Analogi dalam Komentar-komentar Basket

Saat menyaksikan pertandingan-pertandingan basket NBA atau pertandingan-pertandingan sepak bola luar negeri, gw sering terkagum-kagum dengan pilihan-pilihan kata-kata maupun kalimat-kalimat yang digunakan oleh sang komentator. Sangat kaya dan beragam sekali.

Berlari kencang terkadang dianalogikan bak kijang atau mesin turbo jet atau perumpamaan heboh lainnya. Slamdunk yang dahsyat sering diibaratkan dalam berbagai macam analogi seperti bom atom, gempa bumi, tsunami, dan lain-lain.

Penguasaan pengolahan kata dan kalimat dari para komentator ini benar-benar menjadi salah satu daya tarik yang menambah nilai sebuah pertandingan untuk terlihat lebih menarik!

Beberapa hari yang lalu, usai mengalahkan Portland Trail Blazer di babak lanjutan play off NBA, Steve Nash (Phoenix Suns) memberi jawaban atas pertanyaan dari seorang wartawan dengan analogi yang sangat indah dan cerdas.

They were making everything so it made it feel like we were running uphill, but I just felt like we had to think of this thing as long-term and think of it as the stock market. We’re not day traders, we want to be very conservative and long-term in our investment in transition. You’ve got to stick with it from the start to finish.”

Kebayang kan isi tempurung kepala si penyuka sepak bola ini?! Eh, ngomong-ngomong, komentar Steve Nash kok kayaknya masih nyambung juga ya sama dua posting sebelum tulisan ini :)

*inspirasi tulisan ini dari majalah Fast Company

7 Alasan Mengapa Pemain IBL Tidak Boleh Bermain di Kompetisi Lain

Tulisan ini boleh dikatakan sebagai lanjutan dari tulisan sebelumnya yang berjudul “Pemain IBL 2010 Tidak Boleh Bermain di Liga Lain!” dan mendapat perhatian cukup banyak, baik oleh pembaca blog maupun followers gw di twitter.

Sebelum dilanjutkan, kiranya perlu dicamkan bahwa yang tidak boleh bermain di kompetisi liga lain tersebut adalah PEMAIN bukan TIM atau KLUB IBL. Dan perlu disadari juga bahwa menurut hemat gw, aturan tersebut ada demi kebaikan para pemain sendiri, tim yang ikut serta, liga IBL, bahkan kepentingan basket nasional! Silahkan:

Pemain bukan manusia super

Bermain untuk sebuah liga IBL terkadang mewajibkan sebuah tim untuk harus bertanding dua hari berturut-turut dalam sebuah rangkaian seri pertandingan. Ini sering terjadi. Bayangkan jika seorang pemain yang bermain untuk dua kompetisi liga yang berbeda kemudian harus pula bertanding pada hari ke-3 dan ke-4 secara berturut-turut selama 4 hari. Akan berakibat fatal bagi tubuhnya dan akan sangat berpengaruh pada performanya saat bermain. Gw sangat yakin, kualitas penampilannya akan menurun. Ia akan dirugikan. Begitu pula timnya.

Bayangkan juga jika ternyata pertandingannya terpisah di dua kota atau pulau yang berbeda.

Bentrok jadwal pertandingan

Ketika terjadi bentrokan jadwal pertandingan, seorang pemain mau tidak mau harus memilih untuk bermain di kompetisi liga yang mana. Ketidakhadirannya pada salah satu laga yang bersamaan jelas merugikan timnya. Ia bisa menjadi kambing hitam kekalahan tim pada laga yang tidak ia bela. Akan bertambah buruk jika laga yang ia pilih untuk dibela pun ternyata kalah.

Tuntutan profesionalisme

Dua alasan di atas masih berbicara dalam kerangka seorang pemain berlaga di dua kompetisi liga berbeda namun masih dalam satu tim yang sama. Bagaimana jika ia bermain di dua kompetisi liga yang berbeda dan membela dua tim yang berbeda pula? Maka profesionalismenya akan sangat dipertanyakan. Lagi-lagi, seorang atlet bukanlah seorang manusia super. Ia bukan saja harus membagi waktu pada saat laga pertandingan yang berbeda, tetapi juga wajib membagi waktu berlatih untuk dua tim tersebut. Bisa terbayang bagaimana ia memiliki dan membagi waktu jadwal berlatih di dua tim yang berbeda. Bagaimana pula jika waktu berlatihnya pun bentrok? Semakin stress lah si pemain. Ujung-ujungnya, lagi-lagi kemampuan dan penampilannya tidak akan maksimal.

Oh, bagaimana pula jika ia cidera karena bertanding atau saat berlatih di salah satu tim di liga berbeda? Maka tim lain tempatnya bernaung akan sangat-sangat dirugikan (Ibarat tak ikut makan nangka namun terkena getahnya. Apes!).

