If Impossible is Nothing, then Impossible is Something

Kemarin gw terhenyak ketika menemukan makna tersembunyi di balik tagline-nya Adidas, “Impossible is nothing” Jika dimaknai dalam Bahasa Indonesia, kalimat tersebut kira-kira bermakna “Tidak ada yang tidak mungkin.”

Agak gak penting :)

Gw tersadar, jika tak ada yang tak mungkin di dunia ini, maka “tidak mungkin” pun menjadi mungkin! Kerasa nggak makna keduanya? Sulit? Ok, begini biar lebih mudah, coba ambil satu kata, “Sukses”, maka jika diiriskan dengan kalimat di atas ia akan bermakna bahwa semua orang, siapapun bisa sukses. Siapapun! Lalu coba selipkan kata, “gagal”, maka kita pun akan mendapatkan makna bahwa semua orang bisa gagal. Siapapun!

Nada optimis nan positif dalam kalimat “Impossible is nothing” begitu kuat sehingga ia berhasil menutupi bahwa sebenarnya apapun yang kita lakukan di dunia ini, sebenarnya ujungnya selalu dua kemungkinan, berhasil ataupun “belajar lagi”! Seyakin apapun kita bahwa kita pasti bisa berhasil, maka kekuatan keyakinan sukses itu sebenarnya setara alias ekuivalen dengan bayang-bayang kegagalan.

The Black Swan

Ilham remeh-temeh yang gw dapatkan kemarin menambah sedikit pemahaman gw atas teori angsa hitam yang dilontarkan oleh Nassim Nicholas Taleb lewat bukunya yang berbelit-belit, The Black Swan. Kabarnya, keyakinan ini membuat Nassim menjalankan hidup dan perusahaannya dengan lebih santai namun tetap sukses. Nassim menyimpulkan, sehebat apapun kita mempersiapkan sesuatu untuk sukses, kemungkinan terjadinya sesuatu yang tidak diharapkan tetap dan akan selalu ada.

Gw gak bermaksud mengkampanyekan rasa takut. Sehingga mungkin setelah teman-teman membaca tulisan ini malah berubah menjadi seorang yang diliputi keragu-raguan. Well, keragu-raguan itu manusiawi. Sesuatu yang manusiawi yang tidak boleh membuat kita malah urung berbuat atau memperjuangkan sesuatu yang hasilnya memiliki kemungkinan bagus bagi diri kita dan orang lain.

“We’ve got to hold on to what we’ve got. It doesn’t make a difference. If we make it or not.”

Kata Bon Jovi. Karena yang penting adalah berbuatnya. Bukan hasilnya. Walaupun orang terkadang lebih suka menilai dari hasilnya.

Sebenarnya pula, agak gak jelas benang merah antara apa yang gw “temukan” dalam kalimat judul di atas dengan sumber inspirasi yang memicu hal remeh ini. Semuanya berawal dari ketidaksetujuan @pandji atas tweet dari @refbasketball.

Starts with a tweet

Awalnya @refbasketball ngetweet begini “Ternyata banyak yang setuju kalau Jakarta banjir event dan daerah kemarau event. Ini faktor juga kenapa pembangunan gak merata.”

Tweet tersebut langsung mendapat respon dari @pandji “Salah masing-masing kota.”

@refbasketball kemudian nge-tweet lagi, “Masing-masing kota belum banyak yang punya SDM sehebat Jakarta. Harusnya pemerintah dan orang hebat di kota bantu daerah dulu.”

@pandji tampaknya sangat tidak setuju dengan tweet tersebut dan langsung membalas “Salah besar! Jangan percaya!”

Tweet @Pandji yang bernada provokatif langsung mengundang cukup banyak tweet dari followersnya yang menyatakan setuju. Umumnya menyatakan bahwa orang-orang di Jakarta pun adalah orang-orang daerah juga. Bahkan ada yang mengatakan “Bagaimana daerah mau maju kalau pikirannya seperti ini?”

@Pandji kemudian memberi contoh seorang Azrul Ananda yang bukan orang Jakarta namun berhasil menjadikan Surabaya sebagai Kota Basket di Indonesia.

Kelirukah tweet @refbasketball?

