugikan? Bukan hanya individu pemain itu saja tetapi juga bangsa ini.

Pandanglah jauh ke depan. Belajarlah kepada yang lebih jago. Lihatlah NBA, tak ada pemain yang bermain di dua kompetisi atau liga yang berbeda (terlepas dari gaji mereka yang sangat tinggi).

Pekerjaan membangun basket nasional Indonesia untuk menjadi jawara dunia maupun sebuah hal yang membanggakan dari sisi olah raga, sosial, budaya, dan ekonomi bukanlah pekerjaan Sangkuriang atau sang pangeran yang naksir Roro Jonggrang.

Pemain IBL 2010 Tidak Boleh Bermain di Liga Lain! (*Melirik ke Pemain Satria Muda)

Yup, pada IBL 2010 nanti akan ada aturan yang intinya kurang lebih seperti kalimat judul di atas.

Beberapa waktu yang lalu, beberapa orang teman di twitter menanyakan perihal jadwal penyelenggaraan Indonesian Basketball League (IBL) 2010 (September) yang sangat mungkin akan bentrok dengan penyelenggaraan ASEAN Basketball League (ABL) 2010 yang akan bergulir kembali pada kisaran bulan Oktober. Hal ini tentu saja terkait dengan keikutsertaan tim Satria Muda BritAma Jakarta pada kedua event bergengsi tersebut.

ABL belum mengeluarkan jadwal pertandingan. Namun sebaliknya, IBL kemungkinan sudah akan merampungkan jadwal penyelenggaraannya dalam beberapa waktu dekat.

Kini permasalahannya bukan lagi apakah jadwal pertandingan IBL nantinya bisa disesuaikan dengan jadwal pertandingan ABL, atau sebaliknya agar Satria Muda dapat mengikuti kedua event tersebut. Tetapi yang pasti, Satria Muda harus memilih antara mengikuti IBL saja atau ABL saja. Atau mengikuti kedua-duanya namun tentu dengan materi pemain yang tidak boleh sama.

Bukankah aturan baru ini nantinya terlalu menyudutkan Satria Muda?

Siapa bilang ini adalah aturan baru? Aturan ini sudah ada sejak lama.

Di dalam Peraturan Pelaksanaan Indonesian Basketball League, Bab III, Pasal 11, Poin 10 tertera bahwa sesuai AD/ART Perbasi dan peraturan IBL, pemain hanya dapat mengikuti satu jenis kompetisi per tahun. Kecuali untuk kejuaraan di mana pemain mewakili daerahnya untuk event seperti PON, PORDA, PORWIL, KEJURDA, POMNAS, POMDA.

Atau kecuali juga jika pemain tersebut bermain untuk negara di bawah nama tim Nasional Indonesia.

Artinya, sebenarnya Satria Muda sudah melanggar aturan IBL dari tahun 2009 lalu? Yup! Karena Satria Muda memakai nama Satria Muda BritAma Jakarta baik di ajang IBL maupun ABL.

Berbeda dengan Garuda Flexi Bandung yang memakai nama Indonesia pada kejuaraan Asia Tenggara di Medan di tahun 2009 lalu.

Serta Pelita Jaya Esia yang juga memakai nama Indonesia saat kejuaraan di China 2009.

Jadi sekali lagi, bukan masalah jadwal IBL dan ABL yang kemungkinan bentrok. Atau kesiapan mereka secara fisik dan mental mengikuti dua kompetisi yang sangat ketat. Namun masalah pilihan bagi pemain (dan tentunya tim), akan bermain di IBL atau ABL, karena bermain di keduanya bagi IBL jelas melanggar aturan :)

Pemain IBL, “Watch your tweet!”

Ngetwit itu hak asasi. Setiap pemain IBL berhak untuk ngetwit apa saja. Namun, mau tidak mau, sadar ataupun tidak, para pemain IBL seharusnya mulai mawas bahwa dirinya adalah seorang figur publik dan sangat berpotensi menjadi panutan.

Terserah jika pemain IBL ingin ngetweet sebuah hal yang super sangat penting di atas jam 12 malam. Apapun isi twit-nya, bukan tidak mungkin, seorang anak SD, SMP atau SMA malah berpikir, “Wah gak apapa kok begadang. Atlet aja begadang.” (Untuk beberapa hal, begadang bisa baik. Namun untuk seorang atlet, rasanya lebih banyak mudaratnya..hehee).

Lalu ada pula yang mungkin saking bahagianya, kemudian ngetwit bahwa mereka sedang menggenggam sebuah botol minuman alkohol dengan merek tertentu. WTFH?!

Walau tentu saja, lebih banyak twit yang bernada positif dan menggugah :)

Pengalaman “Indah” Gw Bersama Pelita Jaya Jakarta :P

Waktu itu gw nonton Pelita Jaya lagi tanding di GOR C-Tra Arena Bandung.

Saat itu gw masih punya akses suka-suka untuk keluar masuk GOR C-Tra untuk nonton game IBL apapun. Waktu nonton Pelita Jaya itu saja, gw nonton dari sebelah bawah ring. Jadi nikmat sekali nontonnya (serasa jadi penonton VIP..hehee).

Setelah kuarter 2 selesai, gw kebelet pipis. Toilet terdekat adalah toilet di locker room. Gw langsung bergegas ke toilet terdekat. Saat itu Pelita Jaya sedang tertinggal.

Ketika pipis, gw mendengar kegaduhan di luar toilet. Hmm ada apa ini? Ada suara bentak-bentakan dan teriakan-teriakan.

Begitu gw keluar dari toilet, Coach Ebos (waktu itu pelatih kepala Pelita Jaya) sedang memarah-marahi para pemainnya. Dan saat gw keluar dari toilet, mereka semua langsung terdiam. Coach Ebos terdiam sambil melihat gw, dan para pemain pun semuanya mengarahkan mata capek ke arah gw. “Punten..punten..” kata gw sambil lewat di tengah antara Coach Ebos dan para pemain Pelita Jaya.

Kalau gak salah, saat itu gw pakai jersey Garuda :P