Pemborosan dan (juga) tuntutan profesionalisme tim

Kembali lagi jika seorang pemain bermain di dua kompetisi liga tetapi masih di dalam satu tim yang sama. Gw tidak meragukan kemampuan finansial sebuah tim IBL. Dengan menyertakan seorang pemain atau lebih untuk mengikuti dua kompetisi liga yang berbeda, maka tim tersebut harus mengeluarkan uang lebih banyak dalam rangka mengikuti dua liga tersebut. Dan secara profesional pun tim tersebut harus membayar lebih banyak kepada sang pemain. Bukan karena si pemain berada di dalam “satu perusahaan” maka ia digaji seperti biasa. Ini sama saja bahwa pemain tersebut bekerja untuk sebuah perusahaan dengan beban kerja ganda.

IBL sebagai sarana pengembangan sosial budaya akan sulit tercapai

IBL nantinya akan berkembang layaknya NBA. Ia bukan sekadar organisasi yang mewadahi pertandingan antar klub saja. Ia akan menjadi sebuah “organisasi kemasyarakatan” dengan misi-misi tertentu. IBL akan memiliki banyak pesan dan misi sosial budaya yang akan disampaikan kepada masyarakat dalam bentuk berbagai kegiatan, dan semua pemain, pelatih, dan semua pecinta IBL akan berkomitmen mendukung ini. Bagaimana jadinya jika saat IBL memiliki kegiatan non-pertandingan berupa (contohnya) kunjungan ke panti asuhan atau kegiatan pelestarian lingkungan hidup harus berakhir kurang sempurna hanya karena salah satu pemain yang seharusnya hadir atau harapan publik untuk ikut hadir dan berkontribusi positif berhalangan karena harus bermain di liga lain?

Sisi bisnis dan ekonomi IBL dapat terhambat

Jangan lupa juga, IBL itu punya potensi nilai ekonomi yang sangat-sangat luar biasa. Ia bisa menghidupi bukan saja pemain, pelatih, atau ofisial yang terlibat langsung tetapi juga banyak orang yang mungkin tidak terpikirkan oleh kita, semisal penjual minuman ringan di depan stadion, atau bahkan pekerja pabrik tekstil di antah-berantah yang tidak tahu sama sekali apa itu IBL. Bermain di dua kompetisi liga juga akan menghambat tujuan ini. Tentu saja lagi-lagi terkait hal jika ia harus memilih antara dua pilihan krusial bagi kepentingan kemajuan bisnis dan ekonomi dua kompetisi liga yang ia ikuti.

Ujung-ujungnya, basket nasional akan semakin terpuruk

Gw rasa teman-teman akan mampu menambahkan sendiri lebih banyak kekurangan daripada keuntungan akibat dari seorang pemain IBL yang juga bermain di kompetisi liga lain. Ujungnya adalah si pemain justru menghancurkan dirinya sendiri. Merusak potensinya sendiri. Kemampuan bermain basket yang seharusnya maksimal jika difokuskan malah setengah-setengah hanya karena ia harus membagi tenaga dan pikirannya untuk dua kompetisi liga yang berbeda. Kalau sudah begitu, siapa yang dirugikan? Bukan hanya individu pemain itu saja tetapi juga bangsa ini.

Pandanglah jauh ke depan. Belajarlah kepada yang lebih jago. Lihatlah NBA, tak ada pemain yang bermain di dua kompetisi atau liga yang berbeda (terlepas dari gaji mereka yang sangat tinggi).

Pekerjaan membangun basket nasional Indonesia untuk menjadi jawara dunia maupun sebuah hal yang membanggakan dari sisi olah raga, sosial, budaya, dan ekonomi bukanlah pekerjaan Sangkuriang atau sang pangeran yang naksir Roro Jonggrang.

Pemain IBL 2010 Tidak Boleh Bermain di Liga Lain! (*Melirik ke Pemain Satria Muda)

Yup, pada IBL 2010 nanti akan ada aturan yang intinya kurang lebih seperti kalimat judul di atas.

Beberapa waktu yang lalu, beberapa orang teman di twitter menanyakan perihal jadwal penyelenggaraan Indonesian Basketball League (IBL) 2010 (September) yang sangat mungkin akan bentrok dengan penyelenggaraan ASEAN Basketball League (ABL) 2010 yang akan bergulir kembali pada kisaran bulan Oktober. Hal ini tentu saja terkait dengan keikutsertaan tim Satria Muda BritAma Jakarta pada kedua event bergengsi tersebut.

ABL belum mengeluarkan jadwal pertandingan. Namun sebaliknya, IBL kemungkinan sudah akan merampungkan jadwal penyelenggaraannya dalam beberapa waktu dekat.

Kini permasalahannya bukan lagi apakah jadwal pertandingan IBL nantinya bisa disesuaikan dengan jadwal pertandingan ABL, atau sebaliknya agar Satria Muda dapat mengikuti kedua event tersebut. Tetapi yang pasti, Satria Muda harus memilih antara mengikuti IBL saja atau ABL saja. Atau mengikuti kedua-duanya namun tentu dengan materi pemain yang tidak boleh sama.

Bukankah aturan baru ini nantinya terlalu menyudutkan Satria Muda?

Siapa bilang ini adalah aturan baru? Aturan ini sudah ada sejak lama.