Gw rasa tidak. @refbasketball mengatakan “Masing-masing kota belum banyak yang punya SDM sehebat Jakarta. Harusnya pemerintah dan orang hebat di kota bantu daerah dulu.” Jika dibaca dengan seksama, ada kata-kata “belum banyak” dan bukan “tidak ada”. Gw rasa @refbasketball ada benarnya. Walau mungkin jika dibaca sekilas, tweet tersebut menafikan keberadaan orang-orang hebat di daerah-daerah Indonesia. Padahal tidak sama sekali.

Banyak balasan tweet yang menekankan kepada pentingnya memotivasi diri serta berbuat dan memulai sesuatu. Mereka pada umumnya memandang tweet dari @refbasketball tersebut adalah sebuah tweet yang bernada pesimis, bahkan merendahkan potensi-potensi yang ada di daerah.

Kembali lagi, jika mereka membaca dengan seksama tweet dari @refbasketball mereka mungkin akan sedikit paham. Jika @pandji mengatakan “Salah besar! jangan percaya!” pada tweet tersebut, maka gw rasa ia harus melihat ulang kalimat dari @refbasketball tersebut.

Indikasi jumlah orang hebat di Jakarta dibandingkan jumlah orang hebat di daerah memang tidak jelas. Namun satu hal yang harus diakui bahwa pembangunan di Indonesia sangatlah tidak merata. “Kehebatan” berkumpul di Jakarta sedangkan banyak daerah di Indonesia masih tertinggal. Hal ini tentunya tanpa menafikan satu-dua kehebatan kecil yang ada di daerah-daerah.

“Salah besar! Jangan percaya!”-nya @pandji juga seolah mengesampingkan kalimat kedua dari tweetnya @refbasketball “..Harusnya pemerintah dan orang hebat di kota bantu daerah dulu.” Gw pun sangat setuju dengan @pandji bahwa daerah punya potensi yang tidak boleh diremehkan. Namun memiliki keyakinan berlebihan bahwa potensi itu harus muncul dengan sendirinya tanpa bantuan dari pihak lain juga tidak baik, karena kita nggak akan pernah tahu kapan motivasi itu akan muncul. Kapan keinginan perubahan itu akan mulai bergerak. Membantu menumbuhkan motivasi bahkan membantu secara nyata daerah juga adalah hal yang sangat-sangat perlu.

Jika hanya mengandalkan keyakinan bahwa daerah memiliki potensi yang sama dengan kota, gw takut kita akan terjebak kepada situasi menunggu tanpa ujung yang meyakinkan. Yang lebih parah, bukan rahasia lagi, kota (Jakarta) dari dulu menyerap kekayaan daerah secara sewenang-wenang; baik SDM (yup, tak heran mengapa banyak orang hebat di daerah berkumpul di Jakarta, karena Jakarta “mencuri”-nya.) maupun SDA (Lihatlah bagaimana Jakarta mengambil persentase “upeti” pendapatan daerah untuk dikumpulkan di Ibu Kota-walau nantinya dibagi-bagikan lagi kepada daerah sesuai kebutuhan. Ini belum termasuk usaha-usaha pertambangan, perkebunan, pariwisata daerah yang dimiliki justru oleh orang Jakarta.)

Percaya pada kemampuan diri + saling membantu (terdengar seperti sebuah tim basket..hehe)

Percaya kepada kemampuan diri sendiri untuk menghadapi suatu tantangan adalah hal yang wajib hukumnya. Namun menolak campur tangan pihak lain adalah suatu hal yang berbahaya.

Mari kita ambil contoh arena pertarungan pasar bebas dunia. Indonesia sangat yakin bahwa produknya bisa bersaing dengan produk asing. Setidaknya itu yang tergambar dari keikutsertaan negara kita pada berbagai ajang pasar bebas regional maupun internasional. Di Indonesia, beberapa produk komoditas ekspor yang akan bersaing di pasar bebas seolah berjuang sendiri. Pengusahanya bersusah payah menyeimbangkan perisai neraca laba-rugi yang ketat sembari bertarung harga dan citra dengan pedang tumpul pendek yang terbuat dari sebilah bambu. Padahal di negara lain, komoditas yang bersaing di pasar bebas tidak sedikit yang dibantu negara dengan subsidi melimpah. Mereka bisa menjual produk mereka dengan murah ke luar negeri dan dalam negeri karena negara ikut campur tangan membantu secara nyata. Bukan membantu memotivasi yang bentuknya mengawang-awang.