Di dalam Peraturan Pelaksanaan Indonesian Basketball League, Bab III, Pasal 11, Poin 10 tertera bahwa sesuai AD/ART Perbasi dan peraturan IBL, pemain hanya dapat mengikuti satu jenis kompetisi per tahun. Kecuali untuk kejuaraan di mana pemain mewakili daerahnya untuk event seperti PON, PORDA, PORWIL, KEJURDA, POMNAS, POMDA.

Atau kecuali juga jika pemain tersebut bermain untuk negara di bawah nama tim Nasional Indonesia.

Artinya, sebenarnya Satria Muda sudah melanggar aturan IBL dari tahun 2009 lalu? Yup! Karena Satria Muda memakai nama Satria Muda BritAma Jakarta baik di ajang IBL maupun ABL.

Berbeda dengan Garuda Flexi Bandung yang memakai nama Indonesia pada kejuaraan Asia Tenggara di Medan di tahun 2009 lalu.

Serta Pelita Jaya Esia yang juga memakai nama Indonesia saat kejuaraan di China 2009.

Jadi sekali lagi, bukan masalah jadwal IBL dan ABL yang kemungkinan bentrok. Atau kesiapan mereka secara fisik dan mental mengikuti dua kompetisi yang sangat ketat. Namun masalah pilihan bagi pemain (dan tentunya tim), akan bermain di IBL atau ABL, karena bermain di keduanya bagi IBL jelas melanggar aturan :)

Pemain IBL, “Watch your tweet!”

Ngetwit itu hak asasi. Setiap pemain IBL berhak untuk ngetwit apa saja. Namun, mau tidak mau, sadar ataupun tidak, para pemain IBL seharusnya mulai mawas bahwa dirinya adalah seorang figur publik dan sangat berpotensi menjadi panutan.

Terserah jika pemain IBL ingin ngetweet sebuah hal yang super sangat penting di atas jam 12 malam. Apapun isi twit-nya, bukan tidak mungkin, seorang anak SD, SMP atau SMA malah berpikir, “Wah gak apapa kok begadang. Atlet aja begadang.” (Untuk beberapa hal, begadang bisa baik. Namun untuk seorang atlet, rasanya lebih banyak mudaratnya..hehee).

Lalu ada pula yang mungkin saking bahagianya, kemudian ngetwit bahwa mereka sedang menggenggam sebuah botol minuman alkohol dengan merek tertentu. WTFH?!

Walau tentu saja, lebih banyak twit yang bernada positif dan menggugah :)

Pengalaman “Indah” Gw Bersama Pelita Jaya Jakarta :P

Waktu itu gw nonton Pelita Jaya lagi tanding di GOR C-Tra Arena Bandung.

Saat itu gw masih punya akses suka-suka untuk keluar masuk GOR C-Tra untuk nonton game IBL apapun. Waktu nonton Pelita Jaya itu saja, gw nonton dari sebelah bawah ring. Jadi nikmat sekali nontonnya (serasa jadi penonton VIP..hehee).

Setelah kuarter 2 selesai, gw kebelet pipis. Toilet terdekat adalah toilet di locker room. Gw langsung bergegas ke toilet terdekat. Saat itu Pelita Jaya sedang tertinggal.

Ketika pipis, gw mendengar kegaduhan di luar toilet. Hmm ada apa ini? Ada suara bentak-bentakan dan teriakan-teriakan.

Begitu gw keluar dari toilet, Coach Ebos (waktu itu pelatih kepala Pelita Jaya) sedang memarah-marahi para pemainnya. Dan saat gw keluar dari toilet, mereka semua langsung terdiam. Coach Ebos terdiam sambil melihat gw, dan para pemain pun semuanya mengarahkan mata capek ke arah gw. “Punten..punten..” kata gw sambil lewat di tengah antara Coach Ebos dan para pemain Pelita Jaya.

Kalau gak salah, saat itu gw pakai jersey Garuda :P

Penonton Tembus 6.000, Final DBL Solo 2010 Pecah Rekor 15 Tahun

Kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia, Development Basketball League (DBL) 2010, kembali mencatat sejarah. Final seri Jawa Tengah wilayah South kemarin (21/4) disebut-sebut menyedot penonton basket terbanyak dalam sejarah Kota Solo.

Lebih dari 6.000 orang kemarin bergantian memadati Sritex Arena. Memecahkan rekor yang sudah tidak tersentuh selama 15 tahun, yaitu ketika gedung mewah ini kali pertama dibuka pada 1995. Waktu itu, gedung pertandingan ini masih dikenal dengan nama GOR Bhinneka.

“Hebat, final yang luar biasa. Final yang dipenuhi ribuan penonton menjadi bukti sejarah bagi Solo maupun Sritex Arena di cabang basket. Sudah sepantasnya DBL menjadi prioritas untuk dikembangkan di Solo ke depan,” kata Ketua Umum KONI Solo Sumartono Hadinoto, kepada Radar Solo (Jawa Pos Group) kemarin.

Koordinator wasit Perbasi Jateng Achmad Syalabi menegaskan rekor tersebut. “Ini penonton terbanyak sejak pembukaan GOR Bhinneka. Tapi waktu itu gratis, sedangkan kali ini penonton harus membayar. Jadi ini luar biasa,” ucapnya.

Rekor penonton ini membuat bangga panitia penyelenggara dari DBL Indonesia, Sritex Arena, dan Radar Solo. “Dari semua kota baru di DBL 2010, penonton di Solo merupakan yang terbanyak. Masa depan kompetisi basket di sini benar-benar menjanjikan,” kata Azrul Ananda, commissioner DBL.

Rombongan penonton terbesar kemarin datang dari SMA Regina Pacis Solo, jumlahnya lebih dari 1.200 orang. Maklum, kemarin mereka mendukung dua tim sekaligus. Tim putrinya masuk final, tim putranya juga.

Rombongan suporter ini juga harus kuat fisik dan jantung. Selain harus meneriakkan yel-yel dukungan selama berjam-jam, mereka juga harus tahan emosi. Baik saat tim putri mereka berjuang habis-habisan melawan SMA Padma Wijaya Klaten, maupun ketika tim putranya bersaing melawan SMAN 3 Solo.

Tertinggal terus sejak awal, tim putri Regina Pacis tak pernah menyerah. Mereka baru mampu menyamakan kedudukan ketika pertandingan hanya tersisa 51 detik, menjadi 54-54. Lalu, mereka mampu membalik situasi, mencetak poin-poin penentu pada 20 detik terakhir. Regina Pacis pun menang coming from behind, 57-54.

Pertandingan itu benar-benar menghibur semua penonton. Termasuk yang datang dari Klaten. “Tak masalah jauh datang. Saya ingin ambil bagian dari final DBL,” ucap Hesti Sulistyaningsih, 32, warga Pedan, Klaten. Memang, tim dari Klaten kemarin kalah. Tapi, Hesti sudah merasa sangat tersentuh dengan performa tim Padma Wijaya. “Klaten layak juga jadi kiblat basket!” tukasnya.

Pada final putra, penonton Regina Pacis kembali deg-degan. Lagi-lagi tertinggal sejak awal, timnya terus mengejar hingga akhir pertandingan. Saat laga hanya tersisa 17 detik, Regina Pacis hanya tertinggal satu angka. Lalu, saat sisa empat detik, hanya tertinggal dua angka dan punya kesempatan untuk menyamakan kedudukan. Sayang, tembakan terakhir meleset, dan kemenangan diraih SMAN 3 Solo 65-63.

Ratusan suporter seru juga datang dari SMK Mikael Solo. Meski tak punya wakil di final basket, mereka datang untuk mendukung tim yel-yel mereka, yang lolos sampai ke final Jateng nanti. Sepanjang hari, mereka juga betah loncat-loncat dan teriak-teriak menyaksikan final putri maupun putra.

Peran mereka seolah seperti “suporter komentator.” Nyanyian-nyanyian kocak mereka menyemangati semua tim finalis. Mereka juga rajin menyapa suporter lain. Yang paling lucu ketika ada skor imbang. Mereka bernyanyi, “Piye, piye, piye kok ngene. Piye sekore kok podo wae…” (Kok bisa begini, kok score-nya sama terus…).

Walaupun sudah jadi juara di Solo, perjuangan kedua tim juara ini di Honda DBL 2010 belum berakhir. Pada Sabtu, 24 April nanti, mereka akan berebut gelar champion Central Java melawan para juara dari wilayah North, yang bertanding di Knights Stadium, Semarang, hingga 20 April lalu.

Para juara Solo ini akan menjadi “tuan rumah,” karena final Jateng itu juga diselenggarakan di Sritex Arena.

Tim putri SMA Regina Pacis Solo akan menghadapi tim kuat SMA Tri Tunggal Semarang. Sedangkan tim putra SMAN 3 Solo “menjamu” SMA Karangturi Semarang.

Bintang Iklan untuk IBL 2010

Awalnya gw ngobrol via yahoo messenger dengan seorang teman di DBL/IBL (Yogi) tentang rencana membuat iklan untuk Indonesian Basketball League (IBL) 2010. Waktu gw tanya apakah iklan tersebut nantinya berupa iklan media cetak atau media suara-gambar, Yogi tidak menjawab.

Karena tidak mendapat jawaban, gw asumsikan saja bahwa penyelenggara IBL 2010 akan membuat iklan media cetak dan juga suara-gambar sebab sepengetahuan gw, penyelenggara IBL 2010 memiliki hubungan jaringan kerja yang kuat dengan baik media cetak maupun media suara-gambar :)

Usulan nama-nama pemain IBL

Untuk mengajak masyarakat agar mau menonton IBL, banyak sekali tweet yang masuk mengusulkan nama-nama para pemain IBL yang populer dan memang sepertinya bagus untuk menjadi bintang iklan IBL. Nama teratas dan paling sering muncul adalah Denny Sumargo, Kelly Purwanto, Roni Gunawan, dan Mario Wuysang. Ada juga beberapa nama lain seperti Xaverius, Ary Chandra, dan Max Yanto.

Usulan nama-nama non-pemain basket/IBL

Lalu muncul dalam benak gw, “ya, gw tahu Denny Sumargo, Kelly Purwanto, Roni Gunawan. Tetapi ketika gw tanyakan kepada teman-teman gw apakah mereka mengenal nama-nama tersebut, jawabannya lebih banyak geleng-geleng kepala acuh tak acuh.”