Potensi SDM di daerah-daerah memang tak kalah dengan Ibu Kota, tetapi kita juga harus menyadari bahwa mutu pendidikan di banyak daerah tidak sehebat di Jakarta. Jika semuanya memang merata, kita tidak akan melihat kelakuan mahasiswa Makassar yang brutal atau tingkat ketidaklulusan UN yang tinggi di daerah-daerah. Lihat pula contoh lain, Surabaya boleh dibilang sebagai Kota Basket Indonesia masa kini dan (semoga) masa depan, namun mutu pemain basketnya masih kalah dengan Jakarta.

Impossible is nothing itu benar, tapi basi!

Law of attraction telah menjadi sebuah bagian dari kebudayaan populer. Siapa yang tidak percaya dengan kekuatan “The Secret” di zaman sekarang? Yang masih sulit dan jarang adalah orang yang berani bergerak! Berani melakukan sesuatu. Yang sangat sadar bahwa ujungnya selalu dua kutub kemungkinan, sukses dan gagal! Gw curiga, orang-orang yang ngetweet tidak setuju dengan tweet-nya @refbasketball adalah orang-orang yang tenggelam dalam ekstasi keyakinan akan manjurnya “The Secret” namun mampet pada zona nyaman dan malah takut mengambil risiko.

Gw salut sama @pandji karena “he walks the talk“. Dia mau keliling-keliling menularkan motivasinya dan memberi contoh kepada banyak orang tanpa pamrih. @pandji bahkan dengan terang-terangan akan menanggung semua biaya perjalanan dan akomodasi ke manapun ada orang atau kelompok yang menundangnya untuk berbicara.

Gw juga sangat salut kepada @refbasketball. Merek ini benar-benar berusaha dari bawah mencoba membangun citra, reputasi, dan mutu di depan bangsanya sendiri yang krisis kepercayaan terhadap produk dalam negeri. Mari berteriak “gunakan produk dalam negeri!” Yup! Cukup berteriak saja. Tak perlu direalisasikan :)

Jadi? Yes, impossible is nothing itu benar. Begitu juga impossible is something. Bukan bermaksud menakut-nakuti, tapi saat lu akan berjuang, mengejar cita-cita, atau apapun lu memiliki kemungkinan gagal 50%! Lu bisa gagal!! Sangat bisa! Ingatlah, usaha bisa berujung kegagalan! Nggak perlu menyesal, karena Pangeran Diponegoro pun gugur dalam pengasingan. Gusti Ngurah Rai pun gugur dalam puputan.

11 pemikiran pada “If Impossible is Nothing, then Impossible is Something

  1. iya gitu anak surabaya kalah jago basketnya ama jakarta…?
    kayanya anak – anak UBAYA pada ditakuti mulu deh di KOBATAMA…
    hehehehe
    tapi menurut gue kalo emang orang – orang yang di jakarta sebagian adalah orang – orang hebat daerah, mereka HARUS BACA tulisan ini…supaya punya tanggun jawab moral untuk pulang kampung en ngebangun daerahnya..

  2. nice post,
    cuma mau nambahin dikit
    kalo jakarta selama ini dipandang no 1 itu karena memang sudah puluhan tahun indonesia menjadi negara sentralistik

    untuk kemudian menjadi negara yg pembangunannya merata itu butuh waktu

    saat ini sudah banyak orang2 yang sadar, lalu berbuat sesuatu tanpa menunggu uluran tangan jakarta, tapi memang butuh waktu

    banyak yg bisa dilakukan kota lain yg tidak bisa dilakukan jakarta

    bandung lebih dulu menjadi kota industri kreatif daripada jakarta, bali lebih dikenal oleh dunia daripada jakarta

    tapi tetap diingat
    mobil paling cepat dan canggihpun punya ban serep

  3. Jadi intinya, mari kita melakukan lebih banyak “passing”. Bukan buat saling lempar tanggung jawab, tapi bekerja sama buat masukkan “bola” ke dalam “keranjang”. Perlu juga pake “pick and roll” atau yang lain.

    Daripada main one man show, bukan begitu? hehe :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s