Iklan-iklan NBA tak melulu berisi para pemain NBA. Selebriti bahkan masyarakat biasa pernah pula menjadi bintang iklan mereka. Akhirnya gw pun mengusulkan beberapa nama selebriti yang sekiranya pantas membintangi iklan IBL; Sandra Dewi, Dian Sastro, dan Farah Quin. Dasar usulan gw adalah bahwa wanita-wanita ayu tersebut sangat populer, cantik, cerdas, dan hampir tidak ada hubungannya sama sekali dengan dunia basket.

Banyak yang tidak setuju dengan Sandra Dewi (entah mengapa). Dian Sastro pun tak terlalu dianggap. Namun Farah Quin menjadi idola! (mengapa?)

Muncul juga beberapa nama selebriti lain yang pada umumnya “cukup basket”; Tamara Geraldine, Iwa K, Mario Lawalata, dan Samuel Rizal.

Konsep iklan memikat

Bagi gw, mau menggunakan pemain IBL bagus. Mengedepankan selebriti yang tak ada hubungannya dengan basket pun bisa keren. Dan tentunya penggabungan keduanya bisa jadi luar biasa.

Terlepas dari siapa yang membintangi iklannya (bahkan sangat mungkin tanpa bintang iklan atau tanpa pemeran) yang sebenarnya tak kalah penting adalah konsep iklannya.

Ini tidak mudah. Membuat iklan yang menggugah pemirsanya untuk mencari tahu lebih jauh adalah sebuah tantangan besar. Konsep iklannya bukan hanya mampu mengatakan bahwa permainan bola basket itu keren. Harus lebih jauh (talk is cheap dude..hehee..)

IBL nanti jelas bukan sekadar tontonan pertandingan olah raga saja. Ia adalah alternatif hiburan. Ia menawarkan beragam sensasi; kegembiraan, kesedihan, ketegangan, marah, tertawa, dan lain-lain. Saingannya sebagai tontonan hiburan bukan hanya liga sepak bola Indonesian Super League (ISL) atau liga voli Proliga, tetapi juga studio bioskop 21, XXI, Blitz Megaplex, dvd bajakan, mall-mall, wisata kuliner, bahkan liburan ke luar negeri atau mungkin Bali!

Akhirnya, iklan IBL hanya satu bagian dari banyak ujung tombak promosi nantinya. Kemauan teman-teman untuk nonton langsung di GOR atau stadion dengan mengajak teman, keluarga, orang tersayang, dan bercerita betapa dahsyatnya IBL juga tak akan kalah kuat. Katanya sih the power of mouth is very powerful.

Maju terus basket Indonesia :)

Makassar Prioritas DBL Tahun Depan (Final DBL Makassar 2010)

Makassar, Kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia, Development Basketball League (DBL) 2010, menemui dua kendala yang hampir bertolak-belakang di Sulawesi. Manado punya gedung berlokasi ideal di tengah kota, tapi butuh renovasi supaya lebih layak. Sedangkan Makassar sudah punya gedung yang besar dan megah, tapi letaknya terlalu jauh dari jangkauan.

Keluhan-keluhan itu kemarin (17/4) dirasakan saat final DBL 2010 seri Sulawesi Selatan di KOR Sudiang. Baik dari penyelenggara maupun peserta dan penonton. “Secara fisik, Sudiang termasuk gedung terbaik di Indonesia. Besar, terang, dengan aliran udara yang baik. Sayang lokasinya jauh sekali dari kota, menghambat pertumbuhan penonton dan kompetisi. Menurut saya, ini satu lagi contoh mubazirnya pembangunan gedung olahraga di Indonesia. Buang-buang uang banyak, tapi sulit dinikmati masyarakat,” ujar Azrul Ananda, commissioner DBL.

“Di Makassar, pertumbuhan penonton memang diakui terhambat. Kemarin, sekitar 2.500 penonton menyaksikan babak final. Namun, total penonton di kota tersebut masih mirip dengan tahun lalu, di kisaran 12.500 penonton. Padahal, animo peserta meningkat. Tahun ini lebih banyak dari tahun lalu,” kata Azrul.

Sejak 2008, praktis memang hanya DBL yang menggelar even olahraga besar di KOR Sudiang. Di luar itu nyaris tak ada satu pun even yang menggunakan gedung megah berkapasitas hampir 10 ribu penonton tersebut.

“Tak terbantahkan lagi, DBL merupakan even basket paling bergengsi. Tapi khusus di Sulsel, panitia perlu memikirkan arena baru selain KOR Sudiang yang terlalu jauh dari kota. Masalahnya, di kota tidak ada tempat yang memenuhi standar. Ini pekerjaan rumah bagi kita semua,” ucap Intan Nelysa, 19, penonton umum di KOR Sudiang kemarin.

Melissa Suwardi, pemain SMA Katolik Rajawali Makassar, mengaku jauhnya jarak itu membuat timnya sulit mendapatkan dukungan suporter. Maklum, dari pusat kota, untuk mencapai KOR Sudiang bisa memakan waktu sampai satu jam naik mobil. “KOR Sudiang sangat representatif, tapi jauh,” tandas gadis yang kemarin terpilih sebagai Most Valuable Player (MVP) tersebut.

Azrul Ananda mengaku pihak DBL Indonesia bersama Harian Fajar (Jawa Pos Group), sebagai penyelenggara di Makassar, akan berupaya agar kompetisi ini lebih mudah dinikmati warga Sulsel pada tahun-tahun selanjutnya. Termasuk memikirkan gedung-gedung yang sudah ada di kota Makassar. “Siapa tahu ada yang bisa disulap dan memenuhi standar DBL,” ujarnya.

“Apa pun yang terjadi, kami akan konsisten menyelenggarakan even ini di Makassar. Semoga tahun-tahun berikutnya even ini bisa lebih berkembang seperti di kota-kota lain. Kota ini menjadi salah satu prioritas kami untuk tahun depan,” ucapnya.

Kemarin, tim putri SMA Katolik Rajawali Makassar berhasil mempertahankan gelar. Mereka menundukkan lawan yang sama dengan tahun lalu, SMAN 2 Makassar, 48-31. Namun, ratusan pendukung SMAN 2 tak pulang kecewa. Tim putra mereka sukses menjadi jawara, mengalahkan SMA Gamaliel Makassar 55-50.

Makassar merupakan kota ke-15 yang menyelesaikan seri DBL 2010. Saat ini, kompetisi basket pelajar terbesar di Indonesia itu juga diselenggarakan bersamaan di Jogjakarta, Semarang, dan Solo. Setelah itu, giliran Samarinda, Malang, dan Surabaya.

Piala Dunia Basket 2010 oleh @RonyTjong

Tulisan ini dikirim oleh seorang teman di twitter @RonyTjong. Katanya, sudah lama banget pengen ikutan nulis di Mainbasket. Kemarin akhirnya Rony mengirimkan tulisannya ke gw. Menarik, karena Rony menulis sebuah topik yang sama sekali belum pernah gw sentuh! Piala dunia bola basket 2010 yang akan diadakan di Turki beberapa bulan ke depan.

Tulisan Rony terasa sangat general, namun ada sebuah pesan spesifik seolah sebuah curahan hati dari salah satu pecinta basket, Rony ingin agar televisi di Indonesia menyiarkan lebih banyak lagi pertandingan-pertandingan basket, dan tentu saja suatu saat Indonesia bisa ikut berlaga di kancah kejuaraan dunia! (Gw edit sedikit ya Ron..hehee)

———

Seperti kita ketahui bersama, sebentar lagi akan diselenggarakan sebuah event besar dari olahraga sepak bola, yaitu World Cup 2010 di Afrika Selatan. Betapa kencang sekali event ini dipromosikan di Indonesia, baik itu lewat media cetak maupun media elektronik, sehingga atmosfer yang dirasakan sangat tinggi.

Sebagai pecinta bola basket, saya bertanya-tanya, mengapakan event bola basket tidak mendapatkan porsi yang sama dengan olahraga sepak bola?

Saya selalu mengikuti perkembangan bola basket baik itu dalam negeri maupun luar negeri, dan ternyata dalam tahun ini, sebuah event yang mirip seperti event sepak bola yang digelar 4 tahun sekali akan digelar, FIBA World Championship 2010 yang akan diselenggarakan di Turki pada tanggal 28 Agustus – 12 September. Event ini akan diikuti oleh berbagai negara baik itu dari Asia, Eropa, Afrika, Oceania, dan tentunya Amerika. Dari segi kualitas pertandingan, event tidak diragukan lagi akan sangat-sangat menarik. Pemain terbaik dunia akan ikut membela negaranya, sebut saja Pau Gasol (Spanyol), Derron Wiliams (USA), dan lain-lain.

Ke depan, Saya dan pecinta olahraga bola basket berharap agar event ini juga bisa di nikmati di Indonesia, seperti selayaknya event untuk sepak bola.

Kado tuk @YudhaAsmara dan @armandmaulana (A True Die Hard Fan!)

Ada kisah menarik terjadi di ranah twitter kemarin. Sebuah insiden kecil yang melibatkan dua orang fans sepak bola liga Inggris di Indonesia. Orang pertama adalah seseorang yang sangat terkenal @armandmaulana (vokalis Gigi), dan orang yang ke-dua adalah orang yang gw kenal @YudhaAsmara. Begini kisahnya.

Entah bagaimana awalnya, @YudhaAsmara mendapatkan tweetphoto @armandmaulana tengah tersenyum mengenakan kaus berwarna merah dengan desain grafis yang sangat menghina klub sepak bola Liverpool. Tertulis di bagian dada kaus yang dikenakan @armandmaulana “We’d rather walk alone” (memarodikan semboyan Liverpool “You will never walk alone“) dengan gambar tombak trisula (bagian dari logo Manchester United) menghujam dada burung kuning yang menjadi ikon Liverpool.

Terlihat @armandmaulana berfoto menggunakan kaus tersebut di depan deretan jersey para pemain Manchester United.

Sebagai fan Liverpool, @YudhaAsmara mencaci kasar dengan merujuk kepada baju yang dikenakan @armandmaulana (belakangan @YudhaAsmara juga mencaci @armandmaulana). Insiden kata kasar yang dilontarkan @YudhaAsmara kepada @armandmaulana memicu sebuah “perang” kecil di twitter. @armandmaulana sedikit tidak dapat menerima lontaran kata-kata @YudhaAsmara sembari mengatakan bahwa dirinya telah meminta maaf kepada semua fans Liverpool seluruh Indonesia.

Salahkah @YudhaAsmara berkata-kata kasar?

Setiap kali ketemu @YudhaAsmara, ia selalu menyelipkan bahasan tentang klub favoritnya, Liverpool. Ia adalah seorang fanatik karena menurut gw fanatik itu bukan membela tim pujaan secara membabibuta. @YudhaAsmara juga mengungkapkan rasa kesalnya kepada beberapa pemain Liverpool yang ia anggap performanya tidak menunjang kemajuan tim.

Selain menonton Liverpool, @YudhaAsmara juga rajin mengikuti berita-berita tentang Liverpool setiap hari. Ia menonton rekaman-rekaman dan dokumentasi-dokumentasi pertandingan lawas Liverpool. @YudhaAsmara bahkan membaca buku-buku tentang Liverpool! (Berapa banyak orang yang mengaku fans dan membaca sejarah tim pujaannya lewat buku?). Koleksi jersey dan pernak-pernik? Tak usah ditanyakan lagi.

Silahkan katakan @YudhaAsmara berlebihan. Bagi gw, kelakuannya wajar-wajar saja. Idolanya dihina! Ia bereaksi. Sederhananya begini, ketika kita memiliki sebuah benda yang kita sayangi, lalu ada orang mengatakan bahwa benda itu buruk, gw rasa pasti ada rasa sedikit dongkol di hati.

Fanatisme terhadap sepak bola adalah sebuah subkultur yang tumbuh subur di mana-mana. Bukan tidak mungkin, 100 tahun ke depan ia menjadi sebuah agama! (Lihat pemuja Maradona yang menganggapnya sebagai Tuhan!) Jadi saat “agama” lu diinjak, bersiaplah mendapatkan injakan balik.

Bagaimana dengan @armandmaulana?

Sepertinya @armandmaulana tidak pernah membayangkan risiko keisengannya. Itu pun gw rasa dia sedang bercanda. Karena kalau ia serius, ia pasti semakin memanas dan semakin menjelek-jelekan Liverpool. Dan kita sekarang mengetahui bahwa mengejek tim sepak bola, atau tim olah raga apapun bukanlah bahan bercandaan yang lucu.

@armandmaulana sudah meminta maaf. Kabarnya bahkan ia telah meminta maaf kepada semua pecinta Liverpool di Indonesia. Sebagai manusia, @armandmaulana tetap menyesalkan masih ada yang menghujat dirinya padahal ia sudah meminta maaf. Hehee..agak naif sih menurut gw. Karena “siapa menebar benih, menuai badai.” Jadi, walaupun @armandmaulana sudah meminta maaf ia tetap “berhak” mendapat konsekuensi kelakuannya yaitu mendapat umpatan balik. (Ibarat usai mencuri ayam. Minta maaf dan mengembalikan ayamnya tidaklah cukup. Ada tambahan bogem mentah sedikit. Lihat juga kasus korupsi yang lagi menjadi bintang televisi.)

Masalah agar sebaiknya menyalahkan bajunya bukan orangnya (fisik), ini pun sungguh naif, karena tentu saja yang disalahkan tetap pemakainya bukan si benda matinya.

Bagaimanapun @armandmaulana layak mendapat apresiasi baik karena ia sudah minta maaf.

Sudahlah!

Sumber pertikaian sudah sangat banyak. Salah satunya ya fanatisme kepada tim olah raga pujaan. Menjadi seorang fan keras kepala (die hard fan) memang keren. Namun keren itu barangkali akan kehilangan makna ketika harus menjadi sebuah pertikaian yang sangat mungkin (sering) berujung kematian.

Di Mexico, ada stadion yang memberi kuburan khusus di dalam stadion tersebut. Kuburan tersebut disediakan bagi fans yang mati membela nama tim! (Sayang di Indonesia belum ada..weekkk).

Setelah insiden kecil di twitter kemarin, gw semakin serius merasa bahwa pertikaian antar suporter dan fans ini gak perlu terjadi (iyalah..walaupun agak basi dan klise). Sebelumnya, gw juga pernah ditantang berkelahi oleh seorang fan Aspac Jakarta saat tim tersebut melawan favorit gw, Garuda Bandung (basket IBL). Gw sedikit menyesal karena merasa barangkali ada perkataan/teriakan gw yang menyakiti fan Aspac tersebut.

Support wisely!

Kenakan jersey tim favorit (beli yang asli berlisensi). Ikuti perkembangan tim, ketahui sejarahnya, tonton semua pertandingannya dengan membeli tiket yang sah. Inilah yang keren walau mungkin orang lain akan mengatakan bahwa kita hanyalah fans biasa. Namun dampaknya jelas sangat-sangat luar biasa. Bagi tim pujaan, apalagi secara ekonomi.

Menjadi “die hard fans” yang menghina tim lawan memang keren! Terlihat sangat berani! Apalagi saat berkaca di cermin. Namun gw gak merasa efeknya bisa lebih baik daripada menjadi fans yang biasa saja seperti paragraf di atas. Malah biasanya tipe-tipe “die hard fans” konyol lebih banyak menghasilkan kalkulasi catatan kerugian materi bahkan jiwa!

@YudhaAsmara teman gw. Kita pernah (bahkan dulu mungkin beberapa kali) nonton sepak bola liga Inggris di tv bareng satu ruangan. @YudhaAsmara menyemangati Liverpool, gw membela tim dengan back kanan #2 Gary Neville.

Peace :)

Peace to fanatics of Persib Bandung and Persija Jakarta too :D

Pernah Dengar Kisah “Flu Game”? (Heroisme Michael Jordan)

“Flu game” adalah bukti betapa main basket adalah segalanya bagi sang legenda, Michael Jordan!

Menjelang partai ke-5 final NBA tahun 1997 antara Utah Jazz melawan Chicago Bulls, Michael Jordan mengalami sakit parah yang menguras tenaganya.

Dari salah satu artikel yang pernah gw baca, sang penulis, George Koehler menyatakan bahwa banyak orang yang gak sadar betapa seriusnya kondisi Michael Jordan saat itu. Saat mendekati waktu pertandingan, Jordan tak pernah meninggalkan kamarnya dan tidak berkumpul bersama rekan-rekannya.

Ketika tiba waktu makan, Jordan tidak menyantap apapun. Saat teman-temannya selesai makan, Jordan hanya menyantap sedikit pizza. Pada sekitar jam 2 atau 3 pagi, Jordan mengalami gangguan dan nyeri pada perutnya. Dokter memberi Jordan obat penenang agar ia bisa tidur. Namun tidak berhasil. Jordan merasa ingin muntah tetapi tidak bisa. Badannya panas dingin, demam, meriang. Jordan tidak tidur semalaman.

Pada pagi hari, saat waktu berlatih, Jordan terlalu lemah untuk ikut latihan. Ia mencoba tidur untuk mendapatkan tenaga baru yang semakin menipis. Jordan benar-benar tak bisa tidur.

Jam 3 sore, tim Chicago Bulls berangkat menuju stadion untuk game 5 melawan Jazz. Jordan terlihat sangat lemas. Tak bisa memuntahkan isi perutnya, dan masih belum tidur seharian. Di dalam tubuh Jordan juga berseliweran obat-obatan yang tadinya ditujukan untuk mengobati namun ternyata gagal.

Jam 5 sore, 1 jam sebelum pertandingan, Jordan hampir tak sadarkan diri. Kantuk menyerangnya. Jordan lalu menenggak banyak sekali kopi. Jordan lalu bermain. Kopi ini pun tak membuat rasa kantuk Jordan, malah memperparah dehidrasi yang dialaminya.

Di dalam video, terlihat betapa Jordan terlihat sangat lemas, dan jalannya pun limbung. Jordan bermain selama 44 menit. Mencetak 38 angka, mengejar ketertinggalan 16 angka dari Jazz, termasuk 3 angka yang menentukan kemenangan Bulls di detik-detik akhir.

Bulls memenangkan pertandingan. Jordan dipapah oleh Scottie Pippen saat meninggalkan lapangan. Banyak yang mengetahui bahwa Jordan sedang kurang enak badan saat itu. Tetapi tak banyak yang benar-benar mengetahui bahwa risiko yang dihadapi Jordan dengan memaksakan diri bermain saat itu dapat berakibat fatal bagi dirinya.

———

Michael Jordan: “I woke up at three in the morning with what seemed like stomach flu. I couldn’t keep anything down and I couldn’t sleep. I took something that I thought would make me drowsy, but the symptoms were so severe I never got back to sleep. By the time I got to the arena I was fighting to stay awake. I just sat back in the locker room drinking coffee, trying to wake up enough to play the game. I didn’t have anything in my stomache and the coffee really didn’t do anything to wake me up. By halftime I was getting dehydrated, so I started drinking what I thought was Gatorade. But someone had mistakenly handed me a bottle of GatorLode, which is what you are suppose to drink after you have finished a difficult activity.

By the time we went back out for the second half I felt bloated on top of being exhausted. I had continued to drink coffee, which utimately only helped the dehydration come more quickly. There were times in the 3rd and 4th quarters that I felt like I was going to pass out. I remember thinking, “Get this game over so I can lie down.” In the fourth quarter, right before the three pointer that won the game, I had become almost completely dehydrated. I was shivering, but I continued to sweat. On that last shot, I didn’t even know whether it went in or not. I could barely stand up. When I got back into the locker room the doctor were really concerned because I didn’t have anything left. I was cold, yet I was sweating and dehydrated. They wanted to give me intravenous fluids, but I made it over to a table, lay down, and started drinking Gatorade. That’s all I did for about 45 minutes. All for a basketball game